
Terkadang seorang yang selalu manut sama aturan juga bisa langgar peraturan. Buktinya si cerewet Hanalya ini. Kebetulan hari ini ada inspeksi kepramukaan, biasanya sih jarang dilakukan untuk seluruh anggota kelas di SMP PGRI Margayu, entah ada apa gerangan Pak Bara menyambangi setiap kelas dan mewajibkan anggota kelas dalam inspeksi kepramukaan hari Sabtu ini.
Menurut informasi yang Pak Bara tuturkan, hari ini ada penutupan MPLS bagi kelas tujuh. Ternyata, oh, ternyata, akan digelar upacara penyambutan sekaligus penobatan sebagai penggalang dengan tingkat tertentu, serta penobatan sebagai siswa resmi SMP PGRI Margayu angkatan tahun ini. Dan kemudian, Pak Bara meminta seluruh kelas sembilan dan delapan untuk ikut turun ke lapangan. Diadakan upacara pada teriknya mentari pagi yang sudah hampir berada di perempatan langit Bandung. Panas.
Setelah mengikuti satu jam setengah pelajaran bersama Bu Ida, mereka dibubarkan dari kelas dan diarahkan menuju lapangan yang menjadi area tengah di dalam sekolah. Dikelilingi lorong gedung kelas dan beberapa gedung fasilitas. Mereka berbaris di lapangan sesuai kelas dan tingkatan.
Pakaiannya yang lain dari pelajar lain membuat Hanalya harus ditempatkan di dalam barisan sebab pakaian gadis ini lain dari yang lain. Biasanya gadis ini berada di posisi terdepan jika tengah baris-berbaris.
“Sumpah, ya. Itu si Bule kalo tadi nggak ada Bu Ida udah aku cakar-cakar, terus aku arak di depan para gebetan dia, dan nggak lupa buat pasangin papan dengan tulisan ‘Cowok Jelek se-Margayu’ biar kapok dia!” ungkap Hanalya sambil mengentakkan bumi.
Hanalya dan Fanya berbaris pada urutan paling tengah, di depan sudah ada pemimpin upacara tengah menyiapkan pimpinan tiap-tiap barisan, sedangkan Hanalya masih saja menggerutu pelan sambil menghadap ke arah Fanya yang notabene berada di belakang dia. Sudah mah seragam yang dikenakan adalah batik dan rok biru, mengobrol, dan tidak menghadap ke depan.
Berapa poin yang akan gadis itu dapatkan jika sampai ketahuan penjaga upacara?
“Neng, kamu setuju, kan? Si Mikel perlu diarak dengan kondisi terburuk dia di depan para gebetannya.”
Menunjuk dengan dagu angkuhnya, mata malasnya mencelik tatkala bersitatap dengan yang bersangkutan, Pak Bara, seakan menitah gadis ini untuk membenarkan posisi Hanalya. “Nggak tau. Yang pasti kamu udah ditandai sama Pak Bara, tuh!
“Balik kanan dan berdiri tegak aja, Han. Nanti aku bakalan laporin Om Polisi karena kamu udah langgar aturan berpakaian sekolah, ribut sama anak cowok, dan mau menjalankan rencana kejahatan terhadap orang yang nggak berdosa.”
...----------------...
Fanya tengah bermalasan di ruang tengah kediaman orang tuanya, biasanya sepulang sekolah ia langsung pergi mengikuti kelas tambahan namun ternyata hari ini libur. Dalam satu minggu Fanya mengambil tiga kali sehingga ada waktu beristirahat untuknya.
Selepas pulang sekolah rasanya sangat membosankan. Fanya teringat jika ia mendapatkan daftar lagu terbaru. Dengan penuh semangat, Fanya membuka aplikasi musik yang sudah terpasang di ponselnya, Fanya biasa memutar daftar musik secara acak pada aplikasi itu, sehingga lagu yang terputar tidaklah berurutan. Iringan musik dari lagu mulai mengalun. Fanya membuka aplikasi WhatsApp, kemudian membuka pesan seseorang secara luring.
Fanya mendapati sebuah pesan dari nomor asing yang sudah dapat dipastikan itu adalah orang yang sama dengan yang tempo hari, dia yang mengirimnya pesan spam. Dilihatnya pesan dengan 31 pesan belum dibaca itu bersama helaan napas dan sorot mata malas, Fanya segera menghapus pesan dari nomor asing itu tanpa membaca isi pesannya terlebih dahulu.
Punggungnya ia sandarkan ke punggung sofa empuk yang nyaman. Kepalanya menghadap lurus ke arah langit-langit ruangan yang bercat putih. Sambil mendengarkan musik yang mengalun merdu, suara penyanyi grup laki-laki asal Bandung itu menemaninya pada keheningan siang hari. Di rumah tidak ada siapa pun. Mama sedang bepergian dengan kakaknya, sedangkan Papa pasti masih sibuk dengan pekerjaannya. Gadis satu ini menerawang pada kejadian yang dia alami akhir-akhir ini.
Juicy Luicy. Musik pop yang mereka bawakan menemani kesendiriannya pada siang hari di hari Sabtu. Dengan senang kau terbangkan aku, terlalu tinggi~.
“Padahal selama ini aman-aman aja. Maksudnya … dia nggak pernah usik aku lagi setelah kelulusan SD dan pindah ke Arcamanik.” Helaan napas panjang dia kerahkan. Hanya memikirkan kejadian yang baru saja terjadi sudah membuatnya lelah sendiri. Fanya memejamkan matanya.
Semakin tinggi, semakin jauh kumelihat apakah kau genggam erat, tarik aku lebih dekat~
Kumohon … jangan kau lepaskan aku~
__ADS_1
Dering notifikasi membuyarkan suara musik merdu itu. Fanya segera menggapai keberadaan benda pipih dan canggih itu yang berada di samping tubuhnya. Melihat pada layar yang menyala dan menampakkan notifikasi pesan baru masuk dari aplikasi komunikasi itu.
Grup Berdua
| Kamaliel Ferdiasnyah mengirim foto
Kamaliel Ferdiansyah : Neng nomor itu minta kontak kamu
Kamaliel Ferdiansyah : Penting katanya
Fanya Fransiska : Siapa?
Fanya Fransiska: G usah dikasih
Fanya Fransiska: Org iseng doang
Kamaliel Ferdiansyah : Dia bilang ini tentang si Bule
Kamaliel Ferdiansyah : Dia bilang ayahnya udah setuju untuk arak si Bule
Kamaliel Ferdiansyah : Si bule yang mana?
Kamaliel Ferdiansyah : Dia mau ngadu ke ayahnya kalo kakang gak kasih kontak kamu
Fanya Fransiska : Y
Sementara itu, gadis yang dikenal gila popularitas ini sedang duduk sendirian pada salah satu kafe yang berada di area Braga. Sambil menunggu pesan balasan dari temannya, dia menyeruput segelas milkshake rasa stroberi pesanannya.
Selesai dengan kegiatan di sekolah, Hanalya bergegas pulang menggunakan angkutan umum tanpa menunggu jemputan dari sang ayah sebab gadis cerewet ini memiliki janji temu dengan seseorang di sebuah kafe. Rencana dadakan itu membuatnya segera pulang ke rumah dan gegas berganti tas serta membawa ponsel yang berhasil dia dapatkan berkat menjadi juara kelas dua tahun lalu.
“Masa iya ini nomor kakaknya? Fanya bisa iseng juga ternyata, dia ngaku kalau nomor ini adalah nomor kakaknya. Perasaan emang bener nomor dia tuh yang ini. Dia iseng kali, ya? Gegara aku tanyain tentang si iseng keempat belas terus,” gumamnya.
Tempat duduknya berada di pojok kiri kafe, tepat di dekat pintu masuk. Hanalya termenung sambil menatap ke luar ruangan yang diisi dengan kursi kosong di area tengah. Beberapa dari pengunjung pada pukul dua siang ini memilih duduk di dekat sakelar listrik yang disediakan di kafe, karena beberapa pengunjung dominan pelajar dan mahasiswa terdekat yang memang sengaja nongkrong sekaligus mendapatkan Wi-Fi gratis di kafe ini.
“Han!” panggil seseorang. Dia mengenakan blus selutut tanpa lengan sehingga menampakkan lengan dan bahu putihnya yang cantik. Rambutnya dia kepang menjadi dua bersama pita berwarna merah yang disematkan pada sisi kiri kepalanya.
Hanalya yang masih mengenakan seragam putih birunya, yang ia tutupi menggunakan sweter berwarna cokelat, gegas melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum lebar menyambut kedatangan temannya. “La, sini!”
__ADS_1
Kyla namanya, teman sekolah Hanalya saat SD lalu. Berkat bantuan Jia yang kedapatan membawa ponsel ke sekolah, sehingga Hanalya bisa masuk ke akun Instagram dan sebuah kebetulan yang menyenangkan tatkala Kyla mengabari Hanalya melalui DM. Berkat Jia kini Hanalya bisa bertemu dengan teman lamanya, Kyla.
“Oke, aku langsung ke poin utamanya aja, ya, Han.” Seakan tahu apabila Hanalya sudah tidak sabar dengan semua cerita dan informasi yang sudah dijanjikan pada percakapan di DM sebelumnya. “Di SMPN 2 tuh dia pentolan, kayak yang udah kamu ketahui,” ungkapnya sebagai pembuka.
“Tahan dulu, kamu mau pesen apa, La? Aku traktir deh, tadi Ibu kasih uang jajan banyak soalnya.” Hanalya memang tidak sabar dengan semua informasi yang Kyla miliki, tetapi gadis cerewet ini juga khawatir jika temannya itu kehausan atau harus menahan lapar hanya karena menceritakan semuanya secara langsung.
“Eh, nggak usah! Aku udah makan selama di jalan tadi, Bi Ina kasih aku camilan buat temen perjalanan.” Mengibaskan tangannya di depan wajah, gestur menolak dengan anggun.
“Tuhkan! Aku nyusahin kamu, ya? Kamukan tinggal jauh dari daerah ini, maaf ya. Soalnya aku tuh kangen banget sekaligus nggak nyangka juga pas kamu reply story aku yang semalam.”
Singkat cerita, dua gadis yang baru dipertemukan kembali itu menyelesaikan sesi melepas rindu satu sama lain. Setelah menghabiskan satu porsi makanan yang dominan manis dan lembut itu, cheesecake. Kyla benar-benar memantapkan diri untuk menceritakan hal yang dia ketahui tentang seseorang yang Hanalya tunjukkan pada status Instagram-nya semalam.
Kyla menjelaskan tentang seorang laki-laki yang merupakan pentolan sekaligus anggota band kafe. “Kebetulan banget mereka manggung hari ini, aku sengaja janjian di kafe ini karena mereka ada jadwal manggung hari ini di sini!” tambah Kyla begitu antusias, yang tentu saja membuat Hanalya terperangah.
Gadis itu berbalik saat sebuah suara yang berasal dari area tengah kafe, yang mulanya kosong kini sudah terdapat enam laki-laki berdiri dan bersiaga di tempatnya. Kyla merekahkan senyuman teduhnya sambil mengatakan sesuatu kepada Hanalya. Hal tersebut sontak membuat Hanalya terdiam cukup lama sambil menatap ke area yang Kyla pandangi.
“Cowok yang kamu posting di story Instagram kamu semalam itu pacar aku, Han,” ungkapnya. “Jadi, aku harap kamu jangan sembarangan posting tentang hal-hal yang seharusnya nggak perlu kamu ketahui. Seharusnya kamu nggak perlu posting ke publik dengan kalimat ‘sayangnya Fanya’. Aku tau siapa Fanya yang kamu maksud, dan aku nggak suka.”
Saat waktunya pulang, Kyla menyempatkan diri untuk menghampiri enam laki-laki yang sudah mengisi suara di kafe yang terbilang ramai ini. Sedangkan itu, Hanalya hanya bisa memandangi interaksi antara temannya dengan seseorang yang kapan hari ia temui di Tamansari. Hanalya memperhatikan interaksi antara lelaki itu dengan temannya, Kyla.
“Aku kok kepikiran isi chat yang Neng terima Rabu lalu, ya?” Sebuah kalimat terlintas di kepalanya. Dan itu berbunyi: Aku ramal kamu bakalan jadi sayangnya aku kok, suer. Hanalya mengerutkan dahinya, sedangkan matanya menyipit berusaha menajamkan pandangan kepada seorang laki-laki yang baru saja dia kenali namanya. “Revano, ya? Harus tanyain Nunu atau nggak si Bule, nih!”
Ketika di luar kafe, Hanalya melambaikan tangannya ketika Kyla benar-benar akan pulang duluan. Kemudian, sebuah suara menginterupsi lamunannya di sela mengantarkan Kyla pergi.
“Lo temennya Aya, kan?” lontarnya. “Temenan sama Kyla juga ternyata, haha.”
“Dan kamu … ternyata udah pacaran sama Kyla. Kenapa kamu kirim chat yang ambigu ke Fanya?” tuduhnya telak.
“Pacaran sama Kyla?” Nada bicaranya tak terduga, seakan terkejut dengan apa yang baru saja dilontarkan gadis itu, dan sialnya gadis itu mengangguk yakin.
“Denger, ya, Revan atau apalah itu nama kamu …,” katanya, “jangan pernah kamu usik Fanya karena kalau sampai hal itu terjadi, kita bakalan ketemu di meja hijau!” peringatnya. Tentu saja bukan bualan semata, gadis ini tahu betul seberapa risi seorang Fanya kala mendapatkan pesan iseng itu. Mana sudah yang ke-14. Hanalya akan membicarakan ini dengan ayahnya dan membawanya ke jalur hukum jika memang disetujui sang ayah.
Namun, tanggapan lelaki itu sangat di luar dugaan Hanalya. Dia terkekeh puas. Hanalya diam tanpa berniat berbicara lebih lanjut. Laki-laki yang memiliki ciri-ciri mata sipit dan tahi lalat di bawah bibirnya itu benar-benar telah membuatnya muak, padahal sebelumnya ia cukup optimis untuk mendukung kapal Fanya dan lelaki itu.
“Memangnya lo siapa sampai bisa ngasih peringatan kayak gitu ke gua?” Menantang. “Denger, ya. Lo nggak usah ikut campur urusan Fanya dan gua, sebab ini demi kebaikan gua. Dia bakalan jadi milik gua secepatnya. Dia bakalan takluk sama gua.”
__ADS_1