
Ana Fransiska, ibu dari tiga anak keturunan Dimas Ferdiansyah ini menatap putrinya yang sedang bersantai dengan mata berbinar. Sambil menggendong si bungsu Reyhan di pangkuannya, Ana tersenyum-senyum tanpa sepatah kata pun sejak lima menit duduk di sofa.
“Ada apa sih, Ma? Jangan lihatin Aya kek gitu, deh!” Lama-lama salah tingkah juga putri mama Ana.
“Ada apa? Suruh jagain rumah? Oke. Belanja? Oke, siniin uang sama daftarnya.”
Ana menggeleng pelan tanpa melepaskan senyumnya. Dia beralih menatap si bungsu.
“Tolong ajak main Rey ke luar. Sore ini Mama mau datang ke acara launching butik temennya temen Mama, acaranya sampai malam. Mumpung masih sore dan bentar lagi si Bujang pulang, kamu siap-siap, nanti berangkat kemana aja deh. Pakai kartu kredit Mama, nih. Belanja apa aja asalkan Rey nggak rewel.”
“Kenapa nggak bawa Rey aja ke sana?” Fanya keberatan dengan permintaan mamanya. “Rey kalo kelamaan ditinggal Mama rewel juga, loh.”
“Oh, gitu. Jadi, Teteh lebih milih uang jajan dipotong daripada jagain adiknya? Atau sekalian Mama lapor ke Papa kalau kamu bolos les hari ini? Jadi, kamu maunya begitu?”
Wah, mama Ana keren. Dia bisa mengetahui rahasia besar Fanya dalam kurun waktu dua jam saja. Padahal, Fanya pulang sesuai jadwal bubaran kelas tambahan tadi. Hanya sampai pukul tiga sore.
“Ma–Mama apaan sih? Siapa juga yang bolos?”
“Siapa lagi? Kamu pergi ke mana dan sama siapa sampai harus bolos les? Bukannya kamu harus ikut les karena itu janji kamu sendiri, kamu yang minta karena dengan ikut les kamu janji nggak murung dan kunci diri di dalam kamar.”
“Soal itu ….” Fanya tidak sanggup menjelaskannya.
Namun, bukan Mama jika tidak bercanda. Buktinya, mama Ana terkekeh lepas. “Bercanda, Teh. Sesekali boleh bolos kok, tapi kasih tau Mama atau Papa juga dong. Masa cuman Kakang doang yang tau?” ungkapnya.
“Jadi, kemana aja selama bolos les?”
“Ketemu temen di kafe, sebentar doang kok, habis itu pergi ke toko buku.”
“Jagain Rey, ya. Mau main ke kota boleh, di rumah aja boleh. Asalkan Rey nggak rewel aja. Banyakin main sama adeknya, jangan sama gadget dan buku mulu!”
“Iya, iya.”
Di sinilah Fanya dan adiknya setelah ditinggal pergi sang mama yang diantar pergi oleh si sulung. Fanya mengajak Rey berjalan-jalan keliling kompleks perumahan, tepatnya mengajak si bungsu melihat pemandangan sore hari di taman belakang kompleks perumahan mereka. Taman Danau.
“Nah, tempat ini namanya Taman Danau, Rey. Di sini Kakang sering main, di sini juga tempat jualan mamang martabak kesukaan Mama. Bagus, kan?”
Mereka berada di Taman Danau, Fanya memutuskan untuk mengajak adiknya bermain di sekitar perumahan dibandingkan harus pergi ke pusat kota.
Pemandangan di sini masih asri dengan danau luas yang membentang, memisahkan tanah landasan pemukiman dengan tanah lapang di seberang sana.
Selain itu, di seberangnya lagi ada jalanan utama. Pada sisi kiri terdapat lapangan serbaguna, biasanya dipakai untuk bermain basket, tetapi terkadang-kadang dipakai untuk tenis atau voli, sedangkan di sisi kiri lapangan ada tanah lapang lain, biasa digunakan untuk bermain bola oleh anak laki-laki, sekaligus menjadi area berdagang kala malam menyapa.
__ADS_1
Nasib baik jika sore ini tidak mendung apalagi hujan rintik. Padahal pukul tiga langit muram, apalagi di sebelah utara Bandung terlihat kilat menyambar, tetapi syukurlah di daerah selatan tidak sampai, sehingga sore hari ini dapat melihat keindahan alam penghujung siang. Senja.
Fanya membawa Rey menggunakan kereta bayi. Adik bayinya baru berusia enam belas bulan, dia asyik sekali terlentang di atas bantalan yang nyaman. Belum lagi dia dapat menyaksikan perjalanan kecilnya dari dalam kereta khusus itu dengan tenang.
Sungguh beruntung si bungsu memiliki kakak yang mau mengajaknya main keluar rumah berdua, meskipun harus dengan paksaan sang mama.
Langkahnya membawa kereta bayi ini menuju kursi di taman kecil di sebelah kanan, tepat sekali berhadapan dengan pemandangan danau yang terbentang luas di depan sana. Meskipun terbentang luas, sesungguhnya tidak sebesar itu karena di tengah danau hingga ke ujung sana ada jalanan utama menuju arah pusat kota.
Fanya memosisikan kereta bayi berhadapan dengan kursi taman yang akan dia duduki.
Sudut mulutnya melengkung ke atas begitu melihat wajah menggemaskan adik laki-lakinya. “Rey, kapan-kapan kita main bareng ke wahana kalau kamu udah bisa lari-larian, ya!”
Suasana sore di taman belakang ini tidak sepi, ada banyak orang yang melakukan aktivitas sore harinya di tempat ini.
Ada mamang pedagang yang tengah mendirikan tenda, menyiapkan masakannya. Ada pula anak-anak yang bermain di lapangan berjaring, lapangan basket, dengan tawa dan teriakan kesenangan.
Fanya menikmati langit yang berwarna kejingga-jinggaan di ujung sana sambil mengusap-usap kaki Reyhan yang tidak mau diam, kaki mungilnya mendendang-nendang udara begitu bertenaga.
Dia merasakan angin menerpa permukaan wajahnya yang mulai disinari cahaya kemerahan yang berasal dari ujung sana, sehingga reflek menutup kedua matanya.
Suara dengusan kecil dari Reyhan yang kedengarannya terhibur akan suatu hal. Fanya mencelikkan kelopak matanya, mendapati Reyhan menatap lurus ke arahnya dengan senyuman lebar yang menampakkan gusi yang berlendir. Kemudian, terdengar juga suara yang tidak asing, sehingga membuatnya bergeming.
Dia membuka kedua telapak tangannya yang menutupi seluruh wajah dengan ekspresi yang jenaka, sehingga membuat adik bayi di keretanya tersenyum lebar dengan tawa menggemaskan. “Peek … a-boo!”
Fanya tidak menoleh, lebih tepatnya tidak berani. “Haduh, kenapa harus ada di sini juga, sih?” gumamnya mulai merasa tidak aman.
Dia mengerutkan bibirnya. Menggaruk belakang kepalanya sambil memikirkan kalimat apa supaya kakak perempuan Reyhan itu mau membalas ucapannya. Sudut bibirnya mengembangkan senyuman penuh arti.
“Rey, bilangin kakaknya dong. Balas sapaan Kaka. Masa disapa baik-baik nggak ditanggapin sih?” sindirnya.
Seperti biasanya, suara yang tertahan di mulutnya. Dengan cebikkan kesal tanpa mau menoleh barang satu mili ke samping kanannya yang sudah diduduki seseorang.
“Dih, nggak jelas banget pake ngadu ke bayi segala.”
“Bunda suruh samperin kalian ke sini, baru aja gua mau nyamperin ke rumah, tapi Bunda bilang kalian pergi jalan-jalan,” ungkapnya tanpa ditanyai sekalipun.
Dari cerah wajahnya menjadi kosong, dia menatap objek yang sama dengan Fanya sekarang. Pengenalan mulai jelas di wajahnya, hidung bangir, mata sipit, dan warna bibir sehat dan segar.
“Vano nggak tau harus ungkapin semuanya dari mana karena semua hal ini penting, tapi yang lebih penting adalah nggak bikin Aya marah. Bunda cerita semenjak kepergian Vano ke Arcamanik, Aya nggak pernah keluar rumah karena Vano nggak ceritain satu hal tentang kepindahan itu,” ungkapnya lagi.
“Maaf karena nggak kasih tau. Vano sengaja. Dan, seharusnya Aya nggak marah karena di flashdisk udah dijelasin alasan kenapa Vano memilih nggak kasih tau secara langsung. Sayangnya, Aya nggak buka isi filenya sama sekali, ya?” tanya Revano, menyisipkan senyuman tipis.
__ADS_1
Dia sedikit kecewa, tetapi sudah pasti Fanya lebih kecewa daripada dirinya.
Fanya diam saja. Dia tidak menanggapi, tidak juga berani menoleh untuk memberikan tanggapan bahwa dia penasaran dan mulai antusias. Fanya terdiam sambil tersenyum lebar kepada Reyhan, kemudian menatap kosong pada pemandangan di depan sana.
“Vano jelasin sekarang, walau sedikit terlambat, gapapa, kan?” Matanya menatap lurus kepada perempuan yang tumbuh dengan baik, sehingga dia tidak melihat teman semasa kecilnya, melainkan melihat seorang gadis yang menawan.
Wah, pikiran macam apa ini?
Revano memulainya. Berawal dari hari kelulusan SD, hari di mana dia memberikan benda transfer data itu kepada Fanya dengan cara paling manis dan bersikap sebaik mungkin kepada teman manjanya.
Ketika seseorang akan pergi, dia akan bersikap sebaik mungkin kepada orang-orang, dan hal itulah yang Revano lakukan pada hari terakhir mereka bertemu karena pada hari yang sama dia langsung pergi ke Arcamanik setelah dijemput kakak sepupunya selepas acara kelulusan usai.
“Aya inget, kan?” tanya Revano, “Vano pengen banget bisa kayak kakaknya Tara yang jago main alat musik dan sumbangin suaranya yang kedengeran merdu banget. Dan, Vano pengen kayak dia. Vano pengen jadi anak band, minimal bisa main alat musik deh. Sayangnya, Ayah nggak setuju dan larang, tapi Bunda bilang, “Kaka harus buktiin kalau keinginan Kaka yang Ayah remehkan itu bukan sekedar main-main.”
“Sampai pada akhirnya, Kak Sean bantuin, dia punya studio musik dan tawarin Vano buat pakai studio dia, sementara Kak Sean pergi studi, Vano juga dititipin amanah buat jagain sepupu paling rapuh yang Vano miliki. Dia rapuh, Ay. Dia masih terlalu kecil untuk terima kenyataan kalau keluarganya hancur, padahal dia tumbuh di dalam keluarga yang harmonis, tapi ternyata itu sandiwara orang dewasa.”
Fanya bergeming, dia benar-benar tidak tahu jika kepergian sobatnya beberapa tahun yang lalu memiliki alasan paling sulit dimengerti olehnya.
Bagaimanapun juga, Fanya sudah diselimuti kabut kekecewaan kala itu, bahkan saat ini rasa kesalnya lebih mendominasi diri dibandingkan rasa iba atau sifat pengertian yang dia miliki.
Revano masih terus berbicara walaupun Fanya tidak memberikan tanggapan. “Vano punya impian, jadi anak band dan bisa menjadi musikus sejati, meski nggak dikasih restu sama Ayah, meski sering diremehkan sama Ayah, gapapa. Vano bisa buktiin kalau impian ini nggak bakalan pernah padam,” tegasnya.
Revano menghela napas begitu dalam. “Cuman entah kenapa impian ini kayak oasis. Bisa jadi cuman halusinasi Vano doang, atau memang benar-benar berupa hal yang bisa nyenengin di akhir, tapi …,” lanjutnya walau dia ragu.
“Supaya dapetin posisi yang menjamin kepercayaan dan restu Ayah sama Bunda, Vano harus buktiin kalau latihan dan berguru musik ini nggak akan sia-sia dengan hasil yang memuaskan. Vano harus dapat posisi paling tersorot, vokalis utama.”
Revano juga tidak lupa menceritakan tentang alasan kenapa dia tidak pernah berkabar sama sekali kepada Fanya, dikarenakan dia sibuk berlatih alat musik setiap pulang sekolah, bergabung dengan gengnya Tara yang notabene anak band.
Menceritakan semua hal yang Revano lalui selama meninggalkan Fanya, teman masa kecilnya yang terlalu bergantung kepadanya.
Namun, Revano tidak menceritakan tentang taruhan edan yang sedang dia jalankan kepada Fanya. Tidak dulu. Tidak saat ini.
“Cuman, posisi tersorot yang bisa yakinkan Ayah supaya kasih restu sama impian Vano itu udah nggak begitu penting lagi sekarang. Vano masih bisa raih impian di lain waktu karena sekarang ada yang lebih penting dari itu,” kata Revano sambil bergetar matanya.
“Vano harus jauhkan seseorang dari kemungkinan terburuk. Vano nggak mau orang-orang yang Vano kenal baik harus kena imbas dari permainan sembrono lagi. Vano bakalan jagain dia dan merelakan posisi sebagai vokalis utama.”
Setelah puluhan menit berlalu dan mendengar cerita yang dilontarkan Revano kepadanya, Fanya bangkit dari kursi.
Demi kulit kerang ajaib, Fanya tidak mau sakit hati, juga tidak mau nyamuk menyerang kulit mulus adiknya. Lagipula hari mulai menggelap, sehingga alasan ini bisa dia gunakan untuk pergi dari laki-laki yang datang dan tiba-tiba menceritakan semuanya.
Semua yang dia dengar hari ini sedikitnya sudah dia dengar juga dari video yang telah dia tonton pada alat transfer data pada suatu malam.
__ADS_1
“Permisi, kami pulang dulu. Langit juga udah mulai gelap, Rey nggak boleh kedinginan , dan lama-lama ada di luar rumah,” pamit Fanya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Revano.