Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
47. Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Bukan menjadi pemandangan yang baru ketika mendapati seorang Fanya Fransiska berjalan dengan dagu congkaknya menuju gedung kelas yang berada di sisi timur sekolah. Bukan juga menjadi pertemuan pertama bagi warga kelas sembilan yang berada dalam satu gedung yang sama dengan gadis jutek itu.


Namun, penampilan gadis itu yang mengenakan rok bersamaan dengan celana panjang olahraga sekolah menarik perhatian semua orang. Hari ini adalah hari pertama dan si jutek berpenampilan begitu urakan.


Ada yang mengatakan jika Fanya berusaha memperbaiki citranya. Ada yang menyindir jika Fanya tidak mandi. Ada pula yang berceletuk jika Fanya benar-benar seorang apatis yang tidak mementingkan aturan, acakadut. Meskipun begitu, mereka tetap mengagumi betapa kerennya seorang Fanya Fransiska yang tetap bertahan pada posisi kedua di jajaran juara umum sekolah.


Begitu tiba di kelas, Fanya tercegat oleh sebuah tangan dan sapu ijuk milik kelasnya. “Whatta surprise, lo datang kayak orang yang habis ….” Ucapannya menggantung sambil memicingkan kedua matanya yang naik-turun memindai penampilan Fanya.


“Mana PJ?”


Fanya tidak terkejut ketika dia tercegat. Bahkan dia dibuat terkesima dengan kejujuran Revano mengenai slang yang sering digunakannya berdasarkan celetukkan bule asal Meksiko di hadapannya ini. Namun, dua kata terakhir dari si Bule membuat keningnya berkerut.


“Gimana-gimana?”


“Peje, pajak jadian lo sama si Vano. Diem-diem lo khianati gua yang udah bantuin lo berbaikan sama dia. Teganya!” Sungguh dramatis.


“Apaan, sih. Salah orang kayaknya. Siapa Revano?” Fanya melotot penuh peringatan ke arah Mikel yang berani mengajaknya bicara mengenai Revano di muka kelas seperti sekarang.


Padahal Mikel tidak pernah melakukannya selama beberapa tahun terakhir. Namun, apa ini?


Laki-laki di hadapannya ini sejak kapan bersikap seperti ember bocor?


“Ah, aku baru inget kalo kamu itu cepu!” desisnya kemudian berlalu melewati Mikel.


“Whatta surprise!” serunya sekali lagi. “Dia cerita sama gua kalo kalian resmi taken.” Mikel menggumam pelan, tetapi dia yakin jika Fanya masih bisa mendengarnya. Kemudian, Mikel kembali membersihkan debu dengan ijuk yang dia pegang sambil bersenandung riang.


Kabar kedatangan Fanya Fransiska yang terlihat tidak goyah setelah ratusan pesan kaleng berisi ujaran kebencian terkirim itu membuat beberapa oknum geram. Fanya telah membacanya dan mereka tahu namun si Jutek tidak menanggapi pesan-pesan itu.


Mereka geram dan akan melakukan yang lebih dari sekedar pesan kaleng. Apalagi ketika kepak merpati pos telah sampai di dalam sebuah perkumpulan pada jam istirahat.


Kabar yang mengatakan jika gadis jutek itu diantarkan seorang laki-laki bermotor, yang kelihatan lebih tua dari Fanya sendiri—selain kakaknya yang bermobil—tengah menjadi pergunjingan panas di ruangan ini. Mereka menerka siapa gerangan yang mau menghabiskan waktu berharganya dengan gadis yang memiliki citra picisan itu secara suka rela.


Di sanalah keberadaan si jutek yang dicarinya, tengah bersendirian dalam ruangan penuh rak buku tanpa penjaganya. Merasa jika dia memiliki keberuntungan yang didukung banyak pihak, dia akan melancarkan aksinya sesuai rencana yang telah dibuat secara matang. Dia masuk lebih dalam dengan tenang dan menghayati peran pada kesempatan pertemuan ini yang dirancang menjadi sebuah kebetulan. Skenario yang dia buat sendiri secara dadakan beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Dia masuk ke deretan rak buku paket kelas tujuh yang menjadi bilik pertama antara meja baca dengan rak lainnya. Dia memantau pergerakan dari targetnya yang masih saja anteng dengan buku paket di atas buku catatan, meringkasnya, dan menuliskan kembali di atas buku catatan miliknya.


Setelah melihat salah satu buku cerpen yang tersesat di antara puluhan buku paket pada rak kelas tujuh, dia berinisiatif mengambilnya dan keluar dari persembunyian.


“Wah, ada teh Fanya ternyata. Saya kira perpus lagi kosong, nggak kelihatan dari pintu soalnya,” sapanya.


“Teteh masih inget saya, kan?” Pengenalan wajahnya semakin jelas ketika si target menatap datar ke arah tempat dia berdiri. Dia hanya tersenyu, dia adalah Starla.


“Oh, iya. Kamu siapa, ya?” sahut Fanya, melirik per sekon kemudian berpaling.


Fanya masih meringkas materi sejarah atau ilmu pengetahuan sosial dari bab yang tersisa. Selama liburan, dia tidak diperkenankan membawa buku perpustakaan sekolah karena itulah kesepakatannya, sehingga secara terpaksa dia harus ngebut meringkasnya untuk kebutuhan pemahaman materi ketika pertemuan kelas yang akan datang.


Starla menggumamkan kekesalannya di dalam hati dengan wajah berseri jenaka.


“Saya Starla. Maaf soal kejadian di kantin semester lalu. Oh, iya tentang teteh yang gagal ikut olimpiade bareng kang Zizi juga nyampe ke telinga mama-papaku, loh. Mereka prihatin sama teteh dan mereka mengimbau aku untuk jangan sia-siakan kesempatan baik walau aku nggak memenuhi kriteria sekalipun,” ujarnya penuh makna tersirat.


Fanya hanya mengangguk-anggukan kepala sambil sibuk dengan puluhan kalimat yang lebih bermanfaat untuk dia ingat agar dapat mengetahui kejadian pada masa lalu dan cara bersosial dari kasus yang telah terjadi dengan sebutan sejarah.


Fanya lebih tertarik mendengarkan sejarah atau kisah masa lalu yang bisa dia jadikan pembelajaran dan sumber pengembangan di masa kini, dibandingkan harus mendengar celotehan tidak berdasar dari seseorang yang tengah duduk memaku diri menghadap ke arahnya.


Fanya menghela napas, dia berkata seperti ini sambil tidak memalingkan pandangannya dari buku. “Jadi, siapa yang panggil aku untuk ketemu? Siapa yang suruh kamu datangi aku kali ini? Bu Zayyidah nggak ada, dan dia belum membutuhkan aku sebelum dia kembali ke sini,” ucap Fanya langsung.


Starla termangu-mangu. Dia menurunkan kedua tangan yang dia letakkan dia atas meja menjadi di atas pahanya. Dia gemetaran hanya dengan kalimat panjang dari Fanya yang sebenarnya bernada datar dan terdengar serak karena Fanya menurunkan nada bicaranya. Seperti halnya ketika akan berbincang santai, tidak menggebu-menggebu seperti Hanalya jika sedang berbincang.


Starla segera menepiskan kegugupannya. “Apa maksud teteh?”


Starla berpura-pura tidak mengerti. “Saya beneran mau baca cerpen di perpus karena guru bahasa Indonesia ngasih tugas tentang cerpen,” elaknya.


“Oh,” balas Fanya singkat. “Maaf udah salah sangka. Kalo gitu, selamat membaca.” Fanya segera menutup buku catatannya, membawa barang-barangnya dan tidak lupa membereskan buku paket yang telah dia ambil dari tempatnya.


Fanya meninggalkan meja besar yang ada di tengah ruangan ini, berjalan menuju rak buku khusus kelas sembilan.


Starla terperangah kali ini. Dia tidak bisa berkutik lagi. Jika pada saat di kantin dia bisa menang ketika berhadapan dengan perlawanan dari teman-teman Fanya, kali ini dia dibuat mati kutu hanya dengan berhadapan seorang diri dengan kakak kelas paling jutek yang pernah dia amati sejauh ini.

__ADS_1


“Sial, kenapa dia bisa langsung tau?” gumamnya.


Starla yang lebih muda dari Fanya ini bangkit dari kursinya, meninggalkan buku yang sempat dia jadikan alasan untuk duduk di seberang Fanya. Dia segera menyusul Fanya dan mengekorinya secara diam-diam.


“Starla bisa bawa dia ke pojokan sekolah sekarang, dan lihatlah dia sekarang pergi ke mana?” Mengerutkan wajahnya.


Sedangkan itu, di lorong laboratorium bahasa Fanya berjalan tenang sambil mengingat poin materi yang akan dijelaskan pada pertemuan kelas sejarah setelah jam istirahat.


Tiba-tiba dia mendengar bisikan, tetapi Fanya berusaha mengabaikannya. Namun, cekalan pada tangannya memaksa dia mengikuti langkah orang itu ke area yang sepi. Area ini berada di antara gedung lab bahasa dengan lab kateterisasi.


“Jangan pergi! Gua butuh bicara sama lo barang dua menit aja,” katanya. Dia melihat Fanya yang mendelik dan diam saja. Hanya alisnya yang bereaksi tanya. “Lo nggak akan pergi ke pojokan sekolah, kan?”


Fanya tidak mengerti, tetapi dia tertarik untuk berbicara. “Ngapain juga ke sana. Buang-buang waktu, mendingan pelajari materi selanjutnya.”


Meski tertarik untuk berbicara, dia tidak berani menatap tepat ke mata lawan bicaranya. Teringat bagaimana lengannya dicekal oleh orang di hadapannya membuat tubuhnya meremang.


“Syukurlah kalo lo nggak gubris mereka. Lo jangan mau diajak sama siapa pun ke sana,” peringatnya. “Gue habis denger pembicaraan antar anak klub mading kalo mereka mau berbuat sesuatu yang buruk kepada lo hari ini di pojokan sekolah. Gua udah lapor si Kekel, dan dia cariin lo. Gua juga sih, tapi kayaknya gua duluan yang ketemu sama lo.”


“Biarin aja. Nggak ada urusan sama mereka. Makasih, Wisnu,” balas Fanya. Dia langsung berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju gedung kelas yang berjarak lima ratus meter dari area gedung sarana ini.


Namun, suara Wisnu membuat langkah Fanya melambat. “Jangan merasa sendirian. Ada gua, Mikel, Hana, Jia, dan yang pasti kami nggak akan abaikan hal ini. Kita, kan, teman. Teman itu saling bahu-membahu, Aya.”


Fanya tiba di rumah setelah selesai dengan kelas tambahan di Tut Wuri. Mendapati tidak seorang pun berada di rumah, tetapi sayup mendengar suara mainan Rey yang jika digoyangkan akan berbunyi gemerincing. Benar saja, di atas karpet berbahan plastik dengan bentuk kepingan teka-teki yang saling terpaut diduduki Rey seorang.


“Aya udah pulang!” serunya. Dia tersenyum lebar ke arah Rey yang menangkap kehadirannya. “Rey, Mama mana?”


Tentu saja bayi ini belum bisa menjawab. Namun, Rey menyeru dengan bahasanya sendiri sambil menggoyangkan mainan gemerincing miliknya ke arah sebuah pintu. Pintu kamar Kamaliel. Fanya mengerutkan dahinya.


“Mama?”


Bukan Mama yang keluar, melainkan Kamaliel dengan baju hitamnya yang sama dengan pagi hari tadi. Kamaliel menghampiri dua adiknya yang sudah berkumpul di ruangan. Kemudian, duduk di sofa sambil menghela napas. Bukan main ketika dia dititipi Rey beberapa jam yang lalu, sedangkan dia ingin mencari kegiatan selingan selama kekosongan jam kuliahnya.


“Mama balik lagi ke Padalarang sama Papa. Titipin Rey sama kita selama seminggu ke depan. Mama udah pesan ini dan itu, tolong bantuin Kama, ya. Kalo Rey mau nyusu, Mama bilang bikinin aja terus masukin dot bayi.”

__ADS_1



__ADS_2