
Setelah pikiran keduanya sama-sama tenang, akhirnya Naura kembali berbicara untuk meminta restu untuk hubungannya.
"Mom, aku mencintai Dady Bert kau tau kan mom sejak kecil orang yang selalu ada untuk ku adalah Dady Bert, dia selalu melindungi aku mungkin itu sebabnya aku sangat nyaman dan akhirnya jatuh cinta pada Dady,"
"Nola, tapi perasaan itu bisa kau control! Masa depan mu masih panjang, momy dan Dady masih ingin melihat mu lulus kuliah dan menikah dengan laki-laki yang se usia denganmu,"
"Tapi momy dan Dady juga kan beda usianya,"
"Iya, tapi tidak sampai sejauh usia kau dan Gilbert,"
"Momy sayang kan padaku? Momy mau kan aku hidup ceria dan bahagia setiap hari? Dan pastinya aku akan aman jika memiliki suami seperti Dady Bert,,"
Naura kembali melayangkan jurus jitu untuk menyentuh hati Momy Lindsey.
"Nola,"
"Momy, cintaku aku bahkan sangat mencintai Momy dibandingkan Dady,"
Mendapatkan gombalan dari anak gadisnya, ibu mana yang tidak berbunga-bunga dan tidak luluh.
"Baiklah momy akan bicara pada Dady mu,"
"Terimakasih momy,"
Naura memeluk momy Lindsey, tidak ada hal terpenting di dunia ini bagi seorang ibu selain melihat wajah penuh kebahagiaan dari putri kesayangannya.
Keesokan harinya Dady Domanick kembali ke rumah dalam keadaan sakit, tubuhnya demam tinggi dan menggigil terpaksa beberapa anggota group Limson mengantarkan Dady Domanick karena wajahnya sudah pucat.
"Ada apa dengan suamiku?" tanya Momy Lindsey yang panik saat melihat wajah suaminya yang sangat pucat ditambah luka lebam diwajahnya.
"Begini nyonya, semalam Tuan berkelahi habis-habisan dengan Tuan Gilbert lalu Tuan Nick ditinggalkan begitu saja oleh Tuan Gilbert,"
"Benar itu Nyonya, Tuan Nick terlihat patah hati saat Tuan Gilbert memutuskan untuk keluar dari group Limson!" ujar salah seorang lainnya.
Obrolan itu terdengar oleh Naura, dia sangat terkejut ketika mendengar Gilbert keluar dari group Limson.
Tanpa peduli dengan keadaan ayahnya yang sedang dipapah oleh beberapa anggota group Limson menuju kamarnya, Naura terlihat berlari untuk pergi ke rumah Gilbert.
Setibanya didalam kamar, momy Lindsey langsung menelpon Dokter untuk memeriksa keadaan suaminya.
"Dad, ya Tuhan kau demam tinggi sekali!" momy Lindsey menyentuh kening Dady Domanick.
"Bert! Bert! Bert!"
Sambil mengigil Dady Domanick hanya memanggil satu nama.
"Sebenarnya yang patah hati itu kau atau Nola, Dad?" tanya Momy Lindsey.
"Jangan tinggalkan aku Bert! Jangan pergi!"
"Astaga, kenapa kau tidak nikahi saja Gilbert bukan aku!"
__ADS_1
Sementara Naura yang baru saja tiba di kediaman Gilbert, langsung turun dari mobil untuk menemui kekasih hatinya itu, saking terburu-burunya Naura bahkan sampai menubruk Sabia hingga keduanya sama-sama terjatuh.
Bught..
"Oh my God Nau, kau tidak lihat apa tubuhku sebesar ini?"
"Bi, dimana Dady Bert? Katakan?"
Sebenarnya Sabia tau Gilbert pergi kemana, hanya saja niat iseng Sabia pun muncul.
"Ayahku pergi Nau mungkin dia tidak akan kembali lagi ke negara ini!"
"Apa? Tidak mungkin, tidak mungkin Dady meninggalkan aku, Bi,"
Hiks.
Hiks.
"Nau kau harus sabar ya, mungkin sebaiknya kau harus move on dan mencari laki-laki lain saja!"
"Tidak! Aku mencintai Dady Bert, hanya dia yang aku cintai Bi, beritahu aku dimana Dady?"
"Maaf Nau, tapi aku juga tidak tau kemana ayahku pergi, yang pasti Dady membawa banyak koper sepertinya dia pergi ketempat yang sangat jauh Nau,"
Naura semakin kalang kabut mendengar Gilbert telah pergi, rasanya hancur sudah semua mimpi dan harapannya untuk bisa menjalani hubungan yang bahagia dengan laki-laki yang sangat dia cintai.
"Nau, aku tau kau sedih tapi sebaiknya kau istirahat dulu di kamar tenangkan pikiran mu aku ada urusan sebentar nanti sebisa mungkin aku akan buru-buru pulang untuk menghibur mu, kau tidak apa-apa kan?"
Hari ini Sabia ada janji dengan Mr Zie untuk bertemu tunangannya yang berada di luar kota, jadi terpaksa Sabia tidak bisa menemani saat-saat galaunya Naura.
Tiitttt...
Sebuah klakson ya g diyakini Sabia itu adalah mobil Mr Zie.
Sabia keluar rumah untuk menemui Mr Zie, benar saja pagi ini Mr Zie berpakaian sangat casual dan terlihat sangat keren.
"Hai Dosen tampan," Sabia memasuki mobil.
"Nanti jangan bicara sebelum aku menyuruh mu bicara,"
"Iya santai saja Mr, kau ini kaku sekali si,,"
"Bia dengar ini bukan sebuah lelucon jadi berhentilah untuk bercanda,"
"Kau sangat mencintai tunangan mu Mr?"
"Tentu saja," Mr Zie mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Sabia.
"Apa tunangan mu lebih cantik daripada aku?"
Mr Zie tak menjawab pertanyaan Sabia dan memilih fokus menyetir saja.
__ADS_1
Perjalanan selama dua jam ke beda kota itu jelas membuat Sabia sangat merasa bosan karena Mr Zie tidak mengajaknya bicara, hingga Sabia pun mengeluarkan sebatang rokok untuk dia nyalakan.
Tetapi tanpa diduga Mr Zie menarik sebatang rokok dari bibir Sabia lalu membuangnya ke bawah.
"Mr, kenapa membuang rokok ku?"
"Jangan merokok, kau terlihat tidak cantik jika merokok,"
"Oh ya? Jadi jika aku tidak merokok aku cantik ya?" Sabia malah menggoda Mr Zie.
"Hei sudah jangan dekat-dekat,"
"Mr, sebetulnya aku sangat ketagihan oleh batang milik mu yang besar itu," Sabia mencolek dagu Mr Zie.
Membuat Mr Zie mulai gusar dengan posisi duduknya karena tidak dapat dipungkiri, saat Mr Zie mengingat atau membicarakan peristiwa malam itu, miliknya kembali bereaksi seolah menagih hal serupa.
"Mr, kau sungguh tidak ketagihan?"
"Tidak, sudah henti omong kosong mu itu! Hal itu adalah pertama dan terakhir jadi hapus ingatanmu tentang malam itu,"
Huhh...
"Sayang sekali, padahal aku pikir akan ada yang kedua dan selanjutnya,"
Tetapi Sabia justru melirik bagian bawah Mr Zie yang terlihat menonjol dari balik celananya, Sabia pun tersenyum mengembang dia tau saat ini Mr Zie sudah terpancing hasrattnya, tapi Sabia mengerti jika Mr Zie memang tidak mau hasratt liarnya kembali menguasai dirinya dan mengecewakan tunangannya, jadi terlihat sekali dari wajah Mr Zie dia sedang mengendalikan hasrattnya yang mulai bangkit.
"Mr apa tunangan mu tau kita akan kesini?"
"Tidak, aku memang ingin secara langsung mengatakannya dan sekaligus aku ingin memberinya kejutan karena aku membelikan hadiah kalung cantik untuknya,"
"Waw kau romantis sekali Mr, memangnya kapan kalian akan menikah?"
"Tiga bulan lagi,"
"Aku pasti akan datang untuk memberi selamat,"
"Iya, aku harap dia tidak marah atau membencinya ku saat aku mengatakan kejujuran ini,"
Tak terasa mobil Mr Zie tiba disebuah apartemen mewah, tunangannya merupakan seorang sekertaris di sebuah perusahaan yang cukup besar di kota ini.
Sabia dan Mr Zie pun turun dari mobil, karena Mr Zie memiliki akses ke apartemen milik tunangannya itu, jadi Mr Zie diperbolehkan masuk oleh pihak keamanan apartemen mewah tersebut.
Dikarenakan urusan Sabia juga belum kelar nih, jadi othor selipin dikit-dikit ya biar kelar dua-duanya berbarengan gitu 😁
Terimakasih banyak atas dukungannya ya othor terharu sekali, kalau novel othor bisa banyak dibaca dan disukai banyak orang, btw 5 hari lagi pengumuman Give away ya ges ya, jadi jangan lupa kasih dukungan dong buat othor.
__ADS_1