Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
20. Nggak Sengaja Nguping


__ADS_3

BCL pernah berkata, “Jika ada yang bilang aku berubah, jangan kau dengar.” Kalimat ini seakan mewakili Revano terhadap Fanya.


Sejatinya teman masa kecil adalah yang paling tahu sifat-sifat temannya itu seperti apa, akan bersikap bagaimana sebab mereka tumbuh bersama, dan akan sama-sama keheranan jikalau salah satunya bersikap lain dari biasanya.


Untuk kasus Revano dan Fanya itu, keduanya bahkan tumbuh dalam asuhan yang sama, lingkungan yang sama, bahkan rasa sayang yang tidak diberikan secara pilih kasih, sama rata sebab setiap anak berhak mendapatkan itu.


Namun, kalimat dari BCL itu ternyata dusta jika Revano menujukannya kepada Fanya.


Gadis itu dikabarkan berubah, Revano tidak mendengar, tetapi nyatanya gadis itu benar-benar berubah. Apakah Revano berhak untuk kecewa?


Laki-laki jangkung dan memiliki mata sipit itu turun dari kuda besinya ketika dia sudah tiba di alamat tujuan.


Rumah Tara yang menjadi tempat berkumpulnya anggota TXT. Untuk informasi kecil, TXT adalah kepanjangan dari Teman-Teman Tamansari.


Tara dan lima anggota TXT lain berasal dari kelurahan Tamansari, lebih tepatnya perkumpulan anak dari sekolah kristen yang siap dibaptis di daerah Tamansari. Namun, Revano tidak dibaptis.


Tara tinggal di daerah jalan Wastu Kencana, Tamansari. Tidak hanya Tara, kabarnya Wisnu dan adik kembarnya juga tinggal di daerah yang sama namun memang tidak berdekatan.


Baiklah, sudahi membahas geografis yang ada di Bandung. Cukup ketahui saja jika Bandung itu tidak sempit, luas sampai-sampai banyak sekali jalan tikus dan gang-gang yang saling terhubung satu sama lain.


Sebenarnya bisa saja Revano langsung pergi ke alamat rumah Wisnu untuk menghadiri pesta ulang tahun kakak-beradik kembar yang belum dimulai.


Tinggal berjalan kaki ratusan meter saja, tetapi Revano ada keperluan dengan Tara sehingga dia langsung melenggang pergi ke samping rumah Tara.


Di sana ada sebuah ruangan khusus untuk alat-alat musik dan memang dijadikan tempat latihan dan atau ruangan bermusik keluarga Tara.


Revano sudah berada di depan pintu ruangan musik itu, celah pintu yang terbuka membuat Revano urung untuk menarik kenop dan akan segera menyapa Tara, tetapi sebuah suara membuat Revano benar-benar urung untuk memasuki ruangan di mana terdapat keberadaan sahabatnya.


Bagaimana Revano bisa langsung tahu jika Tara ada di sana?


Sebelum datang kemari, Revano bertukar pesan dengan Tara. Katanya laki-laki bermata bulat dan lebar itu sedang latihan untuk menguasai lagu-lagu yang akan geng TXT tunjukkan di acara ulang tahun temannya Tara dan Revano nanti malam.


Dia terkekeh. “Dit, lo nggak boleh mundur. Lo lebih berhak dari si Vano buat jadi vokalis utama. Lo tau tujuan gua adain taruhan ini biar bikin fokus dia buyar di TXT. Gua nggak suka semenjak lu ngajakin cowok berlagu itu masuk ke geng kita. Dia anak Arcamanik bukan Tamansari. Arcamanik tuh saingan kita!”


“Kenapa sih selalu bilang Arcamanik saingan?” tanya Tara.


“Ada seseorang yang pernah ngajak duel, Dit. Dia ngajakin duel sama anak Tamansari, tapi mereka malah ngadu dombain Tamansari!” Bersungut-sungut. “Dan, aing nggak mau ada anak Arcamanik yang masuk Tamansari, bolehlah kalau sebagai tamu, tapi temen lu nggak gua nggap tamu, dia penyusup dan gua mau dia pergi dengan rasa malu yang pernah Tamansari dapetin!”


Revano tertegun. Perlahan tangannya mengepal kuat. Tidak pernah Revano menyangka jika selama ini dia dipermainkan dan diperlakukan seburuk itu di belakangnya. Padahal Revano sudah sangat bangga bisa bergabung dengan TXT yang mana terdapat anak-anak berprestasi dalam bermusik.


Terdengar suara helaan napas keras dari Tara di dalam sana. “Harusnya lu nggak perlu bersiasat buruk kayak gini. Dia temen gua, dia juga punya potensi lebih baik dari gua untuk bisa berada di posisi vokalis utama, Bang.”


Laki-laki yang menjadi teman berbincang Tara itu terkekeh nyaring. “Dia itu nggak ada apa-apanya. Ucapan lu itu bohong, Dit!” tuduhnya.


“Sialan!” kesal, “Terus lu mau apa setelah ini? Kalo lu berani macam-macam sama temen gua, Bang … gua mundur dari TXT!”


Tara serius dengan ucapannya. Bukan karena merasa iba terhadap temannya, bukan, melainkan Tara sudah tahu jika kawan satu kompleknya ini memiliki siasat buruk dan mencoba mengambinghitamkan Revano dengan dirinya.

__ADS_1


“Sejujurnya gua nggak perlu lakukan apa pun. Di akhir nanti setelah taruhan selesai, entah si cowok berlagu berhasil dapetin cewek olim itu atau nggak, gua bakalan tetep dengan keputusan gua untuk ngasih posisi vokalis utama ke elo,” ungkapnya.


Dialah Bams, laki-laki dengan wajah kalem, penuh kharisma, tetapi dia menyembunyikan kebobrokannya di balik semua kharisma itu. Bams cukup berbahaya.


“Setelah si cowok berlagu itu selesai dengan taruhan kita, yang gua harapkan adalah dia nggak lagi gabung TXT.”


“Jadi, tujuan lo adalah untuk bikin Revano keluar dengan suatu masalah, Bang?” tanya Tara.


Bams menjentikkan jemarinya. “Persis!” jawabnya.


Bams tersenyum puas. “Kayaknya lu juga setuju. Gua tau lu keberatan ketika orang yang lu suka malah nempel terus sama cowok berlagu itu, kan? Gua bantuin lu deket sama cewek yang lu incer, Dit.”


Revano tersenyum miring penuh kekecewaan.


Ah, jadi seperti ini yang namanya ditikam dari belakang itu?


Cukup tahu sajalah. Setelah mendengar percakapan secara tidak sengaja ini, Revano pergi dari kediaman Tara. Urungkan niatnya untuk bertemu dengan sahabatnya yang ternyata menjadi musuh dalam selimut.


Tara menganga tak percaya. “Lu cowok nggak sih, Bang? Lu pengecut banget cuman karena rasa iri lu terhadap orang berpotensi kayak Revano. Apa salahnya sih lu ngakuin kalo Revano lebih baik dari diri lu sendiri?”


Bams berang. Bahkan urat lehernya tampak menonjol. “Sialan, lu!”


Kembali lagi kepada Revano. Di depan motornya dia berdiri dengan penuh kegundahan hati yang mulai memuncak.


“Kalo gua mundur, rugi bandar. Nggak! Nggak harus mundur, kan? Ada cara lainnya, kan?”


Revano mengepalkan tangan kanannya lalu diangkatnya naik sebatas kepala. “Liat aja, gua bakalan menang taruhan dan bikin mereka rugi bandar. Apa? Nggak mau kasih posisi vokalis utama ke aing? Nggak masalah.” Tertawa sarkas, lekas itu dia langsung menaiki motornya dan melaju meninggalkan rumah Tara.


Tujuannya kali ini adalah rumah Wisnu yang berjarak ratusan meter dan harus sedikit berputar.


Ekspresinya mengeras, matanya berkilat, dan otot di rahangnya bergerak-gerak. “Gapapa nggak dapetin posisi itu, palingan juga diketawain sama Ayah doang. Haha, diketawain bapak sendiri mah bukan apa-apa ….”


Ada kegentaran yang coba dia redam. “Gapapa, paling kena mental doang. Udah biasa,” lanjutnya dengan nada bergetar.


Setelah puas melampiaskan kekesalan dengan ngebut-ngebutan di jalanan yang cukup jarang dilalui kendaraan, ngebut-ngebutan di suatu tempat yang dulunya santer gara-gara ditemukan mayat perempuan yang sudah tidak mengenakan sehelai benang dan tubuhnya penuh dengan luka mulai dari luka tusuk dan pukulan benda tajam.


Laki-laki jangkung yang mengendarai kuda besi gagahnya ini tidak peduli apa yang telah terjadi sebelumnya di tempat itu.


Satu hal yang dia pegang; saat itu dia sedang kesal dan inginkan menghajar orang namun demi menjaga nama baiknya, dia tidak peduli jika dirinya sendiri yang akan terluka.


Sudut mulutnya berkedut. “Lu sebenernya belain aing atau berusaha nyalahin aing, sih, Kel?”


Mikel, laki-laki dengan paras oriental itu memberi senyuman miring. “Lebih tepatnya gua mencoba menyimpulkan kalau sejak awal lu itu udah salah. Sejak awal, sejak lu mau-mau aja diajak si Bolotot masuk gengnya dia yang toxic abis,” simpulnya.


(toxic : racun, tidak baik)


Revano menatap datar ke arah Mikel. Wajahnya yang semula mengeras itu mulai mengendur. “Salah, ya? Impian gua salah, ya? Harusnya gua nggak bandel dengan kekeuh gapai impian gua yang nggak berguna, bahkan nggak dengerin ucapan Ayah?!”

__ADS_1


Seketika Mikel tersinggung. “Nggak gitu, Van!”


Mikel menghela napas panjang sebelum dia menasihati sahabat baiknya. “Impian lu itu nggak salah, yang salah adalah cara lu untuk dapetinnya. Lu udah tau kalo gengnya Adit itu slek sama anak-anak Arcamanik. Secara teknis lu udah jadi bagian di Arcamanik setelah pindah dari Kebon Hejo, dan ngebikin anak-anak Tamansari mempermainkan elu.


“Impian lu nggak salah. Lu kalo mau gapai impian, butuh backing atau partner tuh ngomong sama aing. Emang bedebah lu! Katanya kita sahabat bagai kepompong, buktinya mana anjir? Sia mah ngawadul!”


(backing: bantuan, partner: rekan, teman, aing: gua, aku (bahasa sehari-hari), sia mah ngawadul: lo berbohong.)


“Kok jadi lu yang ngambek sih?”


“Ya, bengeut elunya anjir ngeselin!” cecarnya. “Katanya kita ini best bro forever, mana buktinya? Sia gede wadul, Van. Nggak nyangka aing bisa temenan sama elu!” Mikel terkekeh sarkas.


(bengeut: wajah, komuk (ekspresi wajah), best bro forever: teman baik selamanya, sia gede wadul (cak. kasar/sehari-hari): lo pembohong, Van)


Mikel sengaja memancing emosi Revano? Tidak.


Lebih tepatnya dia sedang mencurahkan kekesalannya terhadap Revano yang selalu datang kalau laki-laki itu sedang bermasalah dan galau inilah itulah.


Taik ayam emang kalo punya teman modelan Revano. Datang pas butuhnya doang, tetapi kalau datang tanpa diundang lebih taik ayam lagi sih.


Mikel berdeham. “Btw, lu kok bisa tau kalo si Bamszing itu punya siasat dan rencana licik buat nggak jadiin lu vokalis utama di TXT?” tanyanya, “Padahal potensi lu bagus. Progres lu selama tiga tahun terakhir udah mantap walau lu tetep ada minusnya.”


Diberikan komentar membuat Revano makin kesal lagi. “Nggak sengaja nguping!” jawab Revano dengan membentak karena sudah frustrasi dengan respon Mikel.


Respon sahabat baiknya itu ternyata tidak sesuai dengan ekspektasinya. Revano berharap lebih ketika Mikel mempersilakan dirinya untuk berkeluh kesah namun akhirannya malah disudutkan begini.


Nggak like, Mikel kasih bintang dua ajalah.


Tak disangka, respon lanjutan dari Mikel itu membuat Revano semakin kesal. Si bule Meksiko itu malah terbahak-bahak selepas Revano mengatakan kebenaran di balik rencana licik yang ditujukan untuk Revano agar dia tidak berhasil mendapatkan posisi vokalis utama.


“Hahaha, anjir,” kekehnya, “nggak salah, Van?” Mikel menatap tidak percaya ke arah Revano yang duduk di seberangnya.


“Selain itu … itu bukan kompetisi semata, Kel,” ungkap Revano.


Sontak Mikel menghentikkan tawa renyahnya. “Maksud lu?”


Beberapa detik kemudian adalah hal yang tak terduga lainnya. Mikel hanya merespon dengan datar. Revano menatap tidak menduga ke arah Mikel.




Perlukah Nanas sisipkan terjemahan? (udah disisipkan sih, mohon tanggapannya)


Tapi ... sungguhan deh. Nanas bingung (T_T)!


Btw, bagaimana pendapat kamu tentang kejujuran Revano?

__ADS_1


__ADS_2