Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
16. BBM, Misyu, dan Flashdisk


__ADS_3

Fanya dan Hanalya sadar dengan ritme langkah keduanya yang memelan itu segera melangkah tergesa, tetapi keduanya juga sama-sama penasaran dengan argumen apa yang tengah dua insan itu bahas. Ketika mereka berhasil melewati dua insan itu dan segera berbelok menuju pintu masuk kafe, mereka sontak berhenti.


“Ka, gimana dong? Aku nggak mau kalau sampai Mama tau hal ini,” kata cewek itu sambil mengusap air matanya.


Cowok ini, Revano, menghela napas kasar. “Gimana pun juga ini udah kejadian. Ya, udahlah mau gimana lagi, nanti Kaka bantu kamu buat jelasin ke Mama soal ini. Bukan salah kamu aja kok, Kaka juga salah. Maaf udah bikin kamu ada di posisi sulit gegara khilaf. Kaka ikut tanggung jawab, ya, Chey.”


Revano mengulurkan tangannya dan meraih tangan cewek yang sedang berdiri itu. Mengusap punggung tangannya dengan lebut. “Percaya sama Kaka, kita bakalan hadapi ini sama-sama. Kaka sayang sama Chey. Semangat!”


...----------------...


Hanalya memutuskan untuk bertanya kepada Kyla soal kejadian yang dia lihat sore tadi melalui DM di Instagram. Hanalya jadi curiga kalau sebenarnya Revano itu bukan cowok baik-baik, terlebih gadis ini sudah menyematkan laki-laki itu sebagai cowok berlagu.


Jangan-jangan memang benar adanya seperti itu?


[Kyla, kemarin aku ke kafe yang kita datangi dan lihat pacar kamu pegangan tangan sama cewek lain. Mana cakep, tapi rada bulet sih badannya. Sebenernya, yang pacaran sama cowok band TXT itu kamu atau jangan-jangan kamu cuman mau gertak aku?]


[Jawab, La!]


Terkirim!


...----------------...


Di sisi lain, ada seseorang yang mati-matian menahan senyumnya. Kamaliel melangkahkan kaki jangkung miliknya untuk menaiki satu per satu anak tangga sambil memegangi benda pipih canggih itu, benda yang tidak berhenti mengeluarkan nada notifikasi. Sambil berdecak, tetapi juga sudut bibirnya terangkat naik membingkai senyuman. Kamaliel ingin sekali tertawa terbahak-bahak namun bukan seperti itu cara bermainnya.


Bukannya mengetuk pintu, Kamaliel malah berteriak dengan nada yang keras dan menyentak. “Ya, Aya!”


Kamaliel tidak mendapatkan sahutan dari si pemilik ruangan, makanya dia dengan berani menarik kenop pintu tanpa takut akan kena omelan. Begitu memasuki ruangan adiknya satu langkah saja, Kamaliel tidak mendapatkan siapa pun berada di dalamnya. Padahal hari sudah mulai larut malam.


Ke manakah perginya Fanya, adiknya?


Kamaliel menarik ponsel yang mana bukan miliknya itu untuk memandangi kembali sebuah teks yang tertera dalam sebuah percakapan. Itu ponsel milik Fanya yang tertinggal di meja dapur. Kebetulan yang menguntungkan saat Kamaliel hendak meninggalkan dapur setelah selesai mengisi gelasnya, dan pada saat itu dering notifikasi dari ponsel Fanya berdenting sehingga menarik atensinya.


[WhatsApp]


+62 839-xxxx-0143

__ADS_1


Blokir | Tambah


|Aya?


|Masa iya pertemanan kita berakhir kayak gini sih?


|Yakin kamu mau akhiri pertemanan kita dari orok dengan tanpa alasan?


|Aya, cermati baik-baik ya


|Aku setuju-setuju aja kok kalau harga BBM makin mahal, asalkan senyum kamu tetap murah untuk aku.


|Aya?


|Aku mau cerita, tadi ada mobil pemadam kebakaran lewat pas aku baru aja selesai manggung di kafe, suaranya aneh banget


|Suaranya, ‘misyu, misyu, misyu’


Kamaliel nggak bisa untuk nggak tertawa sih ini. Dia mati-matian nahan senyumnya cuman karena gombalan receh yang adiknya dapatkan dari seseorang yang ternyata tidak dia simpan kontaknya. Meski begitu, Kamaliel tahu si pengirim dari gombalan itu siapa.


“Hahaha. Adiknya si Fasya itu emang terniat sih,” celetuknya, “bisa dapet dari mana lagi nih bocah kontak si Aya?”


Kamaliel itu meski awalnya rada marah kepada Revano, tetapi dia juga yang ajakin Revano untuk ngebikin atau ngebalikin sifat terdahulunya si Fanya.


Sedangkan itu, di gerbang belakang kompleks perumahan ini, di area tukang dagang mulai dari tukang bakso sampai tukang martabak pada nangkring di area gerbang belakang. Padahal bisa aja para pedagang itu bikin stan di gerbang depan atau di taman tengah area perumahan ini, tetapi katanya merasa lebih aman berada di area gerbang belakang karena alasan keindahan alamnya. Kalau malam tuh suasananya candu dan bikin rileks.


“Mang, cepetan atuh! Punya saya kok malah ditunda-tunda mulu demi pembeli yang baru datang?” Di sinilah Fanya berada. Berada di dalam salah satu stan jajanan malam favorit siapa saja, martabak.


Mamang tukang martabak segera merespon. “Eh, sabar, Neng. Mereka itu bukan langganan saya. Tenang, pesanan Neng sama Mamang dikasih ekstra tanpa tambahan biaya deh!”


Fanya mencebik. “Ya, udah, tapi harus cepetan, ya! Ini pesanan Mama, takutnya Mama ngira saya nggak jadi beli martabak dan berakhir dikunciin.”


Mamang tukang martabak itu mengacungkan jempolnya meski dia sibuk dengan pekerjaannya. “Duduk dulu atuh, Neng. Nanti Mamang panggilin kalo udah beres.”


Gadis dengan penampilan rumahan itu menatap langit malam yang sedikit sekali bintangnya. Tubuh kecilnya tertutupi jaket bertudung berwarna hijau tosca dengan sablon bergambar logo dari grup favorit dia. Ensiti.

__ADS_1


Dia juga memakai celana yang panjangnya selutut di tengah udara dingin pada malam hari, Fanya nekat banget dengan outfit rumahan seperti itu pada malam-malam begini. Ya, walaupun tidak ada salahnya juga ketika keluar rumah yang mana jaraknya tidak terlalu jauh.


“Kirain beneran dicuekin, ternyata lagi jalani misi dari Mama, ya?” celetuk seseorang.


Awalnya Fanya tersentak, begitu ia mengenali suara itu sontak membuatnya menghela napas jengah.


“Lagi-lagi!” Suaranya tertahan di mulut alias menggumam kesal.


Siapa lagi kalau bukan Revano. Laki-laki itu segera mengambil posisi duduk di samping kanan perempuan yang tengah dia cari. Sebenarnya, Revano sengaja menghampiri Fanya kemari karena mendapatkan informasi jika perempuan ini tengah keluar rumah untuk suatu alasan bernama disuruh.


Revano terdiam untuk sesaat. Dia menghela napas, kemudian menoleh ke sampingnya. “Ay, flashdisk aku masih ada di kamu, kan?” tanyanya. “Eh, tapi itu udah jadi hak milik kamu, sih.”


Tanpa menoleh sedikit pun, dia merespon begitu ketus. “Apa sih nggak jelas!”


Revano tersenyum tipis. “Pinjem dong,” pintanya tiba-tiba.


Sontak ucapan laki-laki itu membuat Fanya menoleh sambil menaikkan alisnya. “Apa? Pinjem apa?”


Revano mengangguk. “Hm, pinjem flashdisk kamu, untuk transferin ulang keceriaan yang udah kamu buang tiga tahun lalu. Untuk transfer kekosongan waktu kamu selama itu tanpa aku di sini,” katanya, “Ay, Vano minta maaf karena udah pergi ninggalin kamu tanpa kabar yang jelas tiga tahun lalu.”


Fanya memiringkan kepalanya, begitu juga dengan ukiran senyumnya. “Minta maaf setelah berbuat dosa rupanya? Emangnya ada jaminan bakalan terhapus dosa-dosa itu, ya?”


Fanya tahu jika Revano pasti akan langsung sadar dengan apa yang dia maksudkan dalam kalimatnya barusan. Fanya menyinggung perihal percakapan antara Revano dengan seorang perempuan yang menangis-nangis tadi sore.


“Iya, aku minta maaf.”


“Kenapa minta maaf sama gue?” Meninggikan intonasi bicara. “Harusnya lo nggak usah datang ke gue kalo pada akhirnya lo udah bikin kehidupan cewek lain hancur, Van!”


Lucunya, Revano mulai kebingungan. Sementara itu, Fanya dengan keyakinannya bahwa Revano telah—intinya Revano dan perempuan yang menangis tadi sore di depan kafe tempat band cowok itu manggung … ya intinya seperti itu.



**Sejujurnya, Fanya itu salah paham. Salah paham nggak sih?


Kira-kira kebenarannya seperti apa, ya?

__ADS_1


Lanjut**?



__ADS_2