
Di kediaman keluarga Kusuma.
Lidia berantusias untuk melihat olimpiade Matematika yang akan di tayang sepuluh menit lagi.
Sementara Elisa berada di kemar sedang menangis karena Ibu Rindi tidak berhasil membuat Nama baik Nadia hancur seperti yang dia harapkan.
Dia melihat digroup SMA tunas bangsa, yang memperlihatkan para siswa yang mengagumi Nadia karena dia sangat cantik, pintar dan pandai melindungi diri sendiri.
Melihat pantulan wajahnya di cermin Membuat Amarah Elisa meluap saat melihat wajahnya yang cacat, dia melempar vas bunga ke cermin.
Dengan kesal dia menyekrol media instafram tanpa sengaja dia melihat pengumuman jika Olimpiade Matematika akan di tayangkan hari ini.
Elisa melirik jam tangannya “lima menit lagi!” dengan panik dia segera keluar dari kamar, dia segera menuruni anak tangga saat melihat Lidia berada di depan televisi, apapun yang terjadi dia berencana untuk membuat Lidia tidak melihat acara itu. Tepat saat dia berapa di anak tangga kedua dia terjatuh.
brak
Lidia menoleh kesumber suara, dia melihat Elisa yang tergeletak di lantai “Elisa!” serunya, dia segera berjalan kearahnya “apa kau baik- baik saja?” Ucapnya Khawatir.
“Aku sedikit pusing” sahut Elisa, dia tidak bisa membiarkan Lidia kembali melihat siaran kemenangan Nadia dalam olimpiade Matematika.
__ADS_1
“aku akan mengantarmu kerumah sakit” Ucap Lidia, dia tidak tega saat melihat Elisa kesakitan, sambil membatu Elisa berdiri setelah itu mereka pergi kerumah sakit.
Di Villa.
Nadia dan Bastian baru saja selesai melihat Kompetisi Olimpiade, Bastian tersenyum saat melihat Nadia dan berkata “Kau sanggat hebat” puji Bastian.
Bastian menyesal karena sebelumnya dia tidak pernah mau ikut Olimpiade, dia ingin memiliki peringkat yang sama dengan Nadia di Olimpiade Matematika.
“semua soalnya sangat mudah” Ucap Nadia dengan santai.
Jika saja siswa yang berpartisipasi mendengar apa yang dikatakan Nadia kemungkinan besar mereka akan marah saat mendengar kalimat yang diucapkan Nadia, para ahli saja harus bekerja sama untuk mengerjakan soal itu.
Tentunya itu semua hal yang mudah bagi Nadia, tapi tidak dengan orang lain.
Nadia yang duduk disampingnya menundukkan kepada, saat ini dia sudah terbiasa dengan sentuhan Bastian, dia tidak pernah berpikir lebih tentang Tindakan Bastian kepadanya.
“Aku akan menyiapkan makan siang” ucap Bastian setelah melihat arloji diperggelangan tangannya, dia berdiri dan segera pergi.
Bastian memiliki penampilan yang tampan, dengan postur tubuh yang tinggi, saat ini dia sedang mengenakan pakaian rumahan, dia terlihat sangat menawan.
__ADS_1
Sambil memperhatikan Bastian, Nadia berpikir jika banyak wanita diluar sana yang menginginkannya, hatinya terasa sesak saat dia membayangkan jika suatu saat Bastian memiliki pasangan.
Tanpa sadar Nadia tidak setuju jika suatu hari Bastian menjalin hubungan dengan seseorang.
Dia sama sekali tidak memiliki perasaan kepada Bastian, hanya saja dia tidak rela jika harus berpisah dengan Bastian.
Nadia akan berusaha untuk mempertahankan kasih sayang yang diberikan Batian kepadanya, setelah kembali dari kematian dia tidak ingin menjalani hidup kesepian lagi.
Rumah sakit.
“ apa ada yang terasa tidak nyaman?” tanya dokter sambil mengerutkan keningnya, pasalnya dia sudah mengecek keadaan Elisa hasilnya menunjukkan jika di abaik- baik saja.
Elisa memengan kepalanya dan berkata “aku sedikit pusing.”
Kerutan di dahi dokter semakin jelas “mungkin kamu terlalu lelah, aku akan memresepkan obat untukmu, keadaanmu akan membaik setalah tiga hari.”
Elisa mengehala Nafas lega.
Sementara Lidia mengambil resep yang diberikan oleh dokter, dia pergi menebus oobat untuk Elisa, saat mereka pulang olimpiade Matematika sudah berakhir.
__ADS_1
Elisa bersyukur karena apa yang di takuti tidak terjadi.
Beri gif jangan pelit pelit sekalian vote.