
...R14+...
...----------------...
Pada bukunya yang benar-benar populer, seorang tokoh dunia berkata sederhana, sehingga dijadikan kutipan memotivasi.
Beginilah kutipannya yang menyuarakan bagaimana mencari kawan dan memengaruhi orang lain; tatkala kita berurusan dengan manusia, mari kita ingat bahwa kita tengah berurusan dengan makhluk logika. Kita berurusan dengan makhluk penuh emosi, penuh prasangka, dan dimotivasi oleh rasa bangga dan sombong.
Beberapa menit sebelum Revano mengatakan kalimat ungkapan yang mind blowing, sebelum benar-benar memutuskan berjalan-jalan di pinggiran pemandangan danau yang luar biasa indah, karena danau di hadapan mereka adalah danau buatan; fungsinya tak lain dan tak bukan adalah wadah penampung alamiah.
Pada menit pertama kedatangan Fanya yang sedikit terlambat, karena keharusan menjaga adik bayinya di sela kesibukan sang mama menyiapkan makan malam, mereka melempar gurauan tentang masa kecil.
Selepas saling melempar gurauan, mereka sibuk bercerita tentang kesibukan masa sekolah menengah pertama yang memiliki dua rasa bagi Fanya, sedangkan Revano sebaliknya.
Laki-laki ini memiliki banyak rasa lantaran telah membebaskan diri untuk bergaul sana-sini, walaupun teman terbaiknya tetaplah Tara Aditya seorang.
Melempar canda dan tawa memberikan inisiatif alami untuk meledek lebih jauh seorang Fanya yang manja, cengeng, dan keras kepala. Revano hapal betul bagaimana membuat Fanya kesal per sekon setelah dilontarkan.
“Kenapa nolak si Adit? Gitu-gitu juga dia beneran serius suka sama kamu, loh.”
“Ih!” Melayangkan protes. “Dia … apa dia cerita?”
“Tentu aja dia cerita. Dia bahkan ngeluh patah hati sama sahabat baiknya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Revano Aji Pratama yang cakepnya menembus langit ke tujuh ini.” Dengan omongan besar yang tidak mendasar, dia tetap penuh percaya diri.
Dengan wajah merona, Fanya dengan berani menatap kawannya yang cengengesan penuh ledekan di sampingnya.
“Ya, karena itulah. Dia, kamu, Mikel, kalian tuh temenan sama-sama cepu! Jangan-jangan kalian juga cerita sama Wisnu kalo aku suka sama dia?”
Revano menggeleng. “Soal itu nggak. Nunu nggak boleh sampai tau, atau langit bakalan cepet runtuh!”
“Dih, apaan sih! Lebay banget,” cibirnya.
Revano semakin mengencangkan tawanya. Dia dibuat terhibur dengan wajah kesal Fanya yang menurutnya begitu menggemaskan.
Sontak, tangan kanannya terulur untuk mengacak puncak kepala Fanya, karena sudah membuatnya bahagia setelah sepanjang hari tertekan dengan standar yang ditetapkan band kafe. Membuatnya tidak bebas, terkekang, dan gagal fokus.
__ADS_1
“Omong-omong soal skater, kamu beneran nggak ingat?”
“Ada apa emangnya?”
“Nggak ada, sih,” balas Revano. “Padahal kamu kelihatan lebih keren ketika main skater. Vano suka …,” lanjutnya.
Revano berjalan lebih cepat, kemudian dia berhenti ketika radius yang dia ciptakan berjarak sekitar lima meter dari Fanya.
“Aya, Vano sayang sama kamu. Vano nggak suka kalau kamu digangguin orang lain selain Vano. Vano nggak suka kalau kamu suka sama Nunu. Bahkan ketika Adit bilang dia suka sama kamu, Vano mulai muak sama dia karena manfaatin Vano supaya bisa tau segalanya tentang kamu.
“Aku sadar udah suka sama kamu sejak lama, sih. Bahkan kecerobohan aku yang berakhir tragis banget waktu itu adalah bukti segimana takutnya aku kehilangan kamu. Maaf, karena Vano malah kasih warna lain dalam persahabatan kita, Aya.”
Whatta surprise, mengutip aksen si bule Meksiko alias Mikel Kurniawan.
Fanya masih bergeming dengan pandangan lurus menatap objek yang berada pada radius lima meter darinya. Momen ini seperti pernah dia rasakan.
Jika diingat-ingat, Zico pernah mengungkapkan kesan sesungguhnya terhadap Fanya dengan cara nyaris serupa seperti kalimat Revano. Namun, Zico tidak melakannya secara terselubung begini. Zico langsung mengikatnya dalam hubungan yang katanya lebih istimewa dari teman baik.
Fanya penasaran apakah Revano akan mengatakan hal yang sama dengan trik yang dia kenali ini?
“Rencananya band TXT bakalan diresmikan. Vano mau ajak kamu kencan selama tujuh kali, ke tujuh tempat berbeda, dan ditentukan secara giliran. Ketika tujuh kencan tercapai, Vano mau kenalin dan ajak kamu duet di atas panggung sebagai … seseorang yang spesial.”
...----------------...
“Lo nggak bohong, kan?” Hendra bertanya untuk memastikan kebenaran dari ucapan Revano, dia sudah mengulang sebanyak dua kali, dan sekarang ketiga kalinya.
Revano mengangguk pelan, senyumannya tidak terbenam sedikit pun. “Makasih udah izinin gua pulang lebih cepat kemarin. Berkat kelonggaran waktu dari abang-abang sekalian, gua berhasil taken sama target dari tantangan kita.”
“Buktikan, apa yang bisa lo buktikan kalau omongan lo bukan omdo. Buktinya mana?”
Tentu saja, Revano sudah menduga hal ini akan diminta.
“Chat semalem sama pacar.” Mengeluarkan ponsel dari persembunyiannya di balik saku jaket Dilan.
Bibirnya berkedut ketika sadar dengan apa yang telah dia katakan barusan. Agak geli untuk memanggil Fanya dalam bentuk sebutan lain. Sangat menggelikan, tetapi dia melakukannya agar tidak mengundang kecurigaan.
__ADS_1
“Anjirlah, bahasanya halus banget. Langsung aku-kamu, gemesin banget!” ungkap Kaisar berseru.
“Scroll ke atas, gua masih curiga dia bohongin kita demi menang!” titah Surya.
Hendra yang memegang ponsel milik Revano dibuat tremor ketika puluhan pesan yang Revano kirim kepada target mereka benar-benar bukan rekaan.
Tercantum juga tanggal dan waktu yang menjadi saksi bisu atas perjuangan Revano dalam mendekati cewek kulkas dari SMP PGRI Margayu.
“Gimana, nih, Bams. Si Vano beneran menang banyak ini mah!” gerundel Kaisar.
Cerah wajahnya kian menyusut ketika dia menatap Bams. “Gua nggak butuh uang kalian. Gua cuman mau posisi yang dia janjikan.” Menatap tajam seakan menuntut haknya kepada Bams si pencetus tantangan sekaligus taruhan edan.
“Nggak bisa!” Bams menyeringai tenang. “Kesepakatan kita adalah uang dan vokalis utama. Dan, lo nggak bisa langsung dapetin posisi itu secara tantangan doang, Van,” ujar Bams.
Semua anggota mengerutkan dahi. Tak ayal juga Tara Aditya yang dibuat terheran dengan apa yang barusan dia dengarkan, sementara Revano dapat menduga hal ini juga akan terjadi, walaupun sesungguhnya dia tidak pernah mengira pikiran negatifnya benaran terjadi.
Hendra, Kaisar, dan Surya melayangkan tatapan tak kalah sengit dari Tara Aditya.
“Lo harus ikuti seleksi. Mengingat kemampuan lo, kuantitas lo selama manggung selama ini bikin gua ragu. Gua harap lo mau ikut seleksinya,” katanya enteng.
“Oke, gua akui lo menang tantangan deketin dan pacarin cewek jutek itu. Congrats.”
“Terus taruhanya gimana?” celetuk Kaisar.
“Soal duit seharga manggung itu, karena Vano sendiri yang nolak terima. Jadi, gugur. Maksudnya nggak jadi dengan duit, tapi tambahan bagian lirik buat Revano, deh,” jawab Bams.
Tiga sekawan itu bernapas lega ketika tahu jika uang mereka aman. Salah satunya Hendra yang melayangkan tatapan memuja kepada Revano, sementara yang ditatap sibuk dengan pikirannya sendiri mengenai jawaban yang sudah tercium busuk dari Bams.
Revano tahu jika Bams tidak akan tinggal diam, ternyata laki-laki yang usianya berjarak satu tahun darinya, telah memiliki banyak siasat agar membuat Revano mau mundur perlahan.
“Gua keluar dulu. Ibu telepon,” ujar Tara sambil menggenggam ponselnya, lalu berjalan ke luar area kafe.
Di luar, Tara membuka aplikasi pesan dan langsung menyerbu kontak dari seseorang yang ingin sekali dia marahi. Tara ingin sekali membuatnya babak belur, tetapi sayangnya dia tidak memiliki nyali sebesar itu karena hubungan keduanya terlalu baik-baik saja.
Tara mengirimkan pesan dengan isi: Anying! Lo kelewatan. Gua bilang batalin ya batalin bgst! Kalau urusannya jadi begini, lo bukan bantuin aing, tapi bikin aing hancur juga, sat!
__ADS_1
...[Tantangan mendekati cewek jutek dari Margayu dinyatakan selesai]...
...[SELESAI]...