
Dua pekan berlalu. Fanya menyimpulkan bahwa sepertinya dia tidak diizinkan pergi ke Padalarang, padahal dia sangat ingin pergi melayat kerabat di kampung. Ditinggal Mama selama seminggu dengan memberikan hak asuh sementara kepada dua bersaudara yang sudah dewasa, kelas tambahan yang padat jadwal, kerja kelompok, hingga tragedi pojokan sekolah yang membuat Fanya disergap kuyup.
Aksi penyergapan itu membuat seragam Fanya kotor, bau, dan basah. Aksi tidak terpuji dari oknum adik kelas yang diatur oleh senior mereka sendiri. Fanya tidak bisa berkutik hari itu dan langsung dibawa masuk ke ruang konseling untuk puluhan kalinya. Membuat Kamaliel datang dengan seragam hitam putihnya setelah selesai seleksi melamar kerja sebagai selingan kegiatan menunggu hasil kelulusannya.
Hari ini, sepulang sekolah, Fanya tidak mendapati keberadaan Kamaliel dan mobilnya. Hari ini tepat pada pekan ketiga setelah kembali beradaptasi dengan lingkungan sekolah semenjak libur semester lalu. Fanya menunggu jemputan Kamaliel yang mengatakan akan menjemputnya kemudian mereka akan melenggang ke Padalarang sesuai kesepakatan yang mereka buat tadi pagi, bahkan sejak jauh-jauh hari.
Tidak mendapati Kamaliel, kehadiran pemotor berseragam cokelat khas pramuka dipadu dengan denim Dilan telah berhenti di hadapannya.
“Kak Liel disuruh anter Bunda ke bandara jemput Kak Fasya, dia minta aku jemput kamu. Gimana kalau sekalian kencan? Kencan pertama.”
Satu penghalang lagi menuju Padalarang yang kesekian kalinya, Fanya membuat pernyataan demikian ketika kabar dari Kamaliel dikirim melalui perantara bernama Revano. Entah ketiga atau keempat selama tingga minggu belakangan. Hari ini, Sabtu, pada pekan ketiga—tepat pada pekan ketika pasca masuk sekolah—Fanya tidak bisa bersabar lebih. Namun, dia menyerah karena sepertinya dia memang tidak diperbolehkan pergi.
Fanya memasang senyuman paksa dengan slogan: ya, sudahlah.
“Ide yang bagus. Aya suntuk banget akhir-akhir ini, apalagi semenjak digangguin mereka yang lagi memperhatikan kita sekarang di arah jarum jam sembilan.”
Revano mengendurkan sudut bibir yang mengulas senyum sumringah ketika ucapan Fanya seakan memerintahkannya untuk menatap ke arah yang disebutkan. “Mereka siapa?”
“Penggemar Medali, salah satunya adalah penggemar Mikel dan ada pacarnya Wisnu juga. Maksudnya, mantan Wisnu. Aku agak lupa kalau mereka berdua putus gara-gara kelakuan ceweknya yang menjadi dalang untuk gangguin aku,” papar Fanya tanpa bergerak sedikit pun untuk membalas tatapan mereka.
Dia segera menarik helm yang digantung, mengenakannya, lalu dia segera menaiki motor dengan posisi menyerong karena Fanya tidak menggunakan celana panjang.
Revano menatap lekat ke arah kerumunan perempuan yang tingginya beragam itu pada berdiri di depan gerbang kedua sekolah. Dia mengulang ucapan Fanya tentang gadis yang pernah dipacari gebetan Fanya sendiri, sekitar lima dari sembilan perempuan menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan berkilat kebencian.
“Cewek Margayu nggak ada lawan. Pada ngeri semua kata si Kekel, ternyata emang bener adanya kayak gitu. Gara-gara dimabuk visual cowok tampan kata si Kekel juga,” celetuk Revano segera menarik pedal gas motornya.
Setelah memutuskan pergi kemana, keduanya sepakat pulang. Ya, pilihan kencan mereka jatuh pada halaman belakang rumah. Tidak perlu bepergian ke tempat-tempat romantis atau ikonik karena mereka bersemi di halaman belakang rumah yang terkadang disulap menjadi tempat paling ikonik penuh cerita.
__ADS_1
Seharusnya, Sabtu ini Fanya ada kelas tambahan namun karena dia akan pergi Padalarang—yang mana sepertinya berujung gagal lagi, Fanya memutuskan untuk menikmati waktu bersama teman masa kecilnya ini.
“Jadi, cewek-cewek yang lihatin kita tadi siang itu neror kamu, tapi bilangnya iseng doang?”
Setelah mendengar cerita yang sempat Mikel utarakan sebelum Fanya mengutarakannya, dengan berpura-pura tidak pernah tahu perkara, meski begitu dia dibuat geram juga.
“Kayaknya bukan sekedar iseng atau gimana deh, mereka itu bully kamu. Cewek itu yang paling nggak masuk di akal kalo udah saling benci, tapi terkadang kebencian yang mereka tumbuhkan itu rasional sih. Cewek itu sifatnya nggak mau ngalah dan bakalan merasa puas kalau udah ngalahin saingannya.”
Fanya mencebik juga mencibir, “Khatam banget soal cewek kayaknya.”
Sedangkan Revano, dia mengulas senyum, lalu terkekeh. Dia memasukkan kacang atom ekstra pedas ke dalam mulutnya. Dia mengawang ke langit sambil membayangkan separah apa gangguan yang Fanya terima karena sifatnya yang terlalu acuh tak acuh di sekolah semenjak tragedi masa lalu.
“Aya, selain minat kamu untuk ngintilin Nunu ke PGRI Margayu, Vano mau tau selain itu apa?” celetuknya.
“Seriusan bukan karena Wisnu, ih!” Kemudian terdiam.
Fanya banyak menghela napas sebelum menjawab. Dia mempertimbangkan untuk mengatakannya atau tidak kepada Revano, karena sejujurnya dia lebih berminat menjadi fesyen desainer ketimbang mendengar balasan ketertarikan dia terhadap lawan jenis ketika usia awal remaja.
Revano tergelak karena berhasil menggoda Fanya dengan mengungkit hal yang bersangkutan dengan cerita masa lalunya. “Vano minat sama musik, kalo Aya?”
Fanya memangku dagunya dengan sebelah tangan. Matanya menatap iris legam milik Revano. Dia ingin masuk ke dalamnya, melihat apakah ada dirinya di sana atau tidak. Namun, bukan hanya itu yang Fanya pikirkan.
“Guru konseling pernah ngasih pendapat kalau aku suka dengan bidang fesyen, sebenernya Aya nggak tau minat dengan apa waktu itu karena masih esempe, tapi ketika dikasih brosur SMK yang terdapat jurusan busana, terus lulusan dari sana pada sukses di bidang masing-masing. Aya mulai tertarik suka fesyen ketika tau kalau influencer yang Aya ikutin di Instagram ternyata lulusan SMK itu, dan lanjut ke perguruan khusus profesi gitu.
“Bu Ida, walikelas Aya, juga saranin untuk cari tahu lebih jauh tentang minat aku kemarin. Sejak selalu nongkrong di BK selama dua tahun, bahkan guru BK, namanya Bu Priska, pernah tanyain minat dan bakat aku … dia bakalan kasih brosur sekolahan yang sekiranya menarik minatku. Bu Priska konsultasi ke Bu Ida, dan pada akhirnya Bu Ida sarankan Aya untuk coba masuk SMK Taruna. Kayaknya, Aya minat ke fesyen. Desain busana, mode, dan semacamnya.” Fanya merenggut kepalanya dari punggung tangan.
“Vano sendiri, selain minat sama musik … selain sama musik, apakah ada?”
__ADS_1
Fanya dengan dirinya berbeda, pikirnya. Revano bertanya-tanya mengapa orang-orang yang dia kenal baru memulai minatnya pada usia remaja, sedangkan dirinya kukuh dengan minat pertamanya pada musik, yang diawali dengan melihat seorang bassist memainkan senar elektrik itu dengan lihai dan keren ketika dia berusia sebelas tahun. Pada usia itu, teman-temannya malah sibuk memilih karakter animasi yang mereka tonton atau bermain dengan logika yang kekanakan.
“Kalau ada mesin waktu, Vano mau perbaiki pilihan dan tumbuh sebagai anak yang manut sama orang tua. Disuruh ini tuh jangan ngeyel sama keinginan yang nggak seberapa, tuh ya, harus nurut, tapi Vano malah pengkuh dengan kemauan sendiri. Bermusik. Vano suka main musik, dengerin musik, bahkan pernah diajak main kabaret … Vano suka ketika orang-orang terhibur dengan apa yang Vano tampilkan. Entah musik, nyanyian, atau lakon.
“Vano nggak pernah nyangka kalau kamu sering masuk BK. Sebenernya segimana buruk sih perangai kamu di sekolah? Tapi, nggak usah jawab pertanyaan barusan. Vano nggak pernah masuk BK kalau bukan menjadi saksi, dan guru BK di sekolah jutek banget. Dia nggak pernah tuh banyak bicara kalau bukan lagi ceramahin anak-anak yang bikin onar.
“Meskipun gitu, guru BK di sekolah Vano itu pemerhati paling tenang. Dia udah kayak agen CIA kalo sekali aja kita masuk BK, kita bakalan diperhatikan kayak mantan napi yang bebas bersyarat. Nggak tau deh tujuannya buat apa. Vano juga nggak tau bakalan lanjut sekolah ke mana, rasanya nggak ada Aya tuh aneh banget, tapi selama tiga tahun ini Vano rasa selama ini salah.”
Revano membenarkan ucapannya di dalam hati. “Benar, Vano baik-baik aja walaupun nggak ada Aya di sekolah yang sama, tapi tetep aja kayak ada yang kurang. Kesannya tuh tanpa adanya Aya, bahkan kena hukuman sama anak OSIS aja berasa bohongan.
“Vano ngerasa tiga tahun terakhir ini kayak menjalani hidup bohongan, tapi kenyataannya nggak kayak gitu. Hidup tetap berputar meski nggak ada Aya di sekitar Vano sekalipun, kecuali kalo yang pergi adalah Ren. Kalau bukan karena kepergian Ren, mungkin Vano nggak bakalan bisa kayak gini bareng Aya, sih, tapi tetep aja Vano butuh Ren.”
Revano tersenyum setelah kehampaan menyergap kesadarannya. “Benar apa kata orang dewasa, terkadang kalau kita memaku diri ke belakang terus, kita nggak bakalan bisa hidup di masa depan dengan baik dan nyaman. Adakalanya meninggalkan hal-hal yang seharusnya memang ditinggalkan untuk masa itu udah cukup, karena ketika kita kangen sama momennya, kita bisa merasa bahagia,” katanya.
“Wah, dulu Vano gini. Dulu Aya gitu. Dulu kita asik banget. Meskipun nggak bisa putar balik waktu atau ngulang hal yang sama sekali pun, tapi hanya dengan mengenang aja bisa bikin senang, kan?” Per sekon kemudian, Revano kembali angkat suara.
“Minat Vano kayaknya sih selain musik itu, ya … kamu.”
Fanya termenung.
Kedatangan dua laki-laki dewasa ke area halaman belakang rumah orang tua Fanya membuyarkan percakapan intens antara dua sekawan itu dengan acara tanya kabar. Sebab, kepulangan kakak tertua Revano benar-benar memberikan atmosfer berbeda kepadanya dan Kamaliel. Fanya sendiri merasa aman ketika kedatangan dua laki-laki tertua mereka menyerobot masuk ke dalam perbincangan yang mind blowing.
Pada akhirnya, dua sekawan tidak kencan, mereka memutuskan untuk hangout bersama saudaranya di taman belakang. Rencananya mereka akan pesta ayam panggang sebagai pesta penyambutan kepulangan Fasya. Malamnya, dua keluarga yang rumahnya disekat jalanan gang seluas tiga meter itu berkumpul bersama. Paket lengkap.
“Aya, karena hari ini kita nggak jadi ke Padalarang, si Kiki titip salam waktu itu. Katanya, kamu nggak perlu repot-repot datang ke sana kalau nggak mau digangguin pasukan. Sori, Kama baru sampein pesannya si Kiki. Soalnya sejak Mama pulang dari Padalarang kamu ngototnya minta ampun sih!”
“Kiki?” Revano mengerutkan dahinya. “Siapa Kiki?”
__ADS_1
“Balad si Aya dari Padalarang,” balas Kamaliel.