
Gatot dengan percaya diri menjelaskan “Nyonya Sinta, Lukisan NAd tidak sesuai dengan lukisan remaja pada usianya. Kita tidak memerlukan buktu untuk menyatakan jika dia meniru lukisan orang lain”
“Tapi” Seru Hendra, dia ingin menyangkal tuduhan Gatot yang tidak masuk akal. Tangan Nyonya Sinta menghentikannya “Ketua Hendra, tolong beri aku lukisan Nad”
Saat ini Nyonya Sinta sangat bangga, setelah membuat semua orang ribut membuat masalah dengan lukisan Nadia dengan tuduhan jika lukisan itu hasil contekan.
Setelah menerima lukisan dari Hendra, nyonya Sinta segera membuka lukisan itu dan dia memperhatikan dengan seksama, berulang kali dia mengangguk.
Saat pertama kali Nadia menunjukkan lukisan itu keppadanya, dia sangat terkejut, saat melihat lukisan itu Kembali lukisan itu menjadi jaul lebih bagus dari pada sebelumnya.
Didunia seni, sebuah kemampuan seperti inii sangat diminati.
Dia mulai memuji dengan serius “Ini sangat bagus, ini lukisan terbaik yang pernah aku lihat, sebegai seorang pemula Nad sangat jinius, dia bahkan bisa membuat Wanita ini takjub dengan karyanya yang bisa menuangkan kesedihan didalamnya.
Setelah memuji hampir lima menit akhirnya dia berhenti.
“Nyonya Sinta bagaimana pendapatmu? Untuk usianya tidak mungkin dia bisa membuat lukisan seperti ini? Tanya Gatot dengan ragu, sampai sampai dia menelan ludah.
Nyonya Sinta memeberi jawaban yang menohok “Jika kau tidak bisa melukis seperti ini, apa kau pikir orang lain tidak bisa melakukannya?”
Gatot menjadi sangat kesal, dia tidak lagi mempertahankan topeng busuknya “Nyonya Sinta bukannya kamu sangat membenci orang yang memalsukan lukisan orang lain? Mengapa kau biasa saja saat mengetahui ini?”
Elisa mulai membuka mulutnya dia bicara dengan nada yang sangat lembut “Bukannya ini sengaja untuk melindungi Nad?”
Hendra Gunawan menatap kudua murid dan guru itu, dia yakin jika saat ini Gatot sengaja membuat keributan, seolah-olah dia telah melakukan kejahatan.
Nyonya Sinta mulai menghina mereka, dia menatap kedua orang itu dengan tatapan jijik “Apa kalian mempunyai hak untuk meragukan keputusanku?”
Gatot membeku sektika, sementara raut Wajah Elisa menjadi sangat jelek untuk dipandang.
__ADS_1
Elisa menyembunyikan dirinya dibelakan Gatot Subroto, dia telah menyinggung orang yang angkatnya lebih tinggi dari gurunya,
keberadaannya tidak ingin di ketahui. Elisa tidak ingin menyinggung tokoh- tokoh seniman terkemuka.
Gatot mengangkat kepalanya, dia bicara dengan tegas “Nyonya Sinta selama ini aku selalu menjadikanmu panutan karena kau sangat tegas saat berurusan dengan penjiplak, tapi melihat sikapmu yang memihak, membuatku sangat kecewa.”
Hedra Kusuma tidak bisa terus bersabar lagi saat mendengar idolanya di remehkan seperti ini “Senior, kamu menuduh Nad sebagi seorang penjiplak, bahkan saat anda tidak memiliki bukti yang kuat” Ucap Hendra dia mentap Gatot dengan tatapan jijik “Aku jika anda sengaja membuat keributan hanya untuk membuat jalan untuk muridmu.”
Raut wajah Gatot menjadi merah seketika dia merasa sangat malu, karena rencananya terbaca dengan sangat jelas.
Nyonya Sinta yang mulai bosan dengan pertunjukan ini, selama ini dia telah bermain- main dengan mereka, sangat sulit untuk dirinya keluar rumah jadi dia sengaja melakukan semua untuk hiburan. Dengan enggan dia membuka mulut “Apa muridmu perlu memalsukan karyanya?”
Semua orang terkejut seketika saat mengetahui jika Nad adalah muridnya.
Sebagai seorang nomor satu di dunia Lukis, selama ini banyak orang yang berbondong- bonding untuk menjadi murid Nyonya Sinta, tapi tak sedikit dari mereka yang ditok mentah- mentah.
Gatot tidak percaya jika Nad adlah murid dari sang lengenda seniman Lukis.
Jika Nad adalah murid Nyonya Sinta, tak heran jika dia bisa melukis seperti itu.
Sementara Elisa amengepalkan tangannya, dia tidak terima dengan kenyataan itu, Selema ini dia sudah sangat yakin jika posisi teratas akan menjadi miiliknya, tapi tempatnya malah direnggut Oleh Nad begitu saja.
Dia datang dengan gurunya ke Asosiasi Lukis untuk mendapatkan keadilan untuk dirinya, tapi apa yang didapat sekarang?
Jelas Nad telah merebut tempatnya!
Setalah beberapa detik terkejut oleh pengumuman Nyonya Sinta, dia berkata denga Nada Hinaan “Nyonya Sinta, hanya untuk melindungi Nad, anda sampai berbohong jika Nad adalah murid anda!”
“Benari- beraninya kau mencemarkan nama Baikku?” Ucap Nyonya Sinta dengan tatapan tajam yang terarah ke Gatot “Jika dia bukan muridku, aku akan mundur dari dunia Lukis!”
__ADS_1
Gatot Subroto tidak berani membuka mulutnya, dia benar- benar diam.
Hendra tersenyum dan berkata “Nyonya Sinta Reputasi anda sangat baik dari pada siapapun, jika anda mengatakan Nad adalah murid anda aku percaya dengan pernyataan anda.”
Dia menatap Gatot Subroto, tidak ada lagi rasa hormat untuknya “Senior Gatot, tempat saya tidak cukup baik untuk orang berstastus seperti anda, kumohon kembalilah.” Henra sambil menunjuk pintu keluar.
Gatot sangat malu, walau Hendra tidak mengingatkannya dia sudah berencana untuk pergi, dia tidak ingin membuat malu dirinya sendiri. Dia menatap Elisa dan berkata “Ayo pergi”
Elisa membeku di tempatnya, dia tidak ingin pergi begitu saja, dia memberanikan diri untuk bertanya “Tuan Hendra bisakah kau memebri tahuku siapa nama Asli Nad?”
Elisa berpikir jika Nad adalah orang yang dia kenal. Tapi dia tidak mau menerima jika Nad adalah Nadia .
Tidak ingin membuat salah paham, Elisa Kembali berkata “Aku hanya ingin tahu siapa dia, aku ingin menerima beberapa saran darinya.” Elsia terlihat sangat tulus saat mengatakan itu.
Nyonya Sinta sangat kesal, dia khawatir jika Elisa mengetahui identitas Nadia, gadis licik itu akan menjebak Nadia.
“Tidak bisa” sahut Hendra dengan tegas.
Elisa menjadi tidak nyaman.
Nyonya Sinta tahu jika Elisa adalah orang yang telah mencuri identitas Nadia, dia tidak ingin melepaskan Elisa dengan mudah begitu saja , dia menatap Elisa dengan tatapan mengejek dan berbicara dengan sinis “Sebelumnya Gurumu Gatot Subroto, menuduh Nad sebagi seorang penipu, tapi sekarang kau malam mau meminta saran kepada Nad, bukannya secara tidak langsung kau telah menghina Gurumu?”
Elisa menjadi gugup seketika, dia segera melihat wajah kesal Gatot, dia segera menjelaskan “Guru, saya tidak…”
“Ayo pergi” Ucap Gatot Subroto dengn kesal.
Nyinya Sinta tidak mau melepaskan Gatot begitu saja, dia mengejeknya “Istilah guru kencing berdiri dan murid kencing berlari sangat cocok untukmu dan muridmu. Kau tidak bisa melukis, suka iri hati, dan suka melakukan sesuatu yang licik, dalam mencari murid seleramu tidak jauh beda dengan karaktermu..”
Anggota Staf asosiasi yang mendengar hal ini menundukkan kepala sambil menahan tawa.
__ADS_1
Sementara Gatot menatap tajam Elisa, dia sangat malu dan marah secara bersamaan.
Dan Wajah Elisa menjadi pucat seketika dia mengikuti Gatot.