Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu

Puberty: Deketin Cewek Jutek Itu
23. Was She All I Need?


__ADS_3

Rekam gambar dirinya yang terabadikan bertahun silam itu nyaris membuatnya kembali bagaikan sosok atap yang ditinggalkan penyangganya, rubuh.


Momen bersama mati. Wisata masa lalu isinya merindu, mencari pelarian dari kekecewaan yang bertransformasi menjadi keputusasaan yang sirna.


Walaupun berujung gagal, sampai-sampai Ana berkata, “Sewajarnya aja kalau kecewa.”


Semua yang sirna akan terbit kembali, begitu tambahnya. Namun, Fanya tidak yakin sepenuhnya akan hal itu, meskipun seorang ibu yang memiliki jaminan surga di bawah telapak kakinya. Tetap saja, Fanya meragukannya sebab dialah yang mengalami bukan sang mama.


Berlalu dan terus berlalu, tetapi pikirannya selalu bertaut pada ucapan Kamaliel yang mana membuat pertahanannya selalu nyaris rubuh.


Masih ingatkah dengan ucapan sembrono yang dilontarkan laki-laki lajang itu?


Sejak malam di mana Fanya mendapati rekam gambar terpajang pada dinding kamar kakaknya, perempuan itu tak hentinya memikirkan ulang polah tingkahnya yang berubah semenjak seberkas kejadian lalu.


Fanya seakan mempertimbangkan ulang apa yang telah dia lakukan selama tiga tahun belakangan. Mempertimbangkannya hanya berdasarkan ucapan sembrono sang kakak waktu itu. Hingga kini, sudah berminggu-minggu berlalu.


Tidak masalah jika dia terlarut dalam pikirannya selama ini, tidak masalah jika dia serana dengan apa yang dia rasakan dan alami, tetapi bersama dengan orang menyebalkan seperti perempuan sok populer satu ini, Hanalya, adalah beban terberat yang pernah dia miliki sepanjang alur kisah ini.


Hanalya menggeram jengah ketika sahabatnya enggan berbicara kepadanya, sehingga dia melakukan berbagai cara untuk menggubris gadis itu.


“Tau nggak sih? Kata Kyla, dia nggak pacaran sama si Berlagu itu. Kyla ternyata bohong, tapi Kyla juga jujur kalau cewek yang waktu itu nangis—” Sayangnya ucapannya ini disambut kurang baik oleh penerimanya.


“Bisa diem nggak?” hardiknya, “Mumet nih!”


Fanya mencengkeram kedua sisi kepalanya, mencengkeram helai rambutnya saking frustrasi.


Mana tadi ada ulangan dadakan dari mata pelajaran Bu Ida, belum lagi tugas-tugas yang dia timbun dengan tugas lain, tetapi dirinya enggan mengerjakan semua tugas itu berkat adu argumen dengan dirinya sendiri.


Alhasil, Fanya harus mengerjakan secara bertahap para tugas yang dia timbun sendiri ini.


Dia menepuk jidatnya. “Aku lupa kalau kamu lagi ngebut kerjain tugas.”


“Makanya diem!”


Hanalya mengangguk, tetapi dua detik kemudian dia kembali bersuara. “Kamu kalau ada masalah tuh bilang, jangan dipendem sendirian, Neng.”


Sebenarnya, Fanya dan Hanalya berada di perpustakaan agar lebih khusyuk dalam mengerjakan tugas dan juga menghindari cibiran dari anggota kelas yang mana selalu berharap lebih terhadap Fanya.


Berharap lebih dalam artian; Fanya itu benar-benar tipikal anak impian, sempurna, anak olim, selalu kumpulkan tugas paling duluan, dan lain sebagainya. Walaupun sikap dia minus.


Entah karena apa beberapa minggu terakhir dia menjadi bahan pertimbangan anggota kelasnya sendiri. Ketika guru besar kelas 9-C mengumumkan penurunan dramatis pada nilai yang Fanya hasilkan.

__ADS_1


Di sisi lain, ada seseorang yang diam-diam menguping pembicaraan mereka berdua. Sedari tadi, bahkan sebelum dua gadis itu masuk ke dalam ruangan penuh rak buku ini.


Seseorang ini teramat mengkhawatirkan sesuatu ketika mendengar gosip terpanas beberapa hari terakhir yang mana bintang utamanya tetaplah gadis jutek dan kejam itu.


“Dia kenapa, sih?” tanyanya. Rupanya dia mencium aroma-aroma kejanggalan terhadap perubahan yang mencolok dari si bintang utama gosip, Fanya Fransiska. “Semenjak ngobrol sama Mikel berdua di pesta ulang tahun si kembar … ada apa, sih?”


Fanya meringis, memijat pelipisnya pusing. Dibaliknya lembar demi lembar halaman buku paket yang menampakkan deretan kalimat penjelasan tentang sejarah keagamaan, kini hanya tersisa empat paragraf terakhir untuk dia rangkum.


Selanjutnya, dia menatap buku-buku lainnya yang terdiri dari dua buku paket dan satu buku catatan tugas matematika. Buku-buku yang akan dia isi dengan tugas-tugas yang dia timbun.


Tanpa banyak bicara, Fanya pun segera berlanjut untuk mencatat poin dari sejarah keagamaan ini secara ringkas, dia mengambil poin pentingnya saja. Setelah mencatat ini, dia akan langsung mencatat tugas mata pelajaran sosial sekaligus mengisinya, dan akan berlanjut kepada tugas matematika yang mana mendapatkan bonus soal dari Bu Ida.


Rencananya begitu namun kerongkongannya sudah kering, perutnya keroncongan meminta pengertian Fanya untuk segera mengisinya dengan sesuatu yang lezat.


“Kamu masih lamakah?” Hanalya sudah berulang kali menatap arloji di lengan kirinya. “Daripada kita kehabisan makanan favorit, mendingan aku yang pergi ke kantin, sementara kamu di sini dan tetep kerjakan tugas-tugas kamu, oke?” usulnya oke juga.


Iya, sebelum mereka berakhir nongkrong di perpustakaan setelah jam keempat berakhir tiga puluh menit yang lalu. Bayangkan selapar apa perut Hanalya yang sedari pagi belum dia manjakan dengan makanan.


Bukan hanya Hanalya, di seberangnya ada Fanya dengan bibir kering pecah-pecah akibat kerongkongannya kering. Perutnya juga berteriak kelaparan. Bukan hanya Hanalya, melainkan Fanya juga sebab sedari jam pertama gadis itu sudah ngebut menyicil tugas tanpa henti.


Fanya hanya mengangguk-angguk, walaupun matanya tak melirik ke arah sahabatnya sedikit pun. Dia sibuk dengan mendikte ulang kalimat yang dia baca untuk disalinnya ke dalam buku catatan. Akhirnya selesai satu lagi, sekarang sisa tiga dari sembilan tugas.


Dia juga akan menduga jika emosi Fanya tidak stabil sampai-sampai gadis itu nekat melewatkan jam makannya. Jika hal itu sampai terjadi, maka dia akan jatuh sakit, sedangkan dia tidak mau hal itu sampai terjadi.


Goddamn untuk hal apa pun dan siapa pun yang udah bikin Fanya kesulitan akhir-akhir ini.


Dia segera berjalan menghampiri keberadaan perempuan dengan tumpukkan tugasnya yang berserakan di atas meja di tengah ruangan luas ini. Sebelum dia memutuskan untuk mengeluarkan suara, dia menarik kursi di samping kanan Fanya sambil memperhatikan tumpukkan buku di atas meja dengan teliti.


“Kencan sama tugas, hm?”


Fanya menghentikan gerakan jarinya dan menggantungkan bolpoin hitam kesukaannya yang dia dapatkan dari Hanalya, hasil pinjam namun pada akhirnya menjadi milik Fanya seutuhnya. Fanya menoleh ke samping kanan dan membalas tatapan laki-laki itu.


Menelisik dari kemejanya yang berantakan, dasi yang tidak ditarik, sehingga tali berwarna merah itu menjuntai sepanjang lima sampai enam sentimeter, dan wajahnya yang tanpa ekspresi sama sekali. Selalu seperti itu penampilannya.


Pada seragam bagian kirinya terdapat pin papan nama: Zico I. Mahardika yang selalu terpajang rapi di sana, meskipun atribut lengkap, tetapi seragamnya benar-benar berantakan.


“Sengaja, hm?” katanya penasaran. “Sengaja lewatin jam makan? Jangan dibiasain ninggalin jam makan. Nih, diminum yogurt-nya.” Menyerahkan sebotol minuman fermentasi susu rasa pisang. Dia simpan di atas meja dan menggesernya ke hadapan gadis itu.


“Kata Bu Ida, sebentar lagi bakalan diadain seleksi buat olimpiade, jaga kesehatan, Ya. Gua harap lu yang maju di olimpiade.”


“Ngapain ke sini? Gimana kalo Hanalya tau?”

__ADS_1


Zico sudah menduga hal ini akan terlontar dari mulut gadis itu. Namun, dia tidak ingin membalasnya. “Kata Bu Ida, peringkat nilai lu turun dan ngebikin Bu Ida was-was.”


Fanya mendelik bersamaan dengan dengusan lirih yang keluar dari mulutnya. “Ke sini cuman mau mastiin kalau hal itu bener, iya?”


“Calm down, Ya.”


(calm down: tenang; santai aja kali)


“Mending lo pergi aja, deh! Gue butuh ketenangan dan gue nggak mau denger apa pun tentang turunnya peringkat nilai atau apalah itu yang kalian maksud!”


“Hei, santai aja kali,” peringatnya berusaha sabar. “Diminum dulu gih. Ini roti selai cokelat kacangnya juga dimakan. Gua yang traktir.” Dia segera bangkit dari kursi yang belum genap dia duduki selama dua menit.


Zico belum selesai dengan ucapannya. “Gua sengaja datang ke sini karena tau lo sama Hana bakalan ke sini, gua juga nungguin Hana keluar sebelum samperin lo. Gua …,” katanya terjeda karena helaan napas.


“Jujur gua khawatir, apalagi lo menunjukkan perubahan semenjak ngobrol sama Mikel di malam pesta ultah si Kembar. Lo kayak—”


Fanya tersulut. Matanya menatap lurus ke arah makanan dan minuman yang laki-laki itu berikan kepadanya. Dia terkekeh sinis. “DIEM, DEH. Lo nggak atau apa-apa, jadi berhenti ngocehin hal-hal yang nggak bakalan pernah bisa lo mengerti atau ketahui, Zi!”


Tak pernah disangka jika perempuan itu akan membentaknya, walaupun sudah sering sih dia melakukan hal itu untuk beberapa alasan, tetapi kali ini rasanya seperti membuat Zico dihantam benda besar.


“Gua pergi.”


Niatnya menghampiri adalah untuk membuat dan melihat gadis itu tersenyum. Melihat senyumannya yang seperti sebuah keajaiban, dan hanya dia yang bisa membuat keajaiban itu di lingkungan ini.


Gadis itu, senyumannya, duo sikapnya, sifat manja yang menurutnya menggemaskan itu, benar-benar sebuah keajaiban, yang hanya bisa dia lihat dari sosok Fanya. Cewek yang dikenal jutek dan berdarah dingin dalam lingkungan ini. Di sekolah.


“Lebih baik kita berhenti aja untuk saling peduliin satu sama lain, Zi. Percuma juga sih kayaknya.”


Benarkah itu? Dialah orang yang begitu dia butuhkan? Setelah perjalanan yang cukup panjang untuk mempertahankannya selama ini?



A/n:


Sejujurnya, bukan tentang hubungan Fanya dengan Revano yang menjadi satu-satunya kisah dalam karya ini, melainkan hubungan tersembunyi dari Fanya sendiri. Hanya saja ... ah, sudahlah.


Bagaimana tanggapan kamu sejauh ini?


Menurut kamu ini kisah yang seperti apa, sih?


/Nanas harap kamu kasih tanggapan. Gimana pun juga, Nanas ingin berkarya di NovelToon dan berinteraksi dengan pembaca di sini. Mohon partisipasinya, terima kasih so much!

__ADS_1


__ADS_2