
Fragmen tentang sosok cowok Asia Timur ini terpentas megah di dalam ingatannya. Cowok cakep yang dia kenal memiliki getaran yang serupa, seperti karakter yang dia benci dari serial Naruto, tetapi adiknya begitu mendambakan karakter ini.
Kamaliel memanggilnya dengan nama Sasuke.
Wajahnya rupawan, auranya yang begitu kelam, dan karakter pribadinya yang dia kenal terlalu bucin kepada adik Kamaliel, walau tidak secara terang-terangan.
“Sasuke-nya nggak diajak masuk dulu, Neng?” tanya Kamaliel.
Adiknya terdiam cukup lama. Tubuhnya bergeming, bahkan kepalanya menunduk. “Nggak usah, dia harus pulang cepet karena harus mulai belajar buat olim.”
Revano menatap kepergian motor yang telah mengantarkan gadis galak di hadapannya ini dengan tatapan penuh selidik. “Ay, cowok yang anterin barusan namanya Sasuke?”
Namun, Fanya tidak menanggapinya. Kepalanya mendongak, tetapi tidak menatap laki-laki jangkung yang berdiri di samping kakaknya. “Kang, jangan lagi panggil dia Sasuke. Dia punya nama asli.”
Kamaliel meneliti raut wajah adiknya yang begitu kesal. “Namanya susah buat diinget,” selorohnya.
Fanya mendelik kesal. Mulutnya mengeluakan bunyi decakan halus. “Kang, jangan bicara hal apa pun tentang dia kepada siapa pun. Ah, dan satu hal lagi: nggak perlu sok kemusuhan sama dia dengan selalu panggil pakai nama Sasuke sialan itu!”
Suasana hatinya melonjak turun ketika mendapati keberadaan laki-laki keras kepala ini di rumahnya. Namun, Fanya bisa apa kalau dia adalah tamu orang tuanya atau kakaknya sendiri.
Jadi, ada baiknya untuk tidak memperpanjang durasinya berhadapan dengan dua laki-laki menyebalkan dalam hidupnya.
Kamaliel menerka ucapan adiknya yang mengisyaratkan sesuatu.
Tidak boleh menjelaskan sesuatu tentang cowok yang sering dia panggil Sasuke?
Kepada siapa?
“Emangnya ada apa sama kalian? Apa kalian tengkar karena pengen pisah lagi?”
Langkah Fanya tercekat. Gimana Kakang bisa tau? “Kok pertanyaannya kayak gitu?”
“Kalau ditanya itu jawab yang bener, bukannya malah balik bertanya!” gertak Kamaliel.
“Nggak ada yang harus Aya jelasin! Permisi.”
Kamaliel membeliakkan matanya, lalu berteriak, “Aya!”
Revano diam saja ketika berada di antara dua bersaudara yang dikenal sering bertengkar ini. Dia diam saja dengan sebuah dugaan yang baru saja dia benarkan. Dia membenarkan sebuah dugaan yang Mikel lontarkan kapan hari mengenai gadis jutek ini.
“Kayaknya emang bener kalau mereka pacaran dan udah putus,” ungkapnya.
Kamaliel mendadak lesu. Pikirannya bertentangan dengan apa yang baru saja diucapkan Revano.
Bagaimana bisa seorang Sasuke yang dia kenal begitu suka terhadap adik galaknya tiba-tiba memutuskan hubungan mereka semudah itu?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kamaliel bertanya-tanya, “Apa?”
Kepalanya menoleh ke arah laki-laki yang lebih tinggi darinya dengan mata memicing. “Si Kekel cerita kalau Aya udah pacaran, tapi nggak banyak tau. Taunya ketika mereka ketahuan pacaran, mereka malah putus. Berarti ucapan Kekel beneran dong? Bukan rumor doang.”
Benar juga. Kamaliel lebih dari sekedar tahu bila jalinan kasih cinta monyet adiknya ini berlangsung secara diam-diam. Hubungan rahasia. Meskipun begitu, Kamaliel amat sangat mengetahuinya karena dia bersama adiknya kala itu.
Dia menemani adiknya yang berkencan dengan laki-laki yang mengaku teman sekelasnya kala itu, sekitar satu setengah tahun yang lalu, mungkin?
“Terus kalau emang bener, lo mau ngapain?” tanya Kamaliel.
Dia tidak bersungguh-sungguh ketika mengatakan jika anak dari tetangga yang merupakan kerabat dekat kedua orang tuanya ini, ngebet kepada adiknya. Kamaliel hanya menggertak adiknya kala itu agar bisa mengetahui tanggapan adik juteknya saja.
“Lo mau ngapain kalau memang benar Aya pernah pacaran, dan kemudian hubungannya kandas. Lo mau apa?”
“Deketin dia baliklah!” Jawabannya enteng sekali.
__ADS_1
Padahal ada beban yang harus dia tanggung dan konsekuensi yang spontan dia terima. Kemungkinan lainnya juga dia pasti akan mendapatkan karma.
Kamaliel tergelak. “Dari kedatangan lo ke rumah sejam yang lalu, lo baru ungkap tujuan datang kemari?”
“Lah, kitakan dari tadi mabar, Kang!” sanggahnya. “Lo yang ajak. Cuman gegara lo tiba-tiba pergi ke teras untuk mastiin suara motor tadi … intinya kita keasyikan mabar.”
“Lo bener, kita keasyikan mabar sampe nggak tau harus ngapain lagi selain main tadi,” katanya, “adiknya Fasya, lo tau dari mana kalau Aya pacaran?”
“Kekel. Si Bule. Namanya Mikel, dia temennya Aya di sekolah. Mikel temen gua juga.”
“Terus?” tanyanya, “Si Kekel tau dari mana?”
“Katanya, dia denger sendiri percakapan Aya sama cowoknya pas mereka debat mau putus. Emangnya beneran si Aya pacaran sama ….”
“Juara satu pararel,” tambah Kamaliel.
“Oh, jadi itu cowok si juara satu pararel?”
Kamaliel menipiskan bibirnya sambil menatap teduh laki-laki yang sebaya dengan adik perempuannya. “Iya,” katanya, “dan si Aya juara dua. Mereka dijuluki raja dan ratu pararel. Eh, kira-kira siapa yang putusin siapa? Nggak mungkin cowoknya, kan? Setau gua cowoknya bucin akut sama si Aya, loh. Gua tau sendiri, cowoknya sering bertamu ke rumah.”
Tubuhnya bergeming, lidahnya kelu, dan sorot matanya mulai layu. Mengetahui hal yang begitu asing dari kebiasaan seorang Fanya membuatnya berpikir akan banyak hal, salah satunya mengenai perubahan Fanya itu sendiri.
“Si Aya beneran udah move on dari Nunu, kayaknya mereka sama-sama suka, ya? Sampai si Aya berani terima tamu asing datang ke rumah.”
Kamaliel menolak untuk membenarkan ucapan Revano, tetapi Kamaliel juga sedikit berpendapat, “Secara teknis, Aya bawa pacarnya ke rumah dan kenalin dia sebagai pacar bukannya temen atau orang asing, sih. Dia mulai ngajak si Sasuke ke rumah pas dia kena masalah di sekolah dan si Sasuke yang selalu ada di belakang Aya.”
Kok perasaan gua nggak enak gini, ya? Aneh aja begitu tau segimana berusahanya Aya move on dari Nunu. Ada beban yang mana kayak nggak rela gitu. Revano mencoba untuk kembali pada kesadarannya, dia memilih untuk segera pulang dan kembali merenungkan beberapa hal, yang mana akhir-akhir ini suka sekali mengusik nuraninya. Sudut mulutnya mengulas senyum.
“Kang, gua balik dulu, ya. Besok Senin, gua nggak bawa seragam kalau nginep di rumah Bunda. Jadi, kudu balik sekarang.”
“Tiba-tiba pulang? Tapi, baguslah. Gua bisa interogasi si Aya dengan tenang, haha.”
“Haha, bisa aja lu, Kang.”
“Ya, udah kalo gitu, hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut atau ngelamun, bukannya sampe rumah dan istirahat, eh malah sampe rumah sakit dan dirawat intensif.”
Fanya mengulur waktu agar tidak ambyar supaya semuanya berjalan dengan lancar. Dan, hasilnya terbukti hari ini, dia berhasil melakukannya walaupun dia ambyar di penghujung hari.
Fanya memejamkan kedua matanya sambil memegangi dadanya dengan kedua tangannya. Merasakan debaran inti kehidupannya yang terasa ngilu entah di bagian sebelah mana. Meskipun begitu, Fanya tetap harus memiliki semangat.
“Kerja bagus, sekarang nikmati masa-masa ini demi kebaikan dia juga!”
Getaran bersama dengan dering notifikasi terdengar, sehingga mendesaknya untuk mencelikkan indera penglihatan. Sudut matanya basah, bahkan putih matanya tampak kemerahan.
Dia segera membuka akses tas selempangnya yang dia letakkan di atas meja belajar. Merogoh keberadaan benda pipih yang canggih kepemilikan dengan keraguan yang bersatu padu bersama rasa penasaran.
Dia menekan tombol daya, tampaklah deretan notifikasi dari nomor asing. Sebuah pesan dari aplikasi berkomunikasi dengan ikon warna hijau. Delikkan matanya tak bisa membohongi rasa penasarannya, dia mulai kecewa ketika memenuhi rasa penasarannya.
“Lagi-lagi-lagi!”
“Dia lagi ternyata, padahal baru aja dia pergi naik motor,” sahut Kamaliel. Dia tiba-tiba muncul di belakang Fanya, meski bukan dalam artian secara mendadak ada di belakang adiknya, melainkan secara terpaksa dia menerobos masuk ke dalam ruangan pribadi adiknya.
“Kama udah dengar, kenapa kalian putus? Kamu sama temenmu yang kejepang-jepangan itu.”
Terlonjak kaget sih awalnya namun dia gegas bersikap normal. Dia berusaha untuk tidak menyemburkan kemarahannya kepada sang kakak.
Tidak ingin, sebab tidak ada yang dapat dia jadikan tempat mengeluh. Dia benar-benar ingin mencurahkan segalanya lebih cepat, tetapi semuanya pasti akan memburuk.
Jadi, Fanya membiarkan dirinya untuk menanggung beban ini sendirian untuk sementara waktu. Beban mengenai keberatan hatinya dan keputusan final terhadap kisah kasihnya.
“Kesampingkan dia yang barusan chat Aya,” katanya, “Kang, sebenarnya Aya keberatan lepas Zico, tapi ini untuk kebaikan dia juga. Aya memutuskana hal ini supaya fokusnya Iko nggak buyar. Akhir-akhir ini anaknya tetangga sering hubungin Aya sampai bikin Zico … dia ….”
“Zico marah? Dia cemburu atau posesif?”
__ADS_1
Fanya menggeleng. “Aya cuman takut kalau mereka sampai berhadapan, walaupun Iko … dia udah tau semua tentang Revano sekalipun, tapi Iko belom pernah ketemu Revano. Aya nggak mau kalau chat dan kembalinya Revano bikin Iko salah paham.”
“Kenapa juga si Iko harus salah paham kalau dia udah tau siapa Revano?” Penasaran sekali.
“Kama nggak ngerti, kenapa Aya malah takut? Revano cuman teman masa kecil kamu, walaupun cara kalian bersikap terhadap satu sama lain udah kayak pasutri, sih.”
Fanya menghela napas dalam. Dia menatap iris mata hitam legam milik Kamaliel yang berdiri di hadapannya, kemudian dia menatap ke segala arah ketika mengatakannya.
“Zico, dia itu walaupun di mulutnya bilang nggak peduli, tapi sorot mata sama nada bicaranya menyangkal ucapan pemiliknya sendiri. Aya tau kalau dia nggak suka ketika Aya bahas si menyebalkan anaknya tetangga kita itu. Dan, Aya nggak mau bikin Iko merasa rendah diri hanya karena kedekatan Aya sama cowok itu yang udah basi.”
Kamaliel mendengus geli. Akhirnya dia tahu apa yang menjadi alasan di balik sikap keras kepala, menyebalkan, dan terutamanya sifat jutek adiknya terhadap anak dari tetangga mereka.
Dia tengah menjaga hatinya, menjaga sepasang hatinya untuk seseorang yang menyalakan api kebencian di awal pertemuan keduanya.
Fanya, adiknya ini, menjaga hati seorang laki-laki yang awalnya membencinya, sehingga pohon kebencian itu membuahkan cinta.
“Wah, menggelikkan.”
Tatapan tajam dan menusuk dia hunuskan ke arah Kamaliel yang berdiri di hadapannya. “Apa? Menggelikkan?”
Kamaliel menghela napas dalam. “Kamu udah berusaha semampumu hari ini. Kama ngerti sekarang, jadi, kemarin galau tuh karena hal ini? Sebab, kalian bakalan putus?”
Fanya tidak berniat menjawab. Pertanyaan kakaknya bukanlah pertanyaan sungguhan, melainkan pernyataan.
Dapat Fanya akui jika kakaknya ini begitu hebat dalam menerka sesuatu yang sulit Fanya utarakan kepadanya.
“Kalau bukan Aya yang rencanain hal ini sejak awal, Iko nggak bakalan pernah mau putus tau. Sedikitnya, Aya manfaatkan si nyebelin anaknya bunda Frisly, sih, tapi Aya beneran frustrasi karena kehadiran dia lagi, Kang. Kenapa dia kembali lagi? Kenapa sekarang?
“Ah, udahlah lupain tentang kembalinya orang yang bersemi di masa lalu. Kang, sejujurnya Aya tau bakalan dipilih jadi perwakilan sekolah untuk ikut olimpiade. Cuman, Aya memilih untuk lepasin kesempatan itu supaya Iko nggak tempelin Aya dulu. Kamu tau karena apa, Kang?” tanyanya.
Mendengar adiknya yang kembali berbicara dalam jumlah kata cukup banyak membuatnya sedikit terharu.
Meskipun sedikit, Kamaliel tetap terharu sekaligus bersyukur jika adik perempuannya mau mengutarakan tentang perasaan, dan semua hal yang berkaitan tentang masa mudanya. Kamaliel senang karena Fanya berangsur kembali kepada dirinya sendiri dan tidak lagi membuatnya bingung dan kesal sebab kemurungan adiknya.
“Nggak tau, emangnya Aya mau ngapain selama si Iko-Iko mantan kamu itu menjauh?” tanya Kamaliel. “Wah, seorang Fanya Fransiska anaknya mama Ana dan papa Dimas udah dewasa, ya? Dia bahkan udah punya mantan pacar sekarang!”
Meledek sekaligus tak percaya jika adik perempuan manjanya sudah sedewasa ini sekarang. Rasanya seperti telah meninggalkan sesuatu yang berharga untuk sesuatu yang kita inginkan. Dan, Kamaliel merasakannya ketika berhadapan dengan Fanya pada usia remaja.
“Aya mau selesaikan urusan sama si nyebelin anaknya tante Frisly,” ungkapnya, “ini beneran! Kali ini beneran mau tegaskan batasan kami. Flashdisk dia juga udah ketemu, sekarang tinggal tunggu tanggal mainnya aja.”
“Aya juga sekarang udah mandiri, nggak nyusahin Kama lagi. Sesekali susahin Kama juga gapapa, Aya. Kama dukung rencana kamu kalau memang itu yang bikin kamu keluar dari zona merah.”
Namun, zona merah yang Kamaliel maksudkan itu tidak satu pendapat dengan Fanya. Zona merah sesungguhnya adalah berhadapan lagi dengan orang yang pernah bersemi di masa lalu.
Ya, orang yang dimaksudkan oleh Fanya ialah Revano. Si menyebalkan itu. Alasan terkuat yang membuat Fanya merotasikan kepribadiannya, walaupun bukan alasan utama, dan hanya sebagai landasan dasar dari perubahan dalam diri seorang Fanya Fransiska.
Fanya memicingkan kedua matanya. Dia menatap selidik pada layar ponsel pintarnya. “Kembali tanpa merasa berdosa, ya? Ck, liat aja entar.”
Isi pesan yang Fanya dapatkan hari ini :
+62 839-xxxx-0143
Blokir | Tambah
Baru Saja
|Aya
|Vano ngerti sekarang. Alasan kenapa kamu dikenal jutek di lingkungan baru dan kenapa kamu tiba-tiba dikabarkan pacaran.
|Berusaha move on dari Nunu, kan?
|Gapapa, masih ada Vano untuk dijadiin harapan kesuksesan move on dari seorang Wisnu Wirawan, Ay
__ADS_1
|Gimana?