
Tubuh Naura melengking keatas sementara wajahnya mendongak keatas, dorongan itu sungguh membuat seluruh tubuh Naura mengalami getaran hebat yang luar biasa.
Tak kuasa menahan gejolak kenikmatan yang hampir tiba, Naura memejamkan kedua matanya, menggigit bibir bagian bawahnya karena merasakan dorongan itu sedikit lagi benar-benar akan meledak dibawah sana.
"Aaaaaahh Dad mau,,,,"
Perkataan Naura tidak sanggup dua lanjutkan, sementara Gilbert yang mengetahui bahwa gadis pujaan hatinya akan mencapai puncak nirwana justru semakin dalam memasukkan lidahnya kedalam bagian inti Naura, kemudian meny e sapnya dengan kuat.
Kedua tangan Naura pun meremat rambut Gilbert dibawah sana sembari menekan lebih dalam lagi wajah Gilbert dibawah sana.
"Dad ahhhhhhhhh,"
Nafas Naura terengah-engah dan akhirnya Naura berhasil mencapai puncaknya yang begitu indah dan menyenangkan dipagi hari ini. Tubuh Naura lemas dia tidak dapat berkata-kata lagi selain masih merasakan sisa-sisa pencapaiannya.
Setelah berhasil membuat Naura lemas dipagi hari, Gilbert pun mengangkat wajahnya dari dalam bagian inti Naura.
"Sayang apa kau puas?"
"Iya Dad, kau selalu berhasil membuat ku puas Dad,"
Keduanya sama-sama tersenyum atas apa yang mereka lakukan didalam mobil, Naura pun merapihkan pakaiannya kembali agar ketika Sabia tiba dia tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Ayah dan sahabatnya sendiri saat menunggunya datang.
Setelah Gilbert dan Naura merapihkan sisa-sisa bekas pertempuran dipagi hari itu, tak lama kemudian Sabia pun datang dia langsung masuk kedalam mobil.
"Pagi Dad, pagi little mom!" sapa Sabia dengan ceria.
"Pagi Bi," kata Gilbert lalu mulai melajukan mobilnya.
"Bi, temanmu siapa yang tinggal di apartemen itu?" tanya Naura.
"Itu loh Nau, yang bentuknya kecil tapi tidak sabaran," ujar Sabia cekikikan karena mengingat jika milik Dosen yang bermain dengannya itu sangat kecil tapi orangnya sangat tidak sabaran.
"Oh yang kecil itu ya? Kalau orangnya kecil begitu memang kau mau? Maksudku kau mau berteman dengannya?" Naura mengerti apa maksud jawaban dari Sabia.
"Terpaksa Nau karena ada kepentingan,"
Tanpa Gilbert ketahui kekasih dan juga putrinya itu sebenarnya sedang membicarakan lobak milik laki-laki yang bentuknya sangat kecil.
Akhirnya mobil tiba di halaman kampus, Sabia dan Naura pun berpamitan pada Gilbert.
Saat hendak menuju kelasnya, Sabia berpapasan dengan Mr Zie. Dia pun segera menghampiri Mr Zie.
"Pagi Mr,"
__ADS_1
"Pagi," sambil tetap melangkah pergi.
"Mr tunggu!" Sabia mengejar.
"Ada apa?"
"Kau kembali memberiku nilai D di tugas kemarin yang aku kumpulkan, apa tidak bisa aku diberi kesempatan untuk memperbaiki nilai ku?"
"Kalau begitu revisi tugasmu dan serahkan kembali padaku, 1x24 jam!"
"Hah? 1x24 jam? Itu tidak mungkin cukup Mr,"
"Kalau begitu tidak usah,"
"Eh, iya oke aku akan revisi!"
Mr Zie langsung pergi sementara Sabia berpikir mungkin ini adalah saat yang tepat untuk bisa memenangkan pertaruhan dari teman-temannya untuk bisa tidur dengan Mr Zie.
Didalam otak Sabia dia pun sudah menyusun rencana.
Sore harinya Sabia dan Naura kembali dijemput oleh Gilbert.
"Dad weekend ini Dady jadi kan ke rumahku?" tanya Naura.
"Hah? Apa Dady akan bicara weekend ini pada Paman Nick dan bibi Lindsey kalau kalian berpacaran? Dad, please jangan kau bisa ditembak langsung oleh Paman Nick!"
Sabia pun merasa cemas mendengar rencana Gilbert yang akan segera jujur pada Domanick dan Lindsey tentang hubungannya dengan Naura.
"Bi, tapi cepat atau lambat orangtuaku pasti tau! Dan aku mau menikah dengan Dady mu, jadi lebih baik bicara dari sekarang!"
"Nau, kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi dengan Dady ku jika Paman Nick sampai murka, dia bisa menggantung Dady ku hidup-hidup,"
"Bi, sudah! Ini sudah menjadi keputusan Dady! Nola benar, semua anggota group Limson sudah mengetahui hubungan kami, daripada orangtua Nola mengetahui ini dari orang lain lebih baik Dady bicara secepatnya!"
"Ya Tuhan," Sabia tidak bisa lagi menasehati ayahnya, karena percuma saja Gilbert pasti akan tetap dengan rencananya.
Naura tiba di kediaman, sementara Sabia dan Gilbert tidak mampir dulu dan langsung meninggalkan halaman rumah Naura.
"Bi, percayalah Paman Nick itu orang yang sangat menyayangi Dady dia tidak akan mungkin mencelakai Dady,"
"Dad, tapi kau tidak lupa kan? Paman Nick adalah ketua mafia group Limson, mafia nomor 1 di negara ini dan terkenal dengan kekejamannya dan tidak pernah mengampuni musuh-musuhnya!"
"Tapi kau juga harus tau Bi, singa dan harimau buas sekalipun tidak akan tega melukai keluarganya sendiri, Dady dan Paman Nick itu sudah seperti saudara Bi,"
__ADS_1
"Oke, aku tentu saja ikut senang jika benar Paman Nick dan Bibi Lindsey merestui hubungan mu dengan Naura, tapi Dad aku mohon aku tidak mau kau terluka,"
"Oke Dady paham sweety, ngomong-ngomong Dady setelah ini tidak akan di rumah karena harus pergi mengontrol club' malam dan casino, kau akan di rumah kan?"
"Oh iya Dad, aku ada tugas jadi aku akan begadang mengerjakan tugas ini!"
"Good girl!"
Setelah mengantarkan Sabia ke rumah, Gilbert kembali pergi bekerja. Sebenarnya jantungnya sudah berdetak tak beraturan memikirkan sebentar lagi Gilbert akan berkata jujur pada Domanick tentang hubungannya dengan Naura.
Hanya saja bila sedang didekat Naura atau Sabia, Gilbert berusaha menyembunyikan kegelisahan dan kegundahan hatinya! Padahal saat ini Gilbert sangat merasa takut, gelisah rasanya campur aduk sekali.
Seperti seorang pria yang akan melamar seorang wanita, tetapi wanita tersebut memiliki orangtua yang terkenal kejam. Begitulah perasaan Gilbert saat ini.
Sabia buru-buru menuju kamarnya untuk merevisi tugas yang mendapat nilai D pada mata kuliah Mr Zie. Tugas itu begitu sulit hingga membuat Sabia sangat fokus agar bisa merevisi tugas tersebut sebelum jam 00.00 malam, karena waktu yang diberikan oleh Mr Zie hanya 1x24 jam saja.
Tentu saja selain tugas revisi ini, malam.ini juga Sabia sudah mempersiapkan kejutan untuk Mr Zie.
"Pokoknya malam ini aku akan memenangkan taruhannya! Sabia dilawan,"
Pukul 23.00 malam Sabia berhasil merevisi tugasnya dengan baik, dia segera mandi karena akan ada satu tempat spesial yang akan dia tuju malam ini.
Tak lupa sebelum pergi meninggalkan rumah, memakai make up cantik dan parfum adalah ritual wajib untuk menunjang keberhasilan.
Setelah wajahnya sudah cantik, tubuhnya sudah super wangi karena Sabia memakai parfum yang sangat banyak, akhirnya Sabia keluar dari rumah membawa mobil pemberian dari Domanick.
Sesuai dengan informasi yang dia peroleh dari Dosen si lobak kecil, kini Sabia menuju kediaman Mr Zie.
Rupanya tempat tinggal Mr Mr Zie, terletak di salah satu komplek perumahan elit tidak jauh dari rumah Gilbert.
Hingga tibalah mobil Sabia didepan gerbang kediaman milik Mr Zie, security rumah yang melihat ada mobil yang berhenti didepan gerbang tuanya, segera menghampiri.
"Malam!" sapa security.
Sabia membuka kaca jendela mobilnya.
"Malam, aku kesini untuk bertemu dengan Mr Zie karena ada tugas yang harus aku serahkan padanya,"
"Apa sudah ada janji?"
"Tentu saja, aku ini mahasiswinya!"
"Baik nona, silahkan masuk!"
__ADS_1
Security pun membuka gerbang rumah mewah itu.