
“I’m proud of you, no matter how you’d looking for real.” And, “I know one day you’d fall for someone new.”—internet.
...----------------...
Selepas drama tatapan sinis dari adiknya, kini mereka sudah berada di dalam mobil yang masih terparkir di area khusus tamu.
Kamaliel sengaja memarkirkan mobilnya di area khusus tamu agar lebih efisien waktu ketika dia nyaris terlambat masuk ke ruang kelas Fanya, yang sialnya harus menaiki tangga.
“Wali kelas kamu itu ternyata guru SMA Kama, loh,” ungkapnya melirik ke samping kiri, risau.
“Em, beliau bilang kamu anak baik, walaupun udah jadi langganan ruang konseling. Bu Ida titip pesen supaya Aya nggak boleh curang lagi. Soal gagal seleksi kemarin Bu Ida kecewa banget, bahkan guru-guru juga—”
Kamaliel menyadari atmosfer di dalam mobil sempitnya ini menegang. Bahkan ketika helaan napas keras itu keluar dari mulut Fanya. Kamaliel mengurungkan basa-basinya.
“Ya … yaudah deh, kita berangkat …,” lanjut Kamaliel lesu.
Selama di perjalanan, Fanya hanya memandang ke samping kiri, pada jendela dengan menampakkan tempat dan area jalanan yang dilewati. Pikirannya melanglang buana pada seberkas tragedi masa lalu yang membuatnya terpukul.
“Kama, kenapa, ya? Ketika Aya memutuskan untuk diam dan nggak bertingkah, ada aja orang yang sentil kesabaran Aya dengan berbagai cara.”
Bertanya tanpa berniat menoleh ke arah Kamaliel. Fanya sedang berusaha menyembunyikan matanya yang memerah dan mulai berkaca-kaca.
Mulutnya mengeluarkan desisan rendah. “M-mmh, nggak tau, ya. Udah jadi sifat manusia yang paling umum kalo urusan gubris-menggubris. Senggol-menyenggol.”
Namun, pepatah pernah berkata: sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya capek juga. Sepandai-pandainya Fanya berbohong, menutupi dirinya sebaik mungkin, akhirnya akan ketahuan juga.
Puas memalingkan wajahnya, dan berakhir ingusan. Fanya sudah ketahuan menarik ingusnya secara reflek karena tidak mau sampai meler.
“Kalo Kama sih paling nggak tahan bikin tenang orang ngeselin, dan akan ngusilin dia sampai puas. Kayak yang sering Kama lakukan sama kamu misalnya,” lanjut Kamaliel.
Dia berusaha menutupi keadaan adiknya dengan berpura-pura tidak tahu tentang acara menangisnya.
Hanya ada deru mobil yang terdengar setelah ucapan Kamaliel yang terakhir. Laju mobil yang dikendarai pria muda ini membawa mereka ke jalur yang tidak seharusnya.
Fanya yang sedari tadi berusaha menetralkan keadannya mulai protes.
“Pulang!” Suaranya terdengar parau. “Ini bukan jalan pulang ke rumah, kalo tau gini mah mending tadi naik angkot aja.”
“Kama nggak tau apa yang sebenernya kamu inginkan, tapi Kama bangga sama kamu, Aya. Bahkan Mama, Papa, dan Rey juga bakalan ngucapin hal yang sama. Kami bangga sama kamu, kami bangga punya kamu yang mau berjuang dan selalu usahain apa yang kamu mau.”
__ADS_1
Pada perhentian, lampu berwarna merah. Kamaliel dengan kalimat yang telah dia persiapkan ini tidak senang jika kemurungan Fanya harus terjadi di hadapannya.
Kamaliel tidak suka melihat Fanya murung karena pada akhirnya dia akan menangis dan membuat wajahnya jelek. Kamaliel tidak akan pernah suka adiknya berwajah jelek hanya karena orang lain.
“Nggak usah ditelen mentah-mentah ucapan orang lain mah, mereka nggak tau usaha apa yang udah kamu kerahkan untuk bisa ada di posisi sekarang.
"Menurut Kama, Aya udah jauh lebih dari cukup berusaha. Berusaha untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya walaupun orang-orang anggap itu aneh, atau apalah,” lanjutnya.
Menyanggah dengan mata yang kembali berkaca-kaca. “Nggak! Kama tuh nggak ngerti. Kama salah.”
“Kama bener, Aya nggak bakalan pernah punya temen karena sifat Aya yang nggak baik ini. Nggak masalah. Cuman bisa nggak sih? Mereka nggak perlu gangguin Aya juga?”
Fanya mengatakannya secara spontan karena dia selalu disudutkan terkait kasus dua tahun lalu yang menggemparkan satu sekolah, walaupun pada akhirnya cepat reda karena semua orang dilarang untuk membahasnya kembali dan akan dikenakan sanksi.
Namun, dengan redanya kasus tersebut malah membuat mereka menjadikan Fanya bulan-bulanan mereka dengan mengungkit kasus satu setengah tahun lalu. Terutama para pe-pe-ce-em, padahal Medali sendiri acuh akan perbuatan Fanya.
Hal yang lebih parah lagi adalah tidak menceritakan masalah ini kepada siapa pun, kecuali Frisly yang mencuri tahu, bukan mencari tahu, melainkan mencuri tahu karena dia sempat menjadi wali Fanya ketika masalah itu benar-benar sedang panas.
Fanya tidak pernah memberitahukannya kepada Kamaliel, bahkan Zico yang mengetahuinya dan sering main ke rumah mereka juga tidak pernah diizinkan untuk mengungkit masalah itu kepada siapa pun oleh Fanya.
“Udahlah, nggak usah ngambek. Rapor udah diterima, dan omongan orang lain nggak usah diladeni secara serius. Kadang-kadang mereka cuman nyeletuk nggak tau diri karena merasa paling lebih baik, padahal belom tentu bisa sebaik apa yang telah kamu perjuangkan,” ujarnya.
“Kita kencan ke toko buku sebelum pulang, gimana?”
“Deal!”
Mereka memutuskan untuk kencan ke toko buku, alih-alih kencan seperti yang Kamaliel sebutkan, mereka malah terlihat sedang berburu buku sebelum libur semester benar-benar dimulai.
Namun, Fanya tidak menduga jika kunjungannya ke toko buku besar di Bandung malah mempertemukannya dengan seseorang dari berkas masa lalu yang pernah dia sukai, bukan orangnya, hanya momennya.
Lambaian kaku dia layangkan kepada gadis yang dikenal jutek sejak masih kanak-kanak. “Nggak nyangka bisa sapa temen lama di sini. Lo emang sering jalan-jalan ke toko buku, ya? Dibanding ke kafe atau kulineran gitu,” lontarnya.
Fanya tersenyum tipis. Matanya bergerak gelisah mencari cara agar menghindar dari situasi dadakan ini. “Haha … senang ketemu sama temen lama. Gimana kabarnya?”
“Baik,” balasnya. Per sekon kemudian dia teringat sesuatu. “Kalo nggak keberatan, lo ikut gua sebentar ke kursi di sana. Ada hal penting yang mau gua sampaikan ke lo, Fanya.” Raut wajahnya mulai menegang.
“Ini tentang Revano,” katanya lagi.
Suaranya tertahan di mulut. “Ada apa?”
__ADS_1
Meski Fanya enggan, tetapi nalurinya malah membawa tubuhnya berjalan mengikuti langkah laki-laki itu. Iya, laki-laki.
“Gimana, ya. Gua harus cerita dari mana dulu, ya?” selorohnya.
“Dari Revano. Ada apa sama dia?”
“Dia … sebenernya Vano cuman manfaatin lo buat menangin sebuah taruhan,” katanya langsung. “Sori, Fanya.”
Fanya terdiam sesaat. “Oh,” balasnya singkat. Ekspresinya juga datar.
“Soal tantangan dengan taruhan posisi itu, ya? Udah tau kok, Vano udah cerita.”
“Dia … dia udah cerita?”
Melihat tanggapan gadis jutek itu adalah anggukan setuju, dia menjatuhkan bahunya.
“Sebenernya bukan itu aja. Gua nggak tau apa yang Revano rencanakan, tapi gua harap lo jangan berharap lebih karena dia udah balik lagi setelah hampir tiga tahun pergi dari hidup lo.”
Fanya tertegun dengan ucapan laki-laki ini.
“Justru hanya dengan dia kembali dengan karakter yang nggak berubah, bikin aku lega. Syukurlah dia nggak akan macam-macam. Walaupun Aya memang kurang yakin dan penasaran kenapa dia tiba-tiba balik lagi,” gumamnya di dalam hati.
“Vano itu nggak akan pernah suka sama lo, Fanya. Dia cuman baikin lo karena merasa kasihan kepada lo yang selalu sendirian waktu itu.” Dia membuka berkas kenangan yang dia simpan baik dalam memori otaknya.
“Dan, taruhan itu. Ini semua gara-gara gua yang nggak berani bilang ke lo kalo selama ini gua suka sama lo,” lanjutnya begitu berani.
“Vano juga terpaksa ikut taruhan gila itu cuman buat nguji keberanian gua. Ini semua dimulai dari gua, maka gua yang bakalan akhiri ini dengan membuat lo mengetahui hal yang sebenarnya,” katanya lagi.
Fanya bergeming. Tubuhnnya seakan dihentikan oleh mesin waktu atau jentikkan jari dari penyihir atau orang yang memiliki sihir, seperti om Goblin di dalam drama. Namun, per sekon kemudian bibirnya bergerak.
“Tara … aku nemu kutipan bahasa Inggris yang bagus kemarin. Sejak esde kamu pinter bahasa Inggris, Ra. Bunyinya gini; I beg, one day you’d fall for someone new.”
Fanya menghela napas sebelum akhirnya dia melanjutkan, “Dan, aku nggak berharap apa-apa dari siapa pun, Ra. Aku seneng Revano kembali untuk memperbaiki kesalahpahaman kami. Ah … soal taruhan edan itu, aku dukung Revano. Dia berhak atas impiannya.”
Setelah mengatakannya, Fanya bangkit dan meninggalkan laki-laki itu. Teman satu SD bernama Tara Aditya yang dikabarkan menyukainya.
“Kalo lo ngerasa ada yang aneh sama Vano, jangan sungkan hubungi gua, Fanya.”
Bukan trik, bukan juga bagian dari rencana. Tara benar-benar tulus, dia juga menyesal.
__ADS_1