
“Kamu tidak dapat mengubah apa yang telah kamu mulai, tetapi kamu dapat mengubah arah ke mana kamu pergi. Yang penting bukan soal apa yang kamu lakukan, tetapi yang sedang kamu lakukan sekarang.” Mengutip ucapan motivasi tokoh dunia.
...—...
Satu bulan berlalu. Persiapan kelas sembilan dalam pelaksanaan ujian akhir dan ujian nasional benar-benar dirancang sematang mungkin agar meluluskan pelajar dengan nilai memuaskan, tertinggi dari angkatan sebelumnya. Biasanya, pemerintah pusat memberitakan nilai rata-rata hasil ujian pada setiap sekolah, per nilai tertinggi.
Tahun lalu, sekolahnya berada di peringkat sepuluh sekolah dengan nilai rata-rata ujian nasional tertinggi se-Jawa Barat. Pihak sekolah juga mengupayakan jika angkatan kali ini dan selanjutkan akan membawa nama sekolah naik dari peringkat. Hal itu merupakan misi dan harapan dari pihak sekolah.
Di dalam kelas sebelum pembelajaran benar-benar dimulai, guru akan memberikan suntik vitamin berupa kutipan yang meminyaki roda semangat muridnya. Entah mengutip dari buku ilmiah, fiksi, non-fiksi, atau bahkan cerita rakyat.
Semua guru mengupayakan hal yang sama untuk anak didiknya yang akan lulus dalam kurun waktu tiga-empat bulan, dan akan segera naik tingkat menjadi pelajar sekolah menengah atas.
Guru yang mengajar bahasa Indonesia bernama Sapardi Zakaria, hangat disapa Pak Pardi, tengah berdiri di podium—lantai yang satu jengkal lebih tinggi dari lantai dasar—di depan meja muridnya memaparkan.
“Anak-anak, saya pernah membaca satu kutipan dari buku yang akan membuat kita berpikir dan menjadi kaya. Kaya bukan tentang materil, kaya juga mengenai hati juga berjiwa besar. Kutipan ini sangat cocok untuk kalian.
“Berkata, “Satu hal yang tidak akan ditoleransi alam adalah kemalasan.” Kalian adalah penguasa paling bijak untuk diri kalian sendiri. Maka, kalau kalian mulai mempertimbangkan sesuatu hal yang baik seperti mengerjakan tugas sekolah tepat waktu, mulai disiplin waktu, penampilan dan sikap, dan mengusahakan diri untuk lulus dengan nilai terbaik, maka kalian sedang menanam benih kesuksesan.
"Guru-guru di sini tidak bisa memberikan nilai sebagai tolak akhir kemampuan kalian, justru kalianlah.
“Kalian adalah satu-satunya penentu paling berpengaruh bagi diri kalian sendiri. Sekolah adalah tempat kalian diberikan ilmu dasar, kemudian kalian terapkan di dunia luar sekolah, di sini juga kalian mendapatkan teman, dua hal ini hanya penambah. Nilai tinggi, lulus atau tidaknya itu tidak dapat diputuskan pihak sekolah jika bukan karena siswanya sendiri yang berusaha.
“Kalian yang diikutkan dalam ujian, kalian yang berusaha. Jika kalian ingin lulus dan melanjutkan ke tingkat selanjutnya, maka kalian harus berusaha, dimulai dengan hilangkan kemalasan. Kan, sudah diberitahu jika satu jal yang tidak akan ditoleransi adalah ….”
Begitu Pak Pardi memberikan kesempatan muridnya berbicara, mereka menjawab, “Malas!” Secara serentak.
“Benar. Tidak ada soal yang sulit selain malas!” tegas Pak Pardi.
“Soal matematika yang sebegitu kalian pusingkan saja ada jawaban dan cara penyelesaiannya. Soal bahasa Indonesia yang kebanyakan penggalan cerita atau paragraf saja bisa diuraikan dengan kalimat sederhana. Begitu juga dengan mata pelajaran lain. Nah, bagaimana dengan malas? Bagaimana cara menyelesaikan malas? Memikirkannya pasti malas karena sudah malas!”
Seulas senyum dan kekehan lirih keluar dari mulutnya. Wajah bersih dari kumis dan tidak berjanggut milih Pak Pardi tampak berseri dari sebelumnya. Melihat muridnya terhibur dengan kalimat darinya memberikan kesan melegakan.
Satu kelas terkekeh dengan kalimat yang guru bahasa Indonesia mereka lontarkan barusan. Mereka terkekeh lantaran benar adanya demikian. Namun, mereka tidak mau mengakuinya secara terang-terangan di muka kelas karena akan menjadi bahan ejekan teman-teman.
“Produktiflah. Mulai kerjakan tugas kalian sebagai pelajar, dan berusahalah untuk tampil lebih baik, karena satu niat baik akan menumbuhkan kebaikan lainnya. Begitu juga sebaliknya, kalau kalian masih betah bermalas-malasan maka kalian sedang menanam kemalasan lainnya. Malas hanya bisa dikalahkan dengan kita bergerak, melakukan sesuatu untuk maju, dan berusaha.
“Berusaha untuk … tidak malas! Bagi kalian yang masih nunggak tugasnya, segera kerjakan. Bagi kalian yang masih menjadi langganan guru kedisiplinan, mulailah mengubah diri kalian menjadi lebih baik dan layak disebut sebagai pelajar yang terdisiplin.”
__ADS_1
Pak Pardi mengusaikan sesi pidato di depan muridnya yang dikenal badung dan menduduki peringkat nomor satu dalam hal ketidakdisiplinan di sekolah. Bahkan pada buku hitam Pak Joko—guru matematika sekaligus guru kedisiplinan, dan wakil kepala sekolah—nama-nama anggota kelas 9-G sudah seperti nama pelanggan dengan masalah mereka.
Pak Pardi memang bukan walikelas di sini, tetapi tugasnya sebagai guru adalah penasihat dan orang tua bagi muridnya di sekolah.
Seorang siswa mengacungkan tangan dan bertanya, “Pak, kalau kita udah memulai apa yang sebelumnya bapak katakan sebelumnya. Misalnya, saya mulai disiplin waktu dan rajin masuk kelas, tapi saya masih dianggap sama seperti diri saya yang sebelumnya, itu gimana?” Dia meragukan pertanyaannya sendiri.
“Maksudnya ketika saya udah memulai sesuatu, saya masih nggak tau harus ngapain … jadi, saya balik lagi ke semula.”
Pak Pardi terdiam dan menatap lekat muridnya yang bernama Sergio. “Yang penting kamu sudah memulainya. Mulai menanamkan niat baik dengan mau disiplin waktu. Sergio, Revano, dan anak-anak sekalian … kita tidak bisa mengubah apa yang telah kita mulai,” katanya, “tetapi Sergio, kamu malah kembali pada hal semula sebelum kamu memulai, kan?”
“Kamu sudah memulai, kamu bisa mengubah ke arah mana kamu ingin pergi. Jangan pedulikan ucapan orang lain, itu kritik. Kritik itu memang datang dan pergi seperti merpati pos.
"Kamu fokus saja dengan apa yang telah kamu mulai, karena yang penting bukanlah soal apa yang kamu lakukan, melainkan apa yang sedang kamu lakukan. Kalau kamu sedang berusaha mendisiplinkan diri, tetaplah berusaha sampai kamu mencapainya!” lanjut Pak Pardi.
Kemudian, lembaran kertas putih di tangannya segera dibagikan ke setiap meja yang ada di depan untuk digilir ke belakang.
“Hari ini kita tidak ada materi khusus, jadi bersama saya, kalian akan mempelajari tipe soal ujian berdasarkan soal ujian tahun ajaran dua tahun lalu, karena soal tahun kemarin masih bersifat rahasia. Jadi, saya gunakan soal dua tahun yang lalu,” ujarnya.
“Ujian sudah di depan mata, jadwal pemantapan juga sedang dirundingkan. Nah, waktu kalian tidak lagi banyak. Jika ingin lulus, perbaikilah diri kalian sendiri mulai dari sekarang!”
...----------------...
Ada Bams, Tara, dan Kaisar, sedangkan Hendra dan Surya masih belum datang. Mereka akan segera tampil pukul empat sore, sekitar lima belas menit yang akan datang. Revano bangkit. Tara ikut bangkit setelah bertanya. Mereka berdua bersama-sama pergi ke toilet kafe.
“Gua samperin mereka dulu, deh! Bahaya kalo sampe telat,” ujar Kaisar.
Bams menatap ponsel Revano yang berdenting dan menyala. Kebetulan tempat duduknya di sebelah Revano, sehingga dia bisa melihat notifikasinya dengan jelas. Bams dan siasatnya mendapatkan kesempatan untuk benar-benar merealisasikannya.
Bams dengan tampang lempengnya mengambil ponsel Revano. Mengetik sesuatu pada kolom pesan dengan seseorang, lalu setelah terkirim dia menghapusnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
[Besok kencan ketiga, joging ke Gasibu, yuk.]
[Ditunggu di Gasibu jam 7]
[Berangkat sendiri gapapakan?]
[Soalnya lagi nggak bisa jemput]
__ADS_1
[Jangan balas, ya. Soalnya bentar lagi mau tampil]
Setelah selesai dengan ponsel milik musuhnya, Bams beralih pada ponsel miliknya. Hal serupa dia lakukan, mengetik pesan kepada seseorang yang akan dia pertemukan dengan kekasih Revano. Bams menyunggingkan senyumannya.
[Je]
[Besok jam 7, di Gasibu. Orang yang pengen lo temuin ada di sana.]
Beberapa menit berlalu. Penampilan TXT di kafe yang telah merekrut mereka dimulai. Band kecil yang bercita-cita meraih kesuksesan sekelas Maroon5 atau Cold Play ini telah memulai niat dan impian mereka sejak usia belasan.
Mereka dan masa remaja sekolahnya sering dipandang tidak berguna karena bukannya fokus sekolah, mereka malah fokus bernyanyi di kafe.
Meskipun tanggapan negatif, mereka tetap disukai segelintir orang entah karena visual anggota atau suara merdu dan harmonis yang diperdengarkan ke seluruh pengunjung kafe.
Revano dan impiannya telah memulai sejak lama. Dia sudah menjalankan niatnya ketika dia berusia dua belas tahun, ketika Sean memintanya untuk menjaga Cheryl dan izin menggunakan studio musik milik Sean di rumah, Revano mulai membuat jalannya sendiri. Dia sedang melakukan apa yang dia inginkan.
Revano akan pergi ke tempat yang dia inginkan untuk pergi, tetapi semuanya memang tidak semudah rencana karena pastinya ada halangan atau hambatan.
Entah itu orang-orang yang tidak mendukungnya, yang merendahkannya, dan orang-orang munafik yang mempermainkan kesungguhannya.
Revano tahu jika anggota TXT tidak pernah menginginkan Revano, tetapi mereka membutuhkan Revano berada di posisi bassist atau terkadang gitaris, bergilir dengan Hendra.
Revano juga tahu jika Bams, ketua dari TXT, akan melakukan berbagai cara untuk membuatnya berhenti.
Berhenti bagi Revano adalah merelakan impiannya sampai di sini, mengusaikan perjuangan yang dia kerahkan sejak masih dini.
Tidak apa, Revano tahu tempat. Dia akan mengusahakannya untuk kali terakhir sebelum benar-benar berhenti.
Namun, Revano tidak akan pernah tahu apa yang akan Bams lakukan untuk menghentikkan perjuangannya meraih restu orang tua dengan menggapai vokalis utama sebagai jembatannya.
Dia tidak pernah tahu karena Revano sedang melakukan apa yang dia inginkan.
Surya berceletuk bangga ketika penonton mulai bertepuk tangan setelah satu lagu mereka habiskan.
“Wih, keren banget. Ternyata si Vano boleh juga kalo dikasih bagian yang banyak. Banyak yang terbius juga!”
Kebanyakan karena suara serak basah dari Revano, ditambah lagu yang mereka bawakan. Lagu dari penyanyi asli Peterpan berjudul ‘Semua Tentang Kita’ dengan dua vokalis saling berduet, Revano dan Tara.
__ADS_1
Bams tersenyum. “Kerja bagus!”