
Kosong.
Benaknya penuh tanya sampai dia tidak tahu harus berkata apa.
Kamar Fanya kosong, padahal biasanya pagi hari yang cerah atau mendung sekalipun gadisnya akan turun untuk ikut menyiapkan sarapan bersama, atau terkadang jika tidak sibuk bersama sang mama di dapur, Fanya akan menyayangi Rey sebagaimana Rey tertarik kepadanya.
Pilih kasih. Padahal, Kamaliel juga menyayangi Fanya sebagaimana dulu seorang anak tunggal macam dirinya begitu mendambakan saudara. Namun, Fanya malah bersikap seolah tidak pernah memiliki seorang kakak.
Sebab hanya mamaku sayang mamaku cinta, alias Ana, yang selalu serba tahu, Kamaliel memutuskan untuk menghampirinya di dapur.
“Ma, si Aya nggak ada di kamarnya. Tumbenan banget. Mama lagi suruh dia belanja?”
“Nggak. Lagi di kamar mandi kali. Kayaknya dia bangun kesiangan, soalnya semalam Mama cek ke kamarnya, dia belom tidur karena harus tamatin drama katanya," jawab Ana.
"Cih, udah kelas sembilan dan bentar lagi ujian—eh, nanti ingetin Mama buat lapor sama Papa biar disita dulu laptop si Teteh,” tambahnya.
Kamaliel diam, dia bingung, dan hanya menatap pada satu titik. Menatap semangkuk cah kangkung yang terdapat irisan cabai rawit merah segar yang tersaji di atas meja pembatas antara dapur dengan ruang makan keluarga.
Cah kangkung, kau sungguh menggoda perut Kamaliel. Namun, dia tidak kehilangan fokusnya dalam kebingungan tentang ketidakhadiran adik perempuan satu-satunya, yang dia rawat dan besarkan seperti malika.
Ana menyadari diamnya si sulung, dia segera memindahkan semangkuk cah kangkung menuju meja makan.
“Tumbenan cariin si Teteh. Kangen atau butuh ajudan?” cibirnya.
“Aneh aja. Biasanya tiap pagi di hari Minggu selalu ada dia buat caper sama Rey atau rebut hak asuh Rey dari Kama. Biasanya ruang tengah udah bising banget sama polah tingkah dia yang duet bareng Rey. Sayangnya, hari ini aneh dari biasanya,” ujarnya sok mendramatisasi.
Ana menarik napas dan mengoreksi. “Lain dari biasanya merenan, ah!”
Kamaliel nyengir. “Beneran nggak lagi disuruh belanja, kan?”
“Coba kamu pikir aja sendiri, Mama nggak akan masak kalo bahannya belom ada. Lihat! Mama udah masakin.”
“Ih, santai, Ma. Jangan bebeledagan!”
“Sana cari lagi ke kamarnya, sarapan udah siap. Kita sarapan bareng.”
Mungkin ucapan mamanya benar, maka Kamaliel akan memeriksa kamar si nomor dua untuk kedua kalinya. “Kalo masih nggak ada … mendingan dicari dulu deh!”
Dan, hasilnya tetap sama. Tidak ada. Kosong. Hening. Sepi. Bahkan di dalam kamar mandi juga. Namun, ada yang aneh. Handuk milik Fanya tergantung dengan keadaan setengah kering, lalu Kamaliel berinisiatif untuk mencari benda milik Fanya yang lainnya seperti jaket, tas, atau ponsel.
Ya, ada di sana. Sebuah ponsel. Di antara buku dan kertas yang berserakan di atas meja belajar milik Fanya.
“Tumbenan dia keluar nggak bawa henpon. Pergi ke mana?”
Kamaliel memutuskan untuk turun, belum berniat membuka akses kunci pada ponsel adiknya. Dia akan melaporkannya terlebih dahulu kepada orang tuanya.
“Ma, Pa, dan kamu Rey … kalian harus tahu!" kata Kamaliel.
Kamaliel datang ala aksi seorang detektif yang telah kembali dari TKP untuk mencari bukti.
"Si Aya nggak ada di kamarnya. Handuknya basah kayak habis dipakai beberapa jam yang lalu di dalam kamar mandi. Dia juga bawa tas atau mungkin dompet isi uang. Yang lebih parah lagi adalah ….”
Memang banyak tingkah!
__ADS_1
Dimas saja yang baru selesai minum langsung dibuat heran. Dia menatap ke arah Ana yang tengah menyuapi si bungsu dengan camilan sehat dan sempurna bagi bayi.
“Kamu bicara apaan, sih? Aya pergi ke mana emangnya? Kamu bawa henpon siapa itu?”
Kamaliel tidak tahan berdiri ketika melihat kepulan asap dari cah kangkung mulai merebak kala mamanya menyendoki makanan hijau itu ke atas piring milik papanya.
“Pa, si Aya kabur! Kayaknya dia pergi dari rumah, deh.”
Masih dengan reaksi dramatisnya, Kamaliel berusaha meyakinkan kedua orang tuanya dengan cara memprovokasi kepergian Fanya yang tanpa kabar pagi hari ini.
Sejurus kemudian, Kamaliel membuka akses ponsel Fanya. Dia membuka aplikasi berkomunikasi, tetapi dia tidak mendapati kontak kerabat mereka dari Padalarang atau siapa pun, kecuali nama aneh yang tertera pada urutan paling atas.
“Adiknya Fasya ngajakin si Aya kencan pagi-pagi buta, ngapain?”
Ana menyimak gumaman si sulung yang lirih, tetapi masih dapat didengarkan. “Kencan? Siapa yang kencan?”
“Nggak perlu panik ternyata!” ujar Kamaliel berubah sumringah. “Mari makan!”
“Siapa yang kencan?”
Kamaliel mengerjapkan matanya. “Ah, itu ... anaknya tetangga ngajak si Aya joging. Ada gunanya juga mereka baikan, si Aya bisa rajin olahraga, Ma, Pa.” Terkekeh-kekeh sambil menyendokkan cah kangkung ke atas piringnya
“Ma, kangkungnya bagi tiga aja, ya. Si Aya, kan, nggak ada.”
Baik Dimas, maupun Ana sama-sama menggelengkan kepalanya. Begini amat punya bujang dan mojang yang suka rebutan sejak masih kecil. Padahal cah kangkung bisa saja dibuatkan lagi jika memang doyan.
Memang dasarnya bersaudara itu seperti inilah realitanya, sudah sedewasa apa pun jika memang iri, ya, pastinya akan beraksi.
...----------------...
Hari sudah petang, bahkan beberapa menitan lagi adzan akan berkumandang, tetapi tidak ada tanda-tanda kepulangan atau suara motor yang mengantarkan pulang anak gadis mereka.
Bahkan, Kamaliel sudah berpesan kepada si pengajak acara joging untuk segera mengantarkan anak gadisnya pulang. Baru saja pesannya terkirim.
Tetangga Cemara (4)
Kamaliel Ferdiansyah : @Revano Aji P. keluyuran ke mana sih pake bawa-bawa si Aya sampe magrib belom dianterin pulang?
Revano Aji P. : Sumpah, Kak. Gua nggak ajak Aya ke mana-mana khusus hari ini karena gua sibuk manggung kalo hari Minggu.
|Kamaliel Ferdiansyah mengirim foto
Fasya Putra P. : Ka, jujur aja sih. Ini sama kakaknya, bukan mamak bapaknya ini
Revano Aji P. : Sumpah! Kaka masih di kafe
Revano Aji P. : Eh, Kak Fasya jangan ember, ya! Awas aja kalo Bunda atau Ayah sampe tau hal ini. Harus lakik loh, Kak Fasya!
Fasya Putra P. : Iya aman. Asalkan kamu jujur sama Liel. Katanya seharian Fanya nggak ada di rumah, nggak ada izin. Terakhir kali tukeran pesan pun sama kamu loh!
Kamaliel Ferdiansyah : Typing dan panggilan kalian lucu :v
Kamaliel Ferdiansyah : Tapi konteksnya adalah si Aya ke mana?
__ADS_1
Kamaliel Ferdiansyah : Udah malem ini
Kamaliel Ferdiansyah : Mama panik
Kamaliel Ferdiansyah : Papa risau
Kamaliel Ferdiansyah : Rey ngamuk ToT
Kamaliel Ferdiansyah : Fasya mulai mara-mara
Kamaliel Ferdiansyah : Kata om Aldo suru panggil polisi
Kamaliel Ferdiansyah : Tapi kata tante Frisly, belom 24/7
Fasya Putra P. : Kelamaan kalo 24/7!!!
Fasya Putra P. : Yang bener 1x24 jam
Revano Aji P. : Gimana-gimana?
Revano Aji P. : Ini sebenernya ada apa?
Revano Aji P. : Si Aya kabur?
Revano Aji P. : Bentar deh, ini lagi di lampu merah.
Revano Aji P. : Otw rumah bunda
Revano Aji P. : Tapi sebelum itu mau belok dulu
Fasya Putra P. : Awalnya, Fasya mau susul Ayah, karena niatnya mau pergi ke mesjid, tapi disuruh panggilin Bunda untuk datang ke rumah om Ana dan tante Dimas sama Liel
Kamaliel Ferdiansyah : Astaga typing-an maneh, Sya (ToT)
Kamaliel Ferdiansyah : Yang bener tuh papa Dimas dan mama Ana [ngakak brutal] tapi saya hanya diam karena mama sedang panik [tertekan]
Fasya Putra P. : Magriban dulu! Matiin henponnya kata Pak Ustaz juga
Fasya Putra P. : Magriban dulu, Ka. Ngga usah ngebut dan jangan lupa magriban di mesjid terdekat
Revano Aji P. : Baru nyampe mesjid
Revano Aji P. : Jadi sebenernya ada apa?
Revano Aji P. : Halo?
Revano Aji P. : Aya kenapa? @Fanya Fransiska
...----------------...
Pada akhirnya, para laki-laki disuruh pergi ke masjid karena magrib sudah memanggil, sementara Ana dan Rey si bayi dibawa masuk Frisly. Mereka juga akan menenangkan diri dengan salat berjamaah di rumah Ana.
Mereka—dua keluarga lengkap dengan kehadiran Revano, kecuali Fanya—berkumpul di ruang tengah keluarga Ferdiansyah. Mereka sama-sama bengong sambil menunggu balasan dari keluarga besar—baik dari keluarga Ana, maupun Dimas—terkait Fanya.
__ADS_1
“Kayaknya kuat dugaan kalau Aya pergi ke Padalarang, deh. Buktinya Aki maupun Enin sama-sama nggak angkat telepon. Pasti si Aya yang jadi dalang,” ujar Kamaliel.
Mereka juga telah sepakat jika Fanya benar-benar pergi ke Padalarang.