
Saat ini Sabia sudah memasuki halaman rumah milik Mr Zie, hatinya sudah bersorak karena kemenangan dari taruhannya dengan teman-temannya yang lain sudah didepan mata.
Sabia pun memotret rumah Mr Zie dari dalam mobilnya, lalu mengirimkan ke group bahwa dia sedikit lagi akan memenangkan taruhan.
Ditekannya bel rumah Mr Zie itu oleh Sabia, sambil sesekali merapihkan rambutnya. Seorang pelayan pun datang membukakan pintu rumah.
"Malam nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong panggilkan Mr Zie, katakan mahasiswi ingin menyerahkan tugas padanya!"
"Baik, mohon tunggu!"
Sebenarnya pelayan merasa aneh kenapa menyerahkan tugas malam-malam begini, dan kenapa tidak kirim by email saja? Tapi karena berpikir mungkin name Zie sendiri yang meminta mahasiswinya datang ke rumah akhirnya pelayan pun mengetuk pintu kamar Me Zie.
Tok.
Tok.
Tok.
Baru saja Mr Zie hendak tidur setelah dari sore tadi memeriksa tugas dari 0ara mahasiswa yang dikirim ke email-nya, pintunya diketuk malam-malam begini, dengan sedikit bermalas-malasan Mr Zie membukakan pintu kamarnya.
Klek..
"Ada apa?"
"Tuan ada mahasiswi yang datang, katanya mau menyerahkan tugas!"
"Mahasiswi? Tugas apa? Kenapa tidak kirim ke email?"
"Iya Tuan, saya sendiri juga bingung soalnya tidak pernah ada mahasiswa yang datang ke rumah anda selama ini,"
"Ya sudah, biar saya yang temui!"
"Baik Tuan,"
Karena penasaran Mr Zie pun akhirnya pergi ke ruang tamu tempat Sabia duduk.
"Kau,"
"Hai Mr,"
"Untuk apa kau ada di rumahku?"
"Menyerahkan tugas, ini," menyodorkan flashdisk pada Mr Zie.
__ADS_1
"Kenapa tidak kirim email?"
"Jaringan WiFi di rumahku sedang error dan aku aku tau kalau Mr tidak suka keterlambatan kan? Aku hanya diberi waktu 1x24 jam, karena itu aku datang ke rumahmu!"
"Darimana kau tau alamat rumahku?"
"Aku akan jawab setelah kau mengajak aku minum bersama, atau makan bersama mungkin? Karena aku belum makan dan minum akibat mengerjakan tugas ini,"
"Tidak perlu kau jawab kalau begitu,"
"Mr aku sungguh lapar dan haus,"
"Aaa aw, magh ku sepertinya kambuh Mr ya Tuhan aku benar-benar kelaparan!" sambil memegangi perutnya.
Mr Zie pun dilanda kebimbangan, dia sangat tidak suka jika ada yang memasuki ranah privasinya apalagi sampai datang ke rumah bahkan makan di rumahnya, tapi melihat Sabia yang memegangi perutnya sambil meringis kesakitan, Mr Zie pun merasa kasihan.
"Ikut aku!"
Sabia pun tersenyum lebar lalu mengekor dibelakang Mr Zie, satu langkah lebih dekat lagi dengan kemenangannya.
Tibalah Sabia dan Mr Zie di ruang makan, karena sudah malam begini pelayan sudah tidak boleh bekerja lagi dan waktunya mereka berisitirahat. Mr Zie pun memasak menu praktis spaghetti untuk Sabia, tapi mencium aroma spaghetti membuat Mr Zie pun ikut merasa lapar.
Akhirnya dibuatlah dua piring untuk Sabia dan satu untuknya, setelah matang Mr Zie menghidangkan spaghetti di dua piring lalu menaruhnya dimeja makan.
Saat Mr Zie mengambil dua gelas dan air minum, Sabia buru-buru menuangkan narkotika yang bisa membuat seseorang kehilangan akal sehatnya dan tidak dapat mengontrol bir a hinya sendiri.
Keduanya kemudian makan malam bersama.
"Mr aku tidak menyangka kau bisa memasak juga,"
Tapi Mr Zie yang tidak senang dengan kehadiran Sabia, tentu saja hanya fokus makan dan buru-buru menghabiskan makanannya.
Setelah meminum air putih, reaksi narkotika itu rupanya sangat cepat, Mr Zie mulai mengusap leher belakangnya kedua matanya sudah menampakkan sesuatu kegelisahan.
Sabia pun tersenyum mengembang ini akan menjadi malam kemenangannya, tentu saja dia akan share pada group yang beranggotakan dirinya dan teman-temannya karena berhasil meniduri Mr Zie.
Uang taruhan senilai 200 juta pun akan menjadi miliknya, sebenarnya Sabia tidak butuh uang itu hanya saja kepuasan bisa mengalahkan teman-temannya dan bisa meniduri laki-laki yang jual mahal ini, membuat Sabia merasa puas.
Semakin lama efek narkotika itu semakin membuat Mr Zie lepas kendali.
"Sssthhh,"
Mr Zie merasakan hasrattnya yang begitu menggebu-gebu saat ini, dia tidak sanggup mengendalikan hasrattnya yang menuntut untuk mendapatkan kepuasan. Mr Zie sudah benar-benar mabuk dan dia berusaha berjalan meskipun harus terhuyung-huyung.
"Mr, ada aku disini jangan jalan sendiri jika aku bisa membantumu menuju kamar mu,"
__ADS_1
"Sstthh kau,"
"Iya Mr aku tau kau sudah tidak sabaran kan? Kau sudah gelisah menginginkan aku kan? Ayo Mr, kita ke kamar tunjukan aku kamar mu!"
Sabia membantu Mr Zie menuju kamarnya, setibanya didalam kamar. Mr Zie langsung ambruk diatas ranjang, dia seperti sedang melayang ke udara.
Dengan cepat, Sabia lantas melepaskan pakaian yang melekat pada Mr Zie satu persatu, tapi sebelum bersenang-senang dengan Mr Zie. Sabia pun melakukan panggilan video call di group.
Semua teman-temannya mengangkat panggilan video di group itu, dan melihat Sabia.
"Hai guys, kalian semua harus transfer uang kalian ke rekening ku sekarang juga!"
"Oh my God, Bi itu? Itu Mr Zie?"
"Wow,"
Semua teman-temannya yang tergabung pun langsung bersorak dan memberikan tepuk tangan pada Sabia, apalagi Mr Zie yang biasanya terlihat cuek, ketus dan berwibawa kini terlihat merengek pada Sabia untuk melakukan itu dengannya.
"Wuoww kau layak kami puja Bi, kau yang terhebat di kampus!"
"Sudahlah, aku harap kalian setelah ini tidak ada lagi yang meremehkan aku! Dan ingat semboyan ku, tidak ada laki-laki yang bisa menolak seorang Sabia, termasuk Dosen so jual mahal ini,"
Setelah mematikan panggilan video group, saldo rekening Sabia terus bertambah karena teman-temannya mulai membayar uang taruhan yang dimenangkan oleh Sabia.
Semua teman-temannya tak henti-henti memuji Sabia di group chatt tersebut, tapi Mr Zie segera merebut handphone tersebut dan melemparkannya, rupanya efek serbuk itu membuat Mr Zie tidak bisa berlama-lama lagi menahan hasrattnya.
"Ayolah layani aku," Mr Zie menciumi leher Sabia.
"Mr sabar dulu!"
Tetap diluar dugaan,.jika biasanya Sabia melihat sosok Me Zie yang cuek, dan bijaksana kini Sabia merasakan sosok yang berbeda ketika serbuk itu bereaksi pada tubuh Mr Zie.
Mr Zie menarik paksa Sabia, kemudian merobek pakaian Sabia dengan kasar.
"Mr stop pelan-pelan,"
"Aaaa,"
Tapi kembali Mr Zie merobek rok milik Sabia, hingga mencengkram kuat kedua tangan Sabia menggunakan satu tangannya.
Sementara satu tangannya yang lain dipakai untuk melepaskan seluruh pakaian Sabia.
"Mr, tanganku sakit!"
Tapi reaksi serbuk itu sungguh diluar dugaan, serbuk itu membuat Mr Zie merasa senang melihat Sabia merengek, segera diikatnya kedua tangan Sabia menggunakan kaos milik Mr Zie sendiri.
__ADS_1
"Mr tidak perlu diikat seperti ini, Mr sadarlah," Sabia mulai panik karena Mr Zie sepertinya tidak bisa lagi mengontrol dirinya sendiri.
Efek serbuk itu memang ada per dosis, padahal Sabia sudah meminta dosis yang rendah pada orang yang menjual, tapi sepertinya penjual tersebut salah ambil dan serbuk yang diberikan ternyata memiliki dosis yang paling tinggi.