
...R+14...
...----------------...
Taylor Swift benar, bahwasanya kehilangan dia itu biru seperti tidak pernah tahu apa pun, merindukan dia itu mengabu kesepian, melupakan dia itu seperti mencoba kenalan dengan orang yang belum pernah kita temui, sementara mencintai dia itu merah membara.
Burning red~
Mengingat dia datang dalam bayangan masa lalu dan gema, sontak membuatnya mengatakan bahwa sekarang sudah waktunya melepaskan.
Namun, berpaling darinya adalah ketidakmungkinan ketika dia masih melihat segalanya di dalam kepala, semuanya merah membara.
And that’s why he’s spinnin’ ‘round in my head. Come back to me, burning red~
His love was like driving a new Maserati down a dead-end street.
Mikel Kurniawan Rahadi tergelak. “Aing bohong? Nggak anjir.” Mengulang tuduhan yang dilayangkan kepadanya.
Dia menyisir rambut cepaknya dengan jari tangan, kemudian menatap lawan bicaranya yang tersenyum remeh itu dengan tatapan tajam menusuk, meskipun beberapa detik lalu dia tergelak. “Sebenernya, gua kasih tau lo adalah pilihan buruk karena gua nggak mau bahayain Aya lagi, tapi kemarin lo berlutut—”
Geng sekawan itu akhirnya bisa berkumpul meskipun tanpa kehadiran Tara Aditya. Mereka kumpul bersama di kafe yang saban hari menjadi saksi keputusasaan Revano dalam meminta restu Mikel agar bisa pendekatan dengan teman masa kecilnya—seharusnya Revano meminta izin Kamaliel daripada meminta izin kepada Mikel.
Kafe ini memang tidak begitu istimewa seperti kafe yang menjadi basecamp Band TXT, tetapi kafe ini menjadi pilihan bagus untuk menjadi tempat nongkrong.
Beralamat di Jalan Kebon Jukut 17, Bandung; dekat dengan perlintasan kereta api, dalam artian dekat dengan Stasiun Bandung.
Ketika ucapan Mikel menyinggung tentang kejadian memalukan kapan hari itu, sontak wajahnya berubah tegang. “Jangan buka kartu dong! Kita sepakat untuk nyimpen hal itu berdua aja.” Walaupun, Mikel tidak melanjutkan kalimatnya, dia tetap menyela Mikel.
“Ada yang nggak gua tau, ya?” sahut Wisnu. “Gua tau tentang taruhan edan, tantangan nggak masuk akal yang nargetin Fanya, dan rencana Vano buat deketin dia, tapi apa yang Kekel ucapkan tadi? Kemarin Vano ngapain?”
Revano langsung mengelak. “Nggak!”
“Nggak ada,” jawab Mikel, kemudian merapatkan bibirnya.
Wisnu menyipitkan kedua matanya. “Terus, lo tau dari mana kalo Fanya backstreet sama Zico?”
Mengingat rumor bahwa dua insan itu dijodohkan oleh warga Margayu, Wisnu tidak akan mudah percaya sebab bisa saja Mikel ini sedang berkelakar kepada Revano, mengelabui Revano.
Namun, Mikel terdiam seakan tersudutkan, tetapi sebenarnya dia tidak mau menjawab. Kesaksiannya pasti akan percuma dan dianggap kebohongan lebih lanjut oleh dua sahabatnya ini. Dia menggerutu di dalam kepalanya.
“Bukannya kabar jadian, tapi malah kabar putus? Siapa juga yang bakalan percaya, Kel?” Lagi-lagi Wisnu yang berbicara. Dia mulai terkekeh geli.
Sedangkan itu, Revano bungkam sambil bersandar ke punggung kursi kafe. “Kel, kalo rumor atau ucapan lo bener, itu berarti Aya move on ke orang yang tepat?”
Mikel menarik alisnya. “Lo percaya?”
__ADS_1
“Seandainya ucapan lo bener,” ralatnya, “jadi, emang bener?”
“Iya, seharusnya iya. Fanya move on ke orang yang tepat, tapi secara tiba-tiba … mereka putus. Why?” Mikel tidak bermaksud menyayangkan kandasnya hubungan dua orang paling spektakuler di sekolahnya, melainkan dia terbingung saja.
Hubungan yang dijalin diam-diam itu bukannya tak akan ada masalah, ya?
Namun, ada apa dengan hubungan Raja dan Ratu pararel ini?
Mikel berpikir keras untuk hal ini, meskipun sebenarnya dia bisa menjadikan hal ini sebagai batu lonjakan untuk Revano.
Lagi-lagi, Wisnu tidak mengerti dengan apa yang dua sahabatnya bicarakan. “Emangnya Fanya pernah pacaran sebelumnya? Kok kalian bahas move on gitu?”
Mikel dan Revano menatap ke arah Wisnu yang duduk tepat di samping Revano. Mereka menatap laki-laki yang biasa disapa Nunu itu dengan sudut mata berkerut.
Di kepalanya masing-masing terbesit kalimat: dasar nggak peka! Dia move on dari elo, dia suka sama lo sejak lama, tapi lo malah jadian sama orang lain. Udah sepantasnya dia move on.
“Gua nggak mau jawab,” kata Mikel.
Revano menggelapkan wajahnya. “Gua juga.”
“Lah, ari sia duaan kunaon, sih?” Nggak ngerti lagi, batinnya.
Pada dasarnya dia tidak begitu peduli dengan rumor yang mengatakan hal-hal mengenai Fanya dan semua keburukan atau rumor lainnya. Seriusan, dia tidak begitu peduli, karena itu kehidupan Fanya.
Sebab, dia yakin jika Fanya memang sengaja membuat orang-orang berspekulasi yang lain-lain tentang dirinya, maka dari itu jelas sudah jika gadis yang dikenal jutek itu juga tidak akan peduli. Dia dan Fanya sama, sama-sama tidak peduli dengan rumor.
Lampu kamarnya memang padam namun cahaya yang membias masuk membuat kamarnya remang. Kamarnya berada di lantai dua kediaman tantenya. Heningnya malam membuat laki-laki ini seakan berada di ruang hampa.
Namun, semua narasi tentang hening dan sepi barusan hanya untuk sesaat. Ya, tentunya dipecahkan oleh panggilan dan suara pintu terbuka.
Oh, itu pintu kamarnya yang mana muncul seorang gadis dengan kepala dibalut handuk.
“Ka, turun!” perintahnya. “Makan malam bareng. Kamu kurusan banget. Ayo, makan dan lanjut nanti aja untuk merenungi ceweknya. Mikirin cara baikan sama cewek itu juga butuh tenaga, Ka.”
Revano menoleh ke arah pintu kamarnya. “Chey, kayaknya kali ini Kaka bakalan berhasil!” serunya.
“Apanya yang berhasil?”
Cengiran kemenangan terpatri pada wajahnya yang rupawan. “Kekel bilang kali ini bakalan menjadi kesempatan yang bagus. Dia habis putus dari pacarnya, sehingga Kaka bisa deketin dia dan dapetin hati dia.”
Gadis itu ikutan tersenyum. “Syukurlah. Nah, sekarang ayo makan dulu! Makan yang banyak biar dia nggak ilfil dideketin cowok kerempeng kayak kamu, Ka.”
Dia agak body shaming terhadap saudaranya sendiri, tetapi tidak buruk juga. Hal ini membuat saudaranya terkekeh.
“Nah, udah kelar masalahnya satu. Terus, selanjutnya apa?”
__ADS_1
“Makan dulu, Chey!”
“Ish! Si paling ngebalikin kata-kata,” gerutunya.
...----------------...
Ada setitik ketakutan ketika saudaranya ini mengatakan jika ada hal penting yang hendak mereka bahas pada sesi makan malam eksklusif kali ini.
Akhirnya, setelah dua bulan memantapkan diri dan juga terpisah, baik Revano yang menjadi mediator, maupun Chey yang menjadi suspek utama. Meskipun begitu, mereka benar-benar memantapkan diri untuk mengutarakan permasalahan ini.
Chey mencuri pandang pada mamanya, sedangkan kakinya sibuk menyentuh kaki saudaranya yang duduk di seberangnya. “Mama.”
Revano yang mulanya belum siap sontak melebarkan mata sipitnya. “Chey!” Mendesis kala gadis itu malah memulai duluan, padahal Revano sudah memonitorinya agar tetap diam sebelum Revano yang mulai.
“Hm, kenapa, Dek?” Mama Chey menoleh ke arah putrinya sambil mengunyah makanan.
“Anu, si Kaka mau bilang sesuatu sama Mama,” ungkapnya, kemudian menatap ke arah Revano dan memberikan kode.
“Kaka?” panggil mama Chey. “Ada apa?”
Revano pasrah, padahal dia sudah optimis sejak awal namun Chey merusak rencana mereka. “Tante Nadia sebelumnya Kaka mau minta maaf.”
Sudahlah, Revano memasrahkan dirinya, yang pasti dia harus segera ungkapkan hal ini agar tidak menjadi benalu dalam pikirannya, dan tidak membuat saudaranya terpukul.
“Adek juga, Ma!”
Demi kulit kerang ajaib, Revano tidak mau bersabar. “Chey, diem dulu bisa?” tegurnya. “Tante, selama perjalanan bisnis kemarin, tepatnya beberapa hari setelah Tante Nadia berangkat. Kaka minta maaf karena lalai, Tan. Maaf.”
Nadia, mamanya Chey, kakak dari ayah Revano. Wanita karier ini mengerutkan wajahnya. “Lalai dalam hal apa? Apa sesuatu terjadi di rumah?”
Bersama anggukan lemah, Revano membalas, “Iya, Tante.”
“Apa hal buruk yang terjadi? Kemalingan?”
Revano dan Chey saling pandang. Dua saudara satu nenek itu sama-sama memberikan kode dari gestur kepala dan sorot mata yang terlihat penuh dengan rasa bersalah.
Mereka seperti pencuri yang terciduk, tetapi mereka lebih daripada itu. Mereka tidak terciduk, melainkan menyerahkan diri.
“Bukan,” katanya, “Kaka udah hancurin sesuatu, Tante.” Sambil menatap ke arah Chey dengan ekspresi sedih. “Ini yang paling Tante sayangi, Kaka udah ….”
Chey membelalak. Dia langsung menoleh ke arah sang Mama. Dia terbungkam dengan ucapan yang sepupunya lontarkan barusan.
Tidak, bukan seperti itu rencana yang mereka buat. Bukan kalimat itu, melainkan—“Nggak! Kaka nggak salah, Ma. Ini gara-gara Adek yang nggak bisa ….” Sayangnya, kalimatnya sendiri juga tidak membantu apa pun. Dia masih terbayang-bayang kejadian hari itu.
Nadia terdiam sesaat, kemudian dia mengambil gelas minumnya. “Kalian maksiat di rumah?”
__ADS_1