Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
21. Triple Kill For Revano


__ADS_3

Duduk berdua di gazebo rumah Wisnu, ditambah pemandangan langit cerah kejinggaan di atas sana.


Dua bersahabat itu benar-benar contoh teladan yang baik kepada temannya.


Diundang ke pesta namun datang sebelum acaranya benar-benar dimulai, sehingga keduanya memutuskan untuk menjadi tukang pasang dekorasi beberapa waktu lalu demi kelancaran acara dan durasi.


“Selain itu … itu bukan kompetisi semata, Kel,” ungkap Revano.


Revano yang menunduk itu mulai menegakkan kepalanya dan menatap tepat ke manik mata Mikel. “Bams ngajak anak TXT taruhan seharga manggung dengan satu tantangan,” ungkapnya lagi.


Revano kembali menunduk. “Gua tau ini salah, tapi demi posisi yang menjanjikan; tantangannya itu harus bisa jadian sama cewek kulkas dari sekolah lu.”


“Oh, oke juga taruhannya,” balas Mikel.


Revano menatap tidak menduga ke arah Mikel. Nggak biasanya dia biasa-biasa aja kalau gua ngomongin Aya. Biasanya dia bakalan marah-marah kalau gua berbuat buruk atau punya rencana nggak bagus untuk Aya. Ini beneran Mikel sahabat baik gua bukan sih?


Mikel mulai menunjukkan reaksi lain, seperti cerah di wajahnya menjadi kosong, kerutan tampak jelas pada celah alis tebalnya. “Cewek kulkas dari SMP PGRI Margayu, Van?” Memastikan.


Revano tidak ada pilihan selain mengangguk mengiyakan.


“Hahaha, mana ada anjir! Kagak ada cewek kulkas, yang ada cowok kulkas tujuh pintu dan itu adalah si Zizi.”


“Namanya Jiji? Kayak kucingnya Kiki si penyihir muda?”


“Hooh, si Zizi, tapi pake zet.”


Revano mengangguk-angguk. “Lu nggak marah, Kel?”


“Kenapa gua harus marah, Van?”


Revano terkesima saking terkejutnya ketika Mikel tidak marah sebab targetnya adalah cewek kulkas alias Fanya.


“Cewek kulkas dari sekolah lu terkenal banget di SMPN 2, Kel. Ya, nggak salah sih … Aya tuh sekarang cantik, pinter, dan misterius gitu. Jadi, geregetan pengen jadiin pacar.”


“APA KATA LU?”


“Iya, kan?” Revano terkejut. “Aya emang cantik dan kelihatan misterius sekarang.”


“Jadi, cewek kulkas yang dikenal di sekolahan lu itu Aya? Fanya Fransiska, Van?”


Revano mengangguk cepat. “Ada baiknya kalau target taruhan geng TXT itu si Aya, coba kalau cew—”


“Sialan, maneh! Nyari mati siah!” hardiknya. Mikel bangkit dari duduknya. “Belegug siah!” Mikel meninju pipi sahabatnya.


(maneh: lu, kamu. Belegug siah: benar-benar dungu!)


“Kok lu mukul aing?!”


“Lu belegug anjir!”


Mikel meninggalkan Revano di gazebo sendirian.


Diketahui Mikel pergi meninggalkan kediaman Wisnu untuk suatu urusan yang tidak bisa dia lontarkan kepada pemilik acara alias sahabatnya. Mikel benar-benar marah ketika tahu siapa target taruhan edan yang sedang Revano jalankan bersama geng bebuyutan Medali.


“Tamansari nyari ribut sama Arcamanik, heh?” Mikel tersenyum sinis. “Lawan dulu Medali. Arcamanik punya back up kali.”


20.23. Sesuai dugaannya bahwa acara sudah dimulai bahkan dentuman musik sedang berada pada klimaksnya.


Pencahayaan di dalam dan luar ruangan tak ada beda, begitu benderang seakan mencerminkan harapan akan masa muda yang cerah—seharusnya masa depan namun tidak ada yang tahu—sehingga setiap orang yang ada di sudut ruangan bisa terlihat jelas keberadaannya, dan laki-laki ini melangkahkan tungkainya masuk semakin dalam meskipun semua mata tertuju kepadanya.


Pada malam ini yang menjadi bintang adalah Wisnu dan Jia, selain itu sudah pasti pengiring musik acara ini, yaitu geng TXT, ralat; band TXT.


Namun, mengapa semua mata malah tertuju kepadanya?


Bahkan suara alat-alat musik yang benar-benar berada pada refrein lagu harus mengudara, sehingga digantikan dengan bisik-bisik para tamu undangan lainnya.

__ADS_1


Pakaiannya monokrom, menenteng sebuah tas berisikan kado yang akan dia berikan kepada temannya. Meski kebingungan, dia tetap melanjutkan langkahnya, sehingga tibalah dia di hadapan pemilik acara meriah ini.


Ah, dan satu hal lagi; dia mengenakan helm di kepalanya, sehingga kedatangannya membuat tamu bahkan pemilik acara terkejut dibuatnya.


Mereka sibuk mengira-ngira siapakah tamu yang datang dengan penampilan misterius itu?


Wisnu terkekeh sarkas. “Heh, pergi ke mana aja maneh? Sejak sore ngilang gitu aja!” Wisnu tahu siapa wajah di balik helm hitam full face itu, sehingga hal itu membuatnya kesal. Lebih dominan khawatir sih dibandingkan kesal. Soalnya takut terjadi apa-apa dengan temannya satu ini.


Bukannya menjawab ucapan penuh tanya dan sudah jelas jika Wisnu meminta penjelasan darinya, tetapi dia malah menyerahkan tas berukuran 70 x 40 cm itu ke hadapan adik Wisnu, Jia Wirawan.


“*Wilujeng mondokan umur, euy! Sing panjang umur kalayan barokah. Sing kahontal cita-cita, kade tong poho bakti ka kolot,” ucapnya dalam bahasa ibu di tanah ini. “Aing nggak bisa lama-lama, Nu. Aing baik-baik aja kok, tadi sore nggak sempet bilang karena ada urusan mendadak.”


(*Selamat berkurang usia, ya! Semoga panjang umur dan menjadi berkah. Semoga tercapai cita-cita dan jangan lupakan bakti kepada orang tua.)


Jia segera menerima tas yang terbuat dari bahan kertas pemberian teman Wisnu dengan raut khawatir juga. Teringat hal baik yang dilakukan oleh laki-laki itu sore tadi sebelum acara dimulai.


“Maaf, ya, kalo kita ngerepotin kamu. Jangan lupa ambil tanda terima kasihnya, atau mau dibekelin makanan sekalian?”


Wisnu setuju dengan usulan adiknya, tetapi dia malah mengatakan hal ini. “Mikel nyariin lu anjir. Datang-datang dia panik dan nanyain lu ke mana. Lah, mana aing tau? Bikin overthingking aja sia mah!”


Laki-laki itu terkekeh. “Hampura, euy. Si Kekel di mana ayeuna?”


(Maafin. ... di mana sekarang?)


Wisnu segera menunjuk ke arah gazebo yang berada di pojok kiri taman belakang rumahnya. “Dia lagi barengan sama geng kelasnya.”


Meskipun diberitahu bahwa Mikel sedang bersama teman-teman sekelasnya, tetapi laki-laki itu tidak tahu siapa-siapa saja yang tengah bersama sahabatnya itu.


Ya, laki-laki itu adalah Revano. Dia sengaja datang dengan masih memakai helm, sebab kedatangannya kemari tidak akan berlangsung lama. Setelah bertemu Wisnu dan mengulur waktu sedikit untuk menghampiri Mikel untuk sedikitnya meluruskan hal yang tadi sore mereka perbincangkan.


Revano mengangguk. “Aing ke si Kekel dulu, ya. Wilujeng tepang taunnya, Nu, Jia. Aing pamit.”


(Selamat ulang tahun, ya ...)


Di sudut lain, Tara dan anggota bandnya bergeming ketika melihat tamu terakhir yang datang. Katanya sih orang dengan helm di kepalanya itu orang terakhir.


Tara juga tidak menemukan kehadiran Revano sejak dia dan anggotanya tiba di rumah pemilik acara.


“Gimana, Dit? Si berlagu itu nggak ada muncul di acara temennya sendiri. Untung aja formasi kita baik-baik aja walau sekarang cuman berlima.” Lagi-lagi, Bams dan seribu ucapannya untuk merendahkan teman Tara.


Tara menggeleng kaku, sejujurnya dia ragu dengan keyakinan dan rasa percaya yang dia berikan kepada sahabatnya, Revano.


Namun, Tara yakin jika Revano tidak akan membuatnya kecewa meski laki-laki yang merupakan sahabatnya sering membual.


Senyumannya mengembang begitu mendapati keberadaan Mikel di gazebo sana. Dia hendak menyerukan nama Mikel agar membuat laki-laki itu menoleh ke arahnya, tetapi seketika melihat siapa yang tengah bersama Mikel di sana membuat senyumnya memudar.


Apalagi di sana Mikel begitu bersemangat menertawakan seseorang. Melihat siapa yang Mikel tertawakan membuatnya mengernyitkan dahi yang tertutupi helm hitamnya. Bukan terhadap Mikel dia melayangkan keheranan, tetapi kepada seseorang yang Mikel nistakan itu.


“Le, lo keterlaluan banget sama si Neng!” Hanalya menuduh Mikel dengan perkara yang jelas.


Mikel yang berhasil merusak riasan wajah Hanalya dan Fanya malah tertawa terbahak. Suara tawanya renyah dan menular. Membuat dua gadis itu juga ikut tertawa.


Mereka asik sendiri di tengah banyaknya tamu undangan yang tidak suka melihat kedekatan mereka di gazebo.


Fanya tersenyum penuh menghadap ke arah Mikel. “Mike, makasih udah tolongin aku dari—” Namun, ucapannya disela oleh Mikel.


“Nggak usah dijelasin. Nggak usah bilang makasih ke gua, Ay!” Mikel tersenyum. “Hehe, tapi masama deh. Udah gua bilang, gua bakalan jagain elu. Jadi ….”


Revano berdiri cukup dekat dari gazebo tempat tiga sekawan itu duduk dan menghabiskan hidangan bersama di sana.


Entah mengapa ada bagian di dalam tubuhnya yang seperti diremat kuat oleh sesuatu, ada bagian tubuhnya yang sesak seakan telah dihantam benda keras setelah tidak sengaja menguping percakapan tiga sekawan itu.


Pada kalimat selanjutnya dari Mikel hanya terdengar samar sebab suara dentuman musik kembali terdengar. Bahkan orang terdekatnya sekalipun bisa selangkah lebih maju darinya yang sudah berusaha melangkah puluhan kali.


Bahkan di sekitarnya pun tidak ada yang berniat untuk menegurnya. Padahal, niat Revano datang untuk meminta bantuan Mikel sebab sore tadi laki-laki itu menawarkan diri. Perasaan Revano malam ini campur aduk.

__ADS_1


Apa yang dia saksikan malam ini sungguhlah di luar perkiraannya. Mikel dan gadis incarannya sedang duduk bersama dengan candaan tidak berarti sebab Revano bisa membuat candaan lebih lucu dari yang Mikel lakukan. Mikel dan target Revano ternyata sedekat itu.


“Kel, sejak kapan lu … deket sama korban kejahilan kita?” gumamnya keheranan. Menatap nanar ke arah tiga sekawan itu dengan memberikan senyuman miring. “Setahu aing, Aya nggak pernah mau deket sama Kekel atau bahkan Nunu, apalagi Adit, karena Aya suka sama Nunu, selain itu Aya nggak suka sama Kekel yang culametan, sementara Adit ….”


(culametan: banyak maunya)


Lalu, bagaimana dengan dirinya sendiri?


Mengapa Revano tidak mempertanyakan mengenai dirinya sendiri. Bukankah dia sadar jika dahulu dia dan sahabatnya sering menjahili gadis jutek itu?


Lantas, mengapa Revano tetap optimis untuk melancarkan rencana taruhannya?


Fanya bangkit dan pamit kepada dua temannya. Ketika dia berjalan meninggalkan gazebo, matanya bersitatap dengan laki-laki berhelm yang berdiri tak jauh dari gazebo. Tanpa menaruh curiga sama sekali, dia berjalan melewati tamu undangan itu dan segera menuntaskan hajatnya.


Revano bergeming ketika gadis dengan balutan gaun selutut yang sialnya memancarkan kecantikan alami dari dalam diri gadis itu membutnya merasakan debaran aneh di dalam tubuhnya. Ketika dia hanya dilewati begitu saja, Revano kecewa meskipun debaran aneh itu malah semakin cepat ritmenya.


Dengan penuh keyakinan, Revano berusaha menyusul gadis barusan untuk melancarkan rencananya yang sempat tertunda sebab penolakan dari targetnya kapan hari.


Laki-laki ini sudah bulat dengan tekadnya. Ketika si gadis keluar dari dalam toilet, dia akan mengajaknya pulang bersama. Walau sebenarnya ada hal genting yang harus dia urusi, tetapi gadis ini lebih penting.


Dia tidak mau membuat gadis ini bertemu dengan Tara atau anggota TXT lainnya. Tidak akan pernah.


Revano menunggu kembalinya si gadis di dekat pintu penghubung antara ruang utama dengan ruangan belakang rumah.


Ketika dia mendapati gadis itu keluar dari bilik kamar mandi, dia melangkah maju dengan penampilannya yang masih sama, bersama helm yang terpasang di kepalanya.


Rencananya, Revano akan menarik paksa dia dengan menggenggam paksa lengannya dan membawanya pulang dari acara ini.


Satu, dua langkah dia kerahkan. Senyuman terbit pada wajahnya di balik helm hitam. Langkah ketiga dan keempat mulai mengendur. Melihat ada orang lain yang menghampiri gadis itu membuatnya sontak bergeming dengan benak yang penuh pertanyaan.


Seketika di sekitarnya terlihat seperti adegan dalam drama yang mana waktu terasa berjalan begitu lambat baginya.


“Ya, aku nyariin tau!” katanya begitu lemah lembut kepada gadis itu. “Ayo, ke gazebo bareng. Jangan sampai biarin si Tom dan Jerry Margayu berduaan, nanti mereka anuan, hahaha.”


Hal paling dia sesalkan selanjutnya adalah respon dari gadis itu. Fanya terkekeh begitu anggun ketika orang yang menghampirinya barusan, sialnya dia laki-laki, membuat lelucon sederhana yang dia lontarkan kepada Fanya.


Apalagi kontak fisik antara dua insan di sana cukup intens seperti dua orang yang tidak akan pernah merasa canggung satu sama lain.


Tiba-tiba seseorang datang entah dari mana dan membuatnya tersentak mundur sebab laki-laki itu menarik bahunya. Revano yang lunglai nyaris terjungkal jika dia tidak segera sadar.


“Ngapain lu pake kostum beginian? Ini bukan pesta kostum.” Menjengkelkan.


Revano memalingkan kepalanya agar tidak menatap ke arah wajah temannya ini. “Soal yang tadi sore … hampurain aing, Kel.” Bukan itu yang akan dia ucapkan, tetapi mengapa mulutnya malah mengeluarkan kalimat penyesalan itu?


(hampurain aing: maafin gua)


Mikel menaikkan sebelah alisnya dan memberikan senyuman miring. “Harusnya lu minta maaf ke orang yang kalian jadiin target, bukan ke gua, Van.” Mikel memegang pundak Revano. “Sore tadi lu ke mana?”


“Balik, Chey butuh aing.” Revano mempertimbangkan rencananya ketika berhadapan dengan Mikel. Gapapa, masih ada besok, kan? Berkata dalam hati yang dirundung sendu. Dia kecewa pada dirinya sendiri.


“Jujur aing kecewa, Van. Lu nggak introspeksi diri, ya, ketika kejadian buruk yang kita buat empat tahun lalu itu? Lu beneran bego atau cuman ngebegoin diri lu sendiri dengan anggapan kalau dia bakalan selalu baik-baik aja?” kesal.


Mikel menatap tajam tepat ke arah mata Revano. “Kali ini, gua yang bakalan pasang badan buat dia. Jadi, kalo kalian sentuh dia walau sehelai rambutnya … kalian harusnya tau bakalan berhadapan sama siapa.”


Mikel melanjutkan kalimatnya. “Lu nggak pantes dia sebut sebagai teman baik. Aing paling tau hubungan lu sama Aya. Kenapa lu tega lakuin hal nggak baik lagi ke dia, Van? Kenapa? Gua yakin pastinya bukan cuman gegara kompetisi buat dapetin vokalis utama. Gua minta penjelasan lu. Lu bisa, kan? Lu mau jelasin, kan?”


Mikel penuh harapan dalam setiap tanya yang dia lontarkan kepada sahabatnya. “Saran gua, lu perbaiki sifat yang minus itu dulu sebelum kejar mimpi lu.” Mikel pun melenggang pergi meninggalkan Revano berhelm.



/Nanas mendadak batuk


Jadi, bagaimana?


Sejauh ini hubungan mereka belum ada akurnya sama sekali. Bahkan makin memburuk.

__ADS_1


bye bye.


__ADS_2