
Malam itu mereka semua menginap di kediaman Oma Larisha, bahkan saat malam tiba Gilbert menyelinap kembali kedalam kamar Naura untuk mengulang apa yang menjadi kesukaan keduanya hingga pagi hari.
Barulah setelah hampir pagi, Gilbert kembali ke kamarnya dengan meninggalkan Naura yang sudah lemas lunglai melayani naf su kiat Gilbert sepanjang malam.
Tapi bagi Naura itu tak masalah yang diuntungkan disini bukan hanya Gilbert melainkan dirinya sendiri pun sangat diuntungkan, sudah tak terhitung berapa banyak Naura mencapai puncak kenikmatannya dan itulah yang menjadi kesukaan Naura saat melakukan kegiatan itu dengan Gilbert.
Laki-laki yang usianya sudah tak lagi muda itu mampu memberikan kepuasan yang bertubi-tubi pada Naura, dan itulah yang dibutuhkan seorang wanita saat berada didalam penguasaan laki-laki, wanita akan sangat bahagia dan senang jika laki-lakinya bisa memberikannya kepuasan juga.
Pagi itu mereka memutuskan untuk pergi bersama bermain golf dan makan diluar untuk merayakan berakhirnya konflik diantara Gilbert dan Dady Domanick.
Dady Domanick menggandeng Gilbert hingga tak membiarkan Gilbert menyetir mobilnya, Dady Domanick meminta supir untuk mengantar mereka semua.
Posisi duduk Dady Domanick dan Gilbert pun berdempetan membuat Naura langsung melayangkan protes.
"Dad apa yang kau lakukan, aku yang seharusnya duduk disamping Dady Bert,"
"Sudahlah kau duduk sana disamping momy Lindsey,"
"Menyebalkan,"
Dengan berat hati Naura akhirnya duduk tidak berdekatan dengan Gilbert, karena ayahnya itu seperti tidak bisa dipisahkan dari Gilbert.
"Nick terimakasih kau sudah memberikan restu untuk hubungan ku dengan Nola,"
"Ya, tadinya aku pikir aku bisa tanpamu Bert tapi ternyata aku tidak bisa kehilangan mu bagiku kau adalah orang yang sangat berharga, aku tidak bisa kehilangan mu!"
"Kau pun sama pentingnya bagiku Nick karena itu aku berjanji tidak akan mengecewakan Nola,"
"Apa-apaan mereka berdua," Naura menggelengkan kepalanya melihat ayah dan kekasihnya itu sangat romantis.
Di kediaman Gilbert!
__ADS_1
Pagi ini setelah selesai sarapan, Sabia melihat layar di handphonenya, tetapi tidak ada pesan atau telepon masuk dari Mr Zie.
Bukan apa-apa, hanya saja Sabia mengkhawatirkan kondisi Mr Zie yang terlihat sangat terpukul akibat tunangannya ternyata simpanan bos perusahaannya.
Terakhir kali setelah memergoki tunangannya melakukan hal seperti itu dengan laki-laki tua yang sudah beristri, Mr Zie sangat shock hingga diam seribu kata sepanjang perjalanan pulang mengantar Sabia ke rumah.
"Lebih baik aku datangi saja rumahnya siapa tau aku bisa menghibur Mr Zie,"
Tetapi saat hendak menuju mobilnya, seorang laki-laki muda yang merupakan teman satu kampus Sabia datang untuk menemui Sabia.
Keduanya memang telah terlibat janji untuk saling bertemu hari ini, hanya saja Sabia lupa akan hal itu.
Laki-laki tampan itu datang dengan mobil mewahnya.
Sabia pun mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam mobil, dan memilih untuk menatap mobil mewah yang baru saja memasuki halaman rumahnya.
"Bia," panggil laki-laki muda itu.
"Ayo, aku datang untuk menjemput mu,"
"Menjemput?"
"Kau lupa? Kita kan sudah berjanji untuk pergi hari ini,"
"Tapi aku ada urusan,"
"Aku sudah meminum sesuatu agar kau bisa puas Bia," bisik laki-laki muda itu.
Karena tergiur dengan iming-iming akan mendapatkan sebuah kepuasan, Sabia pun akhirnya menyetujui untuk pergi bersama laki-laki muda tersebut.
Sabia masuk kedalam mobil laki-laki tersebut dan keduanya menuju sebuah hotel yang sudah dipesan terlebih dahulu oleh laki-laki tersebut.
__ADS_1
Setibanya di hotel tanpa menunggu lama, keduanya menuju ke kamar yang sudah dipesan.
Sabia memang sudah ketagihan kegiatan ini dan dia sangat merasa puas jika bisa menikmati laki-laki diseluruh penjuru dunia, bisa mencicipi lobak para lelaki yang berbeda-beda Sabia merasakan kenikmatan tersendiri.
Tanpa basa-basi Sabia dan laki-laki itu langsung berciuman begitu berada didalam kamar hotel.
Tetapi ada sesuatu yang aneh dirasakan oleh Sabia, dia merasa jijik dan tidak menginginkan hal ini sama sekali.
Didorongnya laki-laki itu oleh Sabia.
"Hei cantik ada apa?"
"Aku tidak bisa!"
"Kenapa? Aku berjanji akan membuat mu sampai lecet dan puas sayang,"
Laki-laki itu terus berusaha meriah tubuh Sabia, tetapi Sabia langsung mendorong laki-laki tersebut dan menendang lobak miliknya.
Aaa...
"Aku sudah bilang aku tidak mau!"
Setelah mengatakan itu Sabia bergegas keluar dari dalam kamar hotel. Aneh memang sangat aneh, biasanya hasratt Sabia akan mudah bangkit ketika bersama laki-laki manapun apalagi laki-laki itu kekar dan tampan, tetapi kali ini sangat berbeda.
Sabia sama sekali tidak merasakan hasrattnya bangkit, atau memang hasrattnya tidak bisa bangkit karena sama sekali tidak ada rasa ingin untuk melakukannya.
"Kenapa seperti ini? Apa yang terjadi denganku? Aku kehilangan hasratt pada seorang laki-laki, ini tidak mungkin!"
Sabia meremat kepalanya sendiri tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, Sabia yang dulunya gampang ber ga i rah kini malah tidak bisa sama sekali ber ga i rah terhadap lawan jenis.
Hayo loh jangan-jangan Bia udah engga doyan nganu-nganu lagi sekarang 😀😀😀 baguslah biar engga maen terima aja lobak-lobak dari manapun.
__ADS_1