Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
60. Dia Kembali


__ADS_3

Di kota ini, di tengah hujan, di luar ruangan.


Dari cerah wajahnya menjadi kosong. “Terus kok bisa sih? Dari si Vano-Vano itu berhubungan sama Jehan? Ini agak … kamu beneran udah gapapa, kan? Beneran nggak diapa-apain sama orang berengsek itu, kan, Neng?”


Fanya mengangguk samar.


“Fanya Fransiska,” sebut Hanalya, “jangan menjauh lagi, ya. Jangan peduliin tanggapan atau omongan orang yang iri sama posisi kamu. Mereka lihatnya mudah, tapi kamu nggak semudah itu ada di posisi sekarang. Mereka mungkin kecewa dan nggak suka sama tindakan kamu, tapi diam-diam mereka kagum sama kamu atas apa yang udah kamu peroleh.


“Jangan menjauh cuman karena mereka nggak suka lihat kamu ada bareng aku, Jia, dan si Bule. Mereka nggak tau siapa kamu, tapi kami bertiga tau. Ya?” lanjutnya.


Hanalya belum sempat mengatakan keberatannya terkait aksi Fanya yang tiba-tiba menjauh semenjak kejadian terbaru di kantin.


Terlepas dari kedekatannya yang mulai membaik akhir-akhir ini, walaupun tidak sebaik itu, Fanya masih menyimpan tanya.


“Kenapa kamu pengen temenan sama aku, Han?”


“Kenapa lagi?” ungkapnya. “Karena kamu yang paling beda. Di saat temen-temen yang lain datangi aku buat berteman, tapi pada akhirnya mereka menjauh karena pangkat Ayah.” Mendesis keras.


“Walaupun rata-rata dari mereka nggak suka sifatku yang tukang ngadu, banyak bicara … ya, kamu juga tau sendirilah,” cicitnya. “Sementara itu, kamu sendiri berbeda. Kamu jual mahal kalau kata Ibu.”


Fanya terkekeh. “Kalau kamu segigih ini untuk berteman sama aku, gimana aku nggak luluh coba?” Menatap berseri teman yang selalu ingin diakui sahabat olehnya.


“Aku nggak pernah tersinggung sama ucapan mereka. Aku udah terbiasa. Mungkin karena bersikap terlalu biasa, aku cenderung dianggap jutek dan dicap buruk. Nggak masalah, sih. Asalkan nggak sampai bikin luka atau menyakiti orang lain, kata Mama kayak gitu.”


“Si Bule juga udah cerita tentang hal itu,” katanya.


Fanya mengerutkan dahinya. “Tentang apa?”


Hanalya tersenyum penuh arti, tatapannya begitu jenaka. “Semuanya.”


“Emang apa aja yang Mikel ceritain? Sejauh mana dia cerita sampai kamu sesenang ini?”


“Semuanya,” katanya lagi.


Fanya mulai gelisah. “Apa si Kekel cerita tentang Wisnu juga?”


Meringis. “Nunu?”


“Nggak, kan?”


“Ada apa sama Nunu? Apa yang terjadi sama Nunu kembarannya Jia itu?”


Fanya tergagap-gagap. “Nggak. Nggak ada. Mikel udah cerita tentang aku yang satu sekolahan sama dia, Revano, Wisnu, kan?”


Hanalya mengangguk. “Ada apa sama Nunu?”

__ADS_1


“Nggak ada apa-apa. Aku cuman … waktu kenal Wisnu, aku nggak pernah tau dia punya saudara kembar. Iya, aku baru tau Jia pas dikenalin sama kamu baru-baru ini.”


Bibirnya mencebik. “Baru-baru ini apanya? Aku kenalin kalian sejak masih kelas delapan, ya! Kamunya aja yang jual mahal,” ketus.


“Jelas kamu nggak akan tau Nunu punya kembaran karena Jia sekolah di tempat yang berbeda sama dia. Jia satu sekolah sama aku, sementara Nunu lebih pilih satu sekolah sama temannya … lupa siapa, tapi dia ada di band kafe itu … te … ti eks … ti?”


Fanya mengangguk-angguk kaku. “Oh, Aditya? Iya juga sih, itulah kenapa mereka bisa temanan. Revano, Mikel, Aditya, dan Wisnu. Mereka juga populer waktu di sekolah lama.”


“Wah, kalian ini sebenernya saling kenal, tapi berpura-pura nggak saling kenal. Ada apa sih? Apa kalian pernah ngelakuin dosa sampe bersikap kayak orang asing?”


“Mikel nggak cerita?” gumam Fanya di dalam hati.


“Pasti karena aku, sih. Aku emang nggak pernah lepas dari sematan si jutek dan galak. Makanya nggak pernah ada yang mau temenan sama aku. Mereka jauhi aku, dan juga aku yang mau sih. Soalnya kalau mereka tau aku deket sama Mikel dan Revano, yang ada mereka suruh-suruh aku deketin mereka berdua. Ogah banget!”


“Si Bule … gimana bisa kalian satu sekolah, sementara dia tinggal di Arcamanik?”


“Mikel asli sini, dia pindah ke Arcamanik karena pekerjaan kedua orang tuanya, itu sekitar kami kelas … kelas … wah, kok aku lupa, ya? Haha.”


“Apaan sih!” cibir Hanalya. “Oh, jadi dia pindah dari sini ke Arcamanik, ya. Bukannya dia ngaku kalo bapaknya di luar negeri? Pekerjaan orang tuanya yang mana?”


Fanya mengangguk. “Eh, soal itu … mending kamu tanya Mikel langsung deh. Memang benar papanya di luar negeri, tapi dia di sini emang sama orang tuanya. Mamanya dan papanya juga.”


Fanya terdiam sesaat.


“Yuk, masuk. Dingin. Oh, iya … kamu beneran gapapa bolos kelas tambahan?”


Fanya tidak bisa menolerasi sikap Hanalya satu ini. Dia menyentil kening sahabatnya. Fanya mulai mengakuinya.


“Dasar! Jangan gitu dong. Kamu bolos karena maksa ikut aku pulang dibandingkan pergi sendirian ke sana.”


“Dih, kamu juga yang ajak aku bertamu ke sini!”


“Salahin Zico yang merusak semangat aku buat ikut kelas tambahan!”


“Loh, kok nyalahin Zizi?” Terheran. “Wah, emang benar, ya, kalo udah jadi mantan tuh nggak bakalan pernah bisa damai. Konon katanya kalau putus baik-baik, justru ngebikin hubungan kalian memburuk. Cih, mentang-mentang pacarannya diem-diem, sih.”


“Terserah!”


...----------------...


Di dalam kamar ketika langit di luar telah berganti malam, Fanya kembali mengakses ponselnya. Terakhir kali dia mengaksesnya ketika dia pergi ke Gasibu sendirian dengan harapan dapat pulang diantar Revano, sehingga dia tidak perlu risau.


Namun beribu sayang, Fanya tidak berjumpa dengan Revano di manapun di setiap sudut Gasibu yang luas. Berakhir bertemu dengan Bams, dan semuanya menjadi gelap. Kemudian, tidak mengingat apa pun setelahnya.


Fanya duduk pada kursi yang ada di depan meja belajarnya. Setelah dipegang satu pekan penuh oleh Kamaliel, hari ini Fanya mendapatkannya kembali.

__ADS_1


Hal pertama yang dia akses adalah aplikasi hijau itu. Semua pesan yang bermunculan semenjak dia dinyatakan menghilang telah terbaca, pasti Kamaliel yang melakukannya.


Untungnya, Kamaliel tidak sampai membalas satu per satu pesan yang bermunculan itu. Pasalnya, nomor-nomor asing itu kembali menerornya, tetapi pesan yang mereka kirim kebanyakan ucapan iba dan harapan cepat kembali.


Wah, ada apa dengan para pe-pe-ce-em itu?


Per sekon kemudian, satu pesan muncul, disusul oleh pesan-pesan lainnya juga.


[Hei, apa kabar? Maaf belom sempet jengukin. Beneran baik-baik aja, kan?]


[Vano nggak percaya sama omongan Bams sama sekali]


[Dia nggak mungkin kebetulan ada di sana]


[Keluar dong, di balkon.]


Fanya enggan. Namun, ketika mendengar kabar jika Revano telah babak belur, ditarik ke kantor polisi, sampai dihukum ayahnya yang galak, sehingga membuat Fanya iba.


Fanya akan menurunkan egonya yang mengatakan untuk membenci Revano, tetapi nuraninya mana berani.


Mereka saling berhadapan di lantai rumah masing-masing yang berjarak tidak lebih dari sepuluh meter ini. Tidak dekat namun juga tidak jauh. Mereka bahkan masih bisa mendengar deru napas masing-masing. Begitu terus sampai dering notifikasi memecah suasana hening di antara keduanya malam ini.


“Apa kabar?” tanya Revano.


“Baik. Jauh lebih baik dari terakhir kali.”


“Maaf. Gara-gara nggak jaga baik-baik barang pribadi, dibajak, deh,” kekehnya dengan penuh penyesalan.


“Kamu sendiri?” Fanya berbalik tanya. “Datang bikin keributan, sampai bonyok-bonyok, dan dihukum Om. Baik-baik ajakah?”


“Nggak, tapi rasanya puas udah temuin kamu di sana, walaupun harus bonyok dan dihukum Ayah. Gapapa. Vano pantas dapetin hukuman karena main hakim sendiri.”


“Awalnya marah karena ternyata kamu bohongin aku tentang Gasibu. Aku berani ketika sendirian di tempat gelap itu, tapi … sedikit menakutkan.”


“Mereka nggak lakukan hal buruk, kan? Mereka nggak sengaja lukai kamu, kan?”


Fanya menggeleng.


Revano menghela napas berat. “Ayah bakalan pindahin aku ke Jakarta, tinggal sama kakek Mizwar.”


Fanya diam saja. Dia tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.


“Padahal dia udah sembuh dan dibolehin pulang ke sini, sayangnya kita nggak bisa kumpul lengkap,” gumam Revano sangat pelan. Nyaris seperti hanya mengecap.


“Aku masuk, ya. Selamat malam.”

__ADS_1


Tanpa mereka duga, malam ini merupakan perjumpaan terakhir mereka.


__ADS_2