Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
59. Kembali Pada Rutinitas


__ADS_3

Dia kembali bersekolah setelah satu pekan membolos, sehingga dia banyak tertinggal. Namun, si cerewet berulah. Siapa lagi?


Hanalya Putri Suherman yang selalu menempel di samping Fanya Fransiska dan tidak membiarkan siapa saja mendekatinya akan selalu mengganggu Fanya.


Bertanya kabar kepada Fanya. Dan, tidak membiarkan Fanya berbicara kepada siapa pun, kecuali Hanalya sendiri.


Oh, tidak. Tentunya Mikel diberikan izin karena Fanya yang memulainya. Memulai berbicara kepada laki-laki berparas campuran bernama Bule.


Bukan, dia bernama Mikel Kurniawan Rahadi. Alhasil, si cerewet kesal berkacak pinggang. Bersungut-sungut dan selalu menyela ucapan ketika si bule berbicara.


Sejak insiden penyekapan, Fanya tidak sering keluar dari kelas, tidak juga menghampiri Bu Zayidah di pos penjaga perpustakaan. Tidak ke kantin karena Hanalya yang akan mewakilinya, sehingga membuat mereka yang iba segan bertanya, menghampiri pun rasanya menakutkan, katanya begitu.


“Mikel,” sebut Fanya ragu-ragu. Ketika Hanalya tengah pergi keluar kelas, sementara di dalam tersisa mereka berdua, seakan diberikan kesempatan. “Hari itu, sebenernya apa yang udah terjadi?”


Mikel menatap lurus pada iris mata legam milik teman yang selalu dia khawatirkan ini. “Bukannya udah jelas? Jehan balik, bikin ulah, nyekap lo, dan polisi pun datang,” katanya enteng.


“Ah, satu hal lagi. Si Bamzing itu bersekutu sama Jehan untuk jebak lo pake nama si Vano.”


Fanya tertegun. “Jebak pakai nama Revano?” ulangnya. “Siapa?”


“Siapa lagi? Bams. Walaupun dia ngakunya yang udah temukan lo di bangunan itu, tetep aja dia udah mengadu dombakan dua belah pihak. Pantesan si Vano ngehajar dia habis-habisan.”


Fanya menundukkan kepalanya. “Sebenarnya … Bams bukan orang yang udah temuin aku. Dia samperin aku untuk kesekian kalinya.” Dia mencengkeram kuat kedua tangannya yang gemetaran di bawah meja. “Tapi, ada yang aneh … pas dia datang bareng Jehan, dia … selalu sinis, tapi ketika nggak ada Jehan, dia … aneh.”


“Gimana-gimana?”


Fanya malah menggeleng. “Haha, udahlah … lagian udah berlalu. Iya. Udah berlalu ….”


Mikel tidak bisa berkutik, sehingga suasana di antara mereka pun senyap, padahal di luar kelas begitu riuh. Suara keramaian tampak nyata terdengar di dalam ruang kelas yang berada di lantai dua ini.


Namun, Mikel tidak berkecil hati. Dia bisa melihat sorot gelisah dari mata perempuan di hadapannya. Mikel mengulurkan tangannya, memberikan tepukan seolah-olah memberikan semangat.


“Jangan sungkan untuk ceritain kalo emang pengen luapin semuanya. Nggak baik dipendem,” katanya. “Soal si Vano, dia dihukum om Aldo. Katanya habis lulus dia dipindahin ke Jakarta," ujar Mikel.


"Dia datang ke markas Medali dan gengnya dia bikin keributan, sampai dia baku hantam sama Bams. Muka mereka pada bonyok dan bikin om Aldo geram," ungkap Mikel dengan suara lemah.


“Apa? Dipindahin?”


...----------------...


“Aya!”


Seketika Fanya diselimuti teror pada wajahnya.

__ADS_1


Sesuai jadwal yang telah disepakati, mulai hari ini pelajar tingkat sembilan akan melaksanakan jadwal tambahan setelah bel pulang sekolah. Mereka akan mengisi kegiatan pemantapan dengan salah satu tujuan untuk mengenali jenis soal ujian, mendalami jenis soal dan penyelesaiannya.


Pada hari Rabu pertama, kelas 9-C bersama 9-A, dan 9-I, seluruh anggota kelasnya harus tertahan selama dua jam lebih lama di sekolah.


Hal ini membuat Fanya bisa lega lantaran dapat pulang dalam keadaan lapang, tidak seperti dua hari belakangan. Dia mulai takut ketika menjadi pusat perhatian hanya dengan keberadaannya. Mendengar bisikan yang menyebutkan namanya seperti mendapatkan dakwaan. Membuatnya menunduk dalam pikiran kalut.


Namun, kehadiran Hanalya sedikitnya mengurai rasa takut. Hanalya merangkul lengan Fanya sambil terus mengoceh.


“Neng, tau nggak sih? Gara-gara kamu membolos, kamu dapet peran yang—maaf, malah peran utamanya. Ini pentas drama untuk ujian praktik bahasa Indonesia. Digabung, sih, sama kelas lain … tapi yang jadi pasangan kelas itu ….”


Fanya diam saja. Masih menunggu Hanalya menyelesaikan ucapannya. Namun, sebuah suara memanggilnya. Mendatangkan kecurigaan dan kecanggungan.


“Fanya, tunggu!” katanya lagi. Kini berdiri mengadang langkah dua gadis sekawan di hadapannya. “Maaf. Maaf udah abaikan kamu, padahal seharusnya nggak. Aku masih sayang sama kamu, jadi ….”


Hanalya terperanjat, bahkan dia menutup mulut menggunakan kedua tangannya. Menatap Fanya dan Zico secara bergantian.


“Sebenernya kalian punya hubungan apa, sih? Sejak lama aku penasaran, tapi aku selalu menyangkalnya karena kalian nggak pernah kelihatan sedekat itu.”


Fanya mengacaukan wajahnya. “Iya, dimaafin. Jadi, Zico … kamu nggak perlu lakukan hal kayak gini lagi karena yang udah berlalu mendingan dibiarkan berlalu aja. Jangan bersikap kayak gini, bikin orang lain salah paham!”


“Kenapa harus salah paham?” Menyeru.


Fanya bukan tipikal orang yang senang mendebat, berdebat, apalagi memulai debat. Dia memang cerewet, tetapi dia tidak suka banyak bicara tentang perasaannya. Tidak pula ingin menjelaskannya. Fanya mudah bergaul terlepas dari sifat jutek dan tatapan tajamnya.


Fanya memiliki satu keyakinan: Jika seseorang memutuskan untuk pergi darinya, maka dia tidak akan berada di sekitarnya lagi. Maka Fanya, dia akan menyisihkan dirinya untuk tidak berurusan lagi dengan orang itu.


“Iya, Han. Aku sama dia pernah pacaran diam-diam. Zico … walaupun begitu, aku udah pernah bilang, kan?" ungkap Fanya.


"Jangan terlalu terang-terangan karena aku nggak suka jadi bahan gunjingan penggemar kamu!”


Fanya pergi.


Hanalya bergeming. Dia canggung.


Zico juga bergeming.


“Zi, mungkin kamu nggak tau karena waktu itu sedang karantina, tapi kamu juga harus tahu!” ujar Hanalya.


“Fanya digangguin pe-pe-ce-em. Diteror pake surat kaleng. Dan, yang paling parah adalah disergap di kantin, terus disiram pake air kotor. Dia diganggu habis-habisan dengan alasan yang nggak mendasar.” Hanalya pun pergi.


Namun, dia berhenti untuk mengatakan satu hal lain. “Jangan ganggu Fanya. Aku tau kamu khawatir setelah apa yang menimpa dia selama seminggu lalu, tapi dia lagi nggak baik-baik aja. Jangan bikin dia tertekan. Dah!”


Fanya mengajak Hanalya ke rumah. Semestinya mereka pergi ke kelas tambahan, tetapi keduanya sepakat membolos, walaupun taruhannya adalah uang jajan. Mereka berdua duduk pada kursi yang ada di balkon depan kamar Fanya.

__ADS_1


Hanalya masih diam. Menunggu jawaban atau penjelasan Fanya tentang perbincangannya di sekolah dengan si juara satu.


“Sejak lama. Sejak aku bermasalah sama Medali. Waktu kelas tujuh semester dua. Sejak Jehan dibekuk di sekolah, Zico mulai deketin aku," ungkap Fanya.


"Niatnya baik, dia mau temenan sama aku, tapi lama-kelamaan dia makin nunjukin perhatian yang lebih. Waktu itu di Dago, diawasi Kama, Zico ajak aku pacaran.


“Aku mau asalkan nggak diumbar. Dia setuju. Di kelas, kami emang nggak pernah saling tegur, karena ada kamu sama Mikel, tapi di tempat les dia selalu ambil tempat duduk dekatan sama aku. Dan, semuanya aman-aman aja selama satu tahun. Sampai dia kembali, dan aku merasa nggak enak sama Zico kalau ….”


    “Si berlagu itu, kan?” timpal Hanalya. “Siapa namanya? Mulai sekarang nggak akan panggil dia dengan sebutan itu lagi karena si Bule cerita kalau kalian deket. Sedeket itu. Kenapa nggak pernah cerita?”


Fanya mengulas senyum. “Jujur aku nggak mau berakhir kayak gini sama Zico, tapi aku juga pengen selesaikan masalah yang mana jauh sebelum Zico ada di lembaran ini."


"Sebelum ada Zico, tentunya ada dia yang selalu aku harapkan. Aku masih berharap kami baik-baik aja dan aku mewujudkannya. Setelah musuhan … ah, itu agak berlebihan.


“Pokoknya setelah Revano menghilang tiga tahun yang lalu, aku nggak baik-baik aja. Aku pengen mengimbangi dia. Rasanya kalau nggak berusaha ngimbangi dia, aku yang bakalan terpuruk, sedangkan dia setelah menghilang itu malah baik-baik aja. Jadi, aku berusaha mengimbangi dia yang baik-baik aja setelah apa yang udah dia perbuat.”


Hanalya belum berkutik. Dia masih tidak mengerti. “Terus alasan kamu putus dari Zizi apa? Kenapa kamu mesti putusin dia? Apa mungkin kamu sukanya sama Devano? Re–siapalah namanya itu … benar?”


“Nggak!” sanggahnya. “Bukan begitu. Maaf, Han … tapi aku nggak bisa ceritain sekarang. Dibandingkan alasan, aku punya tujuan kenapa aku putusin Zico."


"Sebelum dia pergi karantina, Zico itu punya tekad untuk membanggakan nama Margayu. Selalu kayak gitu, impian dia itu bikin nama Margayu tersemat dalam berbagai perlombaan akademik dan non-akademik bukan sekedar peserta, tapi juara.


“Dia hampir wujudkan semuanya, tapi OSN kemarin … aku nggak mau bikin nama Margayu tercoreng karena mereka bawa salah satu perwakilan dengan nilai kedisiplinan yang minus kayak aku.


“Orang yang paling potensial gantiin aku, ya, Wisnu. Dia juga ketua OSIS tahun lalu. Prestasi dia lebih memuaskan daripada aku. Dia lebih unggul dari aku. Jadi, itu alasan aku gagal dalam seleksi, ada unsur kesengajaan, sih. Aku terlalu nekat.”


Hanalya terenyuh. Padahal mereka masih remaja esempe yang dipandang masih berpikiran seperti anak-anak, sedangkan Fanya begitu penuh pertimbangan sekali.


“Setelah putus dari Zico … kamu mulai deket lagi sama si cowok itu?”


“Iya, lebih tepatnya ikutin alur yang sedang dia jalankan. Aku nggak tau niatan sebenernya dia kembali itu untuk apa, tapi setelah dia ungkapin semuanya … dia kembali karena sebuah tantangan dari temen-temennya.”


“Apa?”


“Tantangannya ini berkaitan dengan impian dia, jadi, dia kembali dan memohon sama aku. Ternyata dia pergi dan menghilang selama tiga tahun itu karena impiannya. Dia mau gapai impiannya yang ditentang, tapi dia segigih itu untuk terus menggapainya. Bahkan sampai merelakan impian itu sendiri ketika tantangan yang lebih besar terjadi.”


Fanya menghela napas. “Aku rasa keputusan aku putusin Zico tepat, deh,” ungkapnya tiba-tiba.


“Kok gitu? Bukannya masih sama-sama sayang?”


“Emang, tapi aku nggak pernah anggap dia seistimewa itu. Dia itu teman terbaik.”


Hanalya tersenyum haru. “Makasih udah kasih tau aku, Neng.”

__ADS_1


“Maaf karena nggak pernah cerita apa-apa tentang aku. Maaf harus dengar dari mulut orang lain. Maaf udah anggap kamu seperti orang asing, padahal kamu sendiri anggap aku lebih dari teman.”


Hanalya tersenyum lebar. “Bestie.” Mengacungkan kelingkingnya dan dibalas oleh Fanya.


__ADS_2