
Rumah keluarga Kusuma.
Lidia secara langsung memasak Hidangan yang istimewa, mereka bertiga makan di meja makan, dia mengambilkan makanan favorid Elisa “Elisa aku yakin jika kau akan memenangkan kompetisi melukis pemuda, jadi aku merayakannya terlebih dulu”
Elisa adalah murid Gatot Subroto seorang pelukis terkenal, Gatot sering memuji lukisannya.
Lidia juga telah melihat hasil lukisan Elisa, lukisannya sangat baik, dia yakin jika Elisa akan memenangkan peringkat pertama atau kedua.
“Bu, tapi hasilnya belum keluar” Ucap Elisa dengan rendah hati, tapi didalam hati dia yakin jika Dia akan memenangkannya.
Lidia terseyum dan berkata dengan sombong “Jika bukan kamu yang meraih peringat itu, memangnya siapa yang memiliki kemampuan untuk melakukannya?”
Wahyu Kusuma setuju dengan pendapat istrinya “Elisa jika kau mendapatkan peringkat teratas ayah akan memberimu hadiah.”
Lidia dan Wahyu Kusuma yakin jika Elisa akan memenangkan kompetisi itu. Mereka tidak salah dengan mepikiran itu, karena Elisa murid dari Gatot Subroto pelukis ternama Indonesia, apalagi dia hanya memiliki dua murid.
Selama ini Gatot Subroto sangat puas dengan hasil lukisan Elisa. Dia yakin jika lukisan Elisa akan memenangkang peringkat teratas.
Saat mereka bertiga makan Nadia pulang, dia tidak menyapa mereka dan langsung Naik keatas.
Lidia tidak memperdulikan kehadirannya, dia menganggap Nadia hanya sebagai angin belaka, tidak seperti biasanya dia selalu menghina Nadia. Ini adalah hari Bahagia untuknya dia tidak ingin Susana hatinya menjadi buruk, dia memilih untuk mengabaikan Nadia.
Wahyu Kusuma menyapa “Kau sudah pulang?"
Nadia mengabaikannya.
__ADS_1
Setelah makan malam selesai, hasil kompetisi melukis diumumkan. Elisa menjadi sangat gugup, Elisa duduk disofa sementara Wahyu dan Lidia duduk disampingnya.
Tepat jam 7, hasil kompetisi dipublikasi.
Elisa membuka situs web, dia melihat kebawah.
Nad?
Setelah melihat nama itu, Elisa menjadi sangat bingung, di Jakarta nama Vivi sangat terkenal, bahkan Elsia tidak dapat dibandingkan dengan dirinya.
Dari mana datangnya Nad? Siapa dia? Mengapa dia tiba- tiba muncul kepermukaan?
Keringat dingin mengalir di telapak tangan Elisa, dia berpikir jika Vivi tidak mengikuti kompetisi, jadi dia menjadi sedikit tenang, dia yakin jika dia akan mendapatkan posisi kedua.
Lidia menautkan Alisanya dan bergumam “Nad?”
Peringkat pertama bukan Elisa, seharunya peringkat berikutnya. Detik berikutnya Wahyu Kusuma mengerutkan keningnya, tidak ada tempat untuk Elisa.
Wahyu menarik pandangannya, semakin besar sebuah harapan akan semakin besar pula kekecewaannya, itulah yang sedang mereka rasakan saat ini.
Sebelumnya dia sangat yakin jika Elisa akan mendapatkan posisi teratas dalam kompetisi pelukis muda. Tapi saat ini Elisa tidak mendapatkan peringkat, dia menatap Elisa dengan tatapan penuh kekecewaan.
Sebelumnya dia sudah memamerkan kepada teman- temannya jika putrinya mengikuti kompetisi melukis pemuda, dia juga dengan bangga yakin jika putrinya akan memenangkan posisi teratas. Dia tidak bisa mengangkat wajahnya saat bertemu dengan mereka.
Elisa menjadi sangat gugup dan takut, jantungnya berdetak sangat kencang.
__ADS_1
“Elisa kau tidak mendapatkan peringkat” Ucap Lidia.
Elisa segera melihat nama berikutnya.
Vivi!
Nadia dan Vivi menjadi peringkat teratas kompetisi pelukis muda Jakarta, tidak ada tempat untuk dirinya.
Elisa sangat kecewa, wajahnya sangat pucat, dia menggengam erat ponselnya, dia mengerutkan keningnya.
“Bu aku minta maaf, seharusnya aku tidak membuatmu kecewa” Ucap Elisa dengan mata memerah.
Dia tidak tahu dari mana asal Nad? bagaimana bisa dia mencuri tempatnya?
Awalnya Lidia memang kecewa dengan prestasi yang dicapai Elisa, namuns etelah melihat wajah memelas Elisa, hatinya menjadi sakit, dengan lembut dia memeluk Elisa dan menghiburnya “Elisa tidak apa- apa, kami tidak menginginkannya.”
Lidia khawatir jika Wahyu akan mengkritik Elisa dia segera berkata “Sumiku, kau sendiri tahukan seberapa bagus hasil lukisa Elisa? Dia bahkan selalu menerima pujian dari guru Gatot, Guru Gatot juga mengatakan jika Elisa akan berhasil dengan lukisannya. Ini bukan salah Elisa, jadi jangan salahkan dia.”
Wahyu Kusuma menekan pelipisnya, dengan enggan dia berkata “Aku tidak akan memarahinya.” Dia tahu jika dia tidak seharusnya menyalahkan Elisa, dia merasa tidak nyaman, di dalam hati dia mulai mengeluh tentang Elisa. Saat ini harga dirinya benar- benar hancur.
Lidia sangat mengenal wahyu dengan sangat baik, dia tahu apa yang sedang suaminya itu pikirkan, tapi dia tidak akan memebiarkan suaminya itu memarahi Elsia, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
“Ayah, ibu maafkan aku, aku telah emmbuat kalian kecewa” Elisa menangis.
Lidia benar- benar sangat menyayangi Elisa sepenuh hati, namun tidak dengan wahyu dia hanya mengambil keuntungan darinya.
__ADS_1
Wahyu Kusuma tidak bisa memarahi Elisa, karena dia tidak ingin membuat istrinya kecewa.