
...R14+...
...----------------...
Mikel Kurniawan Rahadi duduk sambil menyandarkan punggungnya ke punggung kursi kafe. Menatap satu objek yang duduk di kursi seberangnya.
“Gimana? Gua yakin kalo Aya buka henpon jam segini. Satu-satunya waktu yang bisa dia gunakan untuk buka henpon adalah sepulang sekolah atau kelas tambahan.”
“Lo yakin?”
Mikel mengangguk yakin dengan wajah teduhnya. “Bukan tanpa alasan gua kasih tau lo. Ya, meskipun gua belom tau tujuan lo untuk menangin taruhan edan bersama mereka, sih.”
Semenjak mendengar keluh kesah Revano pada sore hari menjelang pesta ulang tahun si kembar Wirawan, nurani Mikel Kurniawan Rahadi terusik, diusik, dan turut mengusik orang lain sebagai pelampiasan atas kekesalannya.
Bukan tanpa alasan. Ya, bukan tanpa alasan dia memberikan informasi sekecil kegiatan Fanya Fransiska kepada lawan bicaranya; sahabat sekaligus suspek dari orang yang menjalankan rencana edan itu; Revano Aji Pratama.
Hari itu, pada sore hari itu, Mikel pergi begitu saja sebab dia berusaha untuk menenangkan diri sekaligus afirmasi terhadap apa yang telah—sialnya orang itu sahabat baiknya—Revano paparkan kepadanya, yaitu taruhan edan berkedok posisi utama dalam band anak Tamansari. Dia banyak mengucap sial, dan sialan. Kurang ajar!
Pada hari yang sama, Mikel juga mencari keberadaan laki-laki hidung bangir yang merupakan sahabat ingusannya itu di dalam pesta si kembar Wirawan. Namun, tidak ada dan tidak tampak keberadaan laki-laki itu sedikit pun.
Meski begitu, pada akhirnya dia berhasil menemukan keberadaan orang aneh dengan kostum helm telah masuk ke dalam pesta dua Wirawan itu.
Mikel langsung tahu jika cowok helm itu adalah Revano sahabat ingusannya. Dia marah, masih marah, meskipun dia ingin membantu sejak hari itu, tetap saja Mikel masih marah.
Kemudian, dengan entengnya dia memaklumi permainan tidak jelas dari anak-anak Tamansari yang mana malah diikuti oleh Revano. Mikel sempat merutuki kebodohan laki-laki hidung bangir itu ketika untuk pertama kalinya dia diajak bergabung ke dalam perkumpulan anak-anak Tamansari.
Kenyataannya, Revano sendiri berasal dari Arcamanik—walau secara data asli Revano tetap berasal dari Dayeuh dan bukan asli Arcamanik, sebab dia harus mengungsi—beberapa minggu sebelum dia bergabung dengan perkumpulan anak musik itu. Mikel masih tidak habis pikir dengan jalan pikir dirinya sendiri.
Dia mencengkeram rambut kepalanya sendiri. “Aing rada nyesel nggak hantam maneh. Rada teu ngenah hate anjir. Bego sih!”
Revano melebarkan kelopak matanya, bahkan pupil matanya terlihat membesar. “Ulah atuh, Kel. Gua ini karib lo sejak kita masih ingusan.”
“Aing nggak peduli. Aing cuman peduli sama si Aya. Maneh ngarti nggak sih? Sejak kejadian itu berlalu, bahkan sampai sekarang masih aja terbayang gimana rasa takut itu. Dan, gara-gara kejadian itu, baik si Aya atau dia sama-sama terluka.”
Matanya berkilatkan amarah dan ketakutan, menatap laki-laki yang duduk di kursi seberangnya. “Mungkin si Aya udah baik-baik aja, tapi dia … semenjak lo pindah ke Arcamanik, dia balik lagi, kan? Dia balik lagi jadi si Aya yang—”
__ADS_1
Tertekan. Tertekan adalah situasi di mana seseorang merasa disudutkan dan dibebankan sesuatu yang dia rasa berada di luar kendalinya. Di luar kemampuannya. Dan, Revano merasakan hal itu saat ini.
Ketika Mikel, si Kekel, sahabatnya yang makin cakep dan kelihatan kebule-bulean itu mengungkit seberkas tragedi yang sudah berlalu.
Revano menyela, “Iya. Gua akui itu salah gua, Kel. Dan, gua dengan begonya libatkan orang lain dalam kesalahan gua sendiri, tapi itu udah berlalu. Baik Aya maupun Renan udah baik-baik aja, mereka udah baik-baik aja!”
Mikel terkekeh sinis. Menatap ke arah Revano tepat ke retina matanya. “Aya nggak pernah baik-baik aja. Lo nggak tau gimana susahnya dia beradaptasi di lingkungan baru!” tekan Mikel. “Aya bahkan kehilangan separuh ingatannya, Van.”
Bukannya murung, melainkan dia membalas kekehan Mikel. “Hahaha, si paling tau dan si paling sok deket!” sindirnya.
Mengingat bagaimana kedekatan antara Mikel dan Fanya di pesta Wirawan bersaudara lalu, sontak membuatnya mengutarakan rasa yang dia sendiri tidak sadari.
Di lubuk hatinya yang dingin dan keras, di lubuk hatinya yang selalu dia tekan oleh ego dan logika rendah dari anak baru gede, jauh di lubuk sana: dia mulai iri kepada Mikel.
Mikel menggebrak meja, berjinjit dari duduknya, sedangkan tangan kanannya menarik kerah baju Revano.
“LO. LO EMANG MANUSIA PALING EGOIS, VAN. Sejak kapan lo menjadi sebegininya sih? Kenapa lo nggak berusaha untuk peka? Lo selalu denial sama apa yang terjadi kepada lo anjir!”
Setelah puas dengan imajinasinya yang telah menghabisi wajah mulus Revano, laki-laki yang dikenal bule ini melepaskan cengkeraman tangannya, dan kembali duduk di kursinya. Mengatur napasnya.
Mereka saling pandang, mengacaukan wajahnya. Salah satunya mengerutkan dahi, salah satunya mengerutkan wajah. Pertengkaran ini adalah sarana keduanya menciptakan argumen tak kasat suara.
Semua tuduhan buruk itu yang mana seakan memberikan sinyal merah kepadanya. Revano tidak tahan. Dia bangkit dari duduknya sampai membuat kursi itu termundur dan menciptakan decitan nyaring.
Dia berjalan menghadapi Mikel dan berdiri di samping kiri laki-laki berwajah oriental itu, otot di rahangnya bergerak-gerak seakan gatal akan suatu hal. Sumpah demi kulit kerang ajaib, Revano tidak tahan lagi.
“Kel, tulungan, bantuin aing. Sejujurnya ….” Pada akhirnya dia tidak tahan untuk menceritakan seluruh kebenaran di balik taruhan edan yang kapan hari sempat diceritakannya kepada Mikel.
Dimulai dari rencana Bams tentang mengesahkan geng TXT menjadi nama band, karena mereka mulai ditawari beberapa pekerjaan sebagai anggota band, dan bukannya geng. Sampai suatu hari, tepatnya sehari sebelum kembali masuk sekolah, Bams mengajak semua anggota ke dalam sebuah tantangan yang menjerumuskan pada taruhan edan itu.
Awalnya dia pikir hanya tantangan biasa, seperti harus menggombali seorang gadis atau mengajak kencan sehari si gebetan. Kemudian, Bams memberitahukan tentang hadiahnya, yaitu posisi sebagai vokalis utama dan uang seharga manggung yang mencapai enam digit.
Tidak hanya itu, Revano juga menceritakan ulang tentang percakapan yang dia dengar dari Bams dan Tara pada hari yang sama secara tidak sengaja. Tidak sengaja menguping itu. Revano menceritakan tentang hari itu dan tekadnya yang kuat untuk tidak merugikan siapa pun lagi.
“Gua nggak tau kalau si jutek yang dimaksud Bang Bams itu si Aya, Kel. Gua bener-bener nggak pernah tau dan nggak pernah cari tau tentang si Aya semenjak fokus dengan band. Gua bener-bener fokus dengan tekad untuk yakinkan Ayah dan Bunda terhadap impian gua, Kel.”
__ADS_1
Mikel terbungkam. Nuraninya mulai menguasai seluruh alam pikirannya. Belum lagi suara karibnya yang benar-benar putus asa saat menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
Apalagi yang harus dia perbuat agar membuat Revano tersadar?
Awalnya, Mikel hanya iseng dengan sok marah-marah dan naik pitam sebelumnya sampai menarik kerah baju laki-laki itu. Namun, setelah tanpa sengaja membuat Revano menggutarakan kejujurannya hari ini, Mikel seakan mati kutu.
Dia tidak menyangka jika Revano yang di kenal banyak berubah, salah satunya merubah sifat cerobohnya dengan sifat penuh pertimbangan.
Kepalanya menoleh ke samping kiri dengan raut sok sangar. “Duduk anjir! Dikira aing udah ngebabuin elo. Duduk di sana!” perintahnya.
Namun, hal selanjutnya yang dilakukan Revano benar-benar membuat Mikel tidak habis pikir. Dia tercengang dengan apa yang dilakukan Revano saat ini.
Dia berlutut, lebih tepatnya bersimpuh sambil menatap putus asa ke arah Mikel yang terduduk dengan mulut menganga.
“Kel, gua mohon. Gua juga nggak mau si Aya kenapa-kenapa kalau sampai gua kalah dari tantangan ini. Soal taruhan duit dan posisi gua nggak peduli. Gua peduli tentang Aya. Dia nggak boleh deket sama bajingan kayak Bang Bams,” ungkap Revano. “Gua … gua pengen lindungi Aya kali ini.”
Mikel terlonjak dari duduknya. “Vano!” Mata bulatnya membeliak. “Gua bilang duduk di kursi lo, ya, lo harus duduk anjir! Lo kok jadi belegug, sih?”
Revano menunduk. Dia mulai tunduk dengan bentakan dari sahabatnya. “Iya, belegug karena gua mencoba meyakinkan elo! Soalnya lo nggak bakalan pernah percaya dengan omongan gua. Lo nggak pernah percaya, Kel ….” Membela diri atas kelakuan tidak terpujinya barusan.
Mikel mengacak rambutnya frustrasi. “Ya, nggak gitu juga anjir! Aing malu. Kita diliatin orang-orang sekarang,” berang.
...a/n:...
...Naon sok?...
Alurnya bagaimana sih, Nas?
Sejujurnya aku bikin alur loncat-loncat. Entah loncat ke tiga hari mendatang atau seminggu, bahkan sebulan. Akan tetapi, terkadang Nanas buat satu chapter ini saling terhubung satu sama lain. Lanjutannya begitu.
Nanas hanya ikuti insting dan imajinasi ketika sedang menulis. Btw, ide dari cerita ini tuh berasal dari karya lama yang Nanas rombak. Karya lama sendiri sudah tidak Nanas publikasikan karena nggak mau aja.
__ADS_1
Lalu, Nanas datang ke NovelToon. Puberty pun hadir.