
Baik Mikel maupun Zico sama-sama lesu lantaran diajak—lebih tepatnya ditarik paksa oleh Gio dan Filo untuk berkunjung ke markas.
Markas yang dimaksud adalah bengkel bekas berukuran besar dan luas milik keluarga Jehan, yang sudah dibeli seseorang sehingga tidak lagi dimiliki keluarga Jehan.
Yang membelinya adalah seorang pemuda misterius dan yang lebih menariknya adalah pemuda yang membeli masih seorang Ghautama, yaitu Jehan sendiri. Kira-kira begitulah gosip kepemilikan bengkel ini.
Selain Mikel dan Zico, seharusnya Wisnu juga hadir, tetapi kehebatan laki-laki dengan marga Wirawan ini patut diberikan penghargaan dari kepolisian, karena dapat mudah terhindar dari perkumpulan bebas yang buruk, sementara Mikel dan Zico benar-benar dalam bahaya.
Mikel mengerutkan wajahnya. “Aing berhalangan datang karena ada janji keluarga, kenapa lo rampas kunci motor aing, sih?”
Kemudian, merampas kembali kunci motornya dari Filo setelah mereka sampai di depan sebuah bangunan bekas bengkel mobil.
Zico juga tidak mau kalah. “Gua juga. Hari ini ada kelas tambahan, bentar lagi mau ujian!”
Filo dan logatnya tidak mau kalah bicara dari dua manusia penuh alasan. Yang satu alasan keluarga dan satunya lagi alasan belajar. Padahal sebelum hari ini tiba, jauh-jauh hari sejak popularitas mereka yang melonjak, dua orang ini juga sama-sama badung.
“Haduh, kali ini aja kelen nurut sama ajakan bapak kita. Bapaknya Medali. Kalian anak-anak Medali, sekali-kali jumpa kangenlah sama bapak kita.”
Gio menyahut juga. “Ujian emang udah di depan mata, tapi hiburan sebelum ujian juga bolehlah dicoba.”
“Bapak aing lagi di Meksiko, kata Mami nggak bakalan pernah pulang. Mau apa lo?” Tentu saja Mikel.
Zico diam saja. Dia tidak pernah mau membicarakan perihal kekerabatan. “Sebentar aja, kan? Nyambut doang?”
“Iya, nggak bakalan lama, kok. Ini masih jam setengah satu, jam satu acaranya mulai. Lo bisa langsung pergi ke kelas tambahan setelah penyambutan selesai,” balas Gio.
Kemudian menatap Mikel. “Sementara lo, Mikel. Lo bisa pergi jemput bapak lo ke Meksiko.”
“Eh, salah! Aing mau ketemu Mami yang lagi kumpul keluarga,” ralatnya setengah bersungut.
Zico menatap Mikel penuh reaksi. Keduanya masih terdiam di samping motor masing-masing, padahal Filo dan Gio sudah berjalan lebih dulu memasuki ruangan luas itu.
“Lo bohong, kan?” tuduh Zico.
“Bohong soal apa?”
“Mami lo,” tegasnya, “padahal lo cuman beralasan supaya bisa cari temen lo karena lo deket banget sama dia.”
Mikel mengangkat sebelah alisnya. “Oh, jadi lo udah tau, ya? Emang bener begitu kok. Seharusnya lo juga khawatir karena kalian pernah sama-sama tukeran panggil sayang!"
"Asal lo tahu! Dia hilang udah hampir lima harian, gila aja kalau gua nggak panik. Gua sempet hubungi dia. Jelaslah gua khawatir, takut kalo gua menyinggung dia. Emangnya elo, dasar munafik!”
Zico tidak membalas. Dia diam saja sambil menyembunyikan raut terkejutnya. Bagaimana bisa Mikel tahu Zico dan Fanya sempat menjalin kasih?
Apa yang sudah dia lewatkan sejak pergi karantina?
Apakah Fanya bercerita kepada Mikel secara terus terang?
“Padahal aing ada janji sama Hana buat cari ke tempat-tempat yang pernah Fanya pengen datengin, tapi katanya nggak ada. Sempet sih gua cari sendiri, tetep aja nggak ada. Pergi ke mana sih dia?” Mikel frustrasi saat ini.
Sejak tahu kabar hilangnya Fanya dari Revano, dia tidak menyangka jika seorang Fanya yang jutek bisa menghilang juga. Awalnya dia bergurau, tetapi ketika Hanalya bercerita kalau ayahnya merilis informasi resmi terkait orang hilang, Mikel mulai diselimuti teror.
__ADS_1
Tiba-tiba kedatangan sebuah pemotor serba hitam dengan celana abu-abunya. Parkir tepat di samping motor Zico. Membuat dua laki-laki yang dipuja gadis se-Margayu ini memperhatikan si pemotor dari atas sampai bawah. Mereka tidak mengenal siapa anak SMA itu, Medali memang memiliki anggota yang sudah resmi berganti seragam ke putih abu-abu, tetapi baik Zico maupun Mikel asing dengan si pemotor itu.
Ketika si pemotor melepaskan helm bertopengnya. Mata bulat Mikel nyaris saja keluar jika saat ini adalah film animasi atau film komedi dengan suntingan CGI.
“Lo … lo ngapain anak Tamansari ke sini, heh?” Mikel kenal betul siapa yang memarkirkan motornya di samping Zico sekarang.
Dia menyunggingkan senyuman kalemnya. “Ada urusan sama Bang Jehan,” balasnya dengan santai. Suara beratnya menyapa lembut sambutan kurang menyenangkan dari laki-laki yang dia kenal sebagai teman Revano dan Aditya.
Area di sini agak terpencil, sepi, dan dikelilingi pepohonan rindang. Bangunan tinggi ini terdiri dari tiga gedung yang mirip seperti rumah. Kata Jehan, dua gedung lainnya yang berada di serambi kanan dekat jalan utama adalah bekas kantor dan ruang listrik.
Namun, sejak berhenti beroperasi sebagai bengkel, Jehan mengubahnya menjadi tempat beristirahat. Jadi, fungsinya seperti rumah.
Konon katanya, di rumah yang dulunya sebuah kantor itu ada dua ruangan, sehingga Jehan merenovasinya menjadi kamar. Sayangnya, anggota Medali tidak bisa mengakses fasilitas kamar di markas karena yang memegang kunci adalah bapak mereka. Jehan sendiri.
“Lo pada nggak masuk?” tanya laki-laki dengan wajah tenang bak telah berbaikan sebagai tanda perdamaian.
“Maunya sih nggak masuk, tapi sorry to say aja nih, Bung,” kata Mikel, “aing ogah sahutin elo sekali lagi kalo bukan karena—ah, udahlah!”
Zico nyaris saja tertawa jika bukan karena seruan dari Filo yang menyusul mereka kemari.
Filo memerintahkan Zico dan Mikel untuk segera masuk, dia menyampaikan perintah dari Jehan, sih. Namun, Filo memperhatikan laki-laki asing yang berdiri berjajar dengan dua temannya.
Zico menyadari raut Filo. “Dia anak Tamansari yang ada urusan sama Jehan.”
Wajahnya menggelap. “Oh, … ya, udah yok masuk.” Filo langsung berujar dengan ketus.
...----------------...
Terduduk dengan posisi tangan dan kaki terikat tali yang mengunci tangan sampai kesulitan melepaskan diri. Mulutnya juga disumpal oleh lakban hitam yang sudah membuat keram wajahnya. Dia mendengar keributan di luar yang sepertinya tidak jauh dari keberadaan bangunan ini.
Begitu mendengar sayup-sayup suara keributan dan perdebatan kecil setelah berhari-hari terjebak dalam kesunyian.
“Tolong … siapa pun. Aya di sini.”
Matanya membola. “Mikel dan Zico?” katanya di dalam hati untuk yang kedua kalinya. Matanya berkeliling. Seingatnya Jehan menyimpan gunting atau benda tajam kemarin di sekitar sini.
Masih dengan pakaian yang sama. Tubuhnya juga begitu lengket. Kulit wajahnya kusam dan di sekitar bawah matanya menghitam. Berhari-hari dikurung dalam posisi serupa membuat tubuhnya lemas dan kaku.
“Mama …,” katanya merintih dalam hati, dan matanya mulai berkaca-kaca lagi.
Fanya tidak bisa bergerak dalam ikatan tali yang benar-benar sulit dilepaskan. Bahkan menggunakan trik apa pun tetap sulit diuraikan. Satu-satunya pengurai adalah benda tajam. Entah gunting atau pisau belati yang kapan hari Jehan tunjukkan dengan pesan : “Akan bersemayam rapi di tubuh lo.”
Di tubuh Fanya.
Sampai membuatnya ketakutan, tetapi dia harus mengupayakan diri untuk tetap tenang, walaupun hatinya sudah menjerit ketakutan.
Fanya menatap ikatan pada kakinya. Sejak mengetahui akan ada yang datang kemari, Fanya berusaha melepaskan ikatan pada kakinya terlebih dahulu agar dia bisa berjalan keluar dari ruangan temaram ini. Namun ayal, ikatannya simpul mati yang diikat kuat.
Mau tak mau, Fanya harus mencari benda tajam. Langkah pertama, dia harus turun dari kasur dan mencarinya dengan cara bergerak maju atau ke samping dengan pantatnya.
Atau Fanya langsung memanggil bantuan saja, ya?
__ADS_1
Jika seperti itu, dia harus mencapai jendela agar kelihatan oleh orang-orang di luar sana. Ya, Fanya pasti bisa.
Setelah berusaha melarikan diri, tetap saja dia tertahan. Satu jam dia masih bertahan, dua jam dia mulai gelisah, dan tiga jam kemudian dia mulai tidak tahan.
...----------------...
Di ruangan paling luas dengan area berlatih silat, karate, sampai judo juga diletakkan pada area yang sama dengan perlengkapan yang tertata rapi pada dinding gedung tinggi ini.
Mereka berkumpul pada satu meja lebar dengan kursi yang terbuat dari drum bekas pakai. Mereka yang berkumpul diketahui sudah hampir lengkap, apalagi kehadiran satu tamu yang diundang bapak mereka.
“Nggak bisa!” kata Zico penuh penekanan. “Nggak bisa sampe malem. Hari ini, tiga jam yang lalu harusnya gua ikut kelas tambahan. Wajib ikut kelas tambahan!”
Mereka hanya diam dan tidak berkutik lantaran dendam dan persaingan yang amat dalam telah disematkan dalam diri masing-masing. Mereka tidak mau menoleransinya, maka mereka hanya diam ketika Jehan mengenalkan Bams, musuh lama Medali yang berasal dari Tamansari. Bams, ketua geng TXT.
“Kata si Filo gua boleh pergi setelah nyambut doang. Gua sibuk, permisi!”
Zico segera menegakkan tubuhnya dan dia akan segera meninggalkan tempat ini. Namun, ucapan Jehan membuatnya membeku di tempat.
Jehan tersenyum miring. “Jadi, bener lo udah berhentikan tugas utama Medali, sampai menggunakan kekuasaan lo sebagai ketua. Kenapa, Zi?”
Zico berbalik. “Gua berusaha balikin nama baik Medali seperti filosofinya. Medali itu pencetak kemenangan prestasi buat Margayu, sementara selama lo yang berkuasa malah bikin melenceng, Bang!”
“Lo mulai seberani ini sejak kapan?” Jehan tersenyum miring.
“Apa mungkin sejak lo diam-diam jadian sama target kita, iya?" Jehan menerka, tetapi dia berpura-pura saja. "Sialan. Lo pengkhianat!”
“Siapa pengkhianat, siapa yang berkhianat?” Suara ini muncul tanpa raga awalnya, tetapi begitu pintu besar itu tergeser, seorang laki-laki dengan baju santai dan topi hitamnya datang dari pintu masuk.
“Zico bener, Medali itu pencetak kemenangan buat Margayu," ungkapnya membenarkan ucapan Zico. "Jehan, selama lo mimpin Medali … kemenangan apa yang udah lo cetak?”
Anggota muda Medali tidak mengenali siapa laki-laki itu. Namun, Zico sendiri sudah hapal dengan laki-laki ini. Zico menatap selidik kepada seorang laki-laki yang berjalan santai dengan senyuman terukir pada bibirnya. Zico menundukkan kepalanya, memberikan hormat yang selalu mamanya ajarkan.
“Selama lo mimpin Medali, apa pernah nama Margayu masuk jajaran sekolah yang ikut serta dalam perlombaan atau olimpiade?" Mempertanyakan hal-hal yang membuatnya kesal akibat ulah Jehan.
"Nggak. Justru malah masuk daftar nama instansi dengan catatan kriminal dari siswa di kantor kepolisian. Memalukan!” lanjutnya dengan penuh penekanan.
“Lu siapa, Bang?” celetuk anggota termuda Medali. Dia masih kelas tujuh. Namanya Nathan.
Laki-laki ini tersenyum berseri. “Gua?” Kemudian melirik Zico dan Jehan bergantian. “Gua ketua Medali angkatan tahun enam belas. Salam kenal, Jayden Izumi," ungkapnya.
“Selamat datang kembali, Jehan. Makasih udah nggak undang gua dan senior lo ke markas baru ini. Gua pikir menghilangnya lo dari markas lama nggak berulah dan sadar akan kesalahan lo, ternyata nggak, ya?" Sudut bibirnya menyungging tipis.
"Lo malah beli lahan keluarga lo sendiri, terus lo jadiin tempat terpencil ini sebagai markas baru, dan tanpa persetujuan ketua pertama pula.” Jayden tersenyum ramah.
Mereka berbisik-bisik, kecuali Bams yang benaran tidak tahu apa-apa tentang ucapan yang telah dia dengar, apalagi mengenai sosok laki-laki yang mirip dengan seseorang yang begitu datang, begitu banyak bicara.
Bams mencuri dengar dari anggota Medali yang duduk di sampingnya, dan dia melirik ada Mikel yang duduk di seberang. Namun, tidak lantas membuat Mikel ingin berbicara kepadanya.
“Heh, lo tau cowok itu siapanya Jehan?” tanya Bams kepada Mikel.
Mikel membalas tatapan Bams. Sejurus kemudian, dia mengangkat tangannya dengan gestur seperti memegang sesuatu, lantas dia membuat garis lurus di depan bibirnya. Dengan maksud : "gua diam dan nggak mau bicara sama lo."
__ADS_1
Beraksi demikian membuat Mikel tersenyum penuh, sehingga berhasil membuat Bams mengerutkan wajahnya.