
Sepekan berlalu, hubungan retak antara Revano dengan sepupunya kembali membaik ketika laki-laki jangkung dengan impian besarnya menceritakan semuanya kepada Cheryl.
Mengenai tujuannya mengikuti tantangan dengan taruhan edan. Mengenai tekadnya yang tidak akan membiarkan siapa pun mengusik seorang Aya.
Mengenai perjuangan mengejar impiannya yang patut dia coba untuk kesempatan kali ini dalam membuktinnya kepada kedua orang tua—kepada semua orang—bahwa dia serius dengan impiannya ini.
Walau pada akhirnya dia memilih untuk mengalah dengan impiannya.
“Serius, Ka?” Cheryl merubah wajahnya menjadi kagum. “Maaf udah salah sangka karena tau dari perspektif yang belom lengkap. Lagian, kenapa nggak cerita dari awal kalo tujuan Kaka yang selama ini minta bimbingan terkait perempuan ke Adek tuh karena taruhan edan itu.” Menyalahkan Revano.
“Padahal Kaka udah mulai terbiasa tanpa si Aya-Aya itu. Gimana rasanya balikan sama dia?”
“Balikan?” Revano merasa salah dengar. “Baikan sih iya. Eh, Chey ternyata dia ngambek dan jutek ke Kaka itu karena dulu Kaka pergi dari dia tanpa bilang-bilang. Padahal udah sempet jelasin sih di dalam flashdisk, walau nggak sejelas itu. Dia marah dan merubah sikap dia.”
Cheryl tersenyum tipis. “Kaka mau tau nggak? Nggak mau tau juga gapapa, sih.”
“Apaan?”
“Kak Sean bakalan balik ke Indonesia.”
“Serius?”
Cheryl mengangguk. “Cuman, dia nggak bakalan ke Bandung. Dia menetap di Jakarta bareng Papa. Kayaknya Kak Sean bakalan milih tinggal di rumah Kakek Mizwar sih.”
Revano menatap Cheryl yang menunjukkan perubahan kontras pada wajahnya. “Ada apa? Apa yang nggak Kaka tau selama tinggal di rumah Bunda beberapa hari lalu?”
Cheryl menggeleng sambil menundukkan kepala. “Nggak tau. Mama sama Papa mendadak pisah dan Kak Sean pulang ke Indonesia. Papa dipindahtugaskan. Kata Mama, ada kemungkinan juga Kak Sean bakalan ninggalin kita karena titah Papa.”
Dengan berani dia mengangkat kepalanya. “Ka, Chey takut. Takut kalo Kak Sean nggak balik ke rumah ini. Chey masih mau Mama, Papa, Kak Sean kumpul di rumah ini. Kenapa mendadak semuanya jadi begini? Kenapa Mama sama Papa harus pisah?”
Malam itu, Revano baru tahu jika tantenya memutuskan untuk berpisah resmi dari suaminya.
__ADS_1
Malam itu juga Revano tidak menyukai tangisan Cheryl yang menyayat hatinya. Seberkas tragedi lalu terbayang dalam ingatannya. Mengenai bagaimana keributan yang terjadi di dalam rumah ini.
Mengenai bagaimana dia sampai berakhir tinggal seatap dengan sepupunya. Mengenai impiannya yang dia kembangkan di atas perjanjian. Mengenai keluarga sepupunya yang mulai runtuh.
Revano mengulurkan tangannya mengusap punggung bergetar sepupunya yang rapuh. “Kak Sean bakalan pulang ke sini. Kalo dia nggak mau pulang, Vano laporin Kakek supaya suruh dia pulang dan kalau perlu nggak balik lagi ke Jakarta dan di sini terus sama kita.”
Sepekan juga kedekatan Revano dengan targetnya yang merupakan tetangga dia semasa kecil ini kembali harmonis. Pertemanan mereka kembali membaik setelah ungkapan Revano tempo hari bersama rengkuhan seorang teman yang begitu menyayangi temannya.
Sebab mereka telah berbaikan kembali, maka Revano menjadi sering mengunjungi rumah bundanya yang berjarak tidak jauh dari rumah si Aya.
Terkadang setelah bersama band TXT sampai malam, Revano pulang ke rumah bundanya sehingga besok dia bisa bertemu secara cepat dengan si Aya.
Namun, berbeda dengan hari ini yang menjadi hari pertama dalam perayaan pekan olahraga, yang umumnya disebut sebagai class meeting atau pertemuan antarkelas yang mana diselenggarakan setelah pelaksanaan ujian akhir semester usai.
Revano mulai jarang pulang ke rumah bundanya sebab tengah persiapan penampilannya dalam penutupan pekan olahraga yang sekolahnya adakan, sehingga dia kembali tinggal di rumah tantenya meski hanya berdua dengan Cheryl pada akhirnya, karena Nadia ada urusan pekerjaan di luar kota.
Meskipun kembali berjarak, Revano tidak pernah absen mengirimi gadis yang dikenal jutek oleh orang lain, padahal aslinya bertolak belakang dengan anggapan mereka.
Walaupun tidak seintens dulu kedekatan dua insan cilik ketemu gede satu ini, tetapi mereka sering berbagi kesukaan masing-masing seperti halnya dulu.
Tentunya dengan satu tekad: dia yakin bisa membuat kedua orang tuanya percaya dan memberikan izin untuk meraih impiannya dalam bermusik.
“Van, gimana kalau kita batalin aja taruhannya? Gua ikutan tanggung taruhannya deh, seharga manggung waktu itu kita bagi dua.”
Revano melirik tanpa minat ke arah Tara Aditya yang kini tengah memandanginya sembari menekan tuts kibor milik sekolah.
“Basi!”
“Van, lo mikir nggak sih semarah apa Chey ketika tau lo ikutan taruhan edan ini? Dia ngamuk di depan kafe base kita dan band kita terancam dipecat dari sana,” ungkapnya, “semarah itu sampe dia juga bikin deal sama manajer kafe untuk pecat band kita, tapi gua janji sama dia. Janji bakalan hentikan taruhan konyol ini cuman buat sesuatu yang nggak berguna!”
Ucapan Tara membuat Revano tersentak.
__ADS_1
“Apa? Nggak berguna kata lo?”
“Oke, gua tau lo sebegitu menginginkannya dapetin posisi vokalis utama. Gampang, gua mundur dari TXT dan lo bisa dapetin posisi itu. Lagipula gua nggak terlalu berminat lanjut di band, gua lebih milih gapai cita-cita gua jadi dokter.”
“Gua nggak mau!”
Tentu saja Revano enggan menerima keputusan Tara yang dia nilai menyebalkan.
“Karena tinggal selangkah lagi gua bisa dapetin apa yang gua mau.”
“Van, kalo lo kalah tantangan gimana? Bams nggak sebaik itu cuman biarin lo bayar mereka pake duit.”
Revano menyimpan bass yang sedari tadi dia petik tanpa menyambungkan kabel. Dia mulai berdiri agar sejajar dengan Tara yang berdiri di depan kibor.
“Nggak masalah. Gua tau apa yang harus gua lakukan, makanya gua bilang barusan kalo selangkah lagi gua bisa dapetin apa yang gua mau.”
Setelah mengutarakan kalimat penuh tekad, Revano bergegas meninggalkan lab seni yang menjadi tempat latihan sementara bagi band dadakan.
Kalimat yang Revano lontarkan bersifat rancu, sehingga membuat Tara Aditya berpikiran lain dari apa yang dimaksudkan Revano sesungguhnya.
Tara Aditya juga mulai gelisah jika memang benar Revano tetap kekeuh dalam menjalankan tantangan—dan taruhan edan—ini, maka hanya satu cara yang bisa dia lakukan. Bertemu dengan target Revano agar menghentikan kegilaan Bams selama Revano berjuang pada pendekatan dengan target mereka.
“Semua ini gara-gara gua. Jadi, gua sendiri yang harus hentikan ini. Gua harus buktiin kepada Bams kalau gua nggak sepengecut itu dengan perasaan gua. Walau sebenernya sekarang nggak sesuka itu sama dia, tapi bisa dibilang dia cinta pertama gua,” gumamnya sambil terus-menerus menekan tuts kibor.
“Walaupun cuman cinta monyet.”
Kembali lagi kepada Revano, dia memutuskan untuk pulang lebih awal. Toh, dia sudah mengisi presensi, padahal sebenarnya tidak diwajibkan juga karena mulai hari ini kehadiran tidak diwajibkan.
Namun, urusannya dengan band dadakan sekolah mengharuskan dia untuk datang, walaupun pada akhirnya dia menjadi kehilangan minat untu berlatih karena ucapan Tara yang seakan merudal batinnya perkara impiannya yang dia anggap nggak berguna.
“Bukan impian gua yang salah atau gua yang salah.” Revano menghela napas panjang.
__ADS_1
“Mungkin belom saatnya aja kali. Gapapa, impian masih bisa diraih kalau udah dapet peluang yang bagus. Sekarang cuman harus fokus gimana caranya bebas dari taruhan edan itu supaya Aya nggak kena imbasnya. Supaya mereka nggak macam-macam sama si Aya. Setelah itu …,” ungkapnya mengambang dengan senyuman miring.