Putri Kecil Pemuas Dady

Putri Kecil Pemuas Dady
Bab 88


__ADS_3

Kedua mata Naura sama sekali tidak berkedip memandangi gaun pengantin indah dihadapannya! Sampai-sampai pikiran Naura langsung membayangkan jika dirinya memakai gaun pengantin tersebut dan berjalan diatas pelaminan bersama dengan Gilbert.


Khayalan indah Naura terpaksa harus buyar karena saat ini gaun pengantin tersebut terhalang oleh wajah Sabia yang berada tepat dihadapan Naura.


"Astaga Bi, kenapa kau malah menghalangi?"


"Kau pasti sedang berkhayal kan memakai gaun itu? Sampai-sampai kau tidak mau lanjut berjalan dan terus saja memandangi gaun itu,"


"Ya, habisnya Dady mu bagaimana si Bi aku kan sudah lulus kuliah kenapa juga belum datang ke rumah bertemu dengan orangtuaku untuk membicarakan pernikahan, apa dia sudah tidak berminat ya Bi menikahi aku?"


"Entahlah Dady ku selalu tertutup untuk urusan pribadinya Nau,"


Selesai berbelanja Naura dan Sabia menunggu di sebuah tempat makan karena Gilbert yang akan menjemput mereka, sambil menunggu makanan datang, Sabia merenungi apa yang dikatakan oleh Naura.


Benar juga apa kata Naura, tidak bisa terus menerus hidup seperti ini yang hilang biarlah hilang tapi hidup kan masih terus berjalan. Sepertinya 2 tahun sudah cukup untuk Sabia terus terpuruk atas cinta yang tidak terbalaskan.


Lagipula ini seperti membuang-buang waktu, mencintai laki-laki yang sudah jelas-jelas sama sekali tidak pernah mencintainya! Apalagi sampai menghindari Sabia dengan menghilang bagaikan ditelan bumi.


Selama 2 tahun terakhir juga Sabia tidak pernah lagi menuntaskan hasrattnya, semenjak kepergian Mr Zie yang entah kemana Sabia tidak lagi memiliki hasratt terhadap laki-laki manapun.


"Nau, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu!"


"Apa Bi?"


"2 tahun lalu dengan gilanya aku menyatakan cinta pada Mr Zie!"


"Hah? Kau gila Bi, dia kan hanya dosen kita, lalu apa cinta mu mendapat balasan?"


Sabia menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjangnya.


"Oh my God pantas saja kau terlihat sangat murung selama ini rupanya kau ditolak oleh Mr Zie dan ditinggalkan begitu saja Bi,"


"Iya Nau, tapi aku sudah lelah dengan semua ini aku ingin memulai kembali dengan laki-laki lain meskipun hanya Mr Zie yang bisa membuat ku jatuh cinta,"


"Aku mendukungmu Bi, lagipula untuk apa kau mencintai dia yang entah kemana! Aku dengar-dengar dia juga kan sudah memiliki tunangan dulu,"


"Dia sudah putus dengan tunangannya Nau, tunangannya kepergok sedang selingkuh dengan atasannya!"


"Tetap saja mereka kan sudah terikat, ada banyak cara dalam memperbaiki hubungan yang sudah terjalin cukup lama tidak semudah kata putus untuk mengakhirinya Bi,"


"Jadi maksudnya, apa Mr Zie balikan dengan tunangannya?"


"Katanya mau melupakan masih saja kau penasaran akan hal itu Bi, sudah lupakan dan mulai membuka hati untuk laki-laki lain!"


"Iya juga Nau, tidak penting dia kembali pada tunangannya lagi atau tidak! Toh aku sudah ditolak,"


Makanan pun tiba, keduanya mengakhiri sesi curhat saat ini. Sabia sangat beruntung karena ayahnya akan menikahi wanita seperti Naura, dengan Naura membuat Sabia selalu merasa nyaman dan leluasa untuk curhat dan mengutarakan seluruh perasaannya. Berbeda jika Sabia mengutarakan perasaannya pada Leya Ibunya, rasanya tidak bisa leluasa atau bahkan tidak nyaman.

__ADS_1


Setelah makanan dimeja mereka tandas, tak berselang lama Gilbert datang menemui Naura dan Sabia.


"Dady," sapa Sabia.


Naura pun hanya melirik sebentar menatap kearah Gilbert.


"Kalian sudah selesai kan? Ayo kita pulang!"


"Dady tidak makan dulu?" tanya Sabia.


Akhir-akhir ini Naura memang sering banyak diam jika bersama dengan Gilbert, Naura kesal karena Gilbert tak kunjung merencanakan pernikahan keduanya.


"Dady sudah makan!"


Sabia melirik kearah Naura kemudian melirik lagi kearah Gilbert, melihat keduanya saling diam-diaman membuat Sabia heran sendiri.


"Kalian ini kenapa? Akhir-akhir ini aku perhatikan Dady dan little momy tidak saling bicara?"


"Apa maksudmu Bi, kami baik-baik saja," ketus Naura.


"Oh ya Dad, tadi Naura tidak mau beranjak ketika melewati outlet gaun pengantin di sana!"


Kaki Naura dibawah meja pun langsung menginjak telapak kaki Sabia karena mulutnya yang seperti ember bocor.


"Awww, Nau kau menginjak ku!"


"Ayo kita pulang Dady banyak urusan Minggu ini!" Gilbert terkesan mengalihkan pembicaraan.


Membuat Naura semakin kesal karena sikap Gilbert yang terkesan tidak serius seperti dulu. Dulu saja menggebu-gebu ingin segera menikahi Naura, tetapi sekarang begitu semua hal sudah siap Gilbert malah terkesan lambat dan tidak menggebu-gebu untuk masalah pernikahan.


"Dad antar aku ke rumah lebih dulu ya, baru Dady antar Naura pulang!"


"Iya baiklah!"


Mereka bertiga pun masuk kedalam mobil untuk perjalanan pulang ke rumah. Lebih dulu Gilbert mengantarkan Sabia pulang ke rumahnya, setelah Sabia turun di halaman rumah Gilbert, mobil kembali melaju menuju kediaman Naura.


Sepanjang jalan Naura hanya menatap kearah jendela kaca, Naura duduk disamping Gilbert yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.


Tak disangka tiba-tiba hujan turun tanpa aba-aba dengan begitu derasnya, membuat jalanan semakin bertambah macet.


"Mau nyalakan musik La?" tanya Gilbert.


"Terserah," sinisnya dan tanpa menoleh.


"Kau kenapa? Apa Dady berbuat salah padamu?"


"Pikir saja sendiri,"

__ADS_1


Gilbert meraih lengan Naura tetapi Naura kekeh tidak mau menoleh.


"Sayang Nola, ada apa?"


"Sayang-sayang, sebaiknya Dady tidak perlu memanggil begitu lagi,"


"Kenapa bersikap kekanak-kanakan begini si La, tinggal bilang saja apa mau mu kenapa harus bersikap begini pada Dady?"


"Apa? Dady bilang aku kekanak-kanakan? Menyebalkan, aku mau turun disini!"


"Hei Nola, jangan begitu dong sayang!"


Tetapi Naura yang sudah terlanjur kesal karena Gilbert tidak peka juga kalau sebenarnya Naura ingin segera membicarakan masalah pernikahan. Naura buru-buru keluar dari dalam mobil dalam keadaan hujan deras dan kondisi jalanan yang masih macet parah.


"Nola!" panggil Gilbert saat melihat Naura keluar dari dalam mobil menerjang hujan.


Gilbert buru-buru mengejar Naura tanpa sempat mengambil payung didalam mobil, membuat Gilbert dan Naura sama-sama basah kuyup.


"Ayo masuk!" Satu tangan Gilbert meraih tangan Naura.


"Lepaskan! Sana pergi!"


"Jangan seperti anak kecil begini,"


"Kenapa memangnya? Aku memang masih anak kecil kok, Dady yang ketuaan!"


"Nola masuk kembali kedalam mobil, kau bisa sakit kalau hujan-hujanan begini!"


"Tidak! Pergi sana, aku benci Dady,"


"Oke terserah kau saja jika memang kau tidak mau menurut pada Dady! Silahkan tetap hujan-hujanan seperti ini!"


Gilbert pergi meninggalkan Naura lalu masuk kedalam mobilnya kembali, sementara Naura hanya bisa geleng-geleng kepala karena tidak menyangka ternyata Gilbert benar-benar pergi dan membiarkannya dijalanan seperti ini.


Aduh Dad cewek mah gitu ga mau ngomong langsung, makanya Dad kalau jadi cowok tuh harus punya ajian yang bisa baca isi hati cewek ๐Ÿ˜€ Pokoknya ada 3 pasal ya Dad yang harus para laki-laki ingat.


Pasal 1 : Wanita selalu benar.


Pasal 2 : Wanita tidak pernah salah.


Pasal 3 : Jika wanita salah, balik lagi ke pasal 1 ya Dad๐Ÿ˜.


Siapa nih disini yang kalau ditawari apa-apa sama suami atau pacar bilangnya terserah, padahal aslinya mau begitu engga dituruti ngambeknya 7 hari tujuh malam๐Ÿ˜



__ADS_1


__ADS_2