Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
37. Hugs


__ADS_3

Kamaliel mendapati puluhan pesan dari nomor berbeda yang diterima nomor adiknya. Dia yakin jika sesuatu hal tidak menyenangkan telah terjadi kepada Fanya di sekolah, tetapi Kamaliel tidak mau ikut andil dalam masalah yang dialami adiknya.


Bukannya tidak peduli, hanya saja dia ingin melihat sejauh mana adiknya mampu bertahan.


Namun, kecurigaannya luntur seketika saat satu pesan yang menggelitik perutnya muncul dan menjadi pesan paling atas pada beranda akun adiknya. Tanpa ragu, Kamaliel membuka pesan paling terbaru itu.


+62 839-xxxx-0143


Blokir | Tambah


14 Nov


|Aya


|Si Kekel bilang kamu kena masalah sama temen sekolah dan matiin henpon


|Nanti kalau udah nyalain dan buka chat Vano, tolong dibaca pelan-pelan ya


|Setelah sore itu, Vano berpikir untuk ceritain semuanya sama kamu. Semua. Sore itu belom semuanya Vano sempet ceritain, tapi dengan ungkapin separuhnya aja bikin Vano lega. Sampai-sampai nggak mau bikin kelegaan ini hancur karena harus terima amukan dari kamu


|Si Kekel juga bilang kalau kamu lagi nggak baik-baik aja


|Dengerin ini deh


|mengirim audio


18 Nov


|Aya


|Yah, terakhir kali dilihatnya bikin Vano sedih


|Cepet balik, Ay


21 Nov


|Aya


|Yah, masih belom aktif juga


|Perlu Vano samperin ke rumah?


|Mau cerita nggak?


25 Nov


|Vano udah denger dari Kekel


|Perlu Vano samperin orang-orang yang bikin Aya si jutek dan marahin mereka dengan cara yang sama ketika Aya ngambekin Vano sewaktu kecil? Mereka nggak tau aja ketika seorang Fanya yang jutek tuh berbeda ketika menjadi Fanya si gede ambek. [ekspresi tertawa lepas]


|Ketemuan yuk


|Yah, kenapa belom aktif sih?


|Padahal kata Kang Liel kamu baik-baik aja dan sibuk sama henpon tuh


|Kang Liel bohong, ya?


|mengirim sebuah foto


|Desember besok, pas liburan, ke bioskop nonton komedi yu!


|Nggak nanya, tapi ngajak. Maksa nih


|Sekalian nonton Frozen kalo mau, kata si Kekel Aya sama temennya suka nonton Elsa dan Anna

__ADS_1


27 Nov


|Aya, kalau masih nggak aktif juga, Vano nekat seret anaknya tante Ana ini ke Taman Danau nih


|Sekarang lagi otw ke Kebon Hejo


|Liat aja


|Eh?


|Udah aktif ternyata


|Yok ketemuan


|Ini beneran lagi siap-siap otw


|Udah di atas motor nih


|Aya


|Jangan matiin henponnya lagi. Ada yang khawatir, loh


Bukan Kamaliel jika tidak iseng. Dia mengetikkan beberapa kata dan mengirimnya. Pesan balasan berbunyi: ini gua, diem jangan lapor ke si Aya.


|Aya mana?


|Ganti nomor lagi?


Kamaliel membalas lagi namun dia mulai panik, sehingga dia mengetik balasan begini: Aya ada, jangan laporin, ya. Tolong kirimin pesan lagi supaya si Aya nggak curiga. Gua hapus beberapa pesan di atas. Chat nomor sebelah karena gua mau tau apa yang lo tau tentang Aya akhir-akhir ini.


Ketika mendengar suara pintu tertutup dari atas, Kamaliel bergegas keluar dari tampilan pesan, lalu mematikan ponsel adiknya, dan menaruhnya kembali di tempat yang sama. Dia bergegas pergi ke gudang setelah nyaris ketahuan mengintip privasi adiknya.


“Aya, bantuin Kama cari barang di gudang, yuk!”


“Oke.”


Apakah adiknya kerasukan jin?


Atau hantu baik dan penurut yang meninggal karena penyakit mematikan atau sebuah kecelakaan?


Kamaliel perlu usut hal ini setelah selesai mendapatkan buku hitamnya.


...----------------...


Sore harinya, laki-laki yang bermimpi menjadi seorang musikus itu benar-benar datang ke rumah untuk menemui Fanya. Tentunya setelah meminta izin kepada Ana selaku orang tua gadis jutek ini. Revano tidak datang sendirian, sih, dia ditemani sang bunda saat berkunjung ke rumah keluarga Ferdiansyah.


Fanya dihampiri Kamaliel ketika dia tengah asyik dengan drama Korea di laptopnya. Kamaliel memberitahu adiknya bahwa ada seorang tamu istimewa yang mau menemui dia. Awalnya, Kamaliel ingin mengejutkan Fanya dengan tidak menyebutkan siapa tamu itu. Namun, balasan adiknya membuat Kamaliel bergeming.


Fanya beranjak dari posisi terlungkupnya di atas kasur. Dia beranjak dan benar-benar memutuskan untuk menemui tamunya.


“Anaknya tante Frisly yang nyebelin itu, kan?”


Namun sebelum turun, Fanya menghampiri meja belajarnya yang terdapat sebuah kotak hitam berpita putih di atasnya. Dia memandangi kotak hitam itu cukup lama.


“Aya bakal samperin. Ada yang mau Aya kasih juga ke dia. Tolong sampein ke dia untuk pergi duluan aja ke Taman Danau.”


Reaksi Kamaliel sungguh jenaka. Dia seperti orang asing di sini, padahal seharusnya dia yang paling tahu lebih dari siapa pun tentang adiknya. Dia teringat isi file di dalam benda transfer data milik adiknya, hal itu membuatnya takut. Kamaliel tidak mau kehilangan adiknya.


“Kenapa harus Kama? Nggak. Kenapa harus pergi terpisah kalo kalian bisa berangkat bareng?”


“Kalo Kakang mau tau apa yang sebenernya terjadi sama Aya, maka Aya minta tolong sampein pesan barusan. Kakang inget, kan? Kali ini Aya bakalan selesaikan semua dengan dia. Hari ini. Harus hari ini supaya Kakang bisa tau lebih cepat apa yang terjadi, kan?”


Kamaliel tidak mau mendrama, tetapi dia benar-benar curiga jika adiknya sungguhan kerasukan hantu.


Bukan sekali-dua kali, Fanya itu mudah kehilangan kesadarannya hanya dengan melamun beberapa menit saja.

__ADS_1


Namun, Kamaliel tidak melihat atau merasakan aura asing di sekitar Fanya. Apa dugaannya salah?


“Aya nggak kesurupan atau kerasukan hantu sekolah, kan?” tanya Kamaliel memastikan.


Fanya diam saja. Dia pergi ke kamar mandi yang berada di sisi berbeda dengan meja belajarnya, sedangkan Kamaliel bergeming melihat adiknya yang benar-benar membuat dia khawatir.


Kamaliel sendiri sudah tahu apa yang menimpa Fanya. Sudah tahu pula tentang pertemuan pada sore hari di antara adiknya dengan adik dari teman baiknya juga.


...----------------...


Sudah sepuluh menit sejak mereka duduk bersama di kursi taman yang sama dengan tempo hari.


Bedanya, kali ini tidak ada Reyhan yang menjadi alasan keduanya bertemu, melainkan sesuatu yang hendak Revano ceritakan lagi kepada Fanya, begitu juga sebaliknya.


Fanya hendak memberikan kotak hitam itu kepada Revano atas permintaan laki-laki ini beberapa bulan yang lalu.


“Vano mau jujur. Vano mau minta maaf dulu sebelum itu,” ungkapnya.


Revano berdeham. “Sebenernya, alasan Vano deketin Aya itu karena taruhan. Anak TXT buat tantangan, siapa yang bisa deketin cewek jutek dari SMP Margayu, dia bakalan dapetin posisi vokalis utama. Kan, Aya tau sendiri kalo Vano ngincer posisi tersorot itu buat buktiin kepada Ayah dan Bunda. Maka dari itu …,” ungkapnya.


“Vano minta maaf kalau bikin kamu nggak nyaman. Dan, kalau mau marah, marah aja. Mau pukul, pukul aja.


“Cuman, Vano minta satu hal. Mohon bantuannya, ini demi buktiin kepada Ayah kalau Vano nggak sebercanda itu ketika pengen jadi musikus,” pintanya penuh harap.


“Tolong buktiin kalau Vano berhasil dalam tantangan itu. Kita ini udah kenal baik, tapi belakangan Vano dikasih tau sesuatu, dan nggak nyangka kalau kepindahan itu bikin kamu marah, semarah ini.”


Fanya yang menunduk mulai mengangkat kepalanya. Menatap lurus hamparan air di depannya. Sore ini, pukul empat lebih seperempat, udara tidak begitu panas padahal langitnya cerah sekali.


Fanya menarik napas dalam. “Soal cerita lo kapan hari di sini … maaf udah salah menilainya. Haha, lagipula dulu gue terlalu dibutakan sama rasa nyaman. Tau sendiri kalo kita itu sedeket apa dulunya. Rasanya asing ketika kehilangan orang yang selalu bikin hari-hari terasa lebih berwarna walaupun dengan tingkah nyebelinnya.”


“Makasih udah dengerin celotehan hari itu. Seriusan, waktu itu spontan aja cerita karena Vano pengen kita ngobrol lagi,” balasnya.


Fanya menoleh ke sampingnya, dia tidak tersenyum, tidak juga kesal. Hanya menampakkan raut datarnya dengan tatapan penuh arti. “Makasih udah dikasih tau. Mungkin kalau nggak dikasih tau, gue nggak bakalan mau ketemuan sama lo, Van,” timpal Fanya.


“Maaf karena kemarahan gue berasal dari kekecewaan semenjak lo pergi ke Arcamanik. Gue nggak tau kalo lo beneran serius ngejar mimpi itu, gue sama kayak om Aldo, meragukan lo ketika lo besar mulut pengen jadi musikus. Punya band, dan banyak lagi. Maaf.”


Revano tersenyum lega. Dia senang. Akhirnya dia bisa memperbaiki hal yang sempat dia telantarkan demi impiannya.


“Nggak. Aya nggak harus minta maaf. Ini salah Vano sendiri yang nggak berniat ceritain kepindahan itu. Soalnya, mendadak sih. Mendadak Kak Sean harus pergi pas hari kelulusan SD kita.


“Ah, iya. Omong-omong soal Arcamanik, di sana Vano harus jagain seseorang. Dia lebih rapuh dari keramik, tapi dia bisa sekuat baja. Dia sepupu Vano yang seumuran sama kita, dan Kak Sean minta Vano buat jagain dia dan mamanya selama Kak Sean pergi studi.”


Kemudian, tanpa canggung atau kesan buruk dari sebelumnya, dua sekawan ini mulai melempar cerita mereka sendiri tentang kesenangan keduanya selama saling terpisah jarak geografis. Hari ini, mereka berdamai dengan kekhilafan masa lalu.


Terutamanya untuk Fanya, dia benar-benar mulai berdamai dengan dirinya sendiri. Dengan luka masa lalu. Dengan kepolosannya yang tidak senang ketika ditinggal kawannya pergi pindah ke Arcamanik. Dia sudah memaafkan semua kesalahan yang mengurungnya menjadi pribadi yang menyebalkan sebab ulah Revano yang tega, Fanya sudah memaafkan semua yang lalu sejak lama. Sehari semenjak Revano ungkapkan semua.


Mereka mulai berjalan-jalan di tepian danau yang memiliki akses jalan kecil. Fanya membawa kotak hitamnya.


“Van, nih.” Memberikan kotak itu kepada pemilik aslinya. “Sebenernya, gue udah buka semua filenya. Awalnya flashdisk ini hilang, lebih tepatnya sempet gue buang, tapi Mama bawa kotak itu ke gudang. Terus Kakang ambil kotak ini, kayaknya dia udah buka isinya juga. Kalo gue … udah sejak lama buka dan baca filenya, cuman gue belom buka satu file terakhir karena hari itu denger kabar kalo lo pergi dari rumah, dan itu bikin gue—”


Revano senang bukan main. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana, sehingga dia ingin menghentikan celotehan Fanya yang selalu dia rindukan, tetapi sayangnya dia tidak suka kata ganti yang digunakan Fanya. Nama panggilan mereka tidak segaul itu.


“Berhenti pake klitik nggak baku itu! Dan, panggil nama kecil kita aja, kayak biasanya.”


Namun, bukan kalimat perintah Revano yang membuat Fanya menghentikan ucapannya, melainkan dekapan mendadak yang laki-laki ini lakukan kepadanya.


Fanya terpaku, sehingga dia tidak bisa begerak per sekon ke depan. Mereka berpelukan layaknya sepasang kekasih yang baru saja berbaikan.


Mereka saling mendekap begitu rasa yang pernah ada menggelenyar. Mereka sepasang kawan yang renggang karena kesalahpahaman yang pernah tercipta.


Mereka anak kecil yang sudah mulai beranjak dewasa. Mereka remaja yang mulai berani ambil tindakan.


“Makasih, Aya. Makasih.”


Fanya merasa hal ini terlalu berlebihan walaupun dia sedikit menikmatinya. Dia segera berontak dari dekapan teman semasa kecilnya dan mulai berjalan meninggalkan Revano di belakang sambil menatap kotak pemberiannya.

__ADS_1


Revano tersenyum senang ketika benda yang pernah dia berikan masih utuh. Dia sudah merencanakan sesuatu yang lain untuk dia berikan kembali kepada pemilik sesungguhnya.


“Tungguin, woi!”


__ADS_2