
...R14+...
...----------------...
Memburu.
Napasnya memburu ketika berhasil membalas pukulan Bams yang sebelumnya juga membuat dia tersungkur, kini Bams yang tersungkur.
Revano hendak memberikan pukulan bertubi-tubi pada wajah lebam milik Bams yang mana terdapat luka basah juga, tetapi suara sirine dan tembakan ke udara membuatnya terhenti.
“Van, sembunyi ke sana!” Bams menunjuk sebuah tempat. Dia berusaha bangkit sendiri, lalu berjalan tergopoh-gopoh menuju teras rumah itu.
Revano ikut, tidak disangka Zico mengekorinya, diikuti Mikel dan Tara juga. Jantungnya memburu ketika mendengar teriakan dari seorang pria tua dan keributan dari anak-anak di sana barangkali. Revano masuk ke dalam ruangan gelap itu bersama napas memburu.
Zico ikut panik, tetapi dia terheran akan satu hal. “Ngapain juga kita sembunyi di sini?”
Mikel yang tidak tahan segera bertanya untuk meminta penjelasan juga. “Sebenernya ada apa sih sampe kalian berdua bonyok begini?”
Zico mendesis keras. “Harusnya kita lihat ada apa di depan dan bukannya ngumpet ke sini!”
“Bams culik Aya. Dia yang kirim pesan ajakan ke Gasibu sampe pada akhirnya, Aya ngilang berhari-hari!” Dengan napas memburu, Revano bersungut-sungut.
“Gara-gara dia!” Sambil menunjuk dengan ekor matanya ke arah Bams yang terlihat gelisah.
“Sumpah, bukan gua!” tekan Bams. “Gua berusaha cari, dia ada di sini—”
Terlambat. Belum juga Bams menjelaskan lebih banyak, keberadaan mereka sudah diketahui petugas berseragam dengan senjata, sehingga mereka membeku di tempat dengan kedua tangan terangkat ke atas.
BRAK!
Bunyi gebrakan pintu yang dibuka sebegitu nyaringnya menyentak manusia-manusia yang ada di dalamnya. Mengintimidasi yang ada di depan mata serta memberi harapan kepada yang terlunta-lunta di dalam sana.
“Pak, di dalam … orang hilang itu … saya menemukan dia ada di dalam,” kata Bams bersungguh-sungguh. Dia jujur pada detik-detik terakhir sebelum diseret keluar.
Polisi sudah menangkap sekumpulan laki-laki yang mengaku seorang pelajar. Semuanya. Termasuk Surya, Hendra, Kaisar, dan puluhan anggota Medali—mereka memutuskan untuk berdamai—dan bahkan Jayden serta Jehan juga turut diamankan.
“Sudah, tidak perlu banyak alasan di sini. Berikan kesaksian dan alasan kalian di kantor nanti!” ungkap Sipir, dengan penuh penekanan.
Setelah mendapatkan laporan mengenai tindak kekerasan dan aksi penyekapan yang berada di daerah terpencil, terdapat bangunan yang mana sudah terbengkalai, pihak kepolisian segera menindaklanjutinya.
Pria mapan yang dimaksud adalah Aldo Pratama. Dia mendapatkan informasi dari keponakannya yang melaporkan keberadaan Revano tengah dalam bahaya. Dia segera menyangkut pautkan hal ini dengan kasus orang hilang yang masih dalam pencarian.
Untungnya, pihak dari kantor polisi cepat bergerak dan mengikuti petunjuk keberadaan Revano dan terduga kasus penculikan.
Aldo menangkap kesimpulan jika Revano telah main hakim sendiri. Buktinya, wajah mulus anak laki-lakinya babak belur. Melihat lawannya adalah laki-laki asing yang polos, Aldo ragu jika terduga penculikan adalah lawan Revano. Aldo ingin bertanya.
__ADS_1
Namun, pihak kepolisian sudah ikut andil, sehingga semua alasan dan kebenaran akan diketahui di kantor polisi secepatnya, sementara korban penculikan sudah diamankan petugas yang lebih berwenang.
Di kantor polisi, sejumlah anak diminta untuk memanggil orang tua mereka, tetapi mereka tidak mau dan membuat petugas bersungut-sungut. Menyalahkan anak-anak baru gede di hadapannya.
Sementara itu, Revano diinterogasi ayahnya sendiri, tidak hanya Revano, melainkan Tara, dan Mikel juga ikut diinterogasi Aldo.
“Kalian ini mau jadi apa kalau main hakim sendiri, sementara sudah ada petugas berwenang untuk usut kasus ini?” Menatap putranya yang babak belur. “Bahkan pelaku sebenarnya bukan orang yang Kaka serang, memalukan!”
Aldo menatap dua teman Revano yang sudah dia kenal sejak lama. “Kekel dan Adit, kalian juga sama. Kalian ada di sana, tapi kenapa nggak coba hentikan Revano?" tanya Aldo.
"Apa kalian ada di sana karena dihasut dia? Coba bilang sama Om,” pintanya.
“Apa Ayah nggak tau? Ini semua gara-gara Bams! Makanya Kaka serang dia karena dia yang memulainya!”
“Diam!” bentak Aldo. “Ayah sedang bicara kepada Kekel dan Adit. Bicara sama kamu bikin Ayah kesal, Ka.”
Kantor polisi cabang Arcamanik penuh dengan sekumpulan anak-anak baru gede yang terlibat kekerasan dan terduga penculikan seorang perempuan lima hari yang lalu.
Petugas menginterogasi satu per satu anak yang berhasil mereka tangkap dan bertanya mengenai keterlibatan yang membuat mereka ada di tempat tersebut.
Bertanya : sedang apa di sana. Ada keperluan apa. Siapa yang mengajak. Kekerasan apa yang mereka lakukan?
Semua pertanyaan berkaitan berdasarkan laporan, yang pihak kepolisian terima itu dilontarkan kepada satu per satu anak. Rata-rata jawabannya sama.
Jawaban dari tiga laki-laki pelajar SMA lebih dari itu, mereka mendapatkan informasi akan tindak kekerasan yang diduga membuat teman mereka berada dalam bahaya, sehingga mereka datang dan langsung menyerang, walau tindakan tersebut tidak patut, tetapi kesetiakawanan mereka cukup mengesankan.
Sekitar dua jam, bahkan kurang dari itu, sesi interogasi selesai. Mereka menyimpulkan jika anak-anak ini hanya terlibat kekerasan remaja yang tidak merugikan siapa pun, sementara terduga kasus penculikan remaja perempuan belum ditetapkan siapa pelaku sesungguhnya, karena satu orang yang enggan menjawab pertanyaan dari penyidik.
Dialah Jehan. Ada pula Jayden dan Zico yang masih mencerna kejadian ini, mengajukan diri sebagai saksi karena dia tidak terlibat apa pun, tetapi tetap dibawa kemari, sedangkan Zico menjadi saksi dari aksi kekerasan Revano dengan Bams yang dapat menjadi terduga dari kasus penyerangan dan penculikan.
Revano dan beberapa anak yang dinyatakan tidak berkaitan dengan kasus penculikan dibebaskan atas kewalian Aldo. Revano juga mendapatkan peringatan dari ayahnya dengan keputusan final bahwa Revano akan diasingkan ke Jakarta setelah lulus SMP, walau akan tetap tinggal di rumah tantenya di Arcamanik untuk saat ini.
Aldo juga mengantarkan anaknya yang bonyok ini pulang ke kediaman saudarinya yang berjarak tidak jauh dari kantor kepolisian.
“Main hakim sendiri itu tidak bisa dibenarkan, Ka. Kesal boleh, tapi jangan main hakim sendiri, paham?”
Selama perjalanan, tidak ada habisnya Aldo memberikan pencerahan dan ini--itu kepada putra bungsunya yang memang dikenal badung sejak kecil, tetapi tidak pernah sebadung ini sampai membuat anak orang bonyok juga.
“Chey yang hubungi Ayah. Dia khawatirin kamu, dia takut saudaranya kenapa-kenapa. Ayah juga masih nggak ngerti kenapa Aya yang menghilang berhari-hari bisa ditemukan ada di sana?”
Revano diam saja. Dia memalingkan wajahnya ke kaca jendela mobil ayahnya. Diketahui motor anak-anak muda itu, termasuk milik Revano disita oleh pihak kepolisian, sehingga beberapa anak yang tidak membawa SIM atau STNK diantar pulang menggunakan mobil dari pihak kepolisian, kecuali Revano dan Mikel yang katanya satu arah.
Aldo kembali berbicara. “Kel, kamu sebagai temannya jangan sampai setujui apa pun yang dia rencanakan kalau itu akan berimbas buruk, ya. Om minta tolong kepada kamu, menjadi teman itu juga baiknya saling mengingatkan, mendukung boleh, tapi nggak dalam keburukan. Paham?”
“Iya, dipahami, Om Aldo.”
__ADS_1
Selepas mengantarkan Mikel sampai di depan rumahnya, Aldo menghela napas berulang kali.
“Kejadian ini mengingatkan Ayah sama satu hal. Kejadian yang sudah berlalu, meski tidak sampai melibatkan polisi sekali pun tetap saja.
Ka, kamu ini kenapa, sih, sebenarnya? Bisa nggak sih anteng dan nggak bikin orang lain menjadi pihak yang dirugikan?”
“Kaka nggak mau bicara sama Ayah!”
Lagi, Aldo menghela napas panjang. “Dulu waktu Ayah seusia temanmu yang dihajar habis tadi, Ayah juga sama seperti kamu. Pemberontak. Kakek aja sampai nyerah dan cuekin Ayah, tapi nenekmu, Ka … dia yang paling ketakutan. Dia selalu nangis kalau Ayah bonyok, kaki pincang, atau bahkan masuk rumah sakit karena harus dirawat intensif,” ungkap Aldo mengingat dirinya sendiri.
“Bagus kalo gitu. Ayah jadi tau kenapa Kaka badung, kan?”
Ketus sekali sahutan Revano.
Aldo mengulas senyum. “Kalimat kamu persis kayak kalimat Ayah bertahun-tahun lalu, padahal kakekmu bukan anak yang suka bergaul. Kalau mau tahu, kakekmu itu seperti Fasya. Kakek terkadang menyebalkan, pelit, perhitungan, dan yang paling buruk itu suka mendam, begitu kata Oma buyutmu.” Lanjutan dari kalimat Revano, karena teringat sebuah cerita.
“Ayah baru sadar kalau dulu memang sebadung itu sejak ketemu Bunda dan dua temannya yang selalu digadang-gadang sebagai supernova, mereka bertiga itu sekawan dan paling pintar se-angkatan waktu kuliah dulu.
Ayah suka sama Bunda sejak saat itu, dan kemudian Ayah sadar … badungan kayak saya ini memang nggak pantas untuk dapetin hati Frisly si supernova.”
Aldo terkekeh sesaat. “Cuman, ya, emang dasar si Bunda juga sama-sama suka. Dia bilang, “Nggak ada salahnya menyukai seseorang, tinggal usaha memantaskan diri aja.” Kan, nyebelin banget si Bunda mah.
"Mulai hari itu, Ayah kurang-kurangi yang namanya ikut demo, tawuran, kumpulan jagoan kampus, bahkan sampai keluar dari geng motor SMA. Demi memantaskan diri untuk Bunda, Ka. Pelan-pelan. Nikmati proses dan perubahannya.”
“Cih, kok malah Anda yang curhat!” Tanpa melepas pandangan dari jendela. Dia masih betah memandangi jalanan dan tanaman yang tumbuh di sekitaran area perumahan dalam gelapnya malam.
Begitu sadar jika mobilnya terhenti di sebuah tempat, Revano baru tersadar.
“Masihkan kamu ingin bermimpi menjadi musikus, Ka?”
Revano tertegun. Matanya membola ketika Aldo bertanya demikian bertepatan dengan aksi berontak yang dilakukan Cheryl di depan rumah mereka.
Revano segera terbirit untuk berhadapan dengan orang yang masih dilarang untuk mengunjungi rumah tantenya, bahkan untuk bertemu Cheryl sekali pun tidak diperbolehkan.
“Chey ada apa?” Tiga kata inilah yang pertama kali keluar dari mulutnya.
Tanpa mengerti keadaan, Revano langsung melayangkan tinjuan mentah ke arah wajah laki-laki yang bisa dikatakan seumuran dengan ayahnya.
“Om dilarang membawa Chey, dilarang datang bertamu kemari, dan jangan paksa Chey untuk ikut sama Om yang udah merusak keluarganya sendiri!”
“Kaka!”
“Aldo, kamu di sini juga ternyata. Lihat apa yang sudah putramu perbuat!" tunjuknya.
"Dia berandalan seperti yang sudah aku ceritakan, bukan? Bagaimana bisa berandalan seperti dia menjaga putriku yang lebih membutuhkan figur ayah ketimbang anak ingusan ini!” ucap Anggara, ayah kandung Cheryl.
__ADS_1