
Kekalahan benar-benar dirasakan oleh semua pihak.
Entah Revano dengan keputusannya berhenti dari TXT karena sebegitu kecewa dengan Tara.
Tara dengan penyesalan dan rasa takutnya ketika Bams benar-benar senekat itu demi sesuatu yang tidak berarah.
Entah siapa lagi, tetapi mereka benar-benar telah merasakannya. Mereka menyadarinya pada suatu waktu bahwasanya diri mereka telah kalah.
Kekalahan yang mana entah karena hal apa sebab tidak begitu mengingat perjalanan yang telah dilaui. Kekalahan ini terasa begitu nyata ketika apa yang telah dia tuai, kini tumbuh menjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
Meskipun begitu, mereka tidak mau terus-menerus berada dalam bayangan kekalahan. Maka dari itu, mereka bangkit kembali dan melanjutkan perjalanan menuju kemenangan sejati.
...----------------...
Cheryl sadar jika tidak akan ada yang peduli kepadanya sampai dia menang, maka dia akan memenangkannya sendiri. Dia juga sadar jika selama ini, jika bukan karena seorang pendukung yang andal, yang akan memberikan dia tepuk tangan meriah. Pelukan hangat yang nyaman. Pemberi selamat yang tidak pernah absen di setiap langkahnya bangkit.
Meskipun tidak sebaik figur papa, tidak sehangat pelukan papa, tidak semenyenangkan papa, orang ini tetap segalanya bagi Cheryl.
Dia tidak ingin kesayangannya sampai terluka apalagi memiliki bekas luka seperti miliknya. Maka dari itu, Cheryl akan berusaha melindungi kesayangannya sebagaimana dia juga dilindungi sebaik itu oleh si kesayangan.
Dia adalah Revano, dan Cheryl memilih untuk melanggar janji kepada Revano untuk tidak memberitahu kepada siapa pun. Cheryl memutuskan memberitahukan Aldo rencana Revano yang nekat menghampiri tempat berbahaya itu.
Namun, sepertinya Cheryl terlalu hiperbola. Revano tidak dalam bahaya, melainkan menciptakan bahaya itu sendiri. Buktinya adalah luka lebam di seluruh wajah tampannya yang terkadang jenaka dan menyebalkan.
Cheryl meringis ngilu tatkala wajah bonyok Revano tambah luka ketika Aldo menarik dan melemparkan bogem mentah satu kali akibat perbuatannya kepada papa Cheryl.
“Ka … Kaka …," katanya dengan suara yang gemetaran. "Om Aldo, jangan! Kasihan Kaka.”
Anggara yang jatuh tersungkur mulai berdiri tegap dan mengangkat dagunya congkak. “Adek, masuk ke dalam!” perintahnya kepada Cheryl.
“Kaka, bangun, Ka!” Dia panik ketika Revano tidak kunjung bangkit setelah jatuh tersungkur. “Masuk bareng aku dan tolong jagain aku dari Papa. Aku nggak mau Papa masuk!”
“Adek!”
“Om denger sendiri, kan?” Suaranya lemah, suara seraknya yang dalam ini terdengar kelam.
“Dan, Ayah … makasih atas bogemnya, sangat sakit, padahal luka sebelumnya belum diobati. Makasih.”
__ADS_1
Terdiam sesaat ketika teringat jika ayahnya sempat menanyakan sesuatu ketika keduanya masih di dalam mobil.
“Kaka masih suka musik. Nggak akan pernah berhenti. Soal jadi musikus? Iya, Kaka masih pengen menjadi seorang musikus.”
Anggara menatap sinis ke arah keponakannya yang sudah memberikan pukulan mentah. Berani-beraninya bocah kencur ini menghajar orang tua.
“Nah, ini. Alasan dia mau pindah kemari karena dia bebas pulang malam sehabis sekolah untuk kegiatan musiknya itu, Aldo," ungkap Anggara.
"Anakmu ini diam-diam gabung band yang isinya anak badung semua, makanya sifat dia menjadi badung. Cih, dasar anak muda zaman sekarang. Maunya popularitas yang diutamakan!”
Baik Cheryl, maupun Revano, kedua matanya membola.
Jangan sampai Aldo mengetahuinya karena kesepakatan itu memang dicetuskan tanpa sepengetahuan Aldo, sedangkan Frisly mengetahuinya dan setuju asalkan Revano benar-benar membuktikan jika dia bisa mengatur waktunya antara bersekolah dengan meraih impiannya. Jika Aldo sampai tahu, jika pria mapan ini tahu, pasti akan terlontar kemungkinan buruk.
Aldo mengerutkan dahinya. “Maksudnya apa? Jika Kaka gabung geng motor atau geng yang suka tawuran, saya sudah tau. Apa maksudnya gabung band yang isinya anak badung semua? Siapa?”
“Om … soal itu ….” Cheryl menggigiti bibir bawahnya. Dia menatap Revano yang masih bergeming di tanah.
“Memang benar, tapi Kaka udah keluar dari band itu. Dia nggak pernah lewatin waktu belajar dia …," ungkap Cheryl, berusaha membela kesayangannya.
Aldo menatap Revano. Dia meminta penjelasan dari Revano langsung. “Kaka?”
Anggara kembali berbicara fakta. “Dia bermusik, Aldo. Di keluarga kita tidak boleh ada yang bermusik, karena Papa mertua menginginkan keturunan yang akan meneruskan usaha keluarga. Dia akan dianggap sebagai aib keluarga jika memilih jalan hidup yang tidak jelas!" tuduhnya.
“Menjadi musikus? Haha. Kalau seorang dokter atau tentara masih bisa ditolelir, tapi dia tidak!”
Seseorang berjalan semakin dekat pada sebuah rumah yang mana terdapat empat orang tengah bersitegang. Dia menyimak kata demi kata yang dilontarkan Anggara yang sepenuhnya sarkas dan sedang membicarakan aibnya sendiri.
“Lebih baik mencari jalan hidup sendiri dibandingkan menjadi aib keluarga dengan skandal perselingkuhan bersama sekretaris sendiri, Om Anggara!” kata Fasya penuh penekanan.
“Kaka dan Cheryl masuk. Ayah, Fasya dapat pesan dari kakek Mizwar, beliau pengen berbicara dengan Ayah, tapi karena Ayah nggak kunjung pulang dan Fasya inisiatif susul ke sini,” katanya, “dan untuk Om Anggara, kebetulan sekali Om ada di sini. Mari ikut kami ke rumah dan bertemu kakek Mizwar.”
Revano menguping ucapan Fasya dari balik pintu. Dia belum memutuskan untuk benar-benar masuk ke dalam setelah Cheryl menariknya bangkit.
Revano menoleh ke belakang, dia mempertimbangkan sebuah kalimat yang ingin sekali dia utarakan kepada sang ayah. Namun, dia urungkan.
Langkahnya tergopoh-gopoh sambil memberanikan diri menyentuh area wajah yang terluka. Separah apa wajahnya saat ini?
__ADS_1
Aldo menghampiri Revano. “Ka, Ayah butuh penjelasan kamu. Jadi, kamu masih nekat korbankan masa muda kamu untuk impian sembrono itu?”
Revano segera berbalik. “Kalau iya kenapa? Impian Kaka salah, ya? Atau mungkin Kaka yang selalu salah di mata Ayah? Kenapa cuman Kaka yang selalu salah sedangkan Kaka juga butuh ….” Suaranya rendah dan semakin memelan.
“Ayah, hal terakhir yang selalu Kaka inginkan adalah menjadi seperti Ayah.” Wajahnya menggelap. Revano segera berbalik dan melanjutkan langkahnya.
“Kemasi barang-barangmu dan pulang sama Ayah ke rumah!”
Kalimat itu berhasil membuat dadanya mencelos. Dia melihat Cheryl yang tertegun dengan wajah ketakutannya berdiri di ruang tengah yang terpisah oleh dinding ruang tamu.
Jika Revano ikut Aldo pulang ke sana, maka Cheryl akan sendirian di sini dan kemungkinan terburuknya adalah dibawa pergi papanya.
“Maaf, tapi Kaka memilih tinggal di sini sampai Kak Sean pulang. Dia belum pulang ke sini, jad—”
Aldo tidak menerima penolakan. “Pulang hari ini atau selamanya tidak akan pernah membuat kamu berani menyentuh benda musik itu lagi!”
“Ayah akan hubungi Sean dan suruh dia untuk lelang barang-barang musiknya yang sudah tidak berguna lagi untuk siapa pun. Kamu mungkin nggak tau kalau dulu Sean menyerah dengan musik, Ka,” lanjut Aldo setengah mengancam.
Revano terdiam namun Aldo tidak menyerah. “Kamu ingin menjadi musikus, kan?” Mengutip ungkapan Revano beberapa menit lalu.
“Ayo, pulang, Ka. Kali ini pelan-pelan aja raih apa yang kamu inginkan. Ada sesuatu di rumah yang akan Ayah berikan sama kamu, Ka.”
Dia ingin berbalik, tetapi melihat Cheryl yang bergeming di sana membuatnya enggan. “Terus gimana sama Chey?” Matanya memerah.
“Dia butuh Kaka di sini karena itu Kak Sean yang minta, tante Nadia juga meminta hal yang sama. Kaka mau jagain Chey aja. Ayah boleh pulang.” Wajahnya berubah panik ketika melihat Cheryl urung menghampiri ke ruang tamu.
Aldo menghela napas berat. “Pikirkan baik-baik, Ka. Kalau kamu sudah lakukan itu, jangan sungkan minta Ayah untuk jemput kamu." Aldo berusaha membujuk si bungsu.
"Kalau Kaka nggak lakukan itu, gapapa … Ayah akan tetap jemput kamu. Ayah pulang dulu sekarang karena kakek Mizwar nunggu di rumah,” tambahnya.
Di depan pintu kamar sepupunya, Revano berbicara mengenai bujukan ayahnya dan penolakan Revano sendiri. Revano menggumamkan kalimat bahwa dia tidak akan membiarkan Cheryl sendirian sebelum semuanya kembali seperti semula, seperti yang selalu diimingi kakak mereka, Sean.
Maka dari itu, sebelum Sean benar-benar kembali ke hadapan mereka, Revano tidak akan meninggalkan Cheryl atau membiarkan Cheryl diusik pria kandungnya seperti tadi.
Setelahnya, Revano mulai merenungkan hari ini. Dia bersyukur masih hidup hari ini. Masih bisa kuat dan melawan apa yang pernah dia ragukan. Dia lebih berani dari sebelumnya, dan dia sedikit khawatir. Setelah ini, dia harus apa?
Setelah melepaskan semua hal mengenai impiannya demi menangkan tantangan dengan taruhan edan itu. Kini, semuanya sudah usai. Meskipun tidak seperti yang dia rencanakan, tetapi dia berani melepaskannya. Dan, Fanya juga sudah kembali dengan selamat. Syukurlah.
__ADS_1