
Di sekolah, Revano mulai berbaur dengan teman-teman yang lain. Dia tidak terlalu menempel kepada Tara Aditya semenjak memutuskan undur diri dari geng dan band kecil itu.
Patut Revano akui jika membaur dengan teman yang lain seasyik ini. Dia tidak pernah membayangkannya, ternyata berteman dengan orang yang memiliki impian dan kegemaran berbeda lebih menyenangkan. Bisa mengetahui minat dan bakat orang lain selain bermusik.
Revano juga mulai tertarik menari ketika seorang teman sekelas mengajaknya satu kelompok dalam tugas seni budaya, tarian moderen. Meskipun begitu, Revano masih berharap bisa tampil dalam band.
Mereka mulai sibuk dengan agenda masing-masing. Tugas kelompok, individualisme, persiapan ujian praktik, ujian sekolah, dan ujian nasional sebagai puncaknya. Kemudian, acara kelulusan hingga pesta malam yang biasanya menjadi acara terakhir dari agenda mereka sebagai senior dalam pesta resmi.
Mengenai taruhan, Revano memutuskan untuk mengakhirinya setelah bersepakat dengan Tara, Surya, Kaisar, dan Hendra hari itu. Nasib sial ketika polisi datang, tetapi Revano bersyukur karena adanya polisi bisa langsung mengusut kasus Fanya.
Walaupun dia harus merelakan impiannya, tidak masalah. Lagipula, memang sudah menjadi tekadnya untuk berhenti di sini. Mungkin suatu hari atau kapan pun akan dia kejar kembali.
Bams. Dia masih berkumpul dengan anggota TXT lainnya, begitu kesaksian Tara Aditya ketika Revano bertanya. Semenjak Bams mengetahui Revano keluar, katanya dia banyak berubah. Bams menjadi lebih pendiam dari biasanya.
Mulai mereka akui—Surya, Hendra, Kaisar, dan Tara Aditya—jika Bams menjadi lebih aneh.
Dia selalu murung jika duduk bersama mereka, tetapi ketika hanya ada dia sendiri, Bams selalu tersenyum misterius. Bukan hanya ketika dia sendirian saja, Hendra pernah mendapati Bams sedang berbicara kepada angin. Tidak ada siapa-siapa, selain Bams dan Hendra kala itu.
Namun, apa peduli Revano?
Tidak ada, walau sebenarnya dia sedikit memendam kekesalan kepada Bams. Mengenai jawaban rancu yang Bams lontarkan di depan penyidik malam itu, yang mana sempat disangkal juga oleh pemuda bernama Jehan, sehingga dia menyimpulkan jika Bams mungkin orang yang mendatangkan bahaya jika semuanya tidak segera diakhiri.
Setelah mengalami kejadian ini, Revano baru ingat ucapan Tara Aditya mengenai Bams yang bukan orang biasa, dia cukup berbahaya dan selalu memiliki pikiran yang tidak masuk akal.
Revano membaca ulang seberkas pesan yang sudah lama berlalu pada tampilan layar ponsel canggih miliknya. Terkadang wajahnya berseri-seri dengan hati yang berbunga-bunga. Terkadang wajahnya menggelap, meski sudut bibirnya tertarik mengulas senyum tipis.
Di dalam pikirannya dia sibuk memahami isi percakapan dengan jumlah pesan dominan miliknya, sedangkan dari si lawan bicara begitu minim.
Terkadang singkat, padat, dan nyelekit. Meskipun begitu, tetap membuat wajahnya berseri-seri.
Kemudian, Revano melihat waktu terakhir kali mereka saling bertukar pesan. Satu hari yang lalu. Setelah pertemuan mereka di balkon kamar masing-masing yang menjadi pertemuan terakhir, mereka hanya bertukar pesan karena si lawan bicara enggan bertemu.
Revano mengetik: bosen ngetik terus, pengennya ngomong langsung.
Aya : Y
Aya : Bisa voice note, bisa telepon suara. Ada banyak cara di zaman sekarang.
Perutnya tergelitik. Kemudian membalas lagi: Kalo bisa ketemu langsung kenapa nggak?
Aya : Dih, emang lo siapa? Udah, ya. Jangan ganggu Aya lagi, udah selesai urusannya, kan?
Lagi-lagi kembali jual mahal. Fanya dan sifat juteknya ini membuat Revano tersudutkan. Belum sempat Revano selesai mengetik balasan, Fanya mengirim pesan terlebih dahulu, sepertinya lanjutan dari pesan sebelumnya.
Aya : Jangan pantang nyerah sama impian. Nggak sukses sekarang bukan berarti gagal selamanya.
__ADS_1
Revano segera menghubungkan sambungan telepon suara. Dia pikir akan ditolak, tetapi ternyata malah sebaliknya.
“Aya, tentang kejadian kemarin … maaf. Vano janji nggak akan biarkan siapa aja ganggu kamu lagi, masih janji yang sama kayak waktu kita masih kecil. Maaf karena pergi tanpa bilang tiga tahun lalu, dan maaf udah bikin kamu kehilangan apa yang seharusnya kamu nikmati pada masa itu … maaf udah ambil langkah ceroboh itu. Maaf.”
“Apa? Emangnya apa yang udah hilang dari aku?”
“Aya nggak inget?”
“Nggak ngerti apa yang barusan kamu bicarain, Van.”
“Renan.”
“Renan? Siapa dia?”
“Maaf.”
“Heh, sebenernya Vano kenapa sih? Tiba-tiba telepon dan bicara ngawur.”
“Papan skater. Aya masih inget papan skater?”
“Ada apa sama papan skater?”
“Dulu kamu suka banget main itu. Jago banget. Sayangnya, gara-gara kecerobohan Vano, kamu terluka. Kamu selalu kesakitan karena kecerobohan Vano. Kamu selalu histeris dan kesakitan parah sambil peluk lutut kamu yang luka," ungkap Revano.
“Lagi ngarang cerita, ya? Sedih banget ceritanya.”
“Aya ….”
“Vano, Aya nggak tau apa tujuan kamu bercerita kayak gitu, tapi lutut Aya baik-baik aja. Barusan Aya tanya Kama, dia bilang kamu ngarang. Aya mana sempet main papan skater punya Kama. Aya lebih suka main di taman belakang rumah sambil baca buku dan nyalain radio.”
“Maaf,” kata Revano dengan lemah, “maaf udah bikin kamu kesakitan sampai hilang ingatan.”
“Udah, ya. Kama udah melotot, nih. Dia ngambek gara-gara Aya nggak fokus pelajari penjelasan dari dia. Aya lagi belajar bareng Kama—”
TUT!
Fanya menatap nyalang ke arah kakaknya. “Kama kenapa, sih?”
Wajahnya jelas menegang dengan sorot mata tajam. “Jangan lagi. Jangan dulu deket sama Revano. Kamu ini harus fokus sekolah supaya bisa lolos masuk ke sekolah impian.”
“Ya, tapi nggak sekasar itu dong rampas henpon Aya, Kama!”
“Bicara yang sopan sama kakak kamu. Kama lebih tua dari kamu, ya.”
“Beda enam tahun doang.”
__ADS_1
“Ya, tetep aja tuaan Kama. Aya mesti sopan!”
“Iya, iya. Siniin dulu henpon Aya!”
“Oho, tidak semudah itu! Henpon ini Kama sita selama dua bulan. Sampai semua agenda sekolah kamu selesai. Jangan harap bisa pegang henpon.”
“Kakang, ih!”
“Udah! Kerjakan lagi itu soal dari Kama.”
Saat ini yang dia rasakan hanya gundah gulana. Bahkan setelah menyita benda komunikasi milik adiknya, Kamaliel masih saja gelisah.
“Nggak. Jangan sampai Aya inget. Dia nggak perlu inget kejadian itu,” racaunya.
Dia duduk sambil menghadap meja belajar miliknya. Menatap sebuah buku hitam dengan tatapan penuh pertimbangan.
[Bos, kapan balik ke sini sih? Gawat darurat nih [tertekan]
Bos, Fasya udah balik ke sini, apa nggak mau nyapa? Kalo dia pergi lagi, awas aja kalo ngamuk ke saya.
Tindakah saya tepat, kan? Aya juga baik-baik aja, tapi emang dasar adeknya si Fasya itu—
Bos, cepet balik, ya. Tapi saya nggak kangen sih. Cepet balik pokoknya!]
Kamaliel memutar kursinya, menatap lembaran foto yang terpajang rapi pada seutas tali pada dinding kamarnya. Lembaran foto yang kebanyakan memotret seorang anak perempuan dengan kegiatannya.
Foto adik perempuannya yang ceria sewaktu kecil memenuhi matanya. Pikirannya berkelana pada kenangan yang menyakitkan, tetapi dia bersyukur karena adik perempuannya tidak perlu mengingat kenangan itu.
“Kayaknya udah waktunya membalikkan keadaan,” ujar Kamaliel.
“Gimana, Nik?” Kamaliel tersenyum penuh ketika mendapati seseorang berdiri tepat di bawah pajangan foto masa kecil Fanya.
Satu fakta mengenai Kamaliel, dia bisa melihat dunia yang tidak kasat mata. Kamaliel bukan indigo, tetapi dia bisa melihatnya. Penglihatan transparan ini dia dapatkan ketika masih remaja.
Tepatnya ketika dia sedang liburan di kampung kakek dan neneknya, di Padalarang, bersama Fanya yang masih kecil.
Entahlah, tiba-tiba dia dinyatakan kerasukan dan sejak hari itu Kamaliel bisa melihatnya. Dan, salah satu makhluk yang selalu dia ajak berkomunikasi adalah seorang perempuan, Kamaliel memanggilnya dengan sebutan ‘Bos’.
“Kau pikir dirimu telah berhasil memanggilku kemari, hah?” Ketus sekali bicaranya. “Tentu tidak!”
“Ya, tapi kamu datang juga, kan?”
Dia menghela napas kasar. “Aku datang karena aku ingin menakutimu. Kau tidak takut aku masih sama seperti pertama kali kau bertemu denganku?”
“Nggak. Sama sekali nggak.”
__ADS_1