Putri Kecil Pemuas Dady

Putri Kecil Pemuas Dady
Bab 37


__ADS_3

Setelah emosinya bisa mereda karena ditenangkan oleh momy Lindsey, akhirnya momy Lindsey meminta Dady Domanick untuk fokus saja mengurus pekerjaan kantor dan bisnis group Limson, biar nanti urusan Naura akan dihandle oleh momy Lindsey saja.


Dady Domanick akhirnya pergi meninggalkan rumah, sementara momy Lindsey hendak menemui Naura didalam kamarnya! Tapi gadis itu rupanya sedang dalam mode tidak baik-baik saja sehingga tumben sekali Naura mengunci pintu kamarnya dari dalam.


"Nola, nanti sore kita beli kalung diamond yang kau suka tempo hari itu, kau mau kan?"


Mendengar akan dibelikan kalung diamond yang beberapa hari lalu Naura incar setelah melihat di katalog yang dibawa temannya ke kampus, Naura pun langsung menghapus air matanya lalu membuka pintu kamar.


Dengan wajah tertunduk dan wajah yang sedikit sembab, Naura pun langsung memeluk momy Lindsey.


"Kenapa Dady marah padaku mom? Padahal wajar saja aku memiliki kekasih, teman-temanku yang lain banyak yang bahkan sudah beberapa tahun kebelakang memiliki kekasih?"


Diusapnya kepala Naura oleh Lindsey agar gadis itu tidak melibatkan emosinya lagi dan mau mendengarkan nasihat yang akan momy Lindsey sampaikan.


"Sebenarnya momy dan Dady bukan bermaksud buruk La, kami hanya ingin kau fokus kuliah dulu barulah setelah lulus kuliah jika memang ada yang menginginkan mu ya bawalah dulu laki-laki itu kehadapan momy dan Dady!"


"Tapi aku ingin dari sekarang memiliki kekasih, dan itu hak ku sebagai manusia!"


"Oke, kalau begitu bawa kekasih mu kesini agar momy dan Dady mengenalnya terlebih dahulu, kau bisa?"


Naura pun melepaskan pelukannya, sebenarnya mau sekali Naura memperkenalkan Dady Gilbert sebagai kekasihnya pada orangtuanya, tapi pastilah akan ada perang dunia karena orangtuanya sudah pasti akan marah besar dan tidak akan setuju atas hubungan ini.


Apalagi Dady Gilbert meminta waktu pada Naura agar dia bisa menjelaskan pada Dady Domanick tentang hubungan ini secara perlahan dan diwaktu yang tepat.


"Aku belum bisa mom, karena kekasih ku masih belum siap,"


"Oke, kalau begitu momy juga tidak mau kau bertemu terlalu sering dengan kekasih mu itu, apalagi ada bekas merah seperti ini lagi dileher mu! Jadi patuhi itu demi kebaikanmu sendiri!"


"Akan aku usahakan, tapi nanti sore momy janji kan akan mengajak ku membeli kalung diamond itu?"


"Iya momy janji, tapi minta maaflah nanti pada Dady mu semua uang kan pemberian Dady mu! Masa uangnya mau tapi menurutinya kau tidak mau?"


"Iya nanti Nola minta maaf mom,"


"Ngomong-ngomong kekasih mu itu apa sangat tampan? Lebih tampan mana dengan Dady mu?" goda momy Lindsey.


Spontan Naura menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum malu untuk menceritakan betapa tampannya Dady Gilbert Dimata Naura.


"Yang pasti dia lebih kekar dari Dady," bisik Naura.

__ADS_1


"Nola, kau ini!"


Keduanya tertawa bersama-sama membayangkan tubuh kekar kekasih Naura.


Sementara itu di tempat casino, Domanick masih memikirkan siapa laki-laki yang sudah berani melakukan itu pada anak gadisnya? Dan sudah sejauh mana laki-laki itu berbuat sesuatu pada tubuh anak gadisnya? Apakah hanya dibagian lehernya saja yang di hisap? Ataukah ada bagian lain.lagi yang lebih parah dari itu?


Membayangkannya saja sudah membuat kepala Dady Domanick mendidih ingin sekali dia bertemu laki-laki yang sudah berani meng hi sap leher putrinya.


Saat sedang melamun karena masih kesal dengan Naura yang juga menutupi sosok laki-laki tersebut, Gilbert datang menghampiri Dady Domanick.


"Tuan, kau memanggilku?"


"Disini tidak ada anak buah ku dan tidak ada anggota group Limson kenapa masih memanggil ku Tuan?" ketus Dady Domanick.


"Maaf aku lupa, ada apa Nick?"


"Kau tau, hari ini aku benar-benar kesal bahkan kepalaku nyaris meledak!"


"Tapi bukankah bisnis kita tidak memiliki masalah apapun? Untuk masalah Jazz, aku sudah menambah informan agar bisa lebih cepat melacak keberadaannya!"


"Ini lebih urgent dari masalah Jazz, kau tau? Nola hari ini berpapasan denganku di rumah, dan dilehernya ada bekas hi sa pan laki-laki bia dab!"


Dady Domanick meninju meja dihadapannya, tentu saja Gilbert langsung terkejut! Tapi bukan terkejut karena meja yang ditinju oleh Dady Domanick, melainkan karena bekas hi sa pan itu adalah bekas his a pan dirinya.


"Apa? Bekas hi sa pan? Nick, kau pasti salah melihat itu bisa saja bekas gigitan hewan!"


"Hewan macam apa yang memiliki hasratt sebesar itu? Bekas merah sampai kebiru-biruan, itu pertanda laki-laki itu sangat buas, bisa jadi lebih buas daripada aku saat muda!"


Glek..


Gilbert hanya bisa menelan salivanya melihat reaksi Dady Domanick.


"Lalu apa Nola bicara siapa yang melakukan itu?"


"Tidak, dipaksa pun dia malah menangis aku bahkan sampai membentak anakku, gara-gara laki-laki sialan itu kalau nanti aku tau siapa laki-laki itu, akan aku penggal kepalanya lalu aku gantung ditiang bendera untuk mengganti bendera didepan!!


Mendengar ucapan Dady Domanick, replex saja Gilbert mengusap lehernya sendiri.


"Nick, tapi bukankah sangat wajar anak se usia Nola melakukan itu? Dia sudah dewasa!"

__ADS_1


"Apa-apaan kau Bert? Dulu kau paling tidak suka jika ada laki-laki yang mendekati Nola, kenapa sekarang kau seolah-olah mendukung?"


"Aku tidak mendukung, aku hanya berusaha meredam emosi mu!" kilah Gilbert dengan gelagapan.


"Belum saatnya Nola memiliki kekasih, aku masih ingin dia menjadi putri kecilku yang lucu dan manis, aku belum siap melepaskannya untuk laki-laki lain! Karena itu aku tugaskan kau untuk menyelidiki apa laki-laki yang dikencani oleh Nola!"


Gilbert tidak dapat berkutik dan berkata apa-apa lagi, niatnya untuk segera mengatakan tentang perasaannya terhadap Naura pada Dady Domanick, terpaksa harus diurungkan karena sepertinya ini bukan saat yang tepat dan belum saatnya, mungkin Gilbert harus menunggu hingga Naura lulus kuliah terlebih dahulu.


Melihat api kemarahan dikedua mata Dady Domanick, membuat Gilbert semakin memiliki ketakutan jika nantinya akan terjadi perselisihan dengan Dady Domanick akibat dirinya menjalin hubungan dengan Naura.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Gilbert sudah menjemput Sabia di lobby hotel! Rupanya Leya turut mengantarkan Sabia hingga di lobby hotel dan membuat Gilbert otomatis bertemu dengan Leya.


"Itu Dady sudah datang mom!" ucap Sabia.


"Hai Bert," sapa Leya.


"Hai Leya! Apa kabar?"


"Baik, kau sendiri bagaimana?"


"Ekhem," Sabia tersenyum melihat tingkah kedua orangtuanya yang sama-sama kaku.


"Aku baik, bagaimana kau sudah dapatkan rumah?"


"Iya, itu yang mau aku bicarakan! Kemarin aku dan Sabia mengunjungi beberapa agent properti dan akhirnya aku dan Sabia mendapatkan rumah impian kami!"


"Oh ya? Bi, Dady percaya selera mu pasti rumahnya sangat bagus kan?"


"Tentu saja Dad, dan bukan hanya rumah itu bagus Dad tapi rumah itu tetanggaan dengan rumah mu, kebetulan sekali kan Dad,"


Antara senang karena itu artinya Sabia bisa dekat jika pulang ke rumah ibunya, tapi Gilbert juga merasa tidak nyaman jika tetanggaan dengan Leya.


"Oh ya? Kok bisa?"


"Nah, jadi rumah yang kami beli itu Dad persis didepan rumah mu! Pemiliknya jual karena memang mereka pindah ke luar negeri!"


Memang benar, kemarin pagi Gilbert melihat plang rumah dijual rumah yang tepat bersebrangan dengan rumah Gilbert, tidak disangka itu bertepatan dengan Leya dan Sabia yang mengunjungi agent yang memasarkan rumah tersebut hingga akhirnya Leya memutuskan membeli rumah itu.


Duh Bibi Leya kenapa atuh beli rumahnya tetanggaan begitu, masih pengen curi-curi pandang Dady Gilbert ya??

__ADS_1



__ADS_2