
Mikel Kurniawan Rahadi dikejutkan dengan kabar yang tidak akan pernah dia sangka. Kembalinya ketua Medali yang pergi karena harus rehabilitas pasca tragedi dua tahun lalu membuatnya waspada.
Dia membuka grup pesan yang dia sendiri enggan bergabung, tetapi dia merupakan salah satu anggota perkumpulan itu sendiri. Jadi, dia hanya membuka, menyimak pesan sapaan, dan sambutan yang—pura-pura—hangat di sana. Mikel tahu sendiri beberapa anggota yang menyapa hangat pernah menggunjingkan si Ketua.
Kemudian, Mikel berpaling dari grup. Dia mencari satu nama. Setelah itu dia mengirimkan pesan berisi pertanyaan dan tanggapan dirinya mengenai keramaian di grup. Mikel memang masih SMP, bergaul dengan perkumpulan yang lebih banyak mudarat dibandingkan manfaatnya adalah pergaulan yang salah, tetapi bukan itu tujuannya bergabung ke dalam perkumpulan ini.
Mikel sengaja masuk lantaran menjadi lebih populer setelah dia bergabung, sehingga tidak ada alasan baginya untuk keluar. Secara bahasa kasarnya, Mikel Kurniawal Rahadi hanya numpang nama di sana. Mikel mendapatkan balasan secepat topan menyapu bumi.
Zeezee turunan Konoha asli
|Terus gua harus gimana?
|Diemin aja kali
|Kalo dia butuh juga entar dateng sendiri
|Biarin aja anak-anak pada sambut bapak mereka yang baru balik rehab
|Sebenernya Jehan udah selesai rehab sembilan bulan setelah dikeluarin dari sekolah
|Tapi dia ngilang kagak tau kemana
Mikel membacanya, lalu dia tidak berniat membalasnya. Nggak habis thinking, gumamnya di dalam hati.
Mikel segera meredupkan ponselnya dan memilih untuk belajar. Malam ini memang malam minggu, tetapi dia memilih untuk belajar.
Mempelajari polah tingkah Hanalya yang dengan tanpa alasan selalu membencinya, bahkan kebaikannya selalu dibenci perempuan cerewet satu ini. Mikel bisa mempelajarinya. Dia kembali mengakses ponselnya dan mencari sebuah nama, yaitu Hanalya.
Namun, belum juga dia selesai mengetik untuk dikirim kepada Hanalya, satu notifikasi yang muncul dari grup itu membuat laki-laki keturunan Meksiko ini menggelapkan wajahnya.
Diduga salah satu anggota grup menyematkan namanya, semacam fitur pemanggil anggota. Mikel segera menyelesaikan ketikan untuk dikirim kepada Hanalya. Setelah selesai, dia benar-benar membuka grup yang sebenarnya sudah membisu selama beberapa bulan lalu.
Medali Base (43)
Bayu S. : Kepada pentolan @Zico Mahardika @Mikel Kurniawan @Wisnu Wirawan @Gio Priawan @Hardi Luman @Filo Baskara @Faris Rakabumi @Devan Valentino @Kevin Angkasa silakan dikenalkan kepada anak didik kalian selama @Jehan masih sempetin buka grup.
Jehan Ghautama : Oh, ada pentolan baru. Sebutin nama lu pada kecuali @Zico Mahardika @Gio Priawan @Filo Baskara selain mereka buat lu pada jangan lupa save gua, Jehan Ghautama ketua Medali sebelum @Zico Mahardika
Mikel hanya menyimak. Dia pernah sekali bertemu Jehan sebelum akhirnya dia memutuskan bergabung dengan Medali. Dia beralih melihat profil pada nomor bernama Jehan itu dan melihat foto yang dipasang laki-laki yang dia kenal sebagai kakak kelas, dan laki-laki yang dia kenal berdasarkan cerita dari Zico.
Jehan Ghautama : Kapan-kapan party di markas luar, jangan di sekolah mulu lo pada kumpul. Gimana kalau tujuh hari dari sekarang? Tempat bebas, kalo ada yang mau sarankan tempat soklah.
__ADS_1
Mikel tidak berminat. Jadi, dia memilih menghabiskan waktunya dengan bertukar pesan bersama Hanalya yang menunjukkan kemarahan dengan berbagai stiker lucu di matanya, padahal stiker yang dikirimkan Hanalya itu dominan penuh dengan warna merah alias penuh amarah dan kekesalan. Mikel terkekeh sendiri.
Mikel Kurniawan : Besok jalan, kuy
Hana si cerewet : Ke mana?
Mikel Kurniawan : Iya atau nggak nih?
Hana si cerewet : Iya mau, tapi ke mana, Le?
Pada hari minggu Hana turut Mikel ke kota naik kuda besi, Hana duduk di belakang, karena Mikel yang berkendara. Berani-beraninya Mikel meminta izin seorang brigadir untuk mengajak main berdua anaknya ke kota. Hanalya tidak habis pikir dengan apa yang Mikel rencanakan di dalam otak penuh keusilannya.
Hanalya memukul bahu Mikel dari belakang. Kesal. “Mau ke mana, sih? Dari chat semalem sampe ngobrol sama Ayah tadi, nggak ada petunjuk lo mau ajak gue ke mana. Bilang, Le. Bilang!”
“Ke tempat rahasia,” jawab Mikel.
“Eh, kita ini masih esempe. Kata Ayah, lo seharusnya nggak berkendara motor kalo belom punya SIM!” peringat Hanalya mengutip kalimat sang ayah.
“Boro-boro SIM, KTP aja belom,” cibirnya.
“Iya, entar parkir di parkiran umum, deh. Habis dari sana kita jalan kaki ke tempatnya.”
Bukannya ke tempat parkiran umum yang Hanalya bayangkan, Mikel malah berhenti di depan gedung kafe yang berada di sekitar Jalan Braga. Hanalya hapal betul daerah ini, kafe yang berdiri di depannya, dan apa yang membawa Mikel mengajaknya kemari.
“Eits! Jangan salah sangka. Ke sini juga sama pentingnya dengan belajar. Tentang Fanya. Gua mau ngobrol face to face sama lo berdua, di kafe, sekalian gua kenalin temen gua juga yang berhubungan sama si Aya.”
Hanalya mendengus. Dia segera berjalan meninggalkan Mikel yang masih duduk di atas motornya, sementara Hanalya berjalan masuk dan segera mencari tempat, tetapi sebelum duduk dia menghampiri kasir untuk memesan dan membayar langsung pesanannya sendiri.
Setelah duduk, Hanalya geram lantaran Mikel malah menghampiri meja sekumpulan laki-laki yang duduk di kursi paling pojok, yang lebih membuatnya geram adalah keberadaan laki-laki menyebalkan itu. Daripada dia mati kebosanan di sini karena ditinggal Mikel, Hanalya mencoba menghubungi Fanya.
“Kalo bukan karena dipaksa ikut sama si Bule, nggak mau tuh ikut dan nongkrong di sini!” Menggerutu sambil mengetikan beberapa kata berupa ajakan.
Hanalya berharap Fanya mau menemaninya nongkrong bersama bule Meksiko yang nyunda abis. Namun, status pesan yang telah dikirimkan hanya berupa centang satu. Biasanya jika pada hari libur begini, Fanya selalu mengaktifkan ponselnya.
Hanalya melihat jam, pukul 11.12, biasanya Fanya aktif.
Beberapa menit ke depan barulah Mikel menghampiri Hanalya. Dia menggelapkan wajahnya. “Han, apa Fanya cerita ke lo tentang beberapa hal?” tanya Mikel.
“Beberapa hal yang kayak gimana, Le?”
“Kayak masa lalunya, masa kecilnya, atau cerita tentang temen dia gitu.”
__ADS_1
“Nggak ada. Dia selalu nggak mau jawab kalau ditanya soal begituan. Gue aja tau kalian pernah satu sekolah, ya, dari lo, Le.” Hanalya menyedot minumannya.
“Dia pernah sih ceritain tentang si iseng keempat belas, tapi itu karena gue yang mancing dia. Soalnya waktu itu si iseng ini neror si Neng dengan pesan-pesan nggak penting.”
Mikel mengangguk antusias. “Begitu, ya. Kalo soal hubungan si Aya sama si iseng itu gimana?”
Hanalya melirik ke arah meja yang ada di pojokan sana, matanya bersibobrok dengan orang yang tepat.
“Kayaknya memburuk, soalnya si Neng bilang dia udah berhenti kirimin spam. Syukurlah, setelah punya niat yang buruk, akhirnya dia gugur juga karena niat dia sendiri. Syukurlah si Neng nggak kemakan omongan cowok macam dia.”
Matanya melebar, masih menatap pada objek yang sama ke sana, dia bermain perang mata dengan Revano yang menatapnya dengan jenaka.
Revano tahu jika perempuan yang diajak Mikel adalah teman baik Fanya di sekolah, dia merasa berkebutuhan untuk menyenangkan orang-orang terdekat Fanya mulai sekarang karena dia juga sudah berbaikan dengan Fanya. Dia tersenyum lebar dan tulus kepada Hanalya. Namun, reaksi perempuan itu hanya merengut sambil menatap kembali kepada lawan bicaranya di sana.
“Sebenernya, gua nggak mau kasih tau lo duluan kalo Fanya sendiri nggak kasih tau lo,” katanya, “lebih tepatnya, Fanya nggak mau libatin lo sama masalah dari masa lalunya."
“Apa? Kalo tentang Fanya gue mau tau, nggak peduli kalo dia sendiri nggak pernah kasih tau gue. Jadi, ada apa, Le?”
Mikel masih ragu, tetapi dia harus mengatakan hal ini karena akhir-akhir ini melihat Fanya menjauh dari Hanalya adalah sesuatu yang aneh di sekolah. Mikel hanya ingin Fanya dekat dengan satu orang saja, dan yang paling potensial adalah Hanalya.
“Si Aya dan cowok yang lo sebut berlagu itu …,” ucapnya pelan-pelan.
“Ada apa sama mereka?”
Mikel menghela napas panjang. “Mereka temen masa kecil.” Kemudian menyunggingkan senyuman lebar dan percaya diri.
“Apa? Mereka itu … mereka temen masa kecil? Kok bisa? Kok Fanya nggak cerita sejak awal, sih!”
Sungguh meledak-ledak. Dia menatap ke arah laki-laki itu di sana. Menatap penuh kerutan pada mata, dan dahi.
“By the way, akhir-akhir lo jarang ajak Fanya ke kantin. Terakhir kali kalian ke kantin bareng tuh pas kejadian si Starla-Starla itu. Ada apa?”
“Kayaknya gue tau kenapa Fanya jarang ke kantin, dia nggak mau diajak ke kantin bareng lagi. Dan, alasannya karena dia. Fanya pasti asyik chating sama cowok berlagu itu dibandingkan ikut gue ke kantin!”
Mikel berbalik, menatap ke belakang yang mana ada Revano sedang asyik dengan ponselnya. “Si Aya jarang bawa henpon lagi ke sekolah sejak lama. Sepengamatan gua, pas kejadian di kantin yang bikin dia basah kuyup itu … Aya bener-bener menjauh dari lo. Kalian ada masalah, ya?”
“Alih-alih tanya gue yang nggak tau, coba lo kondisikan para penggemar gila lo itu untuk nggak gangguin Ratu pararel kita yang terhormat. Bener, sih, sejak kejadian di kantin yang bikin dia basah kuyup itu beneran bikin dia jauhin gue. Kayaknya gue perlu kasih pelajaran sama mereka!”
“Gue mau coba tanya Fanya, tapi dia nggak aktif sejak semalam.”
“Apa? Sejak semalam?” Hanalya mengerutkan wajahnya.
__ADS_1
Mikel mengangguk. “Tadinya mau sekalian ajak dia nongkrong di sini juga.”