Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
15. Kita Hadapi Sama-Sama


__ADS_3

“Ketika suatu hal yang kita dapatkan bukanlah hal yang nggak begitu berarti bagi kita, percayalah bahwa hal tersebut bisa menjadi hal yang begitu spesial bagi orang lain. Belajar bersyukurlah, bukan malah mengeluh.”


...***...


Siang ini Revano akan pergi dari kediaman sang bunda untuk menghadiri perkumpulan geng TXT. Di grup sih informasinya memerintahkan seluruh anggota untuk hadir dalam latihan sebelum tampil manggung malam nanti. Revano sudah bersiap-siap pergi meninggalkan area rumah tingkat ini, tetapi ketika atensinya menangkap kedatangan seorang perempuan dengan wajah datar dan tatapan sinis tengah berdiri di gerbang yang terkunci, dia urungkan niatnya untuk naiki motor pemberian tantenya.


Revano tersenyum malu-malu. “Loh, tumben ke sini, Ay? Cari Vano, ya?”


“Nggak,” balasnya dengan nada datar.


Meski kecewa, dia membukakan kunci gerbang agar bisa dilewati perempuan itu. “Kirain. Biasanya juga kayak gitu, kan?”


Fanya terusik. Dia segera berjalan masuk tanpa mau berbicara lebih dengan cowok yang udah bersiap-siap untuk pergi. Namun, karena ucapan cowok itu mengusik nuraninya, dia berhenti pada jarak aman. “Biasanya? Lo siapa, ya? Emang kita kenal, ya?” sinisnya.


Revano nggak terima dong. “Kok lo ngomong kay—”


Fanya yang udah nggak nyaman, sontak dia menyela protesan dari cowok itu. “Permisi, ya, gue cari pemilik rumah bukan tamu dari pemilik rumah.” Setelah mengatakannya, Fanya berbalik dan melenggang pergi menuju pintu depan rumah bertingkat milik Bunda Frisly.


Nyebelin! Revano menatap punggung Fanya makin berjarak darinya itu dengan tatapan yang terluka. Kasihan sekali, diketusin sama orang yang dulunya pernah menjadi partner in crime semasa bocil. Eh, sekarang malah berjauh-jauhan dan ketus-ketusan, benci-bencian gitu.


Begitu tiba di kafe, Revano langsung disambut dengan sorakan dari anggota tertua dari geng TXT. Ada Bams, Hendra, Surya, minus Kaisar, sih. Harusnya ada cowok itu, tapi dia lagi pergi bersama keluarganya, sedangkan Tara atau si Adit cuman melirik tanpa ada maksud ke arah Revano.


“Gua mau bicarain hal penting sama kalian,” ungkap Revano. Apa gua ngaku kalah aja, ya, dari taruhan edan ini? Nggak jelas banget kenapa harus Aya? Maksudnya kenapa mesti itu tantangannya dari sekian banyaknya tantangan, kenapa harus deketin cewek sih?


Tara merubah posisi duduknya. Sementara itu, yang lainnya mulai mengubah ekspresi karena sadar jika Revano nggak menanggapi sorakan dan sambutan dari mereka. Bams yang menangkap gelagat aneh Revano itu seketika tersenyum miring, dia menatap ke arah Tara dan Revano secara bergantian.


“Soal taruhan?” terka Bams.


Sial, kenapa dia bisa langsung tahu? “Eung … anu … itu.” Gugup. Kalo gua mundur, nanti Aya kenapa-kenapa di tangan Bang Bams lagi. Haduh, Bunda! Kumaha atuh ieu teh?

__ADS_1


“Bilang aja, Van. Kalo keberatan, lo bisa over ke si Adit. Kalo dia juga nggak sanggup, biar gua duluan ajalah, gimana?”


Mana bisa gitu! Tanpa Revano dan Tara sadari, keduanya mengatakan kalimat yang persis sama sambil menatap protes ke arah Bams.


Bisa bahaya kalo dia yang deketin Aya.


Revano segera mengambil tempat duduk yang menghadap ke arah Bams dan dua anggota tertua lainnya. “Gua bingung harus pake cara apa biar dia nggak menghindar terus dari gua, Bang.”


Surya merasa iba kepada Revano. “Lu pernah pake gombalan yang ada di Google waktu disuruh ngerdus sama panitia OSIS yang ngospek elu pas MPLS, kenapa nggak cobain cara itu aja?”


Hendra bersorak untuk Surya. “Ide lu bagus juga, Ya!”


Bukan tanpa alasan mengapa geng TXT menyarankan ulang kejadian yang pernah dilalui Revano saat ini. Ketika masih kelas tujuh, laki-laki itu mulai dikenal sebagai cowok gombal gara-gara menggombal kepada panitia yang merupakan anggota OSIS. Sebenarnya, itu tantangan dari kakak pembimbing, tetapi semua orang mengiranya Revano yang ngebet suka sama si kakak OSIS itu.


Dia memiliki alasan tersendiri untuk melanjutkan dan atau menghentikan taruhan edan itu, tetapi ketika dia sedang sendirian malah berpikiran untuk mengakhirinya saja sebab akan beresiko fatal. Revano tidak maulah kalau sampai terjadi sesuatu hal yang buruk, manalagi dia nggak tahu apa rencana sesungguhnya yang sudah Bams miliki.


Alasan pertama untuk tetap melanjutkannya adalah untuk melindungi target taruhan dari kemungkinan buruk yang akan terjadi, sedangkan alasan lainnya untuk menghentikan hal itu juga sama saja. Sama-sama melindungi, tetapi dengan jalan berbeda. Jika tetap melanjutkannya itu berarti dia akan menang telak, sedangkan kalau menghentikannya dia akan rugi bandar.


Sedangkan itu, pada sisi lain ada dua perempuan yang sudah berjalan menyusuri trek pejalan kaki sambil bercerita apa saja yang mereka lihat di sekitar Braga ketika hari kerja dan sekolah. Mereka sedang tidak membolos, hanya sedang menikmati masa liburannya karena ada rapat besar-besaran dari guru-guru mereka.


Hanalya merangkul lengan Fanya di sisi kirinya. “Neng, asal kamu tau, ya,” katanya, “mendingan kamu jadian gih sama Zico. Daripada diisengin terus, diteror terus, inget apa kata aku sama si Bule kemarin-kemarin itu.” Sedikit menyinggung perihal kekhawatiran dirinya terkait teror iseng dari nomor tidak dikenal yang diterima sahabatnya. Hanalya juga sudah membicarakan hal itu dengan Fanya ketika dirinya dan si Bule bertamu ke rumah Fanya beberapa hari lalu.


“Hm, nggak usahlah,” tolak Fanya tidak ragu.


“Asal kamu tau, ya! Si iseng keempat belas itu udah ada pacar. Mending kamu bulan ditambah pintu dalam bahasa Inggris deh, Neng.” Entah kelamaan bergaul dengan si Bule atau memang begitu naif, Hanalya sampai mengatakan hal yang sulit dimengerti otak encer Fanya.


Fanya mengerutkan kedua alisnya. Mengulang ucapan Hanalya. “Bulan ditambah pintu dalam bahasa Inggris?”


Hanalya mengangguk. “Bulan itu moon ditambah pintu yang mana kalau dalam bahasa Inggris itu door. Moon to the door, mundur, Neng.”

__ADS_1


Gadis yang dikenal jutek itu tergelak. “Nggak lucu! Eh, ini kita mau ke mana, sih?”


“Kafe. Di sana ada tiramisu sama milkshake kesukaan aku. Di kafe itu rasanya lebih enak dibandingkan kafe yang ada di Ciwalk,” jawab Hanalya, “di sana juga ada iringan musik live, lumayan sambil cuci mata juga liatin cogan.”


Tanpa sadar Hanalya telah memuji seseorang yang menyebalkan, di dalam hatinya dia merutuki mulutnya yang malah melontarkan pujian yang salah. Haduh, semoga tuh cowok rese nggak ikut manggung band itu deh. Kalau bisa, semoga bukan band dia aja.


Sore ini mereka dapat melancarkan rencana girls date berkat hari libur dadakan yang dicetuskan pihak sekolah. Sebenarnya, baik Hanalya maupun Fanya sudah bepergian sejak pagi, tetapi mereka baru menyempatkan diri berkeliling ke Braga.


Di depan sana, dari radius lima belas meter, terdapat dua insan yang saling berhadap-hapadan dengan tatapan yang sama lurus satu sama lain. Seorang cowok yang tengah duduk di kursi itu menaikkan telunjuknya dan memasang raut marah kepada seorang cewek yang berdiri di hadapan cowok itu. Kelihatannya mereka sedang bertengkar.


Fanya yang mengenali perawakan cowok itu seketika mengernyit sekaligus kesal melihatnya. Apalagi Hanalya, dia terperangah melihat cewek yang sedang berhadapan dengan cowok ngeselin itu.


Dia sama siapa?


Eh, kok bukan Kyla, sih? Ceweknya beda lagi, cuy!


“Ka, gimana dong? Aku takut kalau sampai Mama tau hal ini,” kata cewek itu sambil mengusap air matanya.


“Gimana pun juga ini udah kejadian. Ya, udahlah mau gimana lagi, nanti Kaka bantu kamu buat jelasin ke Mama soal ini. Bukan salah kamu aja kok, Kaka juga salah.


“Maaf udah bikin kamu ada di posisi sulit gegara khilaf. Kaka ikut tanggung jawab, ya, Chey. Percaya sama Kaka, kita bakalan hadapi ini sama-sama. Kaka sayang sama Chey. Semangat!”



Nanas-imnida: Wah, nggak beres ini!


Revano: Haduh, nambah masalah aja!


Fanya: Dia sama siapa sih?

__ADS_1


Hanalya: Harus tanyain Kyla ini mah!


__ADS_2