Putri Kecil Pemuas Dady

Putri Kecil Pemuas Dady
Bab 69


__ADS_3

Sore harinya Oma Larisha sudah dibawa pulang dari rumah sakit dan diantar langsung ke rumahnya, tetapi Gilbert yang belum bertemu Sabia sejak semalam tidak bisa berlama-lama di kediaman Nyonya Larisha dan langsung berpamitan untuk pulang pada semuanya.


Gilbert sangat khawatir karena Sabia yang selalu tiba-tiba menghilang dari rumah dengan alasan menginap di rumah teman, tapi selalu sulit dihubungi. Maka dari itu Gilbert buru-buru pulang ke rumah untuk melihat apakah Sabia sudah pulang sore ini.


Setibanya di rumah, terlihat Leya sudah berada di halaman rumahnya. Gilbert turun dari mobilnya kemudian menghampiri Leya.


"Leya, kau disini?"


"Apa Bia sudah pulang Bert? Sejak semalam dia belum pulang kan? Handphonenya juga mati!"


"Ya, semalam kata pelayan Bia pamit untuk menginap di rumah temannya tapi ini aja aku baru tau kalau dia belum pulang ke rumah sudah sore begini!"


Keduanya sedang berbicara dan mobil Sabia akhirnya tiba di halaman rumah Gilbert.


"Itu Bia," Leya buru-buru berjalan menghampiri mobil Sabia.


Masih didalam mobil, Sabia sudah melihat Leya berada di rumah ini sudah pasti Ibunya itu akan langsung menodongnya berbagai macam pertanyaan.


Huhh..


Setelah menghela nafas Sabia turun dari mobil.


"Bi, kau darimana saja? Kenapa baru pulang sore begini? Momy telpon nomor mu tidak aktif!"


"Mom, kebiasaan deh momy selalu khawatir tidak jelas tentang Bia! Kan Bia sudah bilang semalam kalau Bia menginap di rumah teman, untuk mengerjakan tugas mom,"


"Tapi kenapa handphone mu sulit dihubungi? Dan momy tidak suka kau baru pulang sore begini!"


"Mom stop! Aku sudah dewasa jadi please bebaskan aku!" Sabia pergi menjauhi momy Leya karena malas dicecar berbagai pertanyaan.


Tetapi Gilbert berdiri dihadapannya sehingga Sabia pun berhenti melangkah.


"Bi, selama ini Dady memang membebaskan mu bahkan mungkin terlalu membebaskan mu sehingga kau terlalu terlena, jadi mulai sekarang Dady tidak akan mengizinkan mu untuk menginap di rumah siapapun lagi!"


Mendengar kedua orangtuanya yang dulu bahkan tidak ikut andil dalam memberikan kasih sayang dalam tumbuh kembangnya dari kecil hingga remaja, Sabia sangat kecewa karena sekarang kedua orangtuanya itu seolah tau yang terbaik untuknya.


"Mom, Dad, aku lebih suka kalian tidak ikut andil dalam kehidupan sehari-hari ku, aku terbiasa dengan itu semua! Tapi sekarang kalian seolah-olah selalu ada untuk ku, kemana kalian dulu saat aku membutuhkan peran kalian sebagai orangtua dalam mendidik ku??"

__ADS_1


"Bia," lirih Leya.


"Kenapa mom? Apa bedanya momy dengan Dady dimasa lalu? Momy selalu meninggalkan aku dari pagi hingga malam hari, kita tidak pernah bertemu mom padahal kita satu atap! Momy mana tau aku makan apa di rumah? Atau aku pulang sekolah pukul berapa, iya kan mom?"


Karena sejak Sabia balita momy Leya memang sibuk mengurus rumah sakit agar rumah sakit tetap bisa jalan walaupun orangtuanya meninggal, belum lagi dulu Leya sempat mencari-cari pasangan kembali namun tetap tidak ada yang berhasil.


Waktu Leya dihabiskan untuk bekerja dan berkencan, sehingga sosok momy itu ada bagi Sabia tapi perannya itu tidak ada.


"Dan Dady, kemana dulu Dady? Sejak aku lahir ke dunia atau sejak aku didalam kandungan aku sudah terbiasa tidak dipedulikan oleh Dady, jadi kalian berhenti seolah mengerti hidupku!"


Emosi Sabia meledak-ledak, tetapi apa yang diutarakan oleh Sabia hari ini itu semua memang benar. Sebagai orangtua, momy Leya sangat sadar atas kesalahannya dalam membesarkan Sabia yang hanya mencukupinya dalam segi materi tapi tidak memberikan pendampingan layaknya Ibu pada anaknya.


"Bia benar, aku memang bukan ayah yang baik tapi aku terlalu menuntut dia menjadi anak yang baik,"


Keduanya merenung bersama di halaman rumah, dan sangat menyesali telah melewatkan momen-momen masa kecil dan remaja Sabia.


Sabia menangis tersedu-sedu didalam kamarnya, kenapa baru sekarang orangtuanya peduli terhadap apa.yang dilakukan oleh Sabia? Dulu kemana? Keduanya tidak pernah ada.


Sehingga pergaulan bebas pun menjadi cara Sabia melepaskan kepenatan dalam dirinya, menuangkan kekecewaannya karena kesendirian.


"Baiklah Bert, hubungi aku jika Bia sudah mau bicara denganmu,"


"Ya,


Leya pergi meninggalkan kediaman Gilbert, sementara Gilbert masuk kedalam rumah. Melihat pintu kamar Sabia tertutup, Gilbert pun masih ragu untuk mengetuk pintu kamar Sabia, padahal ingin sekali Gilbert memeluk anaknya yang ternyata terluka sejak kecil.


Tapi tidak ingin membuat Sabia semakin marah, Gilbert pun memutuskan untuk besok saja bicara padanya.


Di dalam kamar, Gilbert menekan kontak Naura untuk berbicara dengannya ditelpon.


Mendapatkan telepon masuk dari Gilbert, Naura sangat senang dan langsung mengangkat teleponnya.


"Halo Dad,"


"Halo sayang," dengan nada pelan.


"Dady kenapa? Suara Dady sepertinya sedang tidak baik?"

__ADS_1


"Bisakah kita mengundur jalan-jalannya besok?"


"Memang kenapa Dad?"


"Dady ada urusan penting,"


"Jadi jalan-jalan denganku bukan urusan penting?"


"Ayolah sayang, Dady sedang tidak mau bertengkar denganmu!"


"Bicara jujur pada orangtuaku batal, besok jalan-jalan pun batal! Batalkan saja semuanya,"


Tuutttt...


Panggilan telepon terputus, Naura benar-benar kesal kali ini pada Gilbert karena dia sudah sangat berharap sekali besok bisa melewati hari yang indah pergi bersama dengan Gilbert.


Siapa sangka Gilbert akan membatalkannya begitu saja, tanpa menjelaskan masalah penting apa.


Keesokan harinya! Pintu kamar Sabia masih tertutup rapat, hari ini Gilbert tidak pergi kemanapun karena ini memperbaiki hubungannya dengan Sabia, begitu juga dengan Leya yang datang kembali ke rumah Gilbert untuk meminta maaf pada Sabia.


Rupanya pintu kamar Sabia tidak dikunci, Gilbert dan Leya pun kompak untuk masuk ke kamar Sabia. Gadis itu sedang duduk termenung dan sudah berhenti menangis juga.


"Pagi nak, boleh Dady dan momy masuk?"


Sabia enggan menjawab karena hatinya masih kesal.


"Momy rindu sekali padamu maafkan momy atas semua kesalahan momy Bia, momy sadar momy bukan momy yang baik untuk Bia, tapi percayalah nak momy selalu berusaha agar Bia bisa bahagia sekarang,"


"Dady sangat menyayangi mu Bia, kau tidak salah apapun kau berhak marah pada kami! Tapi jangan biarkan Dady mu yang sudah tua ini, mati dalam keadaan merasa bersalah karena putri cantiknya masih ngambek terus,"


Perlahan Sabia pun tersenyum mengembang mendengar kedua orangtuanya yang terus membujuknya seperti anak kecil.


Disaat yang sama Naura merasa bersalah setelah semalam menutup teleponnya begitu saja, pagi ini Naura sedang dalam perjalanan menuju kediaman Gilbert untuk meminta maaf atas sikapnya yang egois, sekalian Naura juga ingin mengobati rasa rindunya bertemu walau sebentar sebelum Gilbert pergi kerja untuk mengurus urusan pentingnya.



__ADS_1


__ADS_2