
Terbangun di pagi hari yang berbeda.
Membuka jendela dan mulai menyapa.
Terlihat sang mentari tidak tampak di sana.
Seperti hidup yang penuh tanda tanya, yang kadang memaksa kita untuk keluar, walau sedang tidak baik-baik saja.
...----------------...
Satu, dua minggu berlalu. Tidak ada perjalanan liburan, karena cuaca buruk yang menyelimuti langit Indonesia, membuat sebagian warga tetap menetap di rumah masing-masing di sela bayangan libur Natal dan Tahun Baru.
Kegiatan setelah libur semester berlangsung hanya sebatas pergi les, ke toko buku, dan menjadi asisten rumah tangga membantu para ibu meringankan kewajiban mereka.
Bahkan setelah tahun baru menyapa, cuaca masih saja murung, dingin, lalu menerpa bumi dengan embusan kencang menerjang pohon dan bangunan. Erap kali hujan deras atau hujan gerimis pada pagi hari membuat warga benar-benar mengurung diri di dalam ruangan yang hangat.
Setelah dua pekan hanya berkegiatan di rumah tanpa bepergian ke tempat istimewa, karena cuaca yang buruk di penghujung tahun, Fanya Fransiska mematut dirinya di balkon depan kamar.
Hari ini, Senin, dan dia akan kembali ke sekolah. Namun, ketiadaan sang mentari di sana membuatnya menggerutu kesal. Bahkan jalanan becek bekas hujan deras semalam menghilangkan semangat pagi nasionalisnya.
Padahal sejak subuh berkumandang, Fanya langsung bangun terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, lalu kegiatan selanjutnya yang tidak luput dari lagu anak lintas generasi itu.
Fanya tidak berlama-lama mandi dengan mengobok-obok air seperti halnya yang dinyanyikan Joshua Suherman dalam lagu masa kanak-kanaknya.
Hal itu disebabkan dia sudah beranjak dewasa dan udara menusuk epidermis yang sensitif dengan perubahan suhu.
Fanya sudah selesai dengan ritual paginya, sudah selesai mengamati lingkungan sekitar dari ketinggian balkon depan kamarnya.
Langit cerah meskipun awan tampak berarak. Suhu udara pagi ini diperkirakan mencapai tujuh belas per enam belas derajat celsius.
Dia juga membalut tubuh berseragam tipis itu dengan kardigan rajut yang membuatnya hangat. Menenteng tas, lalu berjalan menuruni tangga.
“Mau ke mana, heh?”
Fanya mendengus. “Ke mana-mana hatiku senang!” timpalnya. “Ya, ke sekolah dong. Emangnya situ, pengangguran.”
“Enak aja pengangguran! Gini-gini juga udah lulus ujian skripsi. Bahkan diimingi beasiswa pascasarjana lagi ke luar negeri.”
Fanya mencebikkan bibirnya. “Anterin dong ke sekolah pake mobil mewahnya mahasiswa.”
__ADS_1
“Ogah! Pergi aja sama si satria kuda besi kamu itu.”
“Gamau! Naik motor pada cuaca dingin begini bikin aku berasa jalan-jalan di negeri es tau. Anterin dong, Kakang ganteng kayak aa Korea.”
“Wani piro?”
“Mama! Kakang pelit nggak mau anterin Aya ke sekolah.”
“Dih, ngaduan!” Walau dia mulai panik, Kamaliel menyeringai. “Mama, Papa, sama Rey nggak ada di rumah. Jadi, nggak akan ada yang bisa belain kamu dasar cengeng!”
Fanya mendekati Kamaliel dan duduk di kursi bulat. “Mereka pergi? Tumben banget perginya nggak kedengeran apa-apa. Pergi ke mana?”
“Iya, makanya jangan minta Kama anterin, soalnya mobil Kama dipake Papa pergi, sementara mobil Papa masuk bengkel lagi. Kalaupun mau dianter Kama, naik si Mojang.”
Mojang adalah motor gede miliknya. Dia menyematkan nama tersebut sebagai bentuk penghargaan dari papanya ketika Kamaliel berhasil lolos tes mandiri masuk perguruan tinggi setelah menolak jalur undangan di universitas Yogyakarta enam tahun lalu.
“Mereka buru-buru pergi setelah Aki kabarin ada yang meninggal, Mama sama Papa harus pergi melayat,” lanjutnya.
Penjelasan Kamaliel tentang kabar kepergian seseorang sontak membuat kedua matanya melebar. “Meninggal? Siapa yang meninggal? Nggak mungkin Enin, kan?”
“Iya, Enin,” kata Kamaliel, “Enin Atiqah yang pernah bantuin Kama ngusir setan yang nempelin Kama ituloh. Kama jadi nyesel jarang main ke sana gara-gara sibuk, sekarang dia udah nggak ada. Habis nganterin kamu ke sekolah, Kama mau melayat ke sana. Mumpung kuliah masih libur.”
“Nggak tau, Mama cuman bilang kalau Enin Atiqah udah nggak ada,” balas Kamaliel muram. Dia berkata demikian sambil mengedikkan badannya.
“Aya mau ikut. Aya mau ngelayat juga!” Ucapannya meminta, tetapi nadanya memaksa. “Meninggalnya kapan? Kemarin malam? Kapan jasadnya bakalan dimakamkan?”
Kamaliel mengangkat bahunya. “Mama pesan sama Kama untuk nggak perbolehin Aya ikut, sih. Jadi, nggak ada pilihan lain, kamu harus tetep pergi ke sekolah.”
“Kakang!” Wajahnya memelas. “Satu hari aja. Satu hari aja Aya bolos. Pengen anterin eninnya Kiki ke tempat peristirahatan terakhirnya, ya?” Kedua tangannya bersatu, memohon kepada sang wali untuk mengizinkannya ikut.
“Nggak! Nanti apa kata Mama kalo Kama nggak ngikutin pesan dia? Uang jajan sekaligus fasilitas Kama ditarik dari kepemilikan.”
“Demi Enin Atiqah, Kama.”
“Nggak!” Tetap pada pendiriannya. “Pake jaket tebel, kita pake si Mojang ke sekolah.”
Di sinilah Fanya berada. Dia masih duduk di atas punggung si Mojang lengkap dengan helm ala tentara di kepalanya. Masih enggan turun karena tahu jika kakaknya akan segera menyusul orang tua mereka ke Padalarang untuk melayat kerabat yang meninggal.
“Aya, turun!”
__ADS_1
Kamaliel melirik beberapa derajat ke belakang. “Lihat yang lain pada lari-larian masuk ke sekolah! Mau ditutup tuh kayaknya. Cepetan turun atau bakalan dapetin surat cinta dari BK lagi entar.”
“Aya mau ikut ngelayat.”
“Nggak!”
“Kiki pasti nggak sekolah, Aya mau ketemu Kiki di sana.”
“Nggak! Kata Aki, cucunya aja disuruh pergi ke sekolah sebelum Enin Atiqah mengembuskan napas terakhirnya,” selorohnya.
“Mana ada! Orang yang meninggal nggak bakalan tau dia meninggal kapan, bahkan sampai suruh-suruh kayak gitu!”
“Ada. Ini kasusnya istimewa,” bantah Kamaliel.
Fanya mendengus kesal. Akhirnya, dia turun juga dari punggung kulit hitam si Mojang. Tak lupa melepaskan helm ala tentara berwarna hijau tua di kepalanya dengan terpaksa.
“Titip salam buat mereka semua. Khusus buat Kiki, tolong sampaikan permohonan maaf dari Aya karena jarang berkunjung ke sana.”
“Sip, aman. Buruan masuk!”
Pemandangan dua bersaudara itu tidak luput dari bisik-bisik tetangga yang tengah berjaga di gerbang kedua di dalam sana. Seperti biasa, mereka menggunjingkan orang yang paling tidak disukai se-Margayu karena polah tingkahnya yang tidak mencerminkan suri tauladan sama sekali.
Lihatlah penampilannya yang tidak mengenakan rompi sekolah atau jas almet sekolah, melainkan mengenakan kardigan berwarna senada dengan warna asli jas almet, dan celana panjang yang mendahului rok selulutnya, tidak berestetika. Sungguh tidak tahu aturan!
Namun, bukan hanya tentang penampilan, melainkan tentang seorang pengendara motor gede yang mengantarkan si Jutek ke sekolah.
Siapakah laki-laki gagah dan tampan yang berada dia atas motor gede mahal itu?
Seorang perempuan dengan penampilan rambut tergerai indah berkomentar, “Nggak mungkin kakaknya. Dia kalo dianter kakaknya tuh pake mobil. Hanalya pernah cerita kalo si Jutek selalu dianter kakaknya pake mobil. Yang ini lain dan nggak mungkin juga itu pacarnya atau gebetannya. Penampilannya emang kece, tapi keliatan lebih dewasa. Kayak anak kuliahan. Si Jutek beneran bukan cewek baik-baik, ya?”
“Bisa jadi pacarnya, sih!” celetuk salah seorang teman.
Bahkan ketika Fanya melewati barisan anggota OSIS yang berjaga di gerbang hari ini, mereka masih memerhatikan Fanya sampai punggung gadis itu menghilang di balik tembok gedung kelas.
Mereka yang berjaga berjumlah lima orang, dan salah satunya adalah senior klub mading yang terkenal sensasional dalam menyuarakan sesuatu di mading sekolah.
Senior klub mading yang masih satu angkatan dengan Fanya berujar sinis. “Kita lihat aja. Dia itu pemilik rumor picisan paling laris di sekolah kita, bahkan sampai santer di sekolah lain juga walau cuman dari mulut ke mulut. Klub mading bakalan urus ini untuk menjatuhkan pamor dia serendah-rendahnya!”
__ADS_1