Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
30. Dari Zero Person


__ADS_3

Dahulu, dia merasa terjebak dalam mimpi buruk yang indah, sehingga dengan polosnya dia mau bertahan sampai orang ini kembali.


Dahulu, orang ini seperti aster yang indah, tetapi sekarang dia bagaikan mawar dengan duri yang menyakitinya seolah tak pernah memikirkan tentangnya, seakan tak pernah terlintas sedikit pun tentanganya. Dahulu mereka dekat namun sekarang mereka berjauhan. Dia yang mengacaukannya.


Berulang kali dia membaca pesan-pesan itu, semakin bergetar hatinya. Fanya tak bisa menampik jika dia rindu. Memangnya tidak boleh merasakan jenis perasaan itu?


Tentu saja boleh. Makanya, dia tidak menampik perasaan itu.


Fanya biasanya langsung menghapus pesan dari nomor asing itu, tetapi semenjak si pengirim kedapatan mengirim pesan audio, hatinya bergetar.


Dia pikir selama ini hanya mengalami halusinasi bahwa dia selalu bersama seorang teman imajinasi. Namun, isi dari audio itu merupakan lagu kesukaannya dan lagu yang katanya mengingatkan dia tentang hubungan pertemanan mereka, sehingga dia mulai tersadar jika masa kecilnya bukanlah halusinasi belaka.


“Habisnya dia pergi gitu aja. Kayak hantu. Kayak teman imajinasi di film Inside Out,” ungkapnya, “kenapa dia kembali sekarang? Dipikir semudah itu untuk lupain yang lalu? Nggak!”


Fanya berjalan masuk dengan perasaan dongkol ke dalam rumah. Tak ada salam, dia masuk begitu saja dan meninggalkan Kamaliel yang bingung.


Bingung lantaran adiknya barusan turun dari dalam mobil, dia pikir adiknya akan membukakan pintu gerbang rumah namun ternyata tidak. Pria muda yang profesinya mahasiswa ini masih duduk terbengong pada kursi kemudi.


Kamaliel maklumi, adiknya pasti sedang melanjutkan acara merajuk, sedih, dan sebagainya sebab benda yang dia cari kapan hari tidak ada di tempat.


Sesuai kabar yang dia dengar dari mulut adiknya juga, bahwa gadis itu gagal ikut olimpiade sontak membuatnya terpikirkan satu hal: Fanya sudah beranjak dewasa. Bahkan dia nyaris menjadi jompo, buktinya gadis itu melupakan perintah tak terucap, yaitu membukakan pintu gerbang rumah.


Namun, sebelum Kamaliel turun, dia mencoba mengingat ucapan lirih dari adiknya barusan ketika dia turun dari mobil.


“Siapa yang pergi? Siapa teman imajinasi? Dan, apanya yang nggak mudah?” ulangnya. “Sebenernya dia kenapa sih? Apa gegara flashdisk doang dia jadi rada miring gini?”


Mengingat sebuah benda transfer data satu itu, sudut mulutnya menyungging naik. “Apakah bener adiknya si Fasya ngebet ke si Aya? Dengan masalah modelan kayak gini tuh malah bikin orang lain salah paham. Dikira mereka tuh pacaran, padahal cuman temen,” katanya terheran. “Terus Aya sama si Sasuke itu kumaha?”


Kamaliel akan meminta penjelasan adiknya kali ini. Tentang semuanya. Dia akan mencoba untuk membuat adik galaknya itu buka suara perihal kesedihan yang telah berlalu.


Mari bertaruh, siapa yang tidak penasaran tentang konflik yang terjadi kepada Fanya dan teman-temannya?


Jujur saja Kamaliel amat-sangat-sangat penasaran.


Setelah mengambil sebuah kotak hadiah dari lacinya, dia bergegas menemui Fanya yang sudah dapat dipastikan tengah mengurung dirinya di dalam kamar bersama beberapa tugas atau kegiatan.


Seharusnya, Kamaliel tidak perlu melakukan hal ini namun adiknya lebih penting. Kamaliel ada janji temu dengan seorang teman, tetapi sesuatu tentang adiknya lebih asyik untuk dia ketahui.


Ketukan pintu terdengar. Kamaliel menatap kotak hadiah di tangannya yang berwarna hitam dengan pita putih di atasnya dengan wajah datar. Kotak hadiah berukuran mini yang ada pada tangannya ini merupakan benda yang adiknya cari.


Mari lihat reaksi gadis galaknya ketika tahu jika sang kakak menemukan benda yang dia cari.


“Apa?”


Kamaliel sempat mematung beberapa saat, dia bingung untuk mengatakan kata apa padahal sedari tadi dia sudah bertekad.


“Nih.” Sambil menyodorkan kotak hadiah berwarna hitam itu ke hadapan adiknya. “Entah kenapa ada barang ini di kotak barang Kama.”

__ADS_1


“Kakang …,” katanya, “kamu dapetin di mana kotak ini?”


Sungguh penasaran. Fanya ingin tahu kakaknya mendapatkan kotak itu dari kotak yang mana di gudang?


Dia sudah berulang kali mencarinya pada hari yang berbeda namun tidak menemukannya. Dan, Kamaliel dengan mengejutkan malah berkata demikian.


Fanya tidak dapat percaya, sehingga dia kembali bertanya dengan raut wajah yang sulit diartikan. “Kotak kamu yang mana? Di gudang udah nggak ada ….”


“Kotak di kamar Kama-lah. Waktu kapan hari beberes kamar, di lemari nemuin kotak ini. Kalo nggak salah sih pas angkut polaroid. Kama pikir kotak ini pemberian dari gebetan buat Kama. Ternyata bukan, isinya—”


Matanya membeliak. “Kamu buka isinya?” Melihat tanggapan sang kakak, Fanya semakin tegang. “Isinya apaan?” tanyanya hati-hati.


Ada keraguan dan rasa canggung juga. Bukan main, Fanya merasa sudah ditangkap basah namun memangnya apa yang telah dia lakukan?


“Em, ya, dibuka buat tau isinya apaan. Isinya flashdisk, tapi Kama nggak buka isi flashdisk-nya kok.” Nggak ragu ragu buka isinya maksud Kama.


Dia tersenyum tipis sambil menatap lurus pada manik mata adiknya yang memancarkan kegelisahan. “Nih, ambil. Siapa tau bendanya berarti banget. Kama khawatir liat kamu kayak cacing kepanasan tiap kali nggak nemuin benda itu.”


“Jadi, kamu sengaja ambil benda ini?”


“Nggak sengaja. Kama nggak tau kalo kotak itu ada di dalam kotak barang punya Kama, Aya.”


“Bener apa bener?”


“Beneran.”


“Emang isinya ada apaan?” tanya Kamaliel, “Apa mungkin isinya—nggak mungkinkan?”


“Bukan apa-apa. Cuman rekaman penting yang harus Aya lihat ulang.” Dia terdiam untuk merancang alibi agar Kamaliel tidak mengejeknya. “Ada file kelulusan pas SD, Aya butuhin beberapa file untuk kebutuhan tugas sekolah.”


“Ya, udah. Udah nggak perlu murung lagi,” katanya, “jadi, kamu gagal ikut olim gegara barang ini, ya?”


“Bukan!” sanggahnya. “Udah sana pergi, dan makasih udah temuin barang ini, Kang. Aya sayang kamu.” Dia menutup pintu kamarnya begitu keras. Gerakannya secepat Usain Bolt.


Kamaliel menggeram kesal. “Belom selesai, heh!”


Padahal dia hendak menanyakan banyak hal. Dia pikir Fanya akan mempersilakannya untuk masuk terlebih dahulu.


“Hubungan dia sama si Sasuke gimana? Dan, kenapa dia kayak takutin sesuatu yang ada di dalam flashdisk?” Mencurigakan.


...----------------...


“Udah aku bilang, kan?” ucapnya. Dia menatap jengah terhadap satu nomor yang kini terus saja mengiriminya pesan, mana pesannya berantai, maksudnya berturut-turut.


“Harusnya aku blokir nomor dia aja nggak, sih? Kenapa nggak kepikiran buat blokir, sih?”


Namun, satu pesan terbaru yang dia terima membuat ucapannya hanya bualan semata. Isi pesan itu: dengerin deh, lagunya nggak ada obat. Ini bener-bener representasiin perasaan gua buat lo, Ya.

__ADS_1


Sudut bibirnya tertarik singkat. “Kemarin aku, sekarang gua. Labil banget ketikannya sohib si Kamaliel.”


Meskipun begitu, Fanya tetap membukanya. Membuka pesannya untuk mendengarkan audio terbaru yang nomor itu kirimkan kepadanya.


A lonely road crossed another cold state line


Miles away from those I love, purpose hard to find


While I recall, all the words you spoke to me


Can’t help but wish that I was there, back where I’d love to be, oh yeah


Dear God, the only thing I ask of you


Is to hold her when I’m not around


When I’m much too far away


We all need that person who can be true to you


But I left her when I found her and now I wish I’d stayed


Cause I’m lonely and I’m tired, I missing you again, oh, no~


TRING!


Zero Person : Ya, weekend ini kamu luang, kan?


Zero Person : Ayo, ketemu. Mari selesaikan semuanya?


Zero Person : Aku nggak suka kamu menghindar, cara kamu ini …


Zero Person : Ayo, kencan Sabtu ini, sekalian temenin aku beli buku buat persiapan olim


Zero Person : Sebenernya aku kurang apa sih, Ya?


Zero Person : Arghh! Bisa nggak sih besok hari Sabtu aja dan bukannya hari Jumat? Pengen cepet hari Sabtu, Ya


Zero Person : Balas, Ya. Jangan dibaca aja! Aku tau kamu baca chatnya


We all need that person who can be true to you


“But I left him when I found him and now could have I’d stayed?” gumamnya.


...----------------...


cr music: Avenged Sevenfold - Dear God

__ADS_1


__ADS_2