
Kamaliel sudah menantikan kembalinya seseorang yang begitu penting nomor sekian dalam kamus kehidupan adik perempuannya. Kamaliel sudah sangat menantikannya. Menantikan kembalinya si dia yang pergi karena kejadian buruk itu.
Renan Ananda Pratama sedang terduduk pada kursi penumpang bagian belakang mobil milik kakek Mizwar menuju kediaman kedua orang tuanya, Frisly dan Aldo.
Menatap jalanan megah yang penuh ketika kereta kuda besinya telah tiba di pusat kota, Bandung. Matanya berbinar kala dia benar-benar akan melewati gedung kepemerintahan dengan ikon makanan ditusuk itu, Gedung Sate.
Renan, laki-laki berusia enam belas tahun, memiliki lesung pipi samar di wajahnya, dan mata sipitnya yang seiras dengan saudara kembarnya. Ya, Renan memiliki saudara kembar dengan rentang sepuluh menit saja, dan Renan yang lahir lebih dahulu.
Namun, si adik enggan sekali dipanggil demikian, sehingga sekeluarga sepakat memanggilnya dengan sebutan Kaka. Renan tersenyum geli ketika suara kakek Mizwar membuyarkan aksinya yang tengah menatap jalanan Bandung sebegitu antusiasnya, Renan memang sangat-teramat antusias.
“Kenapa begitu, Kek?”
Kakek Mizwar menghela napas. “Ayahmu, dia menghukum si Kaka dan mau kirim dia ke Jakarta. Selesai satu, nambah satu lagi. Mana si Kaka lebih badung dari kamu, Ren.”
Renan tertawa, suara tawanya lembut, kontras dengan suara serak basah, dan bariton miliknya. Suara Renan nyaris mirip dengan seseorang yang bermimpi menjadi seorang musikus.
“Kakek nggak coba hentikan Ayah? Harusnya bisa, Kek.”
“Anak muda zaman sekarang!” sebut kakek Mizwar. “Mana bisa kakekmu ini lawan si Aldo itu! Dia anak mami, sayangnya nenekmu sudah nggak ada, Ren. Perlu kamu tau tentang ayahmu, dia itu badung lagi susah dibilangin, mau seenak jidatnya aja dengan alasan demi kebaikan bersama.”
“Ada Bunda. Kenapa Kakek nggak coba kerja sama dengan Bunda? Bunda gitu-gitu juga galak, lho.”
“Bundamu? Mantuku yang anggun itu?” Beliau tertawa.
“Benar juga. Aldo itu kelemahannya adalah Frisly. Kenapa saya nggak kepikiran?”
“Kenapa si Kaka dipindahin ke Jakarta? Bukannya dia pindah ke rumah tante Nadia?”
“Anak itu bermasalah sampai bonyok juga bikin anak orang bonyok. Katanya tawuran, tapi Fasya bilang dia dalam misi menyelamatkan teman perempuannya yang menghilang, diduga disekap oleh seniornya,” ujarnya, “duh, anak muda zaman sekarang! Pada ngeri-ngeri. Si Kaka juga kasih tinjuan kepada Anggara. Anak-anak Aldo memang persis seperti Aldo sendiri sewaktu muda.”
“Temen perempuannya?” Bertanya kepada diri sendiri. “Apa mungkin Aya? Nggak mungkin deh.”
“Iya, teman perempuannya itu anaknya tetangga. Anak dari sahabat bundamu, Ren.”
Sudut bibir Renan tertarik naik, mengulas senyuman miring penuh rona senang. Matanya kembali menatap jalanan kota di balik jendela hitam kereta kuda besi milik kakeknya.
Pikirannya melayang pada seberkas kenangan enam tahun lalu dengan kalimat kerinduan yang dia gumamkan sepanjang perjalanan pulang.
__ADS_1
“Aya, Aya, Aya … apa kabar?”
Di depan rumah, disambut hangat oleh tiga orang yang paling dia rindukan. Matanya berbinar bahagia ketika ketiga orang di hadapannya menatap penuh haru kepadanya. Langkahnya menghambur ke arah seorang wanita yang tidak lagi muda, tetapi wajahnya masih ayu.
“Bunda, Ren udah pulang.”
“Selamat datang kembali,” balas Frisly. Merentangkan kedua tangannya agar disambut peluk oleh putra paling Frisly rindukan.
“Selamat datang dan selamat tinggal, ya, Ren.” Dia menadapatkan pukulan telak tepat pada kepalanya dari Fasya. Revano diam saja.
“Kakek apa kabar?”
Mereka masuk ke dalam rumah yang terlihat minimalis milik keluarga kecil Pratama. Kakek Mizwar kembali bertamu untuk dua tujuan. Pertama, mengantar pulang Renan. Kedua, membawa pergi Revano ke Jakarta. Aldo benar-benar tidak main dengan ucapannya.
Sedangkan itu, di dalam kamar Revano. Dua saudara kembar ini sedang bersitegang. Bukannya akan terjadi perang hebat seperti biasanya, melainkan untuk serah tugas yang sudah Revano jalankan berdasarkan permintaan Renan.
Namun sebelum itu, Renan lebih dulu menanyakan perihal keputusan ayah mereka yang bertekad memindahkan Revano ke Jakarta hari ini. Ada apa gerangan, Renan sungguh penasaran. Alhasil, Renan mendapatkan tembakan bantal milik Revano.
“Jadi, dia nggak inget satu hal pun tentang Ren, Ka?”
“Dia dinyatakan hilang ingatan, separuhnya. Dan, dia cuman inget Kaka doang. Padahal yang sering main bareng dia bukan Kaka, tapi kamu Ren. Kok bisa sih ingatan dia keliru gitu? Apa jangan-jangan dia cuman pura-pura, ya?”
“Pernah. Dia nggak inget.” Revano mendesis kala mengingat kejadian itu. “Dan, Kak Liel langsung bereaksi, kayaknya dia marah. Ya, wajar aja sih. Dia itu paling protektif soal Aya. Dia udah baik-baik aja walaupun kehilangan separuh ingatan dia, sayangnya dia keliru dengan ingatannya, Ren.”
“Sayang sekali.”
“Bentar, deh,” ungkap Revano, “kenapa bahasa kita baku banget?"
"Gini, ya, Ren. Wahai kakak kembar Kaka yang terbaik, nggak usah sok ketinggian deh. Pake bahasa anak Jaksel atuh, gaul! Kaka aja di sini pake bahasa gaul, masa Ren nggak?”
“Apa sih? Nggak jelas!”
Revano terkekeh.
“Makasih udah bersedia ngakuin kalo yang ada dalam ingatan Aya itu kamu, Ka. Kata Kak Liel, sih, kalau Aya dipaksa inget nama Ren atau sedikit pun tentang kejadian itu, Aya bakalan histeris. Syukurlah kalau dia nggak begitu. Dia baik-baik aja, begitu juga sama Ren.”
“Awalnya nggak mau karena beresiko, tapi Ren kekeuh banget sih.” Matanya menerawang pada binar mata kakak sepuluh menitnya. “Kak Ren, kayaknya Vano suka sama Aya. Sayangnya Vano nggak bisa ada buat dia. Gimana kalau kamu ngikutin Aya, deketin Aya sebagai Vano di depan dia?”
__ADS_1
“Kaka yakin?”
“Yakin, wahai saudara kembar yang beda sepuluh menit dari Kaka.”
“Udah Ren duga, sih. Sejak kecil kalian emang nggak pernah akur dan ternyata kamu duluan yang kalah sama egomu. Akhirnya kamu suka sama Aya, Ka.”
“Kak Ren nggak mungkin suka sama Aya, kan?”
“Ren sayang sama Aya, Ka.”
“Tapi, Vano suka sama Aya, Ren.”
“Ren sayang sama Aya seperti sayang sama adik sendiri. Kayak rasa sayang Kaka kepada Chey, dan Ren juga sayang sama Chey kayak kepada Aya.”
Revano menarik sudut bibirnya. “Deal?”
Kemudian, drama taruhan mendapatkan si jutek Fanya pun berakhir.
Patut diakui jika Tara benar-benar tulus menyukai tetangga kesayangan Revano ini. Namun, Revano benar-benar kecewa kepada Tara yang telah membiarkan seorang Bams bertindak dengan logika tidak masuk akalnya itu.
Kemudian, Revano keluar dari band TXT secara resmi pada hari yang sama ketika mereka ditangkap polisi.
Baik Tara Aditya, maupun Revano Aji Pratama, keduanya mengakhiri tantangan dan taruhan edan yang dilayangkan Bhrams Jovaniel atau hangat disapa Bams itu dengan cara masing-masing, tentunya tanpa sepatah kata yang merujuk kepada ketertarikan mereka kepada Fanya.
Tara dan Revano sudah tidak saling bertegur sapa lagi semenjak kejadian tertangkap polisi malam itu.
Dan, ambisi seorang Revano untuk menjadi musikus padam. Padam bukan berarti melebur dan hilang. Justru karena padam, suatu hari Revano akan menyalakan kembali semangat dan tekadnya seterang mungkin agar dia tidak salah langkah lagi dalam mengambil kesempatan.
Ya, dia akui jia memang dirinya terlalu nekat memasuki area terlarang dengan hanya memiliki Tara Aditya di sampingnya untuk bergabung dengan band anak Tamansari itu. Dia memang nekat. Dia mengakuinya. Dia juga salah.
Namun, terlepas dari kisah picisan cinta anak remaja ini, ada satu hal lain yang telah bangkit. Dia kembali dan dia akan mengubah sesuatu untuk bermain-main dengan milik seseorang.
Dia bermain-main karena permintaan seseorang yang putus asa ingin mengembalikan kehidupan orang terkasihnya. Namanya Enik.
Enik dan miliknya yang abadi akan mengubah—bukan dalam artian sesungguhnya karena dia tidak berhak dalam mengubah kehidupan—sesuatu yang pernah dia campuri bertahun lalu, dan dia akan kembali karena dia ditakdirkan untuk menyaksikannya. Dia harus menerima konsekuensi atas hal yang telah dia campuri.
Hal yang telah dia campuri akan kembali kepada titik semula di mana seseorang akan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
__ADS_1
...S e l e s a i...