Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
43. Unmyeong Cheoreom


__ADS_3

Kita sudah tahu jika Revano dan kawannya sedang bertaruh untuk mendapatkan posisi vokalis utama di geng band mereka, TXT.


Mereka bertaruh dengan satu tantangan, yaitu mendekati seorang perempuan paling jutek, katanya sih sempat mendapatkan julukan cewek kulkas tujuh pintu saking jutek dan berdarah dinginnya cewek itu.


Siapa yang dapat meluluhkan perempuan itu, dialah pemenangnya.


Pemenang dalam taruhan satu tantangan itu dan mendapatkan posisi paling utama dalam band, terlebih lagi taruhan uang seharga enam digit. Sungguh edan!


Namun, geng TXT malah berkhianat dan membuat Revano bertekad akan keluar dari geng TXT setelah satu kejadian yang membahayakan seseorang.


Dan, hal itu membuat kekalahan yang paling hebat dalam masa remajanya. Membuatnya terpuruk hingga terjatuh ke dalam kubangan dan bayang-bayang kesedihan.


...----------------...


Di kompleks perumahan yang memiliki sembilan blok area, dan lebih dikenal dengan nama Kebon Hejo, yang kebanyakan area masih memiliki tanah lapang milik pengelola area sendiri.


Selain karena perumahan, ada juga area perdagangan yang memang lumayan jauh dari jalan menuju gerbang belakang Kebon Hejo.


Area ini, pada blok delapan yang berada dekat dengan pintu masuk dengan jajaran ruko, toko serba ada, dan beberapa gedung termasuk sekolahan yang dikelola oleh yayasan.


Ana Fransiska dan kesibukannya sebagai ibu rumah tangga tidak sempat jika harus berbelanja bahan-bahan masakan ke pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota, sehingga dia memilih opsi kedua untuk merealisasikannya.


Ana membutuhkan tepung serbaguna, gula halus, gula pasir, pewarna makanan, soda kue, dan margarin; serta mangkok foil aluminium. Ana juga telah mencantumkan jumlah barang yang dia butuhkan di atas kertas yang akan dia berikan kepada ajudannya.


Sang ajudan, siapa lagi jika bukan dia. Salah satu dan satu-satunya pengangguran setelah sekolah diliburkan dua hari yang lalu.


“Teteh Aya, Mama minta tolong belikan bahan dan barang, ya, ke pertokoan di depan. Udah Mama tuliskan semuanya di kertas ini.”


“Mama, ke pertokoan langganan Mama tuh jauh!”


Mengeluh karena dia enggan keluar rumah ketika matahari sedang membara pada pagi hari yang tenang.


“Kalo ada yang anterin, sih, siap. Masa Aya naik kereta bayi Rey?”


“Ide bagus!” sahut Ana cengengesan. “Kamu pakai sepeda kumbang kamu aja.”


Fanya membelalak. “Ih, masa Aya pake sepeda anak kecil? Bukannya nyampe malah harus dorong-dorong sepedanya karena rantai putus atau ban bocor!”


Ana menggelapkan wajahnya. Bukan sepeda saja alternatif satu-satunya. Namun, Ana masih dibayangi tragedi masa lalu.


“Teteh, di gudang ada papan skater punya Kakang. Daripada nyampenya kelamaan, mending pake itu aja karena nggak mungkin kamu naik motor gedenya si Bujang,” celetuk Ana, dengan teror yang menyalip di wajahnya.


“Papan skater? Kama punya begituan? Kok Aya baru tahu, sih, Ma?”

__ADS_1


“Jelas kamu baru tahu, pan, kamu kehilangan separuh ingatan,” balas Ana di dalam hati.


“Teteh pakai papan skater punya Kakang aja deh, tapi harus hati-hati karena di wilayah sana banyak kendaraan. Harus patuhi peraturan jalanan, ya!”


“Beneran dibolehin pake itu? Aya nggak bisa pakai begituan, Ma.”


“Bisa. Apa sih yang nggak seorang Aya nggak bisa? Manjat pohon mangga milik Bu Ummi dari blok satu aja kamu bisa. Mama masih inget loh kelakuan badung kamu waktu masih kecil dan main bareng sama Vano. Bu Ummi sampe ketakutan karena ada anak gadis yang manjat pohon mangga milik dia, dan yang dia takutin tuh kamu kena sengat lebah di sana!”


“Manjat pohon mangga punya Bu Ummi? Kapan? Aya nggak pernah tuh main ke sana. Mama ini ngaco, deh!”


Fanya asing dengan cerita sang mama mengenai aksi panjat pohon di blok sebelah, secara teknis berjarak tiga blok dari kediaman mereka.


“Ya, udahlah. Daripada mamaku sayang, mamaku cinta ini ceritain hal-hal yang nyeleneh tentang Aya. Tolong siapkan uang dan daftar belanjaannya juga, sekalian sama tas kain biar nggak perlu rempong bawa banyak barang nantinya.”


Dari gelap wajahnya mulai berseri dan cerah bersinar pada wajah yang tidak lagi semuda putrinya. Ana tersenyum ceria, dirasanya telah berhasil meluluhkan hati yang dingin penuh kemalasan dari dalam diri putrinya.


“Dandannya nggak usah lebay. Jangan pakai rok dan pakai celana santai aja yang panjang. Pakai sepatu, dan jangan—”


Fanya yang sudah menaiki tangga menggerutu jengah dengan semua ucapan mamanya yang memiliki nada memerintah.


“Iya, Aya tau harus berpakaian gimana, mamaku sayang!”


Bukannya kesal atau membentak, Ana terkekeh geli, walaupun sorot matanya jelas penuh kekhawatiran.


“Dia akan baik-baik aja. Dia udah baik-baik aja. Dia nggak akan histeris kayak dulu lagi, iya.” Menggumamkan berbagai kalimat yang sebisa mungkin menenangkan pikiran buruknya.


Namun, seorang bersepatu keren berwarna putih malah membawa papan beroda milik kakaknya tanpa izin. Dilihatnya siapa sang pelaku.


Mata sipit, bibir melengkung ke atas, hidung bangir, berkulit cerah. Pengenalan pada wajahnya semakin jelas ketika suara berat dan serak itu melontarkan kalimat sapaan.


“Hai, Aya! Tumben mau pake ini.”


“Eh, kok bawa tas segede gitu? Naik ini pulangnya?”


Juga melontarkan tanya yang tidak ada hentinya.


“Dari blok delapan seluncuran pake skater ke blok lima yang ada di area paling belakang? Whatta surprise, kalo kata si Kekel.”


Dia juga terkekeh begitu kalem, sehingga dia kelihatan lebih menarik ketika wajahnya berseri-seri dan bibir ranumnya mengeluarkan suara tawa yang membius kesadaran.


“Kok bisa ada di sini?”


Bukannya terkejut atau kesal, bahkan marah, melainkan dia terheran-heran. Pasalnya, laki-laki di hadapannya ini bercerita mengenai kesibukannya selama liburan sekolah tempo hari. Dia sibuk dengan manggung bersama anggota kenamaan dari Tamansari itu.

__ADS_1


“Mau ketemu kamu.”


“Nggak bikin aku terkesan. Makasih udah mau ketemu orang nggak penting di sela kesibukan kamu sebagai calon musikus.”


“Ayo, aku antar pulang naik kuda besi.” Dia tertawa-tawa kala menyebut sekuter miliknya sebagai kuda besi.


“Kalo pake ini, yang ada kamu tepar di jalan nantinya.”


Seperti sebuah kehormatan mengangkat benda berpapan yang memiliki roda di bagian depan dan belakangnya sebanyak dua. Seperti sebuah mimpi ketika gadis yang akan dia temui tidak bereaksi sebagaimana biasanya.


“Wah, makasih tumpangannya,” ucap Fanya, “Mama emang nyebelin, tapi aku sayang Mama. Dia saranin aku pake skater punya Kama sebagai moda transportasi alternatif, supaya nggak kelamaan nyampe ke blok delapan yang jauh banget dari rumah. Mama suruh beliin bahan kue di toko langganan dia.”


Melanjutkan ucapannya atas sebuah dorongan bernama terbiasa ketika yang menjadi lawa bicara adalah laki-laki yang dia sematkan kata menyebalkan di depan namanya. Si menyebalkan Revano.


Revano hanya diam tak berniat membalas, dia tersenyum sumringah mendengar kata demi kata terlontar indah dari mulut si jutek Fanya. Dia memarkirkan motornya di seberang jalan, mereka pun menyeberang bersama, dan Revano menuntun Fanya.


Laki-laki ini tidak sengaja ketika melihat sebuah papan seluncur, yang kini dipegang oleh tangannya, berada di luar ruko serba ada milik keluarga orang Cina. Padahal niatnya kemari hanya untuk membeli camilan kesukaan, yang di sekitar area perdagangan di sini.


Namun, jika kata orang-orang dalam drama, suatu kebetulan seperti pertemuan dengan seseorang yang dia inginkan adalah sebuah takdir.


“Aya, sore nanti ketemuan di Taman Danau, yuk,” ucapnya mengajak. “Vano mau bicarain sesuatu. Sekarang nggak sempet karena cuman dikasih waktu dua puluh menit buat beli cakwe Mang Koko yang dikasih bumbu melimpah, tapi ketika lihat kamu ada di sini bikin Vano pengen jalan-jalan sama kamu, walaupun cuman anterin sampai rumah doang.”


Fanya mengerutkan dahinya. “Yah, Aya pasti ganggu kamu, ya? Maaf ….”


Revano dengan cepat membalas, “Gapapa. Vano lebih rileks setelah lihat kamu ada di sini setelah berhadapan sama ketegangan dunia Vano. Yuk, berangkat!”


Revano sudah berada di atas kuda besinya, dia menunggu Fanya ikut naik. Gara-gara ucapannya, sehingga membuat gadis juteknya kelihatan urung menaiki kuda besinya.


“Beneran gapapa, Van?”


“Iya, ayo naik!”


Setelah mengantarkan targetnya dengan selamat sampai ke dalam rumah. Setelah berpamitan juga kepada mama dari targetnya. Dia kembali mengendarai si kuda besi meninggalkan area perumahan yang penuh dengan kenangan masa kecilnya. Namun, ada juga kenangan pahit yang berasal dari tragedi traumatis, dan kejadian tersebut adalah atas kebodohannya sendiri.


Revano menyesal, tetapi di lubuk hatinya yang paling pojokan, dia bersyukur karena kebodohannya menahan Fanya tetap berada di lingkungan ini. Walaupun pada akhirnya, Revano sendiri yang harus pergi meninggalkan gadis cengeng adik dari Kamaliel.


“Selangkah lagi, Ay. Setelah ini semua bakalan kembali seperti semula. Tinggal buktiin kepada Ayah dan Bunda, dan buktikan kepada TXT kalau Vano bisa bikin kamu jadi milik aku, Fanya Fransiska.”


Revano menatap per sekon rumah yang berdiri megah di samping rumah bundanya. Dia segera melajukan si kuda besi hitamnya membelah jalanan selebar satu mobil dengan kecepatan sedang.



“Aku suka sama kamu sejak lama, sih. Bahkan kecerobohan aku yang berakhir tragis banget waktu itu adalah bukti segimana takutnya aku kehilangan kamu. Maaf, karena Vano malah kasih warna lain dalam persahabatan kita, Aya.”

__ADS_1


Whatta surprise, mengutip aksen si bule Meksiko alias Mikel Kurniawan.


Fanya bergeming dengan pandangan lurus menatap objek yang berada pada radius lima meter darinya.


__ADS_2