Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
52. Aya Benar-Benar Hilang!


__ADS_3

Satu hari sejak hilangnya jejak seorang gadis berusia enam belas tahun, bernama Fanya Fransiska, sesuai kuat dugaan jika gadis itu diam-diam memberontak pergi ke Padalarang untuk melayat kerabat yang telah berpulang sebulan yang lalu.


Namun, di sinilah terduga, yang menjadi satu-satunya saksi dan kuat diduga menjadi tersangka kepergian Fanya berada. Di lapangan basket dekat Taman Danau pada sore hari yang terik.


Fanya juga dinyatakan tidak masuk sekolah padahal menurut kabar dari informan cilik bernama Hanalya anak dari Brigadir Panji Cipto Suherman, kelas 9-C ada jadwal pertama praktik kebahasaan.


Akan ada latihan drama untuk pementasan pada tugas bahasa Indonesia. Diprediksi, Fanya akan ketinggalan sesi pemilihan peran jika tidak masuk hari ini.


Namun, di sinilah terduga dan dua penyidik tengah menginterogasi laki-laki berusia tujuh belas tahun beberapa minggu lalu—tepat pada hari kelima bulan Februari. Iya, sekarang bulan Februari, besok dan lusa sudah masuk Maret, sih.


Dengan dagu terangkat, dia menyorot matanya penuh intimidasi yang dia layangkan kepada si terduga yang duduk, sehingga membuat si terduga terlihat kecil lantaran dia berdiri bersama rekannya.


“Lo bawa si Aya ke Padalarang sekitar jam berapa? Setelah kalian pergi joging? Atau jangan-jangan joging cuman alasan atau pesan berkode,” tanya Kamaliel masih menaruh curiga.


Fasya bersedekap dada, mengikuti peran, tetapi tidak ikutan bertanya. Dia menatap adik kecilnya penuh kasih sayang lantaran si adik begitu lesu, apalagi terdapat lingkaran hitam di area matanya. Kuat dugaan jika adiknya telah begadang, tidak tidur sama sekali, dan tetap berangkat ke sekolah.


“Satu kejujuran bakalan dibayar dengan kunci rahasia di antara kita, kecuali kalau itu pilihan kamu jika memang pengen Ayah dan Bunda tau kamu fokus manggung dan bermusik pakai studionya Sean.”


Kamaliel melirik rekannya dengan wajah terpana. “Wah, Fasya si pinter emang beneran pinter, ya.”


Revano menghela napas lemah. Dia memijat pangkal hidungnya yang mancung. Mata lelahnya bukti bahwa dia tidak tidur semalaman karena berusaha mencermati arti pesan yang diterima Fanya dari nomor yang sialnya adalah dirinya.


Namun, Revano tidak pernah mengirimkan pesan itu pada hari itu karena dia mulai sibuk manggung dengan TXT.


Revano menerka bermacam-macam dugaan, apakah ponselnya diretas?


Dia segera mencari cara agar ponsel yang pernah diretas bisa diamankan dengan penjagaan ketat, lalu dia juga mencari cara agar pesan yang terhapus bisa kembali. Namun, sia-sia karena pagi menyapa dan Bunda bersabda.


“Jujurly, Vano nggak tau apa-apa!” ungkapnya setengah berteriak. “Pesan itu … kayaknya ada yang bajak henpon Vano pas hari itu … tapi siapa? Nggak mungkin si Adit atau Bang Hendra apalagi Bang Surya. Apa mungkin Bang Kaisar … apa jangan-jangan Bamzing?”


Dua rekan sama-sama berdiri, keduanya juga sama-sama mengerutkan dahi.


Nama macam apa itu?


Siapa gerangan nama-nama yang terlontar dari mulut si terduga?


Apakah mereka hanya alibi?


Hal ini perlu diusut tuntas!

__ADS_1


Revano menengok ke muka untuk bersibobrok dengan empat pasang mata dari dua laki-laki yang lebih tua darinya ini. “Kalau pun emang benar Vano bawa Aya ke sana, nggak mungkin juga pada hari dan jam yang sama Vano masih ada di Bandung!” alibinya.


“Sekitar jam enam pagi pada hari Minggu, Vano tidur lagi sampai jam delapan, Chey saksinya, dia yang bangunin Vano, karena dia menjadi alarm hidup di rumah tante Nadia.


Setelah bangun, siap-siap pergi ke rumah Adit buat latihan. Sekitar jam sebelas baru sampe di kafe tempat manggung. Di sana juga ketemu temen-temen sekolahnya Aya. Si Kekel juga tanyain keberadaan si Aya sama Vano, katanya akun Aya mulai nggak aktif sejak semalam."


“Dan, sejak semalam pun Vano nggak buka henpon lagi, karena udah capek manggung, pulang malam, dan habis denger ceramahan tante Nadia,” lanjutnya setelah jeda per sepuluh sekon.


Fasya menepuk bahu adik tersayangnya terlepas dari sifat buruknya yang lalu-lalu. “Udah, Liel. Si Kaka jujur ini. Dia butuh istirahat, soalnya semalaman dia cari-cari di internet, bahkan tanyain temen-temen Fasya seorang teknisi, montir, dan hacker terbaik pun, nggak ada hasil sampai dia nggak sempet istirahat. Ditambah, karena Bunda suruh siap-siap sekolah. Bahkan dia belom nemuin jejak pesan yang kamu dapetin dari henpon Aya.”


“Sejak kapan Anda panggil saya dengan klitik ‘kamu’ saudara Fasya?”


“Lah, malah salah fokus!” Matanya melotot nyalang ke arah Kamaliel. “Spontanitas, Broskie! Spontan. Di sini ada anak kecil, kalo saya panggil ‘sayang’, kan, bisa bahaya!”


“Dih, amit-amit! Saya sayangnya cuman sama Mama dan Aya juga Milea, ya!”


“Ya, udah! Jangan protes dong!”


“Udahlah, kalian nggak jelas! Vano mau pulang dan tidur. Kayaknya bakalan nginep di rumah Bunda lagi sampe besok.”


Fasya menoleh penuh ke arah adiknya. “Sejak kapan kamu sebut rumah Bunda dengan rumah Bunda? Maksudnya, rumah Bunda juga rumah kamu, heh!”


Membentak Fasya yang sebenarnya tidak menoleransi bentakan adalah aksi melempar bom di peperangan. Namun, Revano ngantuk dan dia sangat-sangat-teramat-ingin tidur tenang di sofa rumah Bunda.


Malamnya, Dimas membawa kabar jika Fanya tidak berada di Padalarang. Di Lembang, bahkan di Cicalengka, dan manapun. Dimas sudah melapor ke kepolisian berkat koneksinya dengan ayah dari teman putrinya, temannya semasa SMA, Brigadir Panji.


Dimas hanya menyampaikan berita kepada Kamaliel dan kerabat tetangga mereka, kecuali Ana sebab wanita ini sudah tenang dengan mengetahui jika putrinya berada di Padalarang, padahal tidak sama sekali.


“Kang, kenapa bisa kamu curigai Revano?” Dimas masih berdiam diri di kamar putra sulungnya yang temaram ini pada seperempat malam. Dia baru pulang dari Padalarang setelah selesai jam kerja.


“Kayak di film dan drama-drama kriminal, Pa,” katanya, “kalo ada orang hilang, cari henpon atau cari orang yang dia temui terakhir kali. Kalo henpon, cari nama yang terakhir kali dia hubungi. Kalo bukan henpon, ya, orang yang dia temui terakhir kali.


“Kasus Aya, dia ninggalin henpon. Jadi, Kama lihat siapa yang dia hubungi terakhir kali. Aya matiin ponsel pada jam yang sama ketika dia bertukar pesan sama Revano hari itu. Kuat banget dugaannya, tapi beneran bukan Revano, Pa.”


“Ya, memang bukan!”


“Papa kok percaya gitu aja?”


“Karena kalo memang dia, Aldo bakalan marahi habis-habisan anaknya sampai ngaku, tapi Papa dengar kalau dia berusaha cari tahu semalaman. Sudah pasti bukan.”

__ADS_1


“Terus apa kata polisi?”


“Akan segera diusut.”


“Dih, gitu doang? Kenapa nggak langsung pergi ke TKP? Ke Gasibu.”


“Papa nggak tau. Mungkin harus bikin surat izin dulu. Mungkin izin penggeledahan, dan lain sebagainya. Kamu yang banyak nonton kriminal katanya tahu, tapi urusan izin dan surat perintah aja nggak tahu! Gimana, sih?” cibir Dimas.


“Sudah, jangan sampai Mama dengar hal ini. Jangan sampai dia panik dan urusan makin ruwet. Papa percaya sama polisi yang akan cari dan usut, teman Papa yang merupakan ayah temannya Aya juga akan turun tangan.”


“Keren banget! Emangnya boleh?”


“Pangkat dia Brigadir, status dia bisa dibilang kerabat kita. Semoga bisa cepat disetujui dan dibikinin surat perintah sama atasan mereka. Walaupun divisinya Panji dengan divisi khusus pelaporan orang hilang berbeda.”


“Udah, ah, sana! Papa cepetan samperin Mama supaya nggak dikira lembur ples-ples sama Mama.”


“Apaan, tuh?”


“Nggak tau!”


“Ingat. Jangan biarkan Mama sampai tau hal ini! Dia taunya Aya pergi ketemu Aki dan Enin di Padalarang, padahal mereka lagi berkunjung ke Lembang, ke rumahnya tante Yola.”


Dua hari pasca diduga pergi ke Padalarang, padahal sudah membuat laporan orang hilang atas nama Fanya Fransiska dengan ciri-ciri terperinci beserta foto yang disebarkan secara resmi oleh pihak kepolisian atas persetujuan pihak keluarga, kecuali Ana yang tidak diperbolehkan tahu.


Keberadaan Fanya masih menjadi misteri.


...----------------...


Kamaliel terjaga, padahal jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Dia gelisah sendirian di ruangan temaram berwarna monokrom miliknya.


Bisa saja dia mencari tahu melalui jalur perhubungan antara dunia manusia dengan dunia tak terlihat, atau tak kasat mata menggunakan kemampuannya.


Namun, dia tidak bernyali, dia sudah tahu akan seperti apa jika benar-benar melakukannya, maka Kamaliel hanya mampu melangitkan harapnya, semoga adiknya baik-baik saja, dapat makan, tidur, uang, dan tidak terkena musibah. Amin.


Kamaliel pun memutuskan untuk tertidur setelah dia selesai dengan tulisan pada buku hitamnya yang sengaja dia biarkan terbuka.


[Bos, Aya hilang. Udah dua hari. Kapan kamu balik dan bikin cowok ganteng ini mind blowing?


Bos baik-baik aja, kan?

__ADS_1


Semoga Bos pantau Aya juga biar kalian baik-baik aja [tersenyum bodoh]]


__ADS_2