
Sehari setelah Starla berbicara kepada Fanya di hadapan semua orang di kantin, terbitlah rumor picisan tentang Fanya.
Kemunculan surat kaleng di loker milik Fanya, bahkan mereka secara terang-terangan menyimpan surat kalengnya di atas meja Fanya di kelas, lalu pesan spam yang berdatangan di aplikasi komunikasi berwarna hijau milik Fanya muncul saling berkaitan, sedangkan yang Fanya lakukan hanya diam dan tidak pernah membuka ponselnya lagi selama satu pekan, karena perlakuan itu berlanjut setiap harinya.
Isi surat kaleng isinya hampir serupa meskipun tulisannya berbeda-beda. Salah satu isi surat yang paling Fanya ingat adalah dari amplop hitam, tulisannya cukup panjang di atas kertas origami warna merah.
Meskipun begitu, Fanya benar-benar dapat ingat isinya.
[Dear, Fanya Fransiska
Berhenti sok keren dan lawan karma kamu sendiri. Salah kamu yang udah usik ketenangan di Margayu dua tahun yang lalu. Masih ingat, kan?
“Usik ketenangan? Bukannya Medali sendiri yang bikin keonaran? Tingkah mereka bikin sekolahan nggak kondusif, sementara sekolah adalah tempat menimba ilmu. Nasib baik aku laporkan tingkah mereka yang minus itu dua tahun lalu, apalagi si ketuanya positif—ah udahlah,” ujar Fanya menimpali tulisan itu.
Makanya jadi orang jangan sombong amat. Sok-sokan lawan Medali dan bersikap jutek setelahnya, sok jual mahal setelah ketua Medali deketin kamu, hm? Sampai nama kamu dikenal seluruh Margayu. Ha-ha-ha … kamu lucu banget.
–guess who–]
Fanya tersenyum tipis, lalu meremat kertas merah itu dan membuangnya ke dalam bara api di dalam tong sampah yang ada di bubungan atap gedung kelas sembilan. Semua kelas berada dalam gedung berbeda, kelas sembilan dalam gedung berangka sembilan, begitu dengan gedung kelas lainnya.
Belum lagi ada gedung fasilitas yang berdiri berselang memisahkan gedung kelas satu dengan gedung kelas lainnya.
Fanya menerimakan semua hal ini terjadi kepadanya, sehingga dia tidak ingin mencari tahu penyebabnya, tidak juga ingin menghentikannya.
Dia membiarkan hal ini berlanjut begitu saja. Membiarkannya sehingga dapat berhenti suatu hari, karena mereka pasti akan lelah sendiri. Fanya meyakininya seperti itu. Naif sekali.
Dia semakin pendiam setelah sepekan berlalu semenjak kejadian itu juga ikut berlalu. Fanya tidak banyak bicara, tidak pergi ke kantin, dan mengurung dirinya di dalam perpustakaan.
Sepekan lagi November akan berakhir, pihak sekolah mulai membicarakan tentang ujian akhir semester yang rencananya akan diadakan pada pekan pertama bulan Desember atau pekan kedua, masih dipertimbangkan.
Selain itu, kabar jika Margayu berhasil lolos setelah nyaris kalah dari SMPN Surabaya. Tersisa sepekan lagi untuk menantikan siapa yang akan menyabet medali OSN tahun ini.
Meskipun Fanya menjadi lebih pendiam, akhirnya Fanya dapat mengetahui pendapat orang lain mengenai dirinya.
Menurut mama Ana, didukung oleh pendapat tante Frisly juga, mengenai peran yang ditunjukkan oleh seseorang pada suatu lingkungan itu disebut dengan istilah personal branding.
Kata tante Frisly: Fanya sudah dapat dikatakan berhasil dalam menyampaikan personal branding dirinya yang lebih tertutup.
Meskipun begitu, dia tetap bersikap sopan kepada siapa pun. Dalam artian, Fanya benar-benar berhasil menunjukkan perannya dalam lingkungan sebagai anak pendiam sang juara.
Fanya dikenal sebagai orang yang pendiam juga sok jual mahal, maka personal branding-nya adalah si jutek.
Namun, personal branding sebagai si jutek telah berubah menjadi Fanya si picisan.
Dia meralat sendiri ucapan tante Frisly hari ini dan dia memutuskan untuk mengaktifkan kembali ponselnya setelah sepekan dimatikan daya. Akhir pekan ini Fanya tidak pergi ke kelas tambahan, tidak juga pergi ke pusat kota, apalagi bersosialisasi dengan warga Bandung lainnya.
Tidak pergi kemana-mana, dan hanya bermain dengan si bungsu yang makin mahir berlatih berdiri di tepian sofa.
__ADS_1
Mengarahkan kamera ponselnya agar tepat membidik aksi Reyhan yang tertatih mengumpulkan tenaga pada lutut gembulnya. Fanya berniat mengabadikan aksi Reyhan dalam bentuk video.
“Rey, coba lihat ke sini, Aya di sini.”
Selain itu, Fanya juga bersorak untuk Reyhan agar termotivasi untuk lebih berusaha dalam belajar berdiri.
Sementara Reyhan berusaha beranjak dari duduknya dengan tertatih-tatih, Fanya duduk menjauh dari sofa untuk merekam aksi adiknya yang memang patut diabadikan.
Fanya duduk di atas karpet dan memperhatikan tumbuh kembang Reyhan yang luar biasa.
Sejak awal menyalakan kembali ponselnya, Fanya tidak begitu menyadari jika terakhir kali dia aktif telah menyalakan Wi-Fi, lalu langsung mematikan ponselnya tanpa mematikan hal lainnya, sehingga hari ini dia menerima puluhan notifikasi berupa pesan dari nomor asing.
Fanya mulai ceroboh dengan hal-hal sekecil fitur sambungan yang lupa dia matikan ketika menyalakan kembali ponselnya. Di rumah dia menggunakan Wi-Fi karena sinyalnya stabil untuk digunakan menonton drama Korea.
Mengapa hal sekecil ini dibesar-besarkan?
Fanya sedang membutuhkan ketenangan, dan sumber ketenangan sekaligus kesenangannya bersumber dari adik menggemaskan di sana. Melihat bagaimana Rey begitu bersemangat dengan aksinya yang berlatih berdiri di tepian sofa, telah membuat Fanya sedikitnya bangkit dari kemuraman sepekan lalu, membuat Fanya denial dengan cerahnya hari ini.
Ana datang membawa camilan untuk si bayi dan penjaga kesayangannya, di atas nampan juga terdapat minuman segar yang dibuat khusus untuk Fanya.
“Wah, adek makin hebat aja! Kalau begitu semangat hari ini, besok-lusa juga udah bisa susul tetehnya lari-larian, nih,” ujar Ana berseloroh.
Fanya menyambut sang mama dengan segaris senyum tipis. Dia menaruh ponselnya di meja dekat televisi LED 80 senti yang menyala menampakkan tayangan pagi menjelang siang hari Sabtu.
“Ma, Aya ke atas dulu, ya.”
Maka jawabannya adalah tidak, tetapi rumor bahwa Fanya menjadi lebih disiplin dan tidak membawa ponsel ke sekolah sudah didengar sang mama.
Mama sempat frustrasi ketika putrinya ini berubah dalam segi bersikap, pendiam namun melontarkan kalimat yang begitu pedas, sinis namun juga tetap bersikap baik, karena bagi mamanya hati Fanya itu mudah luluh, sehingga tidak mudah mengabaikan orang lain, apalagi jika sampai tidak menolong.
Tidak mudah bagi mama Ana untuk mengetahui segalanya tentang Fanya. Mama Ana harus pura-pura marah, mengabaikan Fanya, dan bersikap acuh kepada putrinya terlebih dahulu untuk mendapatkan apa yang ingin dia ketahui. Namun, belakangan—mungkin sekitar satu tahun yang lalu—secara perlahan Fanya mulai banyak berbicara.
Sering sekali dia berbicara mengenai orang-orang menyebalkan di sekolah, salah satunya adalah Hanalya yang merupakan anak dari teman lama papanya. Sejak saat itu juga mama Ana mulai berhenti berpura-pura ngambek dan melepaskan putrinya. Melepaskan dalam artian membebaskan Fanya untuk menunjukkan jati dirinya.
Lagipula, Fanya seorang gadis sekarang. Dia gadis remaja yang menawan, sehingga mama Ana berharap masa remaja putrinya tidak monoton dengan melihat dia mengurung diri di dalam rumah. Mama Ana menginginkan yang lebih dari Fanya yang kembali cerewet menceritakan kekesalannya terhadap teman baru.
Mama Ana menginginkan Fanya mengekspresikan dirinya lebih dan lebih lagi dari pemberontakan ini. Mama Ana ingin melihat Fanya bebas dari beban seberkas tragedi masa lalu.
Sampai pada suatu masa, mama Ana tahu jika sumber kemuraman putrinya adalah ditinggal pindahan oleh anak dari kerabat mereka.
Putra dari sahabat baiknya, Revano Aji Pratama.
Mulanya, mama Ana menanggapinya sebagai bercandaan belaka karena putrinya ini tidak pernah sepeduli itu terhadap hal-hal yang membuat dia kesal.
Kan, tahu sendiri jika Fanya dengan Revano jika dipersatukan adalah bentuk lain dari kehancuran—walau bukan dalam artian sesungguhnya.
Namun, akhir-akhir ini mama Ana menangkap sinyal kemuraman Fanya lagi. Mama Ana ingin bertanya namun ia masih membiarkan Fanya sendiri yang akan memberikan penjelasan kepadanya. Mama Ana sangat menantikannya, tidak mencari tahu lebih jauh sebelum Fanya benar-benar menceritakan semua kemuraman itu kepadanya.
__ADS_1
Kamaliel menghampiri sang mama dengan raut menuntut tanggung jawab.
“Mama, apa Mama beresin kamar Kama?”
Kamaliel benar-benar tengah panik, tegang, dan ketakutan saat ini. Membayangkan jika memang benar sang mama telah membereskan kamar gelapnya dari keberantakan yang sengaja dia tata.
Mama Ana menoleh ke samping, ke arah putra sulungnya yang berdiri sambil berkacak pinggang, menatapnya dengan iris sinis seakan tengah mengibarkan bendera perang.
“Iya, emangnya nggak boleh Mama beresinkah? Berantakan banget, Kang. Mama bantuin beban kamu sedikit.”
Kamaliel mengeluh kesal, “Mama memang bantuin Kama beresin kamar, tapi Mama nambah beban Kama tau!” Menuduh.
“Loh, kok bisa gitu?”
“Mama. Apa Mama nemuin buku sampul kulit warna hitam di tumpukkan baju atau di manapun itu sebelum beberes kamar Kama. Kira-kira Mama nemuin nggak?” Bertanya untuk memastikan jika sang mama akan memberikan petunjuk kepadanya.
Sumpah, demi pura-pura tuli dari suara-suara gaib, Kamaliel bersumpah akan mendengarkan mereka barang satu kali saja jika sang mama benar-benar memberikannya petunjuk dari barang yang hilang dari dalam kamarnya.
“Buku hitam?” Mama Ana tampak ragu.
Melihat putra sulungnya mengangguk antusias, wanita berusia tiga puluh sembilan tahun ini mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu, sebelum selumbari. “Kayaknya Mama pernah pegang, dan sayangnya Mama lupa simpen di mana.”
“Nggak Mama buang, kan? Nggak, kan?” Pertanyaannya ini lebih mirip permintaan kepada mamanya yang terlihat masih muda di usianya yang sebentar lagi mencapai kepala empat.
“Mama nggak ingat, tapi setelah beberes di kamar kamu yang berantakan itu, Mama pergi ke gudang. Coba dicari aja, Mama lupa.”
“Makasih, Ma. Semoga aja beneran ada di sana.”
Kamaliel hendak pergi namun dia mendegar dering notifikasi ponsel di ruangan ini. Dilihatnya sang mama yang tidak memegang ponsel sama sekali, apalagi adik bungsunya, lantas dia menatap ke sekeliling ruangan dan mendapati ponsel adiknya yang tersimpan di atas meja televisi.
“Aya ke mana?” tanya Kamaliel.
“Pergi ke atas.”
“Apa?” Maksudnya gimana?
“Pergi ke Yang di Atas … maksud Mama apa?”
Mama Ana menatap tegang tepat pada iris kelam putra sulungnya. “Pergi ke kamarnya. Dia pergi ke atas itu ke kamarnya, Kakang! Ya, kali dia pergi ke Yang di Atas di jam segini? Belom waktunya dzuhur.”
“Beneran dia cuman ke atas? Kama kawatir kalo dia bertingkah aneh-aneh lagi, Ma. Akhir-akhir ini dia aneh banget, kan?”
Benar ucapan Kamaliel. Tidak hanya di sekolah, melainkan di rumah juga. Adik perempuannya ini tidak pernah lagi marah-marah dan bersikap sangat pendiam dari biasanya.
Jika biasanya Fanya akan marah kalau Kamaliel masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu, maka akhir-akhir ini gadisnya tidak marah.
Begitu pula ketika Kamaliel tidak menutup pintu kamar adiknya sebagaimana mulanya, tetap saja Fanya tidak marah dan menutup sendiri pintu kamarnya yang sengaja tidak ditutup oleh Kamaliel.
__ADS_1
“Udahlah, dia bentar lagi lulus SMP. Barangkali dia sedang mempertimbangkan diri mau masuk ke mana, dan mungkin juga karena catatan kedisiplinan dia yang … Kakang tau sendirilah. Mungkin dia mau memperbaikinya,” ucap mama Ana tenang.