
Setelah memasuki lift ke lantai 8 apartemen, Mr Zie dan Sabia bersama, dalam hati Mr Zie tak henti-henti memanjatkan doa agar nanti apapun yang dia katakan pada tunangannya, bisa dimaafkan oleh tunangannya.
"Mr kau baik-baik saja?" tanya Sabia karena melihat Mr Zie sangat gelisah.
"Apanya yang baik-baik saja, kalau aku tidak mengenal mu aku tidak perlu menghadapi situasi ini, ketakutan terbesar dalam hidupku adalah takut menyakiti hati tunangan ku,"
Sabia memicingkan sebelah matanya menatap wajah laki-laki yang menurut Sabia, Mr Zie adalah sosok laki-laki spesies baru dan langka.
"Kau menarik Mr," Sabia mengedipkan sebelah matanya.
"Setelah pulang dari sini kau minumlah obat cacing agar matamu berkedip normal kembali,"
"Sit,"
Keduanya semakin dekat dengan pintu apartemen milik tunangan Mr Zie, tetapi seorang wanita usia sekitar 45 tahun datang dengan tergesa-gesa ditemani oleh dua orang laki-laki bertubuh besar yang diyakini itu adalah bodyguard dari wanita berusia 45 tahun itu.
Wanita dan kedua bodyguard itu berjalan terburu-buru mendahului Mr Zie dan Sabia yang berjalan santai, sampai-sampai wanita berusia 45 tahun itu menyenggol tubuh Sabia hingga tubuh Sabia pun hampir terjatuh.
Beruntung dengan sigap Mr Zie menahan tubuh Sabia menggunakan dua jarinya, seperti seseorang yang niat menolong tetapi terkesan jijik untuk memegang.
"Oh my God Mr, bukannya tubuhku kau tangkap dan kau dekap ini malah kau tahan dengan jari saja,"
"Masih untung aku tolong, kalau tidak kau bisa jatuh kelantai, siapa si wanita itu tidak sopan sudah menabrak malah tidak minta maaf,"
Mr Zie memperhatikan arah langkah kaki wanita berusia 45 tahun itu bersama dengan dua bodyguardnya, tetapi ada hal yang menarik perhatian Mr Zie hingga membuatnya mempercepat langkah kaki menuju wanita tersebut.
Wanita berusia 45 tahun berserta bodyguardnya itu berdiri dihadapan pintu kamar apartemen yang diketahui oleh Mr Zie, itu adalah pintu kamar tunangannya.
"Mr tunggu dong!"
Sabia ikut melangkah terburu-buru menyusul Mr Zie.
Wanita berusia 45 tahun itu memberikan instruksi untuk mendobrak pintu apartemen milik tunangan Mr Zie.
"Dobrak!" perintahnya yang disusul oleh anggukkan dari kedua bodyguard berbadan besar-besar.
Dug.
Dug.
Dug.
Ditendangnya pintu apartemen milik tunangan Mr Zie itu, membuat Mr Zie langsung menghampiri wanita tersebut.
"Apa yang anda lakukan? Kenapa pintu apartemen tunangan ku anda dobrak?"
"Tunangan! Heuh," menatap nyeleneh.
__ADS_1
"Hei nyonya tunggu! Anda tidak bisa maen masuk sembarangan seper,"
Mereka semua masuk kedalam apartemen milik tunangan Mr, dan seketika Mr Zie tak lagi bisa melanjutkan protesnya terhadap wanita berusia 45 tahun tersebut.
Bagai tersambar petir, tergulung ombak di lautan, terhempas ke dasar jurang paling dalam, Mr Zie melihat sosok wanita yang selama ini dia yakini sebagai sosok wanita idaman dan akan segera dia per istri 3 bulan lagi.
"April (nama tunangan Mr Zie) apa yang sedang kau lakukan?"
"Oh my God, Mr untuk apa kau bertanya laki-laki dengan wanita diatas ranjang dan tidak memakai sehelai benangpun tidak mungkin kan sedang diskusi kerja?"
Tubuh Mr Zie bergetar menahan amarahnya pada April, sementara April hanya tertunduk dihadapan Mr Zie dan tak berani berbicara apapun lagi.
April terlihat menutupi tubuh polosnya dengan selimut diatas ranjang, sementara seorang laki-laki tua yang diyakini itu adalah suami dari wanita yang mendobrak pintu apartemen milik April ini.
Laki-laki tua itu sudah memakai celana panjangnya sementara tubuh bagian atasnya masih polos karena tidak sempat memakai baju sudah terlanjur kepergok oleh istrinya.
"Seret wanita ja lang itu kehadapan ku!" titah wanita berusia 45 tahun itu.
"Mom cukup mom," laki-laki tua itu terlihat melindungi April.
Situasi yang terjadi selanjutnya adalah kedua bodyguard menyerahkan April pada wanita tua tersebut, sementara laki-laki tua itu berusaha melindungi April dari tamparan dan jambakan istrinya yang sudah diselimuti oleh kabut emosi.
Dicakarnya pipi April oleh wanita tersebut membuat April berusaha melawan namun kedua tangannya ditahan oleh satu orang bodyguard, Mr Zie sendiri buru-buru membantu April untuk melepaskan jeratan tangan wanita tersebut.
"Nyonya hentikan! Atau aku akan panggil polisi!"
Mr Zie masih berusaha membebaskan April sementara Sabia justru merasa heran, laki-laki itu sudah disakiti sedemikian kejamnya kenapa masih membela tunangannya.
Situasi didalam kamar apartemen ini semakin gaduh dan sulit dikendalikan, tarik menarik dan saling berteriak membuat pihak keamanan akhirnya datang untuk melerai semua ini.
Karena tidak ingin menyelesaikan masalah ini dengan pihak yang berwajib, suami istri berusia 45 tahun itu dan juga kedua bodyguardnya buru-buru pergi meninggalkan kamar apartemen milik April.
Wajah April dipenuhi luka dan lebam, dengan lemas April memunguti pakaiannya.
"Kenapa kau tega melakukan ini padaku?"
"Jika kau datang hanya untuk mencaci aku, lebih baik kau pergi,"
"April aku butuh penjelasan,"
"Kau pikir aku bisa bertahan di kantor besar itu karena apa hah? Karena aku memberikan tubuhku pada atasanku itu, untuk apa? Untuk aku agar bisa hidup kaya dan sepadan denganmu!"
"Kau butuh uang, aku akan berikan jika kau katakan padaku,"
"Oke Zie aku memang salah dan aku minta maaf, tolong maafkan aku Zie kita lupakan semua kejadian hari ini,"
"Sepertinya aku akan memikirkan ulang tentang pernikahan kita, aku pergi,"
__ADS_1
Sabia yang sejak tadi hanya menyimak pertengkaran Mr Zie dengan tunangannya, melihat Me Zie mulai pergi meninggalkan tunangan begitu saja, Sabi buru-buru menyusul.
"Jangan lupa, nanti kalau maen lagi pakai pengaman," Sabia mengedipkan sebelah matanya pada April.
Digandengnya Mr Zie oleh Sabia membuat Mr Zie berhenti berjalan dan melirik kearah Sabia.
"Apa? Mr mau marah? Tubuhmu harus aku pegangi siapa tau kau pingsan kan?"
Mr Zie pun tak jadi marah setelah mendengar niat baik Sabia, yang sebenernya itu hanyalah modus Sabia menebar benih-benih rasa kehati Mr Zie.
Hingga malam harinya Naura masih terjaga di kediaman Gilbert, berharap Gilbert kembali lagi ke rumah ini tapi hingga malam berlalu dan Sabia pulang ke rumah Gilbert tak juga terlihat.
"Astaga my little momy cintaku Naura, kau sejak tadi disini? Kau belum makan?"
"Katakan dimana Dady Bert Bi, aku mau bertemu dengannya?"
Hiks.
Hiks.
Hiks.
"Nau sudahlah lupakan Dady ku, dia sudah pergi jauh lebih baik kau mencari laki-laki lain yang seusia denganmu, jadi nanti hubungan mu tidak ditentang oleh orangtuamu,"
"Aku tidak akan pernah melakukan itu Bi, kau tidak mengerti bagaimana sejak aku kecil Dady Bert memberikan kasih sayangnya untukku dan hingga aku dewasa rasa cinta ini sudah terlalu besar,"
Sebenarnya Sabia tidak tega juga untuk menutupi keberadaan ayahnya dari Naura, tapi mau bagaimana lagi Dady Bert pun sedang berusaha saat ini.
Keesokan harinya, meskipun semalaman Dady Domanick demam tinggi tetapi dia kekeh mau pergi ke G.L shirt, siapa tau Gilbert muncul hari ini disana karena hari ini adalah pelantikan Gilbert sebagai CEO di perusahaan milik group Limson itu.
Saat hendak berangkat, Dady Domanick dan momy Lindsey berpapasan dengan Naura yang pagi ini baru pulang ke rumah setelah semalam menginap dan banyak bercerita dengan Sabia.
"Nola!" panggil Dady Nick.
Tetapi Naura sama sekali tidak menoleh dan terus berjalan.
"Dad sudah, wajar Nola masih kecewa padamu,"
"Aku titip Nola ya mom," dengan lemas karena tubuhnya masih demam.
Guys hari ini othor up cuma sebiji ya soalnya lagi ada urusan, besok baru lebih dari sebiji.
Untuk konflik juga ga akan banyak-banyak atau lama-lama ya segera akan othor pangkas kupas tuntas secepatnya...
Kalau ada yang tanya kenapa konfliknya nanti bentaran doang Thor? Ga muter dulu gitu? Jawaban othor cuma 1 si,
Udah kangen banget sama lobak import super panjang nya Dady Bert, kalian ada yang sama engga udah kangen kebelet kaya othor??😁
__ADS_1