Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
31. Baik, Mari Akhiri Ini ....


__ADS_3

Ada istilah bagi dua orang teman cerita yang berlanjut menjadi teman cinta.


Hanya saja, tidak banyak yang benar-benar berujung menjadi teman cinta sungguhan. Adakalanya hanya satu di antara keduanyalah yang menyimpan rasa tersebut sendirian, dinikmati sendiri terlebih dahulu karena jiwa pengecut yang selalu saja mendominasi keberanian.


Mungkin ada banyak kasus serupa, tetapi dua insan ini benar-benar berlanjut menjadi teman cinta setelah intens dalam relasi timbal balik.


Berawal dari ketidaksukaan yang berlanjut menjadi rasa penasaran, lalu dekat dan mulai akrab, sehingga berakhir menjadi teman cerita terbaik bahkan pemberi kritik dan saran terapik, itulah mereka.


Hubungan awal keduanya memang tidak cukup baik, tetapi semesta suka bermain dengan insan, sehingga membuat alur yang tidak terduga terjadi.


Please welcome, Zico I. Mahardika dan Fanya Fransiska. Teman curhat berlanjut menjadi teman cinta.


Pasti banyak yang bertanya-tanya, atau mungkin sudah ada yang menduga sejak awal kehadiran sosoknya?


Entahlah. Satu hal yang pasti, hubungan keduanya sudah berlangsung selama setahun. Mereka bertemu untuk kali pertama ketika di bangku kelas tujuh, pada semester dua yang menyebalkan bagi Fanya, sehingga menjadi awalan terburuk di antara keduanya.


Fanya Fransiska terlibat selisih paham dengan seorang kakak kelas yang mana satu tingkat di atasnya. Sebut saja pentolan Medali.


Medali; sebuah grup anggota anak-anak basket dan atau anak-anak minus namun berprestasi berkumpul.


Terjadi begitu saja selisih paham antara Fanya dengan seorang senior yang merupakan ketua Medali kala itu, sehingga keberadaan gadis jutek ini diadang-adang dalam bahaya.


Sebab, Medali ini dikenal dengan anggota yang suka merundung. Namun, entah ada angin segar dari mana, seorang laki-laki berparas Asia Timur menyelamatkan ‘hidup’ si gadis jutek ini.


Mereka mulai dekat ketika disatukan dalam kelas yang sama, sehingga mereka terlihat selalu bersama-sama. Walau terkadang kehadiran dua insan lain selalu memisahkan kedekatan itu sendiri. Hanalya dan Mikel adalah dua insan terdekat dari gadis bernama Fanya, si gadis jutek.


Dua insan ini benar-benar membatasi intensitas kedekatan Fanya dengan Zico. Meskipun begitu, kedekatan Fanya dengan Zico tidak mudah surut. Malahan keduanya bersepakat untuk saling acuh di  depan teman-teman sekolah namun saling memedulikan di belakang mereka.


Sampai suatu hari, Zico I. Mahardika mengutarakan segalanya.


“Ya, gua ngerasa ada yang berbeda ketika lihat lo. Gua kayak segan deket sama lo, kayak … nggak tau deh,” katanya sambil keluarkan kekehan geli.


Gadis jutek itu merenggut tanya. “Dih, karma kali. Dulu galak banget sama gue. Lo … lo sok sangar. Eh, taunya ….” Dia juga terkekeh geli ketika mengingat momen kemusuhan di antara keduanya.


“Tiap kali ibadah, gua selalu sebut nama lo di depan Tuhan. Doanya sederhana, semoga si Aya nggak jutek, semoga si Aya nggak bikin ulah lagi, semoga ….” Dia selalu deket, di samping gua misalnya.


Situasi ini agak lain bagi seorang Zico. Rasanya benar-benar berbeda. Ketika menatap Fanya dia selalu kehilangan berani ketika berhadapan dengan gadis jutek ini. Bagaimana cara mengatakannya, ya?


Zico melangkah maju, dia mengambil posisi berdiri saling berhadapan dengan gadis ini. Mereka tengah berada di ketinggian Dago, sebagai destinasi kencan antar teman, yang mereka jadikan salah satu tempat untuk menghindari kemungkinan berjumpa dengan teman sekolah. Salah satunya teman yang suka bikin rumor tidak jelas.


Sudut bibirnya tidak bisa lepas dari tarikan. Matanya bergetar tak keruan, begitu juga dengan degup jantungnya. Sirkulasi darah di dalam tubuhnya membuat Zico seakan tengah memacu adrenalin, seperti terjun bebas dari ketinggian Dago Pakar.


“Ya, seandainya orang yang selalu lo ceritain itu nggak balik lagi, atau bahkan dia bakalan balik lagi, tapi lo udah nggak seantusias itu … kalau sampai itu terjadi ….” Gugup. Perasaannya saat ini tidak keruan.


Fanya tersenyum getir. “Nggak. Gue udah memutuskan untuk lepasin dia, walaupun cuman dia yang paling ngertiin seorang Fanya ... nggak masalah.”


Sejenak, di antara keduanya hanya hening. Hanya di antara keduanya saja, sedangkan di sekitar mereka begitu riuh oleh pengunjung dan suara alam pada siang menjelang sore hari kala itu.


“Seperti yang udah gua katakan sebelumnya. Ya, lo mau nggak sama gua?”


Konteksnya sih mengutarakan namun diselingi tanya. Zico terkekeh sambil meracaukan kalimat tanya untuk dirinya sendiri yang tidak tahu harus mengatakan apa.


“Kayaknya gua suka sama lo, Ya. Nggak! Gua beneran suka sama lo. Jadi, ayo kita udahi pertemanan ini. Gua teramat sayang dan takut kehilangan lo sampai ….”


“Iko ….” Panggilan khusus ini hanya Fanya yang sebut.


“Awalnya gua nggak yakin mampu atau nggak, tapi barusan gua mampu,” ungkapnya menyanjung diri.


“Maukah kamu dengan seorang Zico Izumi Mahardika, Fanya Fransiska?” Menatap lurus pada manik hitam legam milik gadis yang dikenal jutek di sekolah. Gadis pencari gara-gara hanya sifat keras kepalanya.

__ADS_1


Situasi yang sama terjadi namun di tempat yang berbeda.


Mereka berada di dalam kafe, tentu saja kafe yang berada jauh dari radar teman-temannya untuk menghindari kemungkinan bertemu secara kebetulan. Mereka berdua selalu menghindar dari kemungkinan semacam itu agar tidak menciptakan rumor yang tidak disukai Zico.


Mari lupakan soal rumor. Dan, kini mereka sedang duduk berhadap-hadapan pada meja kafe yang berada paling pojok. Lokasi kafe berada di sekitaran Jalan Otista.


“Awalnya aku nggak ngerti kenapa kamu sebegitu teguh banget dengan kalimat laknat itu, Ya,” katanya keberatan. “Yakin akhiri hubungan kita cuman karena olimpiade yang berlangsungnya nggak selama hubungan kita ini?”


Helaan napas gusar keluar dari mulut lentik gadis jutek itu. Tidak ada senyum yang selalu Zico dapati ketika mereka memutuskan untuk kencan. Tidak ada tatapan memuja yang selalu dia lemparkan kepada Zico.


Hanya ada tatapan gelisah, bibir yang menjadi korban gigitan gigi, dan kalimat yang tak kunjung terlontar.


“Jawab, Ya. Kalo ditanya tuh, ya, jawab!” desaknya. Zico mulai frustrasi.


“Iya. Kita memang baik-baik aja selama ini, tapi aku ngerasa nggak sebegitu istimewanya. Maksudnya, aku nggak pernah rasain keistimewaan hubungan kita, pacaran, nggak ada istimewanya. Bahkan, aku merasa kalau hubungan awal kita lebih istimewa dari pacaran, Iko.”


Zico tergelak meski lirih. “Bisa nggak? Jangan mengada-ada. Ini pasti karena dia balik lagi, kan? Kalau memang iya, gapapa. Kamu tinggal jujur aja.”


“Nggak! Bukan cuman itu. Kamu bakalan olimpiade,” sanggahnya.


“Terus kenapa kamu sengaja nggak lolos seleksi? Aku udah bilang kalau sekarang raja—” Demi kulit kerang ajaib, Zico disulut api kekelasan dan kekecewaan.


Fanya muak, sehingga dia menyela, “Raja butuh ratunya kali ini, kan? Itu yang coba kamu katakan.”


“Bagus kalau kamu ingat.”


“Aku nggak bisa!”


“Kenapa?” tanya Zico. “Pasti ada alasannya, Ya. Pasti karena dia, kan? Si iseng yang keempat belas itu? Yang sering diceritain Hana.”


Fanya menggeleng lemah. “Bukan karena itu, tapi ….”


“Oke, deal, mari akhiri ini kalau memang itu yang bikin kamu tenang. Jangan sesali keputusan aku.”


Ada unsur memperingatkan di dalam kalimatnya. Memperingatkan kepada gadis di hadapannya dan memberikan kesempatan terakhir. Namun, tidak ada sanggahan atau tanggapan dari Fanya.


Zico tersenyum getir sambil menatap penuh amarah ke arah Fanya. “Baik, sebaiknya kita putus.”


“Iko ….”


“Sebelum aku anterin kamu pulang, ayo ke Gramed dan bantu cari referensi materi sains.”


Dia bangkit dari kursi yang sudah tidak bisa menenangkan pikiran dan hatinya. Kursi yang barusan dia duduki seakan mengalirkan energi panas, sehingga Zico tidak tahan lebih lama dan memilih beranjak.


Meskipun Zico sudah melontarkan kata laknat yang sebelumnya dia rutuki, dia tetap bersikap seolah dialah pemilik hati dari gadis jutek di sampingnya. Dia menggandeng tengan lentik—mantan—gadisnya di sepanjang jalan menuju Jalan Merdeka alih-alih Jalan Supratman.


Sayang beribu sayang, perlakuan manisnya kini tidak akan berefek lagi. Tidak pula dapat memperbaiki hubungan yang telah kandas karena alasan yang cukup menyebalkan bagi Zico.


Permisi, apakah pantas akhiri hubungan—sama-sama suka—hanya karena alasan klise seperti sebentar lagi akan ujian, mau fokus belajar, harus fokus olimpiade?


Sialan!


Meninggalkan agenda berbelanja buku, sampailah pada akhir dari pertemuan bernama kencan. Kencan terakhir pula. Keduanya sudah tiba di depan rumah milik keluarga Ferdiansyah.


Keduanya begitu berisik di dalam batin masing-masing dengan mata yang sama-sama saling memandang dengan harapan yang tak jauh berbeda.


Fanya yang enggan membuat Zico kesal dan berakhir tidak fokus dengan persiapan pra-olimpiadenya berharap jika laki-laki ini tidak akan merusak dirinya, sedangkan Zico dengan harapan masih bisa tetap bersama sampai hari benar-benar berakhir, sampai hari berganti namun tidak bisa.


Di teras sana sudah ada seorang laki-laki jangkung dengan kaos dan celana pendek kasual tengah menatap keduanya dengan raut datar. Dialah Kamaliel. Zico mati gaya jika kedapatan berhadapan dengan kakak dari—mantan—gadisnya ini.

__ADS_1


“Masuk, gih. Makasih untuk hari ini, makasih juga referensi bukunya. Habis ini jangan begadang. Aku pamit pulang. Sampai ketemu nanti,” ucap Zico berpamitan.


Ketika langkahnya menuju kuda besi kesayangan, iris matanya mendapati sosok lain yang keluar dari dalam rumah—mantan—gadisnya begitu sang empu berjalan masuk lebih dalam dari halaman rumah.


Perasaan yang masih rumit diberitahukan ini, perasaan tidak tahu diri ini muncul sebab sebelumnya dia pernah menjadi topik utama di dalam hati gadis itu. Dalam artian, Zico cemburu.


“Aya!” seru seseorang keluar dari persembunyiannya. “Baru pulang selarut ini? Ke mana aja? Vano nungguin tau.”


Reaksi samar yang ditunjukkan—mantan—gadisnya membuat Zico berpikiran bahwa dia seharusnya tidak perlu sok menahan keinginan Fanya untuk memutuskan jalinan kasih di antara keduanya.


Zico memandangi punggung Fanya yang semakin mendekat ke arah laki-laki itu, sehingga tampak semakin menjauh darinya. Zico begitu berat melepaskan Fanya, tetapi gadis itu begitu mudah melupakan kehadiran Zico di sini.


“Ngapain jam segini ada di rumah gue?”


“Emangnya nggak boleh, ya? Padahal dulu Vano sering pulang di atas jam sembilan kalau main ke sini. Lagian rumah kita sebelahan ini, Ya.”


“Terserah! Lo bukan tamu gue lagi. Lo orang asing di hidup gue,” tegas Fanya. “Kang, tolong kasih tau tamunya untuk nggak usah sok kenal sok deket sama adek cantik satu-satunya, ya. Aya capek, jangan ganggu, makasih.”


Akhirnya Zico tahu. Ternyata memang benar bukan karena siapa-siapa Fanya meminta mereka berpisah, ternyata memang benar juga karena Zico harus fokus olimpiade dan tidak perlu sebegitu mengkhawatirkan—mantan—gadisnya, karena gadisnya tahu bagaimana harus bersikap.


Tanpa sadar, Zico tersenyum senang dengan balasan Fanya terhadap laki-laki yang tidak asing dari ingatannya.


“Oke, Iko bakalan fokus persiapan olimpiade seperti maunya Aya. Iko bakalan bawain piala juara satu dan dedikasikan buat Aya. Iko janji!”


Dan, hari pun berganti. Meninggalkan seberkas kenangan, tragedi, dan komedi kehidupan dalam satu kata bernama kemarin.


Esok adalah masa depan. Masa depan ditentukan oleh pertimbangan masa kini. Lusa adalah bentuk ketidakpastian, tetapi masih bisa kita atur bagaimana baiknya, kalau kita senantiasa memulai perencanaan pada saat ini juga. Mari lupakan soal hari-hari agar kita bisa sampai pada kesimpulan akhir.


Bahwasanya, hubungan Fanya Fransiska dengan Zico I. Mahardika adalah benar, mereka ini sepasang raja dan ratu. Mereka adalah juara pararel yang selalu diikutsertakan dalam lomba atau olimpiade antar sekolah.


Raja dan ratu pararel adalah gelar kehormatan yang diberikan langsung oleh perwakilan siswa agar mudah mengenali seorang yang berbakat yang mengharumkan nama baik sekolahnya.


“Kita masih bisa berteman dan menjadi rekan berlomba yang baik, kan? Untuk beberapa bulan tersisa,” tanya Zico sebelum mereka benar-benar memutuskan pulang dari kencannya.


Fanya mengangguk tanpa mau bersitatap dengan Zico. “Hem, iya.”


“Oke. Aku pastikan Medali nggak bakalan tau hal ini supaya kamu nggak kenapa-kenapa.”


“Gapapa. Aku yang usik kalian, jadi gapapa kalau—”


“Aku yang gapapa. Tindakan Medali itu nggak bisa dibenarkan dan dimaklumi.”


“Iya, deh. Kamu, kan, ketua Medali yang baru,” cibir Fanya.


“Gimana kalau ada rumor tentang hal ini?”


“Dibiarin aja, Iko. Lagian nggak akan ada yang percaya kalau bukan datang dari mulut kita sendiri yang kasih tau ke mereka.”


“Oke, deh, si paling jutek. Ayo, ke Dago sebelum aku antar pulang.” Ke tempat pertama hubungan mereka dimulai. “Kalau butuh temen curhat, jangan sungkan datang kepada Zico Izumi Mahardika, ya, Fanya Fransiska.”


Fanya memasang senyum. “Makasih, Zico Izumi Mahardika.”


Pertemuan yang tak terduga di antara Fanya dan Zico, kebersamaan yang menyenangkan, hingga banyaknya hal yang sama di antara mereka.


Semuanya berjalan mulus dan baik-baik saja sejak pertemuan pertama, layaknya takdir semesta yang mempertemukanmu dengan Fanya.


Rasanya tuh seperti … Zico sangat bersyukur dipertemukan dengan Fanya, sehingga pada akhirnya Zico dibuat nyaman, Zico jatuh hati, dan Zico juga mulai menyayanginya. Namun ternyata, mereka tak akan bersama lebih lama.


Kisah kasih mereka usai di sini. Begitukah?

__ADS_1


__ADS_2