Putri Kecil Pemuas Dady

Putri Kecil Pemuas Dady
Bab 46


__ADS_3

Leya tersadar jika ada Naura juga disini, dihampirinya Naura oleh Leya.


"Naura kau tidak apa-apa kan anak cantik? Orang jahat itu tidak melukai mu kan?"


"Aku tidak apa-apa Bi, justru Bia jadi seperti ini karena aku tidak menurut untuk dibawa, Bia mencoba menyelamatkan aku sehingga dia jadi tertembak seperti ini, maafkan aku!"


"Tidak sayang, ini bukan salah mu bibi yakin Sabia dan kau adalah sahabat yang bila salah satunya sedang mengalami kesulitan pasti lah akan saling tolong menolong, jadi kau jangan minta maaf,"


Diperlakukan sebaik ini oleh Leya dan Sabia, Naura jadi merasa jika dirinya adalah penghalang bagi keluarga kecil itu bersatu kembali.


"Apa aku jahat? Apa aku egois jika inginkan Dady Gilbert? Apakah aku termasuk orang ketiga disini?" dalam hatinya.


Tak berselang lama, Dady Domanick, momy Lindsey, Stanley, Steiner dan Oma Larisha datang ke markas untuk melihat kondisi Sabia dan bertemu dengan Naura.


"Nola, kau tidak terluka kan? Jazz melukai mu?"


"Dady, aku tidak apa-apa Dad,"


"Sayang, sini nak!" dipeluknya Naura oleh Lindsey.


Kedua adiknya pun tak kalah khawatir karena sejak peristiwa penyerangan itu Naura tidak ada disisi mereka.


"Ku pikir kau diculik kak, baru saja aku akan mencari kakak pengganti!" ujar Stanley.


"Benar, ternyata kau tidak apa-apa," kata Steiner.


"Memang ya kalian itu senang jika aku kenapa-kenapa dan kalian bisa mencari pengganti ku? Dasar!"


Ckckckck..


"Nola, Oma takut sekali tadi Oma pikir kau tertangkap oleh Jazz setelah tau Sabia tertembak,"


"Tidak mom Oma, aku aman sejak tadi!"


Dady Domanick dan momy Lindsey pun menghampiri Gilbert dan Leya.


"Bagaimana Sabia Bert?"


"Dia sudah melewati masa kritisnya Tuan,"


"Leya, kau pasti shock baru saja pindah kesini sudah ada hal yang membuat Sabia terluka sampai begini!"


"Tidak apa-apa Sey, mungkin memang sudah takdir tapi kan dibalik musibah ini Bia jadi Bia dekat dengan Dadynya,"


"Tuan mari kita bicara di luar,"


"Mom kalian disini dulu ya, Dady mau ada perlu dengan Gilbert,"


"Iya Dad,"


Melihat Gilbert pergi dengan ayahnya, Naura pun sempat mencuri-curi pandang.

__ADS_1


Dady Domanick dan Gilbert menuju ruangan bawah tanah, disana Gilbert mengurung Jazz dan mengikatnya dengan rantai.


"Silahkan Tuan!"


Keduanya masuk untuk melihat Jazz, betapa terkejutnya Dady Domanick saat melihat bagian tengah Jazz yang sudah hanya tinggal separuh.


"Oh my God, lobak mu kemana Jazz?"


Ada rasa terkejut tapi juga ini sangat lucu bagi Dady Domanick sampai-sampai tak terasa Dady Domanick tertawa terbahak-bahak.


"Sit, ba ji ngankau Nick!" teriak Jazz yang langsung berontak hendak menyentuh Domanick, tapi tidak bisa karena lehernya diikat oleh rantai.


"Kenapa Jazz? Bagaimana apa cukup membuat mu tersiksa? Lihatlah dirimu itu Jazz kau dirantai bagai hewan peliharaan ku seperti dulu kau merantai aku, istriku dan kedua anakku!"


Hahahaha...


Dady Domanick tertawa puas apalagi melihat bagian lobak yang hanya tinggal separuh itu. Sementara Jazz terus berusaha melepaskan diri dan ingin bisa meraih Dady Domanick.


"Bert, apa dia tidak akan dipakaikan celana? Lihat itu menjijikkan sekali, kecil dan tidak berguna,"


"Sengaja agar anda lihat dulu, Tuan apa perlu aku potong seluruhnya saja?"


"Tidak!!" teriak Jazz.


"Sudah biarkan tersisa separuh begitu, Jazz kau benar-benar memalukan sekarang apa kau bisa meniduri wanita lagi? Apa perlu aku datangkan sepuluh wanita sekaligus kesini untuk melayani mu?"


Ckckckck...


"Lawan aku Nick! Pengecut kau Nick!" teriak Jazz.


"Lebih baik kau persiapkan dirimu, karena setelah ini siksaan mu akan sepuluh kali lipat lebih dari ini!"


"Ba ji ngan!!" teriak Jazz.


Sementara Dady Domanick dan Gilbert hanya bisa tertawa kecil melihat keadaan Jazz saat ini.


Keesokan harinya Gilbert meminta izin pada Dady Domanick bahwa dia tidak bisa mengantar jemput Naura karena harus menemani Sabia, membuat Naura pulang dan pergi ke kampus bersama supirnya.


Sore ini Naura meminta pada supirnya ingin mampir sebentar ke markas dulu untuk melihat keadaan Sabia yang tak kunjung sadar juga!! Tiba lah Naura di markas saat hendak membuka pintu ruang perawatan Sabia, Naura melihat Gilbert tengah tertidur disofa dan Leya menyelimuti tubuh Gilbert sambil tersenyum.


Membuat Naura pun akhirnya tidak jadi untuk menemui Gilbert dan Sabia, dengan perasaan sedih Naura kembali menutup pintu ruangan tersebut lalu pulang ke rumah.


Saat sedang makan malam di rumah, Dady Domanick mendapatkan kabar dari markas bahwa Sabia sudah sadar.


"Sayang, Sabia sudah sadar kita ke sana sekarang ya,"


"Oh ya, ayo Dad! Nola, pakai jaket mu kita ke markas sekarang,"


"Kami ikut mom!"


"Kalian di rumah saja, anak kecil harus tidur teratur, ingat Stein, Stan kalian momy suruh tidur bukan maen game, ok!"

__ADS_1


"Baik mom!"


Sabia sudah sadar sebenarnya sangat senang mendengar kabar ini, tapi jika mengingat adegan romantis Leya pada Gilbert tadi sore membuat Naura malas ke markas sekarang.


"Ko bengong? Ayo nak!"


"Iya mom!"


Ketiganya pergi ke markas untuk melihat keadaan Sabia, setelah tiba di markas! Sabia rupanya sudah bisa tersenyum ceria apalagi ketika melihat Naura dan orangtuanya datang.


"Nau,"


"Bia," keduanya berpelukan.


Naura dan Sabia mengobrol, sementara Gilbert memperhatikan senyum gadis cantik itu! Sebenarnya sangat Gilbert sangat merindukan saat-saat berdua dengan Naura tapi keadaan Sabia belum membaik, terpaksa Gilbert harus selalu ada disamping Sabia.


"Bert apa Dokter sudah memeriksa anakmu lagi?"


"Sudah Tuan, Dokter juga mengatakan besok Sabia sudah bisa pulang hanya jangan banyak bergerak dulu,"


"Aku lega mendengarnya Bert,"


Saat Naura dan Sabia sedang asik mengobrol, Dady Domanick pun menghampiri keduanya.


"Bia, sebagai ucapan terimakasih Paman dan sebagai penghargaan atas keberanian mu dalam menghadapi musuh, Paman sudah menyiapkan hadiah untukmu!"


"Benarkah Paman Nick? Wah kau baik sekali, Nau kau dengar aku dapat hadiah dari ayahmu,"


"Iya, aku tidak tau malah, memang Dady punya hadiah apa?"


"Besok Paman kirim ke rumah mu, pokoknya kau jangan kuliah dulu dan ingat kau harus istirahat total baru nanti gunakan hadiah dari Paman setelah kau sehat,"


"Sip Paman,"


"Nick tidak perlu repot-repot masa dikasih hadiah segala," timpal Leya.


"Tidak apa-apa aku sangat sakit dengan keberanian Sabia, sebagai seorang perempuan dia mau berusaha melawan bahkan sampai tertembak seperti ini!"


Benar saja keesokan harinya sebuah mobil sport berwarna merah datang ke kediaman Gilbert, mobil sport itu merupakan hadiah bagi Sabia dari Dady Domanick, tentu saja anak itu senang bukan kepalang.


Sabia mengajak Gilbert untuk melihat-lihat mobilnya, tapi Gilbert yang melihat jam ditangannya sudah pukul 14.00 siang sudah waktunya Naura pulang kuliah, Gilbert ingin sekali menjemput Naura hari ini.


"Bagus kan Dad? Wah Paman Nick baik sekali," sambil meraba-raba body mobil mulus itu.


"Iya bagus Bi, Dady boleh pergi sekarang?"


"Dady mau pergi?"


"Ada urusan penting, kau sudah bisa Dady tinggal kan?"


"Baiklah aku akan panggil pelayan jika memang butuh bantuan Dad,"

__ADS_1


__ADS_2