
Setelah Sabia merasakan jika dirinya tak lagi ber ga i rah terhadap laki-laki, Sabia jadi sering melamun saat di kampus. Dia masih merasa heran dan bertanya-tanya ada apa dengan dirinya yang aneh ini.
Saat sedang berjalan sendirian untuk menuju ruangan kelas Naura, tak sengaja Sabia berpapasan dengan Mr Zie.
Karena sedang melamun Sabia tidak menyadari jika dia tengah berhadapan dengan Mr Zie saat ini.
"Aw,"
Dahi Sabia menabrak dagu Mr Zie, seketika Sabia pun mengangkat wajahnya.
"Mr Zie?"
"Coba jika yang kau tabrak itu bukan aku, mungkin kau sudah dimarahi karena berjalan sambil melamun,"
"Ow maaf Mr, tapi aku benar-benar tidak melihat mu ngomong-ngomong apa kau tidak apa-apa?"
"Memangnya aku kenapa?"
Sambil pergi begitu saja meninggalkan Sabia hingga keduanya tak lagi terlibat percakapan.
Keduanya memang masih sama-sama tidak memiliki ketertarikan satu sama lain secara serius saat ini, sehingga Sabia dan Mr Zie tidak pernah lagi menghabiskan waktu berdua.
"Bi, pekerjaan mu itu melamun terus setiap hari!"
Naura mendatangi Sabia yang sejak tadi berdiri didepan kelasnya.
"Nau, ini sangat aneh dan tidak normal,"
"Siapa yang tidak normal?"
"Aku!"
"Hah? Tidak normal bagaimana Bi?"
"Sekarang aku tidak bisa lagi ber ga i rah terhadap laki-laki!"
Ckckckck...
Naura malah menertawakan perkataan Sabia, perkataan Sabia membuat Naura merasa tergelitik pasalnya mana mungkin Sabia tidak bisa ber ga i rah terhadap lawan jenis, secara Sabia selalu mencicipi berbagai macam lobak laki-laki manapun yang dia mau.
"Kau bercanda,"
"Aku serius,"
"Sudahlah aku tidak akan percaya mana mungkin seorang Sabia yang hy per se x, tidak tertarik dengan lawan jenis,"
Rasanya curhat kepada Naura pun percuma karena jangankan Naura, Sabia sendiri saja tidak percaya apa yang tengah dia rasakan saat ini.
Hari ini Gilbert tidak bisa menjemput Naura dan Sabia di kampus karena sedang ada pekerjaan serius yang tidak bisa dia tinggalkan, Naura akhirnya dijemput oleh supir pribadinya sementara Sabia berjalan menuju halte bis.
Mumpung cuaca hari ini sangat cerah Sabia tidak memesan taxi tetapi memilih pulang menggunakan transportasi umum saja, tetapi saat sedang berjalan menuju halte bis, mobil Mr Zie memberikan klakson pada Sabia kemudian berhenti.
Melihat mobil Mr Zie yang dilakukan Sabia hanya berdiri menatap kearah mobil, sampai-sampai Mr Zie harus turun dari mobilnya untuk menghampiri Sabia.
"Kau mau pulang?"
"Ya, ini aku akan pulang Mr,"
"Kalau begitu biar aku antar,"
"Oke, begini dong setiap hari jadi aku tidak perlu kan mengandalkan Dady ku terus,"
Dengan cepat Sabia masuk kedalam mobil Me Zie, didalam mobil posisi duduk Sabia membuat rok mini yang dia kenakan tersingkap.
Mr Zie yang baru saja duduk dibangku kemudi melihat kearah Sabia yang sedang memakai lipstik dengan posisi duduk satu kaki menumpang disatu kaki lainya.
"Turunkan kaki mu!"
__ADS_1
"Kenapa memang?" sambil pandangannya tetap fokus pada cermin dan lipstik yang berada ditangannya.
"Rok mu tersingkap,'
Sebuah pernyataan yang membuat Sabia melirik kearah Mr Zie.
"Mr, apa kau sangat menginginkan aku lagi? Sampai-sampai kau terus melihat kearah rok, atau bahkan mungkin kau melihat kearah selang ka ngan ku?"
"Sembarangan kalau bicara," fokus menyetir.
"Ayolah mengaku saja aku tidak marah ko,"
"Sudahlah aku tidak mau bicara lagi padamu,"
"Mr kenapa kau marah? Aku kan hanya bercanda,"
Mobil Mr Zie melaju dengan kecepatan sedang, sementara keadaan didalam mobil malah hening.
"Ngomong-ngomong apa kau dan tunangan mu sudah berbaikan?"
"Tidak ada yang perlu diperbaiki,"
"Kau putus dengannya?"
"Hmm,"
"Hore!!!" bersorak.
Membuat Mr Zie geleng-geleng kepala karena Sabia kegirangan.
"Mr aku senang sekali mendengar mu sudah jomblo, kau jomblo dan aku jomblo itu artinya kita,"
"Kita mengenaskan,"
"Kok mengenaskan? Itu artinya kita cocok dong Mr,"
"Apa kau bilang? Aku anak kecil?"
"Hmm anak kecil," lalu tersenyum disudut bibirnya.
Saat sedang tersenyum seperti itu Mr Zie terlihat sangat tampan dan tulus, baru kali ini Sabia merasa sangat nyaman berada didekat seorang laki-laki padahal Mr Zie hanyalah dosen baginya.
"Mr aku tidak ingin pulang sekarang,"
"Kau mau ikut denganku?"
"Kemana?"
"Pameran patung!"
"Mau Mr, asal bersamamu pasti sangatlah menyenangkan,"
Keduanya menuju tempat diadakannya pameran patung, sebenarnya ini adalah hal baru bagi Sabia karena sebelumnya dia tidak pernah tertarik mengunjungi pameran-pameran seperti ini, tetapi entah kenapa saat Mr Zie mengajaknya Sabia merasa sangat senang.
Memasuki gedung tempat diadakannya pameran, Mr Zie berjalan disamping Sabia meskipun tidak menggandeng tangan Sabia tetapi Mr Zie selalu memperhatikan langkah kaki Sabia agar tetap berjalan beriringan.
"Kau suka dengan patung Mr?"
"Tidak!"
"Tidak? Lalu kenapa kau mengajakku kesini?"
"Karena kau tidak mau pulang dan kebetulan aku dengar dari Dosen lain kalau sedang ada pameran disini,"
Sabia tersipu malu karena Mr Zie sangat sulit untuk ditebak olehnya, keduanya kemudian bersama-sama masuk kedalam gedung, di sana sudah terdapat banyak kesenian patung-patung yang sangat menarik.
Karena Sabia berdiri terlalu jauh dari Mr Zie dan keadaan didalam pameran semakin banyak orang, Mr Zie pun melingkarkan tangannya dipinggang Sabia untuk mengunci pergerakan Sabia agar tak jauh-jauh darinya.
__ADS_1
"Mr kau sedang tinggi hasrattnya?"
"Apa?"
"Kau merangkul pinggul ku, apa kau sedang ingin?"
"Pikiran mu terlalu nakal Bia, aku hanya tidak mau kau hilang disini semakin ramai,"
"Kalau aku hilang maka kau akan merasa kehilangan?"
Lagi-lagi Sabia memiliki kegemaran baru yaitu menggoda Mr Zie.
"Untuk apa aku merasa kehilangan,"
Mr Zie menatap wajah Sabia begitu juga dengan Sabia.
"Karena kau akan segera jatuh cinta padaku!" kata Sabia.
"Kau terlalu percaya diri Bia, jatuh cinta itu tidak akan secepat itu!"
"Kalau aku bisa membuat mu cepat jatuh cinta padaku, kenapa tidak,"
Saat keduanya saling menatap satu sama lain, April yang merupakan tunangan Mr Zie datang memegangi pundak Mr Zie.
"Zie,"
Sabia dan Mr Zie kompak menoleh kearah suara April.
"April? Kenapa kau bisa ada disini?"
"Karena GPS mu Zie tadi aku ke kampus mu tetapi aku lihat GPS mu sudah tidak disana jadi aku datang kesini,"
Mr Zie lupa menonaktifkan fitur GPSnya yang terhubung pada April, dikeluarkannya handphone milik Mr Zie kemudian dinonaktifkannya fitur tersebut.
Mr Zie tidak mau lagi April bisa melacak atau mengetahui keberadaannya mulai sekarang.
"Aku sudah non aktifkan dan aku harap kau pergi dari sini,"
"Kenapa Zie, aku sudah meminta maaf dan aku sudah berjanji untuk tidak melakukannya lagi,"
Rasanya terlalu sakit untuk memaafkan April atas pengkhianatannya.
"April dulu aku mencintaimu dengan sangat tulus, tapi kau menyakitiku amat serius!"
April meraih kedua tangan Mr Zie untuk meyakinkannya kembali.
"Zie aku sekarang ada disini aku akan tinggal di kota ini seperti apa yang kau inginkan selama ini, kita mulai kembali dari awal ya?"
Sabia yang tidak tahan lagi dengan bujukan-bujukan April pada Mr Zie, segera melepaskan kedua tangan Mr Zie yang sedang digenggam oleh April.
"Udah ya pegangan tangannya,"
"Siapa kau?"
"Kenalkan, aku calon kekasihnya Mr Zie!" Sabia mengulurkan tangannya pada April.
Kemudian ditepisnya tangan Sabia oleh April.
"Tidak usah bermimpi kau tidak akan pernah bisa membuat Zie jatuh cinta padamu karena kau tau apa? Zie sangat mencintai aku dan tidak secepat itu dia bisa jatuh cinta,"
"Oh ya?? Wow kau salah Mr Zie bahkan mengajakku ke pameran ini,"
"Dia hanya bersikap baik padamu tidak lebih, jadi kau tidak usah terlalu percaya diri,"
Diluar dugaan Mr Zie menarik pinggul Sabia kemudian meraup bibir Sabia dihadapan mantan tunangannya.
Kedua mata April terbelalak begitu juga dengan Sabia, tapi hal aneh kembali dirasakan oleh Sabia.
__ADS_1
Semula Sabia merasakan tidak memiliki hasratt lagi, tapi ternyata berciuman seperti ini dengan Mr Zie sudah bisa membangkitkan bi ra hinya kembali.