Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
28. Direspon = Lampu Hijau?


__ADS_3

...Apa yang lebih sakit dari patah hati?...


...Jawab: Kehabisan paketan, tapi nggak punya uang....


...----------------...


Nadia terdiam sesaat, kemudian dia mengambil gelas minumnya. “Kalian ... maksiat ... di rumah?” Setiap kata yang dia lontarkan terputus-putus dan penuh kecurigaan.


Jika situasi seperti ini merupakan adegan dari sinetron, pastinya sudah ada iringan musik menegangkan. Namun, di rumah ini hanya hening diikuti detak jam besar yang dipajang dalam ruang tengah, yang tidak jauh dari ruang makan dan dapur. Hanya terpisah tembok dan akses pintu saja.


Dia tidak tahu harus bereaksi apa, sehingga dia menatap sang mama dengan tatapan kosong. “Kok Mama ngomong gitu, sih?”


“Loh, bukannya tadi Kaka bilang udah rusak sesuatu? Mana dia tatap kamu, Dek,” jawabnya. “Raut wajah si Kaka juga ketebak. Benar kalian maksiat di rumah? Atau mungkin diam-diam kalian konsumsi narkoba?”


“Mama, ih!”


Nadia terkekeh. Meskipun begitu, suaranya amat hambar. “Mama tau kok.” Menatap dua anaknya dengan mata kelamnya. “Dia datang kemari, kan? Dia datang dan bawa wanita itu ke sini? Dia bawain oleh-oleh apa untuk kalian?”


Revano tahu hal ini akan menjadi topik yang tidak mengenakkan, tetapi bukan itu poin utamanya, melainkan keadaan Chey. Di samping keadaan gadis lemah itu, Revano berusaha untuk meringankan beban pikiran Chey terhadap kesalahannya sendiri yang sudah menghancurkan sesuatu.


Namun, salah Revano juga yang tidak berada di rumah dan membiarkan Chey menghadapi pria kurang ajar itu sendirian di rumah ini.


“Tante.” Revano merasa bersalah. “Maaf karena nggak bisa jagain rumah dan ngebuat dia sembarangan datangi rumah ini. Apalagi Chey sendirian, Kaka minta maaf udah lalai jagain Chey dan ngebuat dia ….”


“Adek nyaris sayat tangan lagi kalau bukan karena ucapan tante itu, Ma. Kalau bukan karena tante itu, hari ini Adek nggak akan ... Adek mempertimbangkan semuanya hanya karena ucapan tante itu.”


Nadia membeliak. “Di depan Papa? Adek nekat lakukan itu karena Papa atau karena kehadiran wanita itu?”


Tangisan sedu itu menggema di ruang makan minimalis keluarga ini.


Mereka bertiga terdiam mendengar suara pilu anaknya yang nyaris menghentikan hidupnya sendiri.


Rasa bersalah merayap dan menghasilkan butiran kristal pada matanya.


“Semua orang bilang Papa selingkuh, kayaknya itu benar walau Adek berusaha menampik keras fakta itu, tapi … tante itu bilang kalau itu nggak benar. Terus kenapa Papa dan Mama pisah?”


“Wanita itu bohong! Udah jelas dia—”


“Adek pergi dari rumah setelah berhasil hancurin guci kesayangan Mama di hadapan mereka. Setelah berhasil lukain tangan Adek.” Matanya yang memerah menatap lurus ke arah Revano.


“Dan, Kaka bohong soal hancurin sesuatu. Bukan dia, tapi Adek. Adek hancurin rumah dan datangi dia setelah selesai ngamuk, Ma.”


Nadia menunduk. “Pantesan banyak barang yang hilang dari tempatnya. Ternyata ada seorang anak yang mengamuk sebab ulah ayah kandungnya sendiri.”


Revano tidak bisa bernapas lega. Dia malah dibebankan dengan masalah lain, yakni sepupunya yang super merepotkan, tetapi dia amat menyayangi gadis yang selisih beberapa bulan dengannya itu.


Makanya, dia tidak mau jika sampai Chey kenapa-kenapa. Dia dengan senang hati akan menjaga gadis itu namun apa ini?

__ADS_1


Chey nama panggilannya, Cheryl Anggitaswara, sepupunya ini berterus terang semudah itu setelah tenggelam dalam rasa bersalah dan penuh ketakutan saat mengadu kepadanya.


“Chey, kamu emang payah. Pantesan aja Kak Sean angkat tangan ngurusin kamu.”


Nadia terkekeh. “Kaka nyerah?”


“Iya, Tante. Boleh Kaka angkat tangan juga? Boleh Kaka mundur ngurusin saudara modelan Chey?”


“Nggak bisa!” Bukan tantenya, melainkan sepupunya langsung yang menjawab.


Nadia melerai, “Udah. Mari nggak bahas tentang itu lagi, habiskan makanannya.”


Selesai makan bersama, mereka duduk bersama di ruang keluarga. Nadia memeluk putrinya di samping kanan, sedangkan di samping kirinya ada keponakan yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


Revano asyik dengan ponselnya meski ketiga penghuni rumah ini sedang berkumpul setelah dua bulan terpisah.


“Mama minta maaf karena bikin Adek dan Kaka ada di posisi yang sulit, kalian masih terlalu muda untuk berhadapan dengan hal ini, tapi Mama bisa apa kalau sudah begini akhirnya?” ungkapnya.


“Nggak apa. Kita bakalan baik-baik aja, dan Adek bakalan cepet sembuh,” katanya bersama penyesalan, “pasti garis ini sangat sakit.” Dia mengusap pergelangan tangan kiri putrinya dengan mata berkaca-kaca.


Chey mengeratkan pelukannya pada sang mama. Dia memejamkan kedua matanya dan menghirup aroma khas mamanya, vanila. “Awalnya nggak sakit. Semuanya terasa melegakan ketika goresan itu ngeluarin cairannya, tapi setelah Adek sadar … setelah diobati pakai obat, Adek baru sadar. Adek baru sadar kalau garis ini ternyata sesakit itu, Ma.”


Revano yang sibuk dengan dunianya terusik. Air mata menggenang pada matanya, kemudian dia mengusapnya dengan kasar.


Dia segera menoleh dengan perasaan nyeri di hatinya. Dia memeluk dua perempuan keren dari samping dengan tubuh kerempengnya. Dia amat menyayangi dua perempuan hebat pemilik rumah ini.


Di samping itu semua, dia juga menyayangi sang Bunda yang berada jauh dari Arcamanik.


“Hahaha, bundamu itu bohong banget! Kaka mana sayang sama bunda Frisly,” cibir Chey, “Kaka itu … bisanya bikin bunda Frisly khawatir dan dongkol.”


Nadia menyentil dahi putrinya. “Jaga ucapanmu, Dek,” peringatnya, “ucapan Bunda benar, Ka. Sesayang itu kamu kepada Bunda sampai kamu juga sayangi tante dan sepupumu ini layaknya kasih sayang Kaka ke Bunda.”


Revano mengerutkan wajah, dia menyangkalnya. Menyangkal alibi yang Nadia berikan kepadanya. Sebab, Revano hanya benalu dan sumber khawatir bundanya.


“Kaka nggak becus jagain kalian, Kaka juga bisanya bikin Bunda marah dan khawatir. Buktinya pas Kaka pulang ke Kebon Hejo, Bunda baik-baik aja dan malah nggak suka kepulangan anaknya.”


“Curhat nih ceritanya?” Chey menyindir. Meskipun begitu, gadis ini menaruh seluruh atensinya kepada sang sepupu.


“Hari itu Kaka pulang dan besoknya Papa datang … apakah Papa sengaja?” gumamnya.


Dia menoleh kepada Nadia dengan sorot yang kentara bersalahnya. “Bunda juga bilang kalau Kaka nggak sayang sama dia lagi karena Kaka yang jarang kunjungi Bunda, dan bikin dia khawatir. Kaka beban terbesar bagi Bunda, ya, Tante?”


Gantian, kini Nadia yang mengerutkan wajah. Wanita ini mengerti dengan keberatan yang disembunyikan bocah kecilnya itu.


Nadia mengerti mengapa Revano mau-mau saja diperintahkan pindah rumah, sementara dia menjadi sumber kekuatan iparnya.


Nadia merasa bersalah namun dia juga tidak bisa berbuat banyak. “Kaka mau balik? Balik aja, di sini udah baik-baik aja.”

__ADS_1


Alih-alih senang bisa mendapatkan kesempatan agar kembali kepada orang tuanya, Revano menggeleng tanda penolakan. “Nggak bisa, Tante.”


Nadia mengernyit. “Kenapa nggak bisa?”


“Kaka harus ada di sini sampai Kak Sean pulang ke sini. Sampai dia sukses dan bisa bikin Tante bangga. Kaka juga mau lakukan itu buat Bunda dan Ayah.”


Merasa terpancing dengan pembicaraan ini, Revano optimis dengan segala hal yang sudah dia pendam ini.


“Kaka mau sukses kejar impian dan buktikan kepada Ayah kalau Kaka berhak atas impian ini, Tante. Kaka belum selesai buktikan kepada Bunda dan Ayah tentang impian ini. Jadi, Kaka bakalan ada di sini bersama kalian.”


Nadia menipiskan bibirnya. Tersenyum tipis. “Itu mah bukan nggak bisa, tapi nggak mau.”


“Ya, siapa yang nggak mau pulang? Mau banget, cuman Kaka belum bisa. Kaka bakalan ikutin apa yang akan Kak Sean lakukan. Kalau dia udah balik dan sukses, maka Kaka bakalan balik kepada Bunda dengan kesuksesan juga.”


“Okelah, kalau begitu kalian harus tekun belajarnya. Udah kelas sembilan dan kalian harus lanjut ke jenjang selanjutnya. Jadi, kurangi waktu bermainnya. Untuk Kaka, kamu harus kurang-kurangi nongkrong dan apply job karena Tante masih bisa nafkahi kalian, bahkan satu RT juga,” ujarnya, “untuk Adek, kamu harus kuat dan fokus belajar. Urusan Mama dan Papa biarlah jadi urusan kami. Kamu harus tetep lanjut sekolah dan sukses, ya?”


“Iya, Ma.”


“Ka? Kenapa diem?”


Revano tidak keberatan dengan larangan yang Nadia ucapkan, tetapi dia juga tidak bisa mengurangi waktu berlatihnya bersama TXT karena hanya mereka satu-satunya sarana dan sumber keberaniannya.


“Nggak ada, Tante. Kaka bakalan fokus belajar kok. Kaka bakalan banyak latihan di studionya Kak Sean aja kalau gitu.”


“Bagus!” balas Nadia. “Ayo, udah larut. Naik dan segera tidur, ya. Besok kalian harus berangkat pagi-pagi biar kita bisa berangkat bareng, ya!”


Revano merebahkan tubuhnya lagi di atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya yang masih gelap, meskipun ada sorot cahaya lampu dari luar, tetapi tetap saja kamar ini gelap, dan Revano enggan menyalakan saklar lampu.


Dia kembali merenungi dirinya. Merenungi segalanya. Tentang pendekatan ulang dengan Fanya. Tentang impiannya dengan musik atau seni. Dan, tentang pertarungannya dengan Bams, meskipun secara teknis bukan dalam artian sesungguhnya.


“Nggak ada waktu buat mundur!” tekadnya. “Cuman ada maju dan maju, nggak ada mundur. Kalau mau menang, ya, maju. Bukannya mundur atau balik haluan.”


Revano terduduk dan segera menyalakan layar ponsel gulirnya. Dia membuka aplikasi nomor satu yang dipilih orang-orang di seluruh dunia untuk berkomunikasi pada era serba digital ini.


Dia menekan satu nama, sehingga muncullah tampilan ruang bertukar pesan di sana. Revano mulai mengetik. Begitu selesai, dia tersenyum lega, lalu merebahkan kembali tubuhnya dan memejamkan matanya.


Namun, tak seberapa lama dia kembali terduduk dengan mata yang membeliak sambil menatap tak percaya ke layar ponselnya. “Vano salah kirim pesan, ya?” ucapnya.


Alasannya? Satu pesan balasan yang tidak ‘kan sangka dia dapatkan dalam waktu sesingkat itu. Ya, pesan yang dia ketik untuk seseorang telah dibalas secepat kilat oleh penerimanya.


Apakah ini mimpi? Pikir Revano menyangkalnya. Revano menatap tak percaya pada layar ponselnya yang menampilkan deretan pesan darinya dan satu pesan balasan paling bawah.


Aya


|Paketan habis


Revano merekahkah senyumannya. Meski hanya dibalas dengan dua kata singkat begitu, meski dengan dua kata itu, tetapi Revano merasa kesenangannya membuncah. Sebab, ada kemajuan dari usahanya agar bisa berbaikan dengan Fanya.

__ADS_1


“Akhirnya! Akhirnya direspon juga. Apakah itu artinya dia mulai luluh?”



__ADS_2