
Satu kalimat yang selalu menghiasi rekam jejak tentang Revano di dalam kepalanya: kenapa dia muncul sekarang?
Setelah menghabiskan masa lalu di mana Fanya selalu menyendiri setiap saat.
Ketika bermain di Taman Danau.
Ketika bermain di halaman belakang rumahnya.
Ketika berangkat sekolah menyusuri jalanan perumahan, begitu juga ketika pulang dari sekolah, meski sekarang Fanya sudah terbiasa diantar-jemput dengan kendaraan untuk mengurangi kesepiannya.
Selama melewati masa-masa yang sudah berlalu itu, Fanya selalu memikirkan tanggapan terbaik untuk menyapa dan melupakan kemarahannya.
Namun, apa yang terjadi?
Fanya tidak kuasa melakukan hal itu dan lebih memilih ikuti kemarahan diri sendiri.
Fanya sudah meninggalkan air matanya di masa itu, memilih untuk berteman dengan kesepian, dan melewati kegelapan malam penghujan menuju sambutan mentari pagi yang segar.
Fanya Fransiska sudah berpaling dari masa lalunya yang kesepian dan kesedihan karena ditinggalkan orang paling dekat, berpaling dengan cara mengikuti kemarahan, sehingga bisa membangun citra diri yang lebih kuat.
Dia benar-benar menjadi pribadi yang jutek semenjak memutuskan untuk mengikuti kemarahannya untuk kemudian membenci orang yang telah pergi meninggalkannya sendirian selama ini.
Namun, dia muncul sekarang, membuat hatinya mulai bergetar.
Dia fokus dengan soal-soal yang diberikan Bu Ida hari ini. Kemudian, besok-lusa Fanya baru menyelesaikan semua soal-soal matematika dan sains yang diberikan Bu Ida.
Tulat, lalu tubin pun tiba. Dia baru bisa bebas dan kembali dengan tugas-tugas yang menumpuk lagi sebab ingin fokus dengan soal pemberian Bu Ida kepadanya dalam rangka seleksi tahap kedua untuk bisa lolos ikut OSN kali ini.
Kebetulan, Selasa pertama pada Oktober dijadwalkan sesi penyuluhan. Biasanya tiap November dengan tema memperingati hari kesehatan mental, tetapi ada apa dengan kali ini?
Sepertinya ada yang lain dan ada sesuatu yang baru di bulan penuh mitos urban ini.
Fanya dan tumpukkan tugasnya bersarang di ruangan penuh rak buku. Ditemani si sok populer—memang kenyataannya dia populer sih—Hanalya, bersama beberapa kudapan manis dan asin yang berserakan di hadapan Hanalya. Dan, seorang yang diam-diam memantau dua gadis ini lagi.
Hanalya menyeruput minuman yang mengandung susu fermentasi itu selama lima detik. Kemudian, dia menatap Fanya dengan tatapan heran bercampur pening.
“Neng, apa aku harus aduin ini ke Ayah? Bu Ida memperbudak kamu, setelah disuruh kerjakan soal-soal matik dan sains, sekarang tugas tambahan,” sulutnya. “Ah, mana yang minggu lalu aja tugasmu belom selesai, kan?”
Fanya sibuk dengan coretan angka di belakang buku tugasnya.
“Diem, nggak usah bertingkah. Aku ajak kamu ke sini bukan untuk ngomelin apa pun. Cukup diem dan makan aja semua camilannya.”
“Ih, tapikan …,” keluhnya namun urung.
Fanya termenung. Dia tidak masalah dengan diperbudak tugas. Malahan dia sangat menyukainya karena dengan begini dia akan mudah teralihkan dari audio—“Sial. Kenapa keinget lagi, sih!”
Hanalya tidak terkejut lagi. Dia tampak menghitung jari sambil menatap ke sembarang arah.
“Kata itu adalah yang ketiga puluh kalinya kamu ucapkan selama empat hari ini. Belum lagi ungkapan kekesalan kamu di chat yang … sebenarnya ada apa, sih?”
Dia meletakkan pensilnya. Kedua tangannya terlipat di atas meja. “Han, aku mau tanya, deh.”
Hanalya mengangguk. “Ada apa?”
“Gini, kalau misalnya Mikel pergi secara tiba-tiba tanpa kasih kabar apa pun, apa yang bakalan kamu rasakan?”
Hanalya terdiam sambil mencermati ucapan Fanya yang sedikit menjerumuskan perasaan pribadi. Gadis ini agak was-was namun dia akan mengesampingkan hal ini terlebih dahulu. “Em, mungkin … sedih, kecewa, dan kesel, tapi seneng juga, sih.”
“Oke. Mikel pergi selama dua tahun lebih tanpa kabar apa pun. Tiba-tiba dia kembali, deket lagi ke kita, dan bersikap seolah nggak pernah terjadi apa-apa selama itu. Tanggapan kamu?”
__ADS_1
Hanalya langsung menaggapinya dengan wajah mengerut. “Marahlah! Kesel juga. Apalagi sampai nggak ada kabar sama sekali dan begitu balik … itu definisi jailangkung tau nggak? Pergi tak diantar, datang tak diundang.”
Sejenak, Fanya tersenyum dengan tanggapan sahabatnya
“Benerkan? Pasti marah, kesel, dan bertanya-tanya: kenapa baru balik sekarang? Kemana aja selama ini?” ucapnya kemudian menatap Hanalya. “Gitukan?”
Hanalya mengangguk. “Emangnya ada apa? Apa si Bule bakalan pergi?”
Dia mengambil kembali pensilnya dan menggeleng tanpa kata. Namun, Fanya urungkan niatnya untuk kembali pada deret matik.
“Kemarin aku nonton cuplikan drama, di hari yang sama juga aku dapetin judul drama. Di drama itu ada momen di mana si protagonis wanita ditinggalkan protagonis pria. Si pria lebih ke antagonis, sih,” ungkapnya.
Hanalya menatap antusias. “Terus selanjutnya gimana?”
Fanya menoleh ke arah Hanalya dengan wajah yang kentara tegang namun dia segera menampilkan cengirannya. “Si pria tetep protagonis dengan segala sikap jahatnya bagi si wanita. Si wanita lupa ingatan sih ketika ditinggalin si pria, tapi dia nggak bener-bener lupa ingatan. Dia mendem semua perasaan sedih dia dan kemudian si pria kembali … menyebalkan. Aku nangis kejer!”
“Pasti judulnya Guardian: The Lonely and Great God,” tebak Hanalya sambil mencebik. Dia kecewa. Dia kira Fanya benar-benar menceritakan kisahnya. “Aku udah nonton dan aku pengen punya goblin, iri sama Ji Eun-Tak, dong!” rengeknya yang kemudian meloloskan kekehan.
Dua gadis itu tertawa. Salah satunya sambil terus berkutat dengan tugas-tugas, salah duanya kembali menyantap camilan yang telah mereka beli secara patungan.
Toh, hari ini tidak ada pembelajaran, sehingga mereka benar-benar akan berdiam diri di tempat penuh rak buku ini.
Sementara itu, yang lainnya sedang persiapan untuk menghadiri penyuluhan yang katanya datang dari Kapolsek setempat bersama puskesmas daerah juga.
“Katanya, kita punya satu goblin di setiap daerah. Mungkin nggak persis kayak di drama atau setampan yang ada di drama juga, tapi aku harap aku juga bisa ketemu goblin. Membayangkan akan disihir oleh goblin itu … uwah sekali nggak sih?”
Fanya menambahkan ucapan Hanalya. Membayangkan akan keyakinan hidup berdampingan dengan sesuatu yang fiktif adalah pelarian yang cukup menghibur kala banyaknya tekanan tugas dan sibuknya kegiatan sekolah.
“Dasar. Kalian kebanyakan nonton fantasi dan baca fiksi!”
Kedatangannya tidak terduga, baik Hanalya yang masih melanjutkan kegiatan mengunyah dan sesekali menyeruput minuman fermentasi itu, maupun Fanya yang mulai terusik fokusnya dari tugasnya yang tersisa penyelesaian dari pencarian ‘x’.
Fanya terdiam, tidak menatap dua orang itu, tidak juga melihat deretan angka dan huruf yang sudah dia tulis di kertas. Matanya bergulir tak keruan, begitu pula dengan isi pikiran serta hatinya. Fanya terusik hanya dengan mendapati keberadaan laki-laki itu di tempat ini (lagi).
Setelah melewatkan empat hari, yang mana dia sengaja menghindari sosoknya, menghindari tatapan matanya, mengabaikan pesan yang dia kirim, intinya Fanya menghindar dari semua hal tentang dia. Namun, semua usaha menghindar darinya harus berakhir sampai disinikah?
“Perpustakaan itu tempat umum. Buat siapa aja dan bukan dibuat khusus buat dua manusia yang melarikan diri dari penyuluhan, ya!”
Hanalya bungkam dan batinnya mengiyakan ucapan laki-laki itu. Meski begitu, Hanalya tetaplah Hanalya yang cerewet.
“Ya, nggak salah, sih. Eh, tapikan kami belok ke sini dengan tujuan baik. Fanya lagi kerjakan tugas, aku temenin dia, dan imbalannya adalah bakalan dikasih contekan sama dia. Jadi, kami bukan melarikan diri.” Membela segala upaya menghindar dari penyuluhan kali ini.
“Pak Brigadir nyariin siswi bernama Hanalya Putri dan temannya di aula, dan tebak siapa yang udah temukan kalian?” ungkapnya.
“Gua. Zico Mahardika, tapi kalau lo mau bikin kesepakatan, gua nggak akan laporkan kalau sebenernya lo sama Fanya belok ke sini.” Alisnya naik-turun begitu berhasil menyekakmat putri dari Brigadir yang dia bicarakan.
Hanalya mendesis keras, teror menyalip di wajahnya begitu laki-laki itu menyebutkan pangkat ayahnya. “Apa yang lo mau sebagai imbalan?” tawarnya. “Walau sebenernya lo nggak bener-bener berbaik hati sama kami. Dasar licik!”
Zico tersenyum usil ke arah Hanalya. Kemudian, dia duduk pada kursi yang ada di samping gadis cerewet dan naif itu. Dilihatnya kontur wajah gadis itu dari samping dengan tatapan seolah memuja keistimewaan yang dimiliki Hanalya. “Lo itu cantik, Han. Apa lo nggak naksir seseorang gitu. Gua bisa bantu lo deket sama dia.”
“Lo apaan, sih? Berbelit-belit tau nggak!” gerutunya. “Ayo, bilang aja lo mau imbalan apa?”
Zico menyurutkan senyumannya yang usil itu. Dia tersenyum tipis dengan tatapan seolah memuja. “Lo.”
Demi bunga sakura yang gugur setiap lima senti per detik, Hanalya takut. “A–Apa?”
“Iya, gua minta lo,” katanya, “gua minta lo keluar dan tinggalin kami berdua di sini, sementara lo harus samperin ayah lo di aula. Gua ada urusan sama Ratu Paralel, kami mau diskusiin olimpiade.”
Hanalya mengerutkan keningnya, sontak berbicara di dalam kepalanya, mencurigakan. Dengan tatapan menyipit berkilat amarah yang masih dia rasakan akibat ketakutannya terhadap Zico I. Mahardika ini. Hanalya segera membereskan sampah makanan miliknya dan bangkit dari kursi.
__ADS_1
“Sia-sia aku grogi berhadapan sama manusia licik kayak kamu, Zi.”
Sementara itu, Fanya yang sedari tadi terdiam dan turut merasakan situasi yang sahabatnya rasakan barusan, mulai panik.
“Han, mau ke mana, heh?!”
Hanalya mengangkat tangan kirinya, dia melambai, tersenyum tipis. “Aku harus samperin Ayah, kan? Biar kalian tenang juga pas diskusiin tentang olimpiade. Aku harap kalian beneran maju berdua ke sana. Fighting!”
Gadis ini melotot tak percaya. Semudah itu Hanalya meninggalkannya di sini sendirian. “Hana!”
“Udahlah, biarin dia pergi,” sahut Zico dengan wajah kelamnya.
“Aku mau nagih penjelasan kamu tentang kapan hari. Kamu nggak bener-bener mau akhiri ini, kan?”
Embusan napasnya terdengar. Kepalanya mengangguk-angguk. “Iya, mari akhiri ini semua, Zico. Seperti yang udah kamu tau. Sejak ngobrol sama Mikel hari itu, aku nggak bisa lanjutin ini, Zi. Aku nggak mau—”
“Persetan, Ya!” Menampik ucapan gadis itu.
“Aku nggak masalah dengan dia yang selalu kamu ceritakan itu udah kembali ke kehidupan kamu. Dia masa lalu kamu, sementara di sini (masa kini) ada aku, kita bisa selesaikan ini, tapi nggak dengan korbankan hubungan ini, Ya.”
“Zi ….” Hendak melayangkan protes namun ucapannya disela. Padahal Fanya ingin menjelaskan semuanya.
Fanya ingin rehat dari hubungan ini. Dia ingin Zico fokus dengan olimpiade, dengan satu hal tanpa perlu khawatirkan tentang Fanya. Namun, Zico malah sibuk mencerca Fanya, sehingga hal ini dirasa rumit.
“Kamu mau hubungan kita dipublikasikan? Maka lakukan.”
Meskipun begitu, Zico tidak setuju pilihan satu ini. Dia tidak menyukainya meskipun itu keinginan terbesar Fanya sekalipun. “Kenapa tiba-tiba, hm?”
Alisnya bertaut. “Apanya yang tiba-tiba?” balas Fanya.
Zico terkekeh sesaat. Menatap lurus ke arah gadis itu. “Selama ini kamu nggak pernah bermasalah dengan hal ini, tapi kenapa tiba-tiba pengen publikasikan?”
“Emangnya kapan aku bilang dan minta hal itu?”
Tersulut. Zico menaikkan nada bicaranya. “Kamu sendiri yang—jadi kamu nggak pengen hubungan kita dipublikasikan?” Namun, dia baru menyadari ucapan Fanya.
Gadis itu mengangguk namun kemudian menggeleng. “Mari akhiri semuanya, Zi. Kita bisa aja jadi teman baik. Kita nggak seharusnya dalam hubungan ini. Kita juga masih terlalu kecil untuk hubungan yang kompleks begini. Kita masih esempe, Zi.”
Hening merayap, ramai menggema di dalam kepala masing-masing insan muda itu. Terlalu dini untuk sama-sama menjalin hubungan yang rumit.
Ada baiknya berhadapan dengan soal matik yang rumit daripada menjalani relasi yang rumit. Berhubungan dengan manusia lain itu rumit.
“Sebentar lagi juga persiapan karantina, Zi.”
Laki-laki bermata sipit itu bangkit dari kursi. Tanpa kata dia menatap lamat wajah kelam gadis itu. Gadis yang dia sayangi. Tanpa kata pula dia berbalik dan meninggalkan gadis itu sendirian di dalam ruangan penuh rak buku ini.
Namun, baru beberapa langkah, Zico berhenti. “Kamu udah selesaikan soal-soalnya, kan?” tanyanya.
Fanya mengangguk. “Udah diserahkan ke Bu Ida.”
Kepalanya melirik ke belakang. “Aku harap kamu lolos seleksi dan nggak perlu diganti siapa-siapa karena pertarungan kali ini raja membutuhkan ratunya.”
Fanya meremat ujung kertas bukunya. Dia mengembuskan napas panjang dengan mata terpejam.
Kenapa tidak ada yang bisa memberikannya ketenangan sekali ini saja?
Fanya frustrasi.
“What? Jadi, mereka ini backstreet?” Terdiam sesaat. “Se-Margayu wajib tau! Eh, tapi … dia juga harus tau hal ini.”
__ADS_1