
Fanya mengantuk. Di dalam kelas dia membaringkan kepalanya pada atas meja. Di sampingnya ada Hanalya yang asyik dengan aktivitas menyalin rangkuman materi—sebenarnya dia menyontek—tentunya dia dapatkan dari Fanya yang kapan hari terjebak dengan tumpukan tugas. Fanya memang sengaja merangkum seluruh materi mata pelajaran tanpa menunggu perintah dari gurunya, sehingga aksi ini dicontoh Hanalya.
Hanalya mencuri pandang ke arah Fanya yang membelakangi dirinya. Waktu istirahat kali ini mereka menghabiskan waktu di dalam kelas ketimbang nongkrong di perpustakaan. Usulan ini berdasarkan bujuk rayu Hanalya yang sedang malas bergerak. “Kamu kenapa loyo gitu, sih?”
“Ngantuk. Semalam nggak bisa tidur.”
“Tumben? Ada drakor baru lagikah?”
“Iya. Ketika balas chat kamu aja ngantuk, tapi selesai baca komik jadi melek lagi. Cuman, bukan karena nonton drakor sih.” Fanya merubah posisinya menjadi menghadap ke samping kanannya.
Berhadapan dengan Hanalya yang masih sibuk menyalin materi bagian sejarah. Fanya ragu memberitahukannya kepada Hanalya, walaupun gadis itu adalah sahabatnya, tetapi Fanya tidak seterbuka itu terhadap Hanalya. “Aku nggak mau ikut olimpiade.”
“Apa? Kenapa tiba-tiba ….”
“Bisa nggak, ya? Aku batalin aja ikut olimpiade sains, mana tingkat nasional pula!”
“Nggak bisalah!” jawab Hanalya. “Mau diganti sama siapa coba?”
“Kamu. Kamu, kan, rangking tiga.”
“Aku rangking lima kalau cakupannya rangking umum, di kelas sih iya. Di umum aku rangking lima, bahkan kayaknya bakalan turun lagi.”
“Rangkingmu turun, Han?” Mendengar seorang Hanalya yang merendahkan dirinya membuat Fanya terheran.
Tentu saja, tidak biasanya seorang Hanalya yang biasanya selalu optimis akan segala hal—Hanalya menganggap akademik bagai pohon yang harus dia rawat dan jaga dari hama bernama kemalasan—bahkan gadis itu tak pernah absen menghadiri kelas tambahan. Nilai-nilainya di seluruh mata pelajaran juga memuaskan, walaupun tetap saja dia kalah saing dari Fanya.
Dari segi kerajinan, mungkin Hanalya pemenangnya, kedisiplinan juga. Namun, Fanya satu angka lebih unggul dari Hanalya. Fanya seakan dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata namun masih ada Zico di atas Fanya.
Fanya menyipitkan kedua matanya. “Apa mungkin … kamu lagi suka sama seseorang? Kamu nggak mau gantiin aku dan berdalih mengatakan hal itu supaya bisa deket dia terus, ya?”
“Apaan, sih!” Hanalya tidak mengerti mengapa Fanya melontarkan kalimat seperti itu, tetapi jawabannya sudah pasti tidak. “Aku cuman nggak mau temenin raja pararel kita sebagai selir, cukup ratunya aja yang temenin raja ke medan pertempuran.”
Fanya terdiam, sementara Hanalya kembali melanjutkan ucapannya sambil menatap kosong pada buku catatan Fanya, yang kemudian dia menoleh ke arah Fanya seutuhnya.
“Apa mungkin kamu ada yang ingin disampaikan, Neng?” tanyanya. Bukan tanpa alasan. Ada satu alasan namun Hanalya enggan mengakuinya.
“Ya, siapa taukan?”
“Nggak ada.”
Hanalya mengerutkan wajah, lalu ekor matanya mendapati keberadaan seseorang.
Di pintu terdapat seorang laki-laki sedang bercengkerama dengan laki-laki lain. Ternyata mereka membicarakan seorang gadis yang dicari oleh guru matematika mereka. Katanya, Bu Ida mencari Fanya, beliau menunggu gadis itu di ruang konseling. Namun, alih-alih menjadi perantara, Mikel mempersilakan laki-laki itu masuk dan menghampiri Fanya secara langsung.
“Masuk aja. Dia ada di dalam, samperin aja.”
Mikel memiliki satu tujuan. Memastikan apakah benar rumor—ucapan yang dia dengarkan—kapan hari di perpustakaan itu benar atau tidak. Biasanya jika dua orang yang telah mengakhiri suatu hubungan itu enggan untuk saling bertemu, bertegur sapa, dan atau tak sengaja bertemu itu akan menunjukkan ketidakmauannya. Dan, Mikel ingin memastikan kebenarannya.
Fakta bahwa Zico si raja pararel dari Margayu itu ngebet terhadap ratunya adalah sebuah rumor belaka, sehingga membuatnya menganggap kedekatan dua insan itu sebagai teman bertempur di medan olimpiade dan lomba saja, tetapi apa yang dia dengarkan hasil dari menguntit kegiatan Fanya kapan hari itu ternyata bukan rumor belaka, yang pada akhirnya membuat dia ingin banyak memastikan. Dapat dipastikan jika dua insan muda itu akan saling membenci setelah percakapan menegangkan kapan hari.
“Harusnya aing sebarin aja nggak sih kabar itu?” gumamnya sambil berjalan meninggalkan kelas. “Emangnya siapa yang bakalan percaya? Bener kata Nunu, alih-alih kabar dating, yang mana sangat dinantikan warga Margayu, rumor—maksudnya fakta bahwa Raja dan Ratu putus itu … bullshit.”
Kepergian Mikel dari hadapannya membuat dia mengernyit bingung. Pasalnya, tidak biasa seorang Mikel yang culametan dan suka menjegal langkah Zico menuju Fanya, tiba-tiba hari ini mengizinkannya untuk masuk begitu saja. Namun, itu tidak penting. Perintah dari Bu Ida lebih penting daripada perubahan sikap Mikel yang sudah aneh sejak awal. Syukurlah kalau laki-laki itu pada akhirnya menyerah untuk menjegal Zico.
“Fanya, Bu Ida panggil, katanya ini tentang seleksi olim,” katanya begitu tiba di meja Fanya.
“Fanya tidur, Zi.” Hanalya menoleh ke sampingnya dengan tatapan penuh arti.
“Iya, aku bakalan pergi. Silakan duluan, Zi.”
“Ya, udah. Gua duluan kalo gitu.” Zico berbalik dan meninggalkan meja dua gadis yang posisinya sama dengan primadona Margayu.
__ADS_1
Zico melirik sejenak meski langkahnya terus maju, pikirannya tak lepas dari nada bicara Fanya barusan.
“Dia masih marah, ya?” tanya Zico dengan lirih.
Pintu ruang konseling terbuka. Setelah perbincangan yang cukup serius, akhirnya mereka dapat keluar, dan tebak siapa yang keluar lebih dulu?
Fanya keluar lebih dulu dari Zico dan Bu Ida. Lebih tepatnya, dia diperkenankan untuk keluar lebih dulu karena satu hal. Namun, bukannya murung atau lainnya, perlahan wajah tanpa ekspresinya mulai berseri. Dia menunduk, lalu terkekeh sambil sesekali menyematkan anak rambutnya ke belakang telinga.
Aksi gadis itu dipergoki oleh seseorang, lantas dia segera menegurnya.
“Kenapa senyum-senyum kayak gitu?”
Tubuhnya menegang, bahkan ia sedikit terlonjak sampai punggungnya menyentuh pintu ruang konseling. Wajahnya yang berseri tiba-tiba menegang.
“Asta … ga.”
Refleknya cukup baik, dia tidak sampai latah. Sudah sepatutnya, sebab dialah Fanya Fransiska si jutek. Tidak mungkin jika hanya karena terkejut dia berteriak kencang. Tidak akan semudah itu.
Orang itu terkekeh. “Kenapa senyum-senyum gitu, Fan?”
“Ng–Nggak ada. Cuman pengen aja,” kilahnya, lalu bergumam di dalam hati, berabe kalau ketahuan seneng. Entar dikira sengaja, padahal emang udah jalan takdirnya aja nggak jadi.
“Kamu mau masuk ke dalam, ya, Nu?”
Wisnu tersenyum sambil mengangguk. “Entah kenapa tiba-tiba dapet perintah menghadap Bu Ida di ruang konseling.”
Fanya hanya mengangguk-angguk. Dia paham mengapa dia dipanggil kemari. Tidak heran, sih, jika Bu Ida memanggil laki-laki good loking ini. Wisnu ini kandidat pesaing rangking bersama Zico sebelumnya, tetapi Zico lebih unggul dari Wisnu sehingga Zico yang memenangkan posisi sebagai si nomor satu.
Selain itu, di antara Zico dan Wisnu dipisahkan oleh keberadaan Fanya sebagai si nomor dua. Meskipun nomor dua, Fanya juga menjadi pesaing kuat bagi Wisnu dan Zico. Dan, semuanya terjadi begitu saja ketika Zico dan Fanya bersatu dalam perlombaan, mereka selalu menang dan warga Margayu selalu menyebut mereka pasangan serasi. Sampai pada akhirnya, Fanya dinobatkan sebagai ratu pararel dan Zico sebagai rajanya.
Apa jadinya jika Fanya tidak berada di antara Zico dan Wisnu?
Apakah gelar raja, ratu, dan lainnya tidak akan disematkan, ya?
Fanya memasang senyuman namun tidak berseri. “Silakan masuk, Nu. Aku pamit,” katanya, mempersilakan sambil menyingkir dari depan pintu.
Langkahnya perlahan menjauh, dia akan berjalan menuju kelasnya melalui lorong yang berbeda dari sebelumnya. Ada setitik rasa asing yang mengganggunya, tetapi Fanya tetap teguh dengan kesungguhannya.
“Dia lebih baik. Dia lebih berpotensi dari aku. Aya, kamu baik-baik aja. Mari lepaskan kesempatan ini supaya orang yang lebih baik mendapatkannya,” gumamnya.
“Fanya, tunggu!”
“Iya?”
“Em … soal Revano,” kata Wisnu, “eh, maksudnya soal kamu sama Zico. Aku denger kalau kalian udah putus? Kapan kalian jadian?”
“Apa?”
“Rumor, kan?”
Sontak Fanya mengangguk-angguk dengan kaku, sehingga membuat Wisnu tersenyum senang.
“Soal Revano, kenapa kalian malah nggak akur padahal sedari dulu lengket banget?”
Fanya mendelik, dia segera berbalik dan meninggalkan Wisnu dengan satu kalimat singkat. “Bukan urusan kamu!”
Sungguh menjengkelkan!
Di saat dia sudah berusaha untuk tidak teringat atau memikirkan sosok itu, sementara orang-orang terus saja membuatnya teringat dengan sosok itu. Mengapa sih laki-laki itu harus mengganggunya di saat semua sudah baik-baik saja?
Dia sudah baik-baik saja dengan kehidupannya sekarang, tanpa bantuan laki-laki yang selalu membantunya setiap saat, tetapi itu masa lalu. Pada masa kini, semuanya sudah berubah. Tidak ada lagi Fanya yang manja dan cengeng, tetapi sial!
__ADS_1
Siapa sih yang mencekal lengannya?
“Aku nggak mau bicara tentang dia, Nu. Jadi, tolong jangan bikin aku—”
“Kenapa chat aku semalam nggak dibalas?” lontarnya.
“Kenapa cuman dibaca doang, Ya? Oke lupakan soal chat semalam, kenapa kamu milih mundur dari olimpiade? Alih-alih bujuk Bu Ida untuk koreksi dan bantu kamu pecahkan soal-soal, kenapa harus mundur?
“Aku udah bilang, kali ini raja membutuhkan ratunya, Ya.”
“Maaf.” Tubuhnya meremang. Bukan karena terintimidasi atau takut, melainkan dia mencoba mengingat sesuatu yang mana takutnya seperti kesalahan input.
Semalam ada banyak pesan masuk, sehingga mata lelahnya tak begitu mengindahkan siapa pengirim pesan itu. Dia membaca isi pesannya dan langsung membalas, begitu selesai membalas satu per satu pesan yang beragam, Fanya tertidur, meski dia tidak langsung tidur karena asyik membaca komik. Ingatannya tentang membalas pesan semalam menjadi pertarungan bagi sel memori di dalam tubuhnya.
Fanya segera merogoh ponsel yang selalu dia bawa ke sekolah tanpa memedulikan larangan tentang membawa benda berharga ke lingkungan sekolah. Dia tidak peduli dengan aturan itu, dia hanya peduli tentang uang sakunya yang tidak mau berkurang, sehingga dia selalu meminta jasa antar-jemput kepada laki-laki menyebalkan yang merupakan kakak kandungnya sendiri. Tangannya lincah menggulirkan layar benda canggih itu, melihat riwayat pesan yang mudah sekali ditemukan pada aplikasi hijau itu.
Fanya mulai membuka riwayat pesan semalam dari satu per satu kontaknya. Dari Hanalya hanya berakhir dengan stiker yang gadis itu kirimkan. Selanjutnya, dari si Zero Person, benar pesannya belum dia balas. Sisanya hanya pesan dari grup yang mana sudah dia balas setengah hati sebab kantuk berat. Lalu, semalam dia membalas pesan siapa?
Meski ragu, Fanya tetap melakukannya. Dia membaca satu nama kontak yang mana mengirimkan pesan baru juga. Dia menekan nama itu dan muncullah ruang obrolan mereka.
+62 839-xxxx-0143
Blokir | Tambah
Kemarin
|Vano yakin kalau kamu udah dengerin audionya
|Kali ini Vano bukan mau kasih audio
|Tapi, kalau kamu suka bakalan Vano kasih lagi kok
|Sayangnya nggak sekarang, ini udah malam, tante Nadia udah suruh tidur karena besok harus berangkat sekolah lebih pagi.
|Tapi sebelum tidur, vano mau tau satu hal. Eh nggak dijawab juga gapapa soalnya bakalan tau juga
|Mikel bilang kamu pacaran sama cowok dari Margayu, tapi bukan kabar jadian melainkan kabar putus. Yang bener, Ya?
|Kamu move on nih dari Nunu ceritanya?
|Padahal kalian satu sekolah, kenapa nggak coba ungkapin aja kalau kamu suka sama Nunu, Ya?
|Aku setuju sama keputusan kamu untuk move on dari Nunu
|Ya, ayo ketemuan lagi dan kita dengerin lagu kesukaan bareng-bareng. Di taman danau atau taman belakang rumah juga hayuk. Atau mau nongkrong di kafe berdua?
|Atau ke toko buku?
|Nonton film bareng?
|Vano payah ya?
|Udah jelas pesannya nggak bakalan dibalas haha
|Eh, tau nggak?
|Tau nggak apa yang lebih sakit dari patah hati?
Fanya Fransiska: Paketan habis
|Jawabannya epic banget hahaha. Tapi emang bener sih itu jawabannya.
__ADS_1
|Makasih, nanti Vano kasih hadiah karena udah jawab bener. Ditraktir maukan?
|Tante Nadia melototin nih, selamat malam