Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
41. Dibagi Rapor


__ADS_3

Lalu, apa kabar dengan Zico Izumi Mahardika?


Laki-laki yang memiliki marga khas orang Asia Timur itu kembali sekolah tepat pada hari pertama pelaksanaan ujian akhir semester kelimanya. Dia kembali bersama rekan olimpiadenya dengan membawa berita kurang mengenakan, meski telah meraih peringkat tiga.


Pada olimpiade kali ini, raja pararel Margayu dan putra mahkotanya menjadi peringkat tiga setelah pertempuran final.


Pada babak final ada tiga kandidat yang bersaing mendapatkan posisi juara umum, yaitu Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur.


Final dimenangkan oleh Jawa Barat berada di peringkat tiga, Banten peringkat dua, dan peringkat satu adalah Jawa Timur.


Tekad dan janjinya ketika memutuskan gadis yang dia kasihi hari itu tidak memuaskan dirinya. Dia menganggap diri telah gagal dan tidak sanggup untuk berhadapan, bahkan barang membayangkan akan bersinggungan dengan gadis yang dikenal jutek itu saja dia sudah enggan.


Meskipun begitu, dia harus kembali untuk mengikuti ujian akhir semester dan mencari cara untuk menghindari gadis—mantannya—di manapun.


Selama pelaksanaan ujian, Zico begitu beruntung karena tidak bersitatap dengan Fanya sekali pun, bahkan sampai akhir.


Namun, dia melihatnya hari ini pada pagi hari yang cerah dengan udara dingin bekas hujan dini hari tadi.


Zico melihat kedatangan gadis berambut sebahu yang tampak luar biasa berubah sejak terakhir kali mereka berjumpa. Dia melihat perubahan yang luar biasa mengejutkan dari sang mantan kekasih.


Fanya yang biasa menggerai rambutnya kini tampak berbeda dengan menggelung rambutnya, sehingga mengekspose leher serta telinganya yang satu warna dengan kulit tubuhnya yang lain.


Dilihatnya kedatangan gadis itu di sana bersama seseorang yang menaiki motor.


Dia mulai bertanya-tanya, siapakah gerangan yang tengah bersama mantannya di sana?


Fanya melambaikan tangan setelah berbincang singkat dengan seorang—ternyata laki-laki—pemotor yang membawa tas gitarnya di punggung.


Selepas itu, gadis ini berbalik dan berjalan masuk ke dalam area sekolah seperti yang murid lainnya lakukan. Berjalan masuk dengan langkah nyaris seirama beriringan meski tidak saling sapa.


Zico berbalik, berusaha menyembunyikan keberadaannya, dan menyangkal debaran aneh yang baru saja muncul ketika melihat gadis itu untuk pertama kali setelah olimpiade usai.


Zico yang telah melepas helm terpaksa mengenakannya kembali dan mulai berjalan masuk dengan langkah tergesa.


...----------------...


Hari ini tidak ada pelajaran khusus setelah berakhirnya ujian. Hanya ada pembukaan acara pekan olahraga dan perayaan kecil untuk hiburan warga Margayu selepas ujian.


Hanalya mengerang sambil mencengkeram helai rambutnya. “Gimana, dong? Aku beneran turun ranking ini mah!” katanya begitu lemah dan tak berdaya.


Melihat hasil cocoklogi jawaban yang tengah dilakukan anggota kelas bersama guru mata pelajaran bersangkutan.

__ADS_1


Beberapa temannya berjalan keluar dari kursi masing-masing dan menghampiri meja guru yang tengah diduduki Bu Resya, guru bahasa Indonesia, sedangkan Hanalya dan Fanya masih anteng duduk di kursi masing-masing.


“Baru satu mapel, Han. Jangan pesimis dulu.”


Fanya melirik kertas soal milik Hanalya yang mendapatkan poin angka tujuh dan delapan, sedangkan miliknya hanya angka delapan dan nol. Tidak biasanya.


Tidak biasanya Hanalya mendapatkan tujuh pada mata pelajaran kesukaannya.


“Kata Bu Resya, kemarin banyak soal-soal yang salah input yang mana bukan dia pembuat soalnya, sementara harusnya Bu Resya ikut andil. Sayangnya … seperti yang kamu dengar dari Bu Resya barusan, dia jatuh sakit dan mengamanahkan soal-soal kepada guru lain.”


“Hiks … dan kenapa aku bisa sebodoh itu kemarin? Aku sih nggak masalah sama alasan Bu Resya, aku cuman merasa aku terlalu percaya diri untuk nggak belajar karena begitu paham dengan materinya, pembahasannya, tanpa harus aku ulang lagi. Harusnya aku belajar hari itu!”


Seperti biasanya, Fanya mengeluarkan suara yang tertahan pada mulutnya. “Salah sendiri.”


Keesokan harinya, kegiatan yang serupa kembali digelar secara inisiatif oleh guru mata pelajaran masing-masing kelas.


Meskipun kebanyakan muridnya tidak masuk sekolah karena berbagai macam alasan, tetapi beberapa murid yang hadir telah berpartisipasi secara suka rela karena keharusan dalam acara pekan olahraga yang diselenggarakan.


Kebanyakan dari yang tidak hadir karena harus latihan dalam berbagai pertunjukkan yang tidak bisa ditunjukkan di muka penonton yang merupakan rekan satu sekolahnya.


Sepekan berlalu, acara pekan olahraga hingga perayaan dalam memeriahkan pekan olahraga telah usai.


Tibalah hari pembagian hasil kerja siswa, dibagikannya rapor siswa kepada orang tua/wali siswa pada hari Selasa yang cerah di bulan Desember.


Dia masih sendirian di depan gerbang kedua sekolah, menunggu seorang laki-laki yang katanya sama-sama sibuk namun mau menyempatkan diri mengambil rapor siswa miliknya.


“Yakin dia bakalan datang?” tanya Hanalya menatap gusar ke arah sahabatnya. “Udahlah, daripada gagal keambil, biarin ibuku aja yang sekalian ambil. Ibu atau tante Ana juga nggak bakalan keberatan,” lanjutnya.


“Janji adalah janji, kata Papa, “Laki-laki itu yang dipegang, ya, ucapannya, bukan janjinya.”


"Sementara si Kama, dia memang nggak janji, tapi dia juga nggak kasih kabar kalo pada akhirnya nggak bisa. Nggak jelas banget! Jadi, aku mau tungguin dia, lima menitan lagi deh janji!”


Hanalya mencebik. “Janji adalah janji, nye-nye-nye. Barusan kamu juga janji, setelah lima menit jangan nambah janji kek nambah utang, ya!”


Fanya nyengir, dia memeluk lengan kanan sahabatnya. “Iya, Hana cantik anaknya pak Brigadir.”


Lima menit berlalu, keberadaan laki-laki kandung dari Fanya Fransiska tidak juga menampakkan diri.


Hanalya dengan tanpa berbelas kasihan langsung menarik lengan Fanya untuk pergi meninggalkan pintu gerbang kedua.


Hanalya membawa Fanya kembali ke ruang kelas mereka untuk mendengarkan hasil pembicaraan walikelas dengan orang tua mereka.

__ADS_1


Namun, begitu sampai di depan kelas setelah menaiki tangga, Hanalya menghentikan langkahnya dan berkata, “Jangan murung dong, keep your chin up.” Kepada Fanya yang tertunduk lesu karena merasa gagal mendapatkan buku nilainya kali ini.


Bukan kali pertama Fanya selalu berakhir tak mendapatkan buku nilainya. Ketika tahun pertama pada semester pertama lebih parah dari ini.


Orang yang berkewajiban mengambil adalah Dimas, tetapi kemudian beliau menitahkan Kamaliel, sayangnya seorang mahasiswa macam Kamaliel tidak akan mau menggubris pesan atau panggilan pada jam istirahat sebab kesibukannya di kampus yang padat, belum lagi dia tengah penyelesaian kuliah kerja nyata kala itu, sedangkan Ana, dia harus bed rest sebab kandungan tiga minggunya membuat imunitas Ana menurun.


Hari itu Fanya menunggu sampai seluruh tamu sekolah pulang dengan hasil, sedangkan dia duduk termenung di depan kelasnya. Wali kelas Fanya ketika tahun pertama, Pak Syarifudin, yang mengetahui hanya gadis muda itu saja satu-satunya muridnya yang belum kedatangan wali, dengan tanpa syarat dia langsung memberikan buku rapornya karena Fanya juara kelas.


Dimas benar-benar menyesal dan meminta maaf kepada putrinya. Dimas memberikan sebuah penawaran kepada Fanya sebagai permintaan maafnya namun Fanya menolak.


Begitu juga dengan Kamaliel, dia tidak lagi ngekos dan langsung pulang ke rumah sejak hari itu juga karena pesan sampai panggilan dari sang papa.


Pada semester kedua, mereka mulai introspeksi dari kekhilafan pertama. Dimas yang berkewajiban mengambil buku nilai Fanya bertemu karibnya yang mana ayah dari Hanalya.


Namun, pada semester kedua ini Fanya diperintahkan mengundang kedua orang tuanya ketika insiden itu terjadi, tetapi karena kondisi Ana yang memang tidak memungkinkan padahal dia benar-benar berjanji kepada Fanya untuk datang juga tidak tersampaikan.


Walaupun hasilnya Fanya bisa dibebaskan dari BK karena kedatangan Frisly sebagai wali atas inisiatifnya, ketika tahu Ana tidak baik-baik saja.


Fanya tidak marah, dia hanya mengurung dirinya selama sekolah menskors dia selama satu minggu. Fanya malu kepada Frisly yang telah mengetahui masalah di sekolahnya, sehingga Fanya tidak mau menemui siapa pun yang ada di lingkungannya sejak hari itu, kecuali jika ada kebutuhan primer nomor satu dan dua yang harus dia tuntaskan seperti makan dan kegiatan lain.


Pada semester ketiga, Frisly datang atas inisiatifnya yang ingin menggantikan Ana mengambil rapor anak gadisnya. Dia ingin mengikuti alur main Fanya yang tidak bercerita apa pun mengenai masalahnya di sekolah kepada Ana atau salah satu dari keluarganya sendiri.


Frisly curiga jika Fanya diperlakukan tidak baik, dan dia tidak mau hal seperti itu terjadi kepada anak dari kerabatnya sendiri.


Meski hanya anak dari kerabat, Frisly sudah berkontribusi dalam mengasuh Fanya sejak kecil, begitu juga dengan Ana yang mengasuh Revano di rumah masing-masing setiap kali dua bocah mereka bermain.


Fanya mulai menjelaskan, mengapa dia tidak bercerita kepada keluarganya sendiri terkait masalah yang dia dapatkan karena berurusan dengan kelompok anak laki-laki yang tersandung kasus obat terlarang.


Fanya hanya tidak mau menambah beban pikiran Ana yang tengah terbaring lemas, tidak mau membuat Dimas tertekan dengan masalah sekolahnya, dan tidak mau membuat Kamaliel memarahinya karena gegabah.


Fanya hanya tidak mau membuat mereka khawatir dan kecewa kepada putri mereka.


Namun, pada semester keempat semuanya berangsur membaik, walaupun tidak membaik seutuhnya.


Fanya memang tidak tersandung masalah yang berurusan dengan banyak pihak, tetapi hanya dia dan guru BK. Tentang kedisiplinannya yang mulai dia langgar, sehingga yang datang mengambil rapor adalah Kamaliel. Sebab, Kamaliel mulai sering datang ke sekolah Fanya hanya untuk membicarakan tingkah Fanya yang mulai menyebalkan.


Dan, di sinilah wali Fanya berada. Dia selesai dengan mencermati ceramah dari walikelas putrinya yang menyayembarakan kekecewaan guru-guru di hadapan orang tua/wali muridnya, karena kegagalan Fanya Fransiska dalam seleksi OSN kemarin.


Dia menghela napas sebelum menyunggingkan senyumannya. “Gagal olim, dan tetep menjadi juara kelas selama tiga tahun berturut-turut. Selamat, deh!” Mengulas senyum, lalu merentangkan kedua tangannya.


Hanalya menyunggingkan senyum. “Yang ditungguin ternyata udah masuk dari tadi, tuh!”

__ADS_1



__ADS_2