
Di antara orang-orang yang lewat terdapat wajah dengan kepala tertunduk. Dia terlihat menyedihkan, seolah-olah tidak memiliki kekuatan. Tidak ada tempat untuk beristirahat.
Di Jalan Braga yang terang pun redam, dia melangkah dengan berberat hati. Air mata yang selama perjalanan dia tahan itu mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia menatap kaca besar sebuah bangunan yang dia ketahui sebagai tempat keberadaan si kesayangan.
Namun, belum ada satu langkah yang dia ambil untuk maju dan masuk, keberadaan seorang laki-laki jangkung dengan wajah tenangnya itu muncul di balik pintu masuk. Per sekon mereka saling pandang, tetapi dengan cepat mata laki-laki itu berpaling dan melanjutkan langkah, sehingga dia leluasa untuk masuk ke dalam bangunan kafe ini.
Tiba-tiba saja dia berbicara, laki-laki yang baru saja memalingkan perhatiannya sekejap mata.
“Lo pasti cari si Vano, kan?”
Tidak ada pilihan selain berlalu pergi tanpa membalas atau mendapatkan masalah lebih lanjut karena telah mengabaikan rekan se-band dari si kesayangan. Orang yang dia cari ke tempat ramai ini pada malam yang menyakitkan baginya. Dan, saat ini hari menunjukkan pukul delapan malam di mana seharusnya dia berada di dalam kamar yang nyaman dan bergegas tidur.
Namun, sesuatu yang buruk kembali terjadi di rumah dan dia hanya memiliki satu tujuan; Revano, sepupu yang amat dia sayangi.
“Dia nggak manggung hari ini kalau lo datang ke sini untuk cari dia. Nggak tau pergi ke mana tuh anak sampe nggak ada kabar sama sekali,” tambahnya.
Laki-laki ini berdiri memunggungi perempuan yang mulai menangis itu, dia menatap langit gelap yang tidak terlihat gelap karena pencahayaan dari lampu jalan dan gedung membuatnya memiliki kegelapan yang semu.
“Mending lo pulang! Nggak baik lama-lama di luar bagi cewek semanis lo,” peringatnya, “nanti ada semut-semut nakal yang kerubungi lo buat dijadiin santapan mereka.”
Tubuhnya berbalik dengan seringaian penuh arti. Terbesit sebuah ide yang cemerlang yang membuatnya sontak menarik lengan gadis dengan mata berlinang air mata itu di hadapannya saat ini.
Gadis itu langsung memalingkan wajahnya ketika merasa ketahuan berbuat buruk di muka umum dan di hadapan orang asing, sedangkan dia tersentak ketika melihat lelehan yang berasal dari mata sipit gadis itu, dia terdiam per sekon sebelum akhirnya melepaskan cekalan tangannya dari lengan gadis yang dia ketahui sebagai sepupu dari rekan band-nya.
“Lo tinggal di Arcamanik, kan?” tanyanya. “Gua anter lo pulang karena Revano nggak ada di sini. Si Adit juga lagi pergi. Lo temen sekolahnya si Adit juga, kan? Lo bisa percayai gua … anggap aja gua abangnya si Adit. Gua temen baik Revano juga. Gua, Surya.”
Cheryl berbalik, sehingga membelakangi Surya untuk menghapus mata dan pipinya yang basah. Dia mengatur napasnya sebelum kembali berbalik untuk berhadapan dengan kondisi yang lebih baik di hadapan rekan band sepupunya. “Cheryl. Seperti yang akang tau, saya sepupunya Revano,” sapanya merespons sapaan dari Surya.
Surya menyunggingkan senyum ramah yang membuat lesung pipinya tampak nyata saat ini, kemudian dia mengangkat tangan dengan ibu jadi yang terangkat membuat gestur penunjuk ke dalam kafe. “Gua ambil kunci motor dul—”
“Nggak perlu, Kang!” tolak Cheryl juga menyela ucapan Surya.
Cheryl belum selesai dengan ucapannya, begitu juga dengan Surya. Cheryl berusaha mengatur napasnya yang masih tercekat akibat kejadian beberapa waktu lalu.
Cheryl tersenyum paksa dengan matanya yang memerah. “Saya diantar sopir, dia parkir di belakang. Jadi, akang nggak usah repot-repot anterin saya.”
Pemandangan dua insan berbeda kelamin di luar menarik perhatiannya, dia menyunggingkan senyuman miring dengan mata hitam legamnya yang kelam. Gegas, dia berjalan keluar dari dalam kafe, sehingga kedatangannya membuat Surya menoleh ke arah pintu, ke arahnya.
__ADS_1
“Ya, udah mau mulai, nih! Yang lain pada ke mana sih?”
“Kagak tau anjir, aing cari keluar malah pada nggak ada. Motornya juga pada nggak ada tuh,” tunjuknya ke arah parkiran yang ada di seberang jalan.
Dia menatap ke arah gadis yang tengah berdiri kaku di hadapan Surya. “Siapa?”
Surya menoleh ke arah pandang temannya. “Dia sepupunya si Vano. Padahal tuh anak nggak ada ke sini,” ujarnya.
Dia tersenyum manis, senyuman ramah lebih tepatnya. “Hai, Geulis!” sapanya.
Cheryl tersenyum kaku setelah matanya bersibobrok dengan teman sepupunya yang lain, kemudian menatap Surya.
“Saya permisi. Makasih udah dikasih tau kalau Vano nggak di sini. Saya permisi,” ucap Cheryl pamitan dengan sungkan, sambil membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum pergi.
“Tolong bilang ke sepupunya, kalau masih mau menang jangan banyak bolos gitu. Percuma kalau nantinya dikasih kepercayaan pegang posisi penting di band, tapi kebiasaan buruk karena sibuk deketin cewek bikin dia nggak konsisten,” ujarnya, “jangan lupa bilangin ke sepupunya kalau dia udah pulang ke Arcamanik, ya, Geulis!”
Matanya mengerjap berulang kali. “Menang?” gumam Cheryl di dalam hati.
...----------------...
Membuat rumor picisan muncul dan dimuat di mading sekolah dan bahkan terbit secara daring dalam grup pesan tertentu. Tentu saja tokoh utamanya adalah si jutek berotak encer bernama Fanya Fransiska.
Hari ini, hari ketiga, Rabu yang berbahagia dengan jadwal mata pelajaran dalam ujian yang menyiksa otak sampai batin. Matematika. Biasanya pelajaran satu ini ditempatkan pada hari pertama atau kedua namun lain kali ini. Guru matematika sepertinya sengaja menempatkan matematika pada hari Rabu yang disambut ceria oleh semesta. Menyebalkan.
Kemudian selanjutnya adalah pelajaran tambahan wajib: bahasa Inggris yang lebih menyebalkan bagi sebagian besar murid. Kebanyakan dari warga Margayu membenci bahasa asing satu ini karena mereka malas mengingat-ingat arti kata suatu kata.
Terlebih lagi, mereka semakin dibuat bingung dengan soal esai yang lebih mematikan daripada matematika.
Mereka harus menjawabnya dengan apa?
Sedangkan di tempat lain, Revano tengah berkutat dengan kertas yang baru saja dia terima—entah dari mana datangnya—pada menit-menit terakhir pelaksanaan pengisian lembar jawaban mata pelajaran basa Sunda yang ditetapkan pada jadwal hari ini.
Dia menatap kertas yang lecek ini dengan dahi berkerut. Tulisannya sangat asing dan tanpa nama, sehingga dia kebingungan menerka dari mana datangnya kertas tersebut.
Guru pengawas juga tengah teralihkan ketika kejadian kertas terbang ke arahnya terjadi. Revano menatap was-was ke arah guru pengawas ruangan bernomor seri tujuh belas ini.
“Untung aja isi kertasnya bukan apa-apa, bukan bahan contekan atau lainnya. Ternyata cuman tulisan iseng,” katanya di dalam hati.
__ADS_1
Pada kertas tersebut tertulis: Habis ini pelajaran apa?
Dan, Revano tidak berniat untuk membalasnya karena dia tidak tahu harus melemparkannya kepada siapa. Sempat dia berpikir jika kertas ini hanya menyasar ke mejanya yang berada di urutan ketiga dari belakang, sementara pelajar yang ada di ruangan ini sengaja dicampur dengan kelas kelas delapan, apalagi Revano juga tidak dekat dan teman sekelasnya yang satu ruangan dengan dia kali ini.
Teman sekaligus orang yang selalu bersamanya di sekolah selama ini hanya Tara Aditya yang kini tidak seruangan dengannya, dan satu lagi adalah sepupunya sendiri, Cheryl. Sedangkan Cheryl, sepupunya juga tidak satu kelas dengannya, ataupun satu ruangan dengannya.
Selesai dengan soal-soal yang dipenuhi dengan ragam paragraf serta kalimat murni yang menggunakan bahasa daerah asli tanah Pasundan, basa Sunda. Akhirnya, dia bisa bebas dan menghirup udara segar pagi hari ini yang cerah secerah senyuman seseorang beberapa jam yang lalu ketika dia menghampirinya ke rumah. Membuat hari-harinya terpantau tenang, aman, dan nyaman untuk hari-hari ke depan. Akan dia pastikan jika hal ini terus berlangsung hingga akhir.
Seseorang memukul bahu tingginya yang semakin lebar selama masa pertumbuhan ini, sontak aksi seseorang tersebut membuat tuan pemilik pundak menoleh kesal ke arah yang bersangkutan.
Dengan tanpa merasa bersalah dia tersenyum dan menyapa, “Sampurasun, Kang. Kumaha damang?”
(Halo, Kang. Apa kabar?)
Revano menggelapkan wajahnya. “Kang, kong, kang, kong!” kata Revano geram.
“Panggil Kaka, Chey! Nggak ada, ya, panggil Kaka pake kang, apalagi aa! Ih, udah paling bener tuh panggil nama aja, lagian kita seumuran ini, Chey!”
Gadis yang menjadi pelaku pukulan bahu terhadap Revano adalah Cheryl. Dia tersenyum jenaka dengan kekehan yang lolos dari mulutnya. Sambil memeluk papan dari bahan plastik sintetik dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mulai beraksi merangkul mesra lengan kiri kakak sepupunya.
“Ih, kan, dinten ayeuna teh dintenna basa Sunda. Wajib angge basa tanah salira, akang Vano,” ujarnya dalam bahasa tanah Pasundan.
(Hari ini adalah harinya basa Sunda. Wajib berbahasa tanah kelahiran sendiri (Sunda) ....)
Meskipun masih terbilang bahasa yang dia pakai adalah bahasa sehari-hari dan bukannya bahasa yang dianjurkan seperti basa lemes kepada orang lain. Cheryl hanya menggunakan bahasa sehari-hari yang ditujukan untuk diri sendiri.
“Gagayaan!” ledek Revano mencebik. “Ieu, dih! Nanaonan make ngekeupan panangan Kaka, heh?” Memerotes aksi sepupunya yang dibilang agresif, padahal biasanya Cheryl ogah memperlihatkan kedekatan keduanya di sekolah atau di muka umum.
(Sok-sokan!) (Apa, nih! Apa-apaan meluk lengan Kaka, heh?)
“Keun atuh!” tekannya. Lantas bibirnya menyunggingkan senyuman lebar sambil menatap lurus pada lorong depan kelas yang tengah mereka lewati.
(Biarin dong!)
“Denger-denger kamu deketin cewek karena taruhan, Ka. Bener apa bener?” ungkap Cheryl tidak tahan lagi.
Setelah sepekan mendiamkan rasa penasarannya di dalam kepala yang penuh dengan adegan mengerikan yang terjadi pada malam yang sama sepekan lalu.
__ADS_1